
Lionard menggigil dan peluh bercucuran disekujur tubuhnya. Bibirnya gemeretak, wajahnya putih memucat. Suhu panas tubuhnya semakin memanas.
Liana merasa khawatir, pandangannya mengarah ke cincin yang Lionard pakai. Baru cincin yang semula berwarna merah, kini menghitam. Liana lalu melepaskan cincin mistis yang digunakan Lionard. Kemudian perlahan suhu panas tubuh Lionard menurun dan ia tidak menggigil lagi.
Tak berapa lama Lionard terbangun, ia membuka matanya dan melihat disekelilingnya. Ia sedikit mengingat kejadian yang menimpanya.
"Sayang, syukurlah kau sudah membaik," ucap Liana
Kemudian ia memalingkan wajahnya menatap sang Ibu
"Ma...," panggil Lionard dengan suara lirih
"Hmm," sambil mengusap wajah Lionard.
"Dimana Serra?"
"Kau tidak bertanya soal Aluna?" Liana sedikit menguji perasaan Lionard.
"Entahlah Ma, saat ini aku hanya ingin tahu keadaan Serra. Apa yang terjadi dengannya saat ia di tuduh ingin membunuh Aluna. Aku rasa itu hal yang mustahil,"
"Kau tidak ingat?"
Lionard menggeleng, ia hanya ingat saat Aluna mengatakan jika Serra pelaku yang menyebabkan bekas luka jeratan di leher dan kakinya.
"Serra menghilang, Mama juga tidak tahu dia dimana. Serra menutup jejak dirinya dengan kekuatannya,"
"Aku akan mencarinya," Lionard bangkit dari ranjang tidurnya.
"Tidak Lion, Serra yang sekarang bukanlah Serra. Kekuatan hitam yang terpendam dalam tubuh Serra sedang menguasai dirinya, terlebih lagi ada sosok jahat yang mengambil keuntungan itu. Dia ingin menguasai Serra dan menghancurkan klan kita,"
"Sosok jahat?"
"Iya,"
"Tapi kenapa harus Serra yang dia incar,"
"Karena Serra memiliki kekuatan langka. Kekuatan gabungan dari seorang penyihir dan ketika masih didalam kandungan, Serra telah menyerap semua kekuatan drakula yang dimiliki Ibunya. Dan dengan sekali tebasan kekuatan langka itu bisa menghancurkan kita semua," ucap Liana
"Mama yakin Serra tidak mungkin melakukan itu," timpalnya lagi
"Kita harus segera menyelamatkan Serra, dia bisa saja terluka," ujar Lionard
"Mama tahu Kau mengkhawatirkan dia, Mama pun demikian..., tapi kita tidak tahu keberadaan Serra. Ayahmu pun tidak tahu. Sementara ini kita ke Transylvania, kita kumpulkan kekuatan lewat media tanah kelahiran bangsa drakula. Kita akan menyerangnya jika dia memulai duluan,"
__ADS_1
"Arghh terlalu lama," ujar Lionard yang beranjak dari ranjangnya dan pergi menghilang.
"Lionard," teriak Liana tetapi Lionard tetap pergi tanpa menghiraukan panggilannya.
"Astaga kemana dia, oh tidak! Dia sedang tidak memakai cincin. Bagaimana jika dia menyerang manusia?" gumam Liana kemudian pergi menghilang mengejar Lionard.
Whuuush
Di Transylvania, Kastil Drakula.
Istana dipenuhi oleh kehadiran rakyat drakula dari berbagai negara, berkumpul menjadi satu di kastil itu. Semua berteriak dengan luapan kemarahan karena banyak yang kehilangan keluarganya.
Hiruk pikuk hingar bingar terjadi.
Tuan D hanya diam, mendengarkan derita isi hati rakyatnya. Bahkan dia menitikkan air mata. Tak ada yang tahu jika rajanya saat itu sedang bersedih.
Dimitri merasa lemah dan tak pantas menjadi Raja Drakula. Inilah yang dirasakan Ayahnya saat itu. Tetapi dimatanya Ayah Dimitri adalah seorang yang lebih kuat jika dibandingkan dengan dirinya.
Tangannya mulai mengepal, menarik napas dalam-dalam sembari menutup mata dan berbisik dari hati ke hati.
"Tenanglah kaumku," Seketika angin dingin menembus tulang belulang mereka bersamaan dengan bisikan yang menggema di otak rakyatnya.
Tuan D mencoba menenangkan kaumnya, tanpa suara lantang yang berteriak. Dia memakai sistem telepati dari hati ke hati menyuruh mereka untuk tenang....tenang....dan tenang.
Begitu hebatnya Raja Dimitri menenangkan lewat hati. Berbeda dengan raja atau ketua sebelumnya yang jika memerintahkan dengan teriakan semangat.
Bisikan dari hati lebih mengena jiwa mereka.
