Cinta Ku Tuan Drakula Season 2

Cinta Ku Tuan Drakula Season 2
Mengagumi


__ADS_3

Advance School, adalah sekolah menengah atas yang pertama kalinya dibuka untuk drakula dan manusia. Sejak keberadaan Drakula diterima, sekolahan itu pun di buat.


Untuk mengantisipasi adanya drakula yang kelepasan kontrol maka sekolah itu pun membuat cincin mistis untuk pelajar drakula. Yang mana mereka yang seorang drakula dapat merasakan detak jantung dan darahnya mengalir dengan sendirinya. Bahkan mereka bisa merasakan panas matahari lebih lama. Dan jika di dekat manusia, mereka tak perlu khawatir lagi. Karena saat memakai cincin mistis itu mereka sama seperti manusia.


Sekolahan itu dibangun oleh Walikota Bukares atas permintaan Tuan D yang pernah mendapat panggilan secara resmi di Gedung Walikota. Dia juga menyediakan dana besar untuk pembuatan cincin mistis yang telah di mantrai dan diberi sihir oleh drakula dan penyihir. Tentu saja penyihir itu yang masih hidup adalah nenek Anie dan Kakek Ye.


Kakek Ye tidak bisa melakukannya karena dirinya masih stroke, jadi hanya Nenek Anie lah yang bisa menyihir cincin mistis itu. Tuan D membawa Nenek Anie di sebuah gudang perhiasan miliknya. Bongkahan batu yang berukuran besar dan berwarna warni harus segera di mantrai Nenek Anie sebelum dirinya berpulang. Tidak ada yang tahu kapan manusia akan mati.


Cerita asmara akan dimulai di bangku SMA Kelas dua.


......🌷🌷🌷......


Siang itu langit menghitam dan turunlah hujan dengan rintikan yang masih kecil, jatuh diatas kepala Serra. Gadis itu pun segera berjalan menuju lapangan basket untuk memanggil Lionard dan mengajaknya pulang sekolah bersama.


Namun sebelum sampai tujuan sebuah bola basket melayang dari atas dan menimpa Serra.


Duuk


"Arghh," keluh Serra seraya mengusap kepalanya yang terkena bola.


Bola itu jatuh menimpa kepalanya kemudian bergelinding tak jauh dari tempat Serra berdiri. Namun saat Sera menatap sekeliling untuk mencari tahu pemilik bola itu, beberapa orang yang berada di dekatnya segera memundurkan langkahnya. Dan beberapa di antaranya berpura-pura tidak melihatnya. Padahal Serra tidak akan membalasnya, hanya ingin mencari tahu siapa pemilik bola itu dan mengembalikannya.


Serra melihat ada sosok pria yang berlari kecil datang menghampirinya, segera Serra mengambil bola yang berada tak jauh beberapa meter darinya. Pria itu semakin mendekat dan terlihat jelas siapa dia.


"Maaf Serra...kepala mu terkena bola, apa itu sakit?" ujar Lionard seraya mengelus kepala Serra.


Perasaan apa ini, kenapa tiba-tiba jantung ku berdetak kencang


"Iya, tidak apa-apa L, tapi rasanya sedikit pening," jawab Serra dengan senyum manisnya kemudian ia memberikan bola itu pada Lionard


L adalah Sebutan panggilan Serra terhadap Lionard, dan pria itu menyukai panggilan pemberian Serra.


Byuuur


Hujan mengguyur deras setelah rintikan kecil. Meski terlihat mendung namun wajah Lionard yang terkena hujan terlihat bersinar di mata gadis 17 tahun itu. Membuat Serra terdiam terpaku. Pria itu jauh lebih tampan dan semakin menarik.



Lagi-lagi aku merasakan perasaan ini saat aku menatapnya. Apakah aku sedang mengaguminya?

__ADS_1


Batin Serra terus bergeming namun Lionard tak bisa membaca pikirannya. Semakin beranjak dewasa Serra semakin pintar menutup portal dirinya sendiri agar tidak ada satupun yang bisa membaca pikirannya.


"Hey, kenapa menatap ku seperti itu, ayo pulang," ajak Lionard tanpa menunggu jawaban Serra, ia segera meraih tangannya dan menariknya seraya berlari menuju tempat parkiran.


Kenapa debaran aneh ini tak mau berhenti, bahkan semakin kencang debarannya pada saat L menggenggam tangan ku


Lionard bisa saja menghilang dan membawa Serra dengan kekuatan yang dia miliki. Namun pria itu sedang memakai cincin mistis. Aturan dari sekolah yang tak boleh dilanggar para drakula adalah melepaskan cincin mistis jika sedang berada di kawasan sekolah.


Pria itu membukakan pintu untuk Serra, baginya itu hal biasa bukan hal romantis yang selalu di dramatisir didalam film ikan terbang.


"Serra, masuklah," ucap Lionard setelah membukakan pintu. Tiba-tiba saja Serra terlihat gugup.


"Serra, kalau kau melamun lagi aku akan menyedot darahmu," bisik Lionard didekat telinga Serra. Bisikan itu membuat Serra tersadar dan kemudian memukul dada Lionard.


"Kau berani mencoba menyedot darah ku hah? Sebelum kau menyedotnya, sudah ku habisi kau dahulu," ujar Serra tak kalah menyeramkan.


"Arghh pukulan mu membuat jantungku berhenti. Serra tolong aku tak bisa bernapas," ucap Lionard dengan canda tawanya dan berpura-pura seakan-akan dia terluka.


Gadis itu terkenal memiliki sihir pembunuh, dan itulah yang ditakuti teman-temannya. Karena Serra tidak dapat menggunakan cincin mistis, cincin itu tidak berlaku pada manusia sehingga kekuatan yang dia miliki tidak dapat dikendalikan oleh apapun dan siapapun kecuali dirinya sendiri


"Haha teruslah berdrama, biar aku yang bawa mobilmu," ucap Serra kemudian masuk kedalam mobil dan menutup pintu mobilnya. Lionard pun tertawa terbahak-bahak kemudian dia berlari kecil memutari mobilnya.


Gadis itu mengatur napasnya setelah masuk kedalam mobil, dialah yang kehabisan napas karena sepertinya Serra sedang jatuh cinta.


Hujan semakin mengguyur deras kali ini, hingga angin yang bertiup membuat tubuh gadis itu terkena basah meskipun telah berteduh.


Lionard mengambil payung lipat yang disimpan di laci mobil. Kemudian ia keluar berlari di atas guyuran hujan yang semakin lebat menuju tempat dimana gadis cantik itu berteduh


"Aluna, kau belum di jemput? Ayo pulang bersama ku," ajak Lionard dengan senyum lebar berharap gadis itu akan mau pulang dengannya.


"Maaf aku tidak boleh pulang dengan orang asing, aku juga tidak mengenalmu. Terimakasih atas tawarannya, karena sebentar lagi jemputan ku datang," jawab Aluna dengan pandangan sinis.


"Orang asing? Kita teman satu kelas sejak kelas 1," sahut Lionard


Tiba-tiba ponsel Aluna berbunyi,


"Hah? Mogok?....Satu jam lagi!.....Ya nanti aku pulang sendiri," ucap Aluna seraya melirik ke arah Lionard


Lionard pun tertawa kecil, "Jadi bagaimana nona Aluna? Apakah kau bersedia pulang dengan orang asing?" Tanya Lionard

__ADS_1


"Hemm seperti menelan ludah ku sendiri, iya, itu pun jika kau memaafkan ucapanku barusan," ucap Aluna dengan raut muka malunya.


Lionard tertawa kecil dan membentangkan payung untuk Aluna, sementara Serra yang sudah lama berada di dalam mobil harus melihat pemandangan yang membuat hatinya sedikit sakit. Serra belum tahu jika dirinya sudah terpikat oleh Lionard.


Lionard membukakan pintu untuk Aluna di kursi belakang, Aluna masuk dan mendapati sosok Serra yang duduk di depan. Namun mereka hanya diam tak ada tegur sapa, Aluna mendengar gossip jika Serra anak penyihir yang melenyapkan kedua orangtuanya sendiri. Ada rasa percaya atau tidak tapi Aluna memilih diam dan jaga jarak.


Setelah Lionard masuk, dia pun mulai menyalakan mobilnya dan memanaskannya sebentar.


"Dimana rumah mu Luna?" Tanya Lionard


"Kawasan Elit Edelweis," jawab Aluna dengan wajah datar seraya menatap kaca spion depan tetapi dibalas senyuman oleh Lionard yang melihatnya dari balik kaca spion.


"Baik nona, akan saya antarkan sampai tujuan," ucap Lionard berusaha mengambil hati Aluna yang super angkuh. Gadis itu lalu melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil.


Aluna anak orang kaya yang memilih teman dalam bergaul. Dia harus bergaul dengan anak orang kaya yang sepantaran dengannya. Dia tidak tahu jika Lionard adalah anak pengusaha nomer satu di Negara Rumania.


Lionard mulai menjalankan mobilnya tapi baru saja ia keluar dari tempat parkirnya ada seseorang yang ditabrak.


Bruuk


"Hey Nard aku numpang ya," ucap Hans seraya memukul kap mobil. Hans sengaja menabrakkan dirinya ke mobil Lionard.


"Kau ini, kalau tertabrak betulan tau rasa kau. Masuk lah," seru Lionard yang mendapat cubitan dilengannya. Hans pun mengitari mobil untuk masuk ke kursi penumpang dibelakang Serra.


"Aahh, kenapa kau mencubitku," ucap Lionard pada Serra


"Kau tau kan aku tidak suka jika dekat dengannya, setiap kali aku melihat wajahnya membuat ku merasa bersalah pada orang tuaku," jawab Serra dengan berbisik namun bisa didengar jelas oleh Aluna.


"Jadi gosip itu benar, kau penyihir yang membunuh orang tuamu sendiri?" ujar Aluna dengan suara lantang.


Serra geram dengan ucapan Aluna ia pun berbalik dan menatap Aluna dengan pandangan tajam. Hans masuk setelah Aluna menyelesaikan kalimat terakhirnya


"Ada apa ini?" Tanya Hans karena Serra menatap tajam ke arah Aluna dan Aluna pun demikian.


"Serra," ucap Lionard seraya mengusap bahunya pertanda untuk tidak meluapkan emosi.


Serra pun berbalik lagi dan melemparkan pandangannya ke arah depan kaca mobil.


"Aluna, sebaiknya jangan membahas hal yang kau sendiri tidak tahu kebenarannya. Ada hal yang bersifat pribadi dan kita harus menghargai itu, terlebih jika kau mendengar gosip jangan mudah percaya," ucap Lionard berusaha menengahi

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, apa itu salah? Apa susahnya menjawabnya itu benar atau tidak," ucap Aluna. Ucapannya ada benarnya. Lebih baik diluruskan namun masalahnya Serra tidak ingin membahasnya.


"Kau salah! karena tidak seharusnya kau mencampuri urusan pribadi orang lain!" seru Hans langsung pada intinya seraya menatap Aluna dengan tatapan mengerikan. Aluna pun terdiam, ada rasa takut yang menjalar ketika ia melihat Hans.


__ADS_2