Jiwa yang telah mati, menatap lurus ke depan menunggu titah sang Raja.
"Aku bersedih dan dengan segala kerendahan hati Aku meminta maaf. Ini semua karena kelalaian ku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kali ini aku lebih mengutamakan kalian, rakyat drakula yang sangat ku sayangi," ucap Tuan D
"Tetapi aku tidak dapat berjalan sendiri, aku membutuhkan kalian untuk bersatu melawan Dia yang belum diketahui. Demi keutuhan klan Drakula. Bersatu kita akan semakin kuat," timpalnya lagi dengan suara yang lemah lembut tetapi penuh penegasan di dalamnya.
"Aku bersedia, bersatu berjalan bersama tuanku!" ucap salah seorang Drakula
Dan yang lain mengikuti.
Lalu mereka melepaskan cincin mistis yang selama ini mereka pakai. Kemudian menyalurkan seluruh kekuatannya untuk masuk kedalam tubuh Tuan D.
Tuan D merentangkan tangannya, menerima segala kekuatan yang diberikan rakyatnya. Separuh kekuatan masing-masing rakyat, di berikan kepada sang Raja.
Tubuh Tuan D terlihat lebih kekar dan tentu saja aura nya terlihat segar dan lebih bersemangat. Matanya memerah, taringnya mulai memanjang dan daun telinganya menjadi sedikit ramping memanjang seperti telinga kelelawar.
__ADS_1
Setelah semua pengikutnya menyatukan kekuatan mereka. Tuan D dapat merasakan aura Serra dari kejauhan. Tak hanya itu sosok yang selama ini tidak bisa terdeteksi mulai terlihat lebih jelas.
Zjorka Azkha, benar dugaan ku. Dia adalah manusia penyihir yang memiliki kekuatan drakula sama seperti Serra. Dan dia mengincar Serra agar kekuatannya yang merapuh bisa kembali penuh menjadi tak terkalahkan. Bagaimana mungkin dia kembali hidup, kecuali ada yang membangkitkan dirinya. Antara keturunannya atau dari klan ku sendiri, batin Dimitri
.
.
"Lionard, kau harus patuhi Ayahmu. Dia menyuruh kita kembali ke kastil untuk penyatuan kekuatan,"
"Ma, Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan Serra terluka. Aku sudah berjanji untuk menjadi pelindungnya," ucap L
"Lalu Mama menyuruhku untuk mundur dan memilih bersembunyi di kastil?" timpalnya lagi.
"Tidak, tidak seperti itu. Bukan mundur tetapi jika kau ingin menjadi pelindung, kau harus memiliki kekuatan yang besar. Kau harus memiliki kekuatan yang mantap dan tidak tertandingi sayang,"
"Tapi kenapa harus ke Kastil,"
"Karena mediasi yang baik untuk membangkitkan kekuatan drakula itu sendiri adalah tanah Transylvania. Mungkin terasa aneh bagimu sayang, tapi itulah kenyataannya,"
Lionard terlihat berpikir dua kali. Ucapan ibunya ada benarnya. Dia sendiri merasa lebih hidup dan berenergi saat menginjakkan kakinya di tanah Transylvania. Apa benar tanah Transylvania memiliki kekuatan mistis tersendiri ada magis yang tersembunyi didasar tanahnya.
"Aku akan menurut kali ini, aku harap Mama benar,"
"Mama selalu benar, kapan ucapan mama tidak pernah benar?"
Lionard hanya tersenyum, dan mereka pun menghilang menuju Transylvania.
Sesampainya di depan kastil, ada banyak drakula yang berkeliaran dihalaman depan kastil. Merekah telah selesai berunding dan melakukan penyatuan kekuatan.
Semua hormat dan menunduk saat Liana dan Lionard memasuki halaman rumput Kastil. Dan Liana membalas penghormatan mereka dengan sedikit menundukkan kepala dan tersenyum juga sesekali ia menyapa. Begitu juga dengan L yang terkenal ramahnya.
Sembari berjalan menuju Kastil Liana menanyakan sesuatu pada L
"Hemm Lionard, kau tidak menanyakan kabar Aluna?" tanya Liana
"Mungkin tidak sekarang Ma, dia telah menuduh Serra yang bukan-bukan. Jika aku mengelak tuduhannya, dia pasti marah,"
"Memangnya kau tidak khawatir dengan apa yang terjadi dengan Aluna? Dan juga, bukannya kau pernah bilang pada Mama, jika Aluna adalah orang yang kau cintai," Liana sengaja memancing hatinya Lionard agar anaknya sendiri mengerti, siapa orang yang paling ia khawatirkan.
"Sebenarnya, apa itu cinta?" tanya L
"Kau berbicara soal cinta tapi kau sendiri tidak tahu apa artinya cinta?"
__ADS_1
Lionard menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari sesekali tersenyum malu.