
Liana menangis sembari mencari Serra, Hans juga ikut membantu Liana melacak jejak kepergian Serra yang tiba-tiba hilang. Hans pernah terserah kekuatan Serra jadi dengan mudah ia dapat melacak dimana Serra berada namun kali ini semuanya lenyap. Tak ada jejak.
Hans melepaskan cincin mistisnya.
"Serra....," Hans memanggilnya dengan mata batinnya. Ia memejamkan mata dan menghirup aroma Serra. Aroma manusia yang sangat lezat. Darah Serra yang sangat memikat menjadi incaran semua drakula.
Untung saja Serra memiliki kekuatan menyembunyikan dirinya hingga jejak dan darahnya tidak bisa terendus oleh drakula lain kecuali drakula yang pernah mendapatkan serangan darinya.
Hans, memiliki potensi besar untuk melacaknya. Karena saat kecil dirinya pernah terkena serangan sihir Serra hingga menembus jantungnya. Itulah membuat Hans sangat terpikat akan diri Serra.
Namun kali ini, ia tidak bisa melacak keberadaan Serra.
"Mungkin aku butuh konsentrasi," gumam Hans
"Hans apa kau sudah menemukan Serra? Dia tidak bisa menghilang jadi pasti dia masih ada disekitar tempat ini," ujar Liana.
Hans menggeleng, kemudian ia teringat akan danau yang sering dikunjungi Serra saat ia bersedih. Danau dekat sekolahnya, danau tempat ia belajar membuat kekuatan blackhole.
"Mungkinkah, tempat itu?"
"Ratu Liana, Saya akan mencari Serra ditempat lain. Saya permisi," pamit Hans
"Kabari jika kau menemukannya,"
Setelah Hans menghilang dari pandangannya, Tuan D datang menghampiri Liana.
"Sayang, aku butuh kau untuk menjaga Lionard,"
"Lionard? Kenapa dia? Semua gara-gara Lionard sehingga Serra menjadi seperti itu,"
"Dia bukan Lionard,"
"Apa maksudmu, lalu dimana Lionard?"
"Bukan, maksudku.... ada sosok yang merasuki tubuhnya. Dia melumpuhkan jiwa Lionard dari dalam lalu masuk dan menggantikan Lionard. Yang mengusir Serra, yang berkata buruk pada Serra bukanlah Lionard. Lionard sempat berpikir jika Serra tak melakukan itu, namun sayangnya aku terlambat mengetahui jika ada sosok yang masuk ke tubuhnya," Jelas Tuan D
"Bagaimana mungkin sosok dengan kekuatan jahat itu masuk ke rumah kita. Bukankah rumah ini telah dipagari oleh pagar gaib, Tak ada yang bisa masuk kecuali," Liana mulai menerka
"Kecuali dia datang kerumah ini karena ada yang membawanya,"
"Aluna, tak salah lagi. Sosok itu menempel pada Aluna, apakah tebakanku benar?"
Tuan D menganggukkan kepalanya, tanda jika tebakan Liana benar.
"Aku akan kembali ke kastil. Sementara ini kau pulanglah kerumah, jaga Lionard. Jika dia terbangun, susullah ke kastil. Akan lebih aman jika kalian menetap di kastil. Aku akan mengumpulkan pasukan untuk menyatakan perang,"
"Jangan lukai Serra apapun itu,"
__ADS_1
"Tidak akan sayang, dia sudah seperti anakku sendiri,"
"Dan lagi aku memiliki penglihatan jika Serra adalah jodoh Lionard,"
"Hah benarkah?"
"Ya, tetapi Lionard belum menyadari perasaannya. Kita harus menjauhkan Lionard dari Aluna, karena dia membawa pengaruh jahat. Aku ralat, bukan Aluna yang jahat, tetapi ada sosok yang terus menempel pada Aluna dan membuat Aluna menjadi jahat. Itulah kenapa aku tidak bisa membaca pikiran Aluna. Ada kekuatan yang melindungi diri anak itu," jelas Tuan D.
"Berhati-hatilah sayang,"
Dan sebelum mereka berpisah, keduanya tidak melupakan ritualnya. Kecupan bibir dengan penuh gairah. Tidak peduli mereka ada dimana. (Kan sudah sah)
.
.
.
Serra berlari tanpa alas kaki yang dikenakan karena terburu-buru saat meninggalkan rumahnya.
Sebuah kerikil kecil yang tajam berkali-kali menusuk telapak kakinya, melukai kulitnya hingga tergesek dan berdarah.
"Semuanya jahat, mereka mengatakan sayang padaku tapi mereka juga mengatakan benci, Aku harus bersembunyi dimana?" ucap Serra berbicara pada dirinya sendiri
Ia pun sampai pada danau dekat sekolahnya berada.
Serra pun masuk di balik pohon yang besar dan berakar. Tempat itu sangat kecil dan gua itu tertutup dedaunan yang merambat disertai akar dari pohon yang tumbuh di atasnya.
Malam semakin dingin ditambah lagi gua kecil itu sangat lembab. Ia membuka jaket dan membentangkannya diatas tanah. Menjadikannya tempat untuk duduk dan berbaring.
Serra duduk diatasnya dengan memeluk lututnya dan menaruh kepalanya diatas lututnya sendiri. Kemudian menangis dalam kesendirian.
"Ahh aku meninggalkan kucing kecil itu, seharusnya aku membawa kucing itu kemari, hiks...,"
"Argh aku benci L" Teriak Serra
Tak berapa lama datang sosok berupa asap hitam. Sosok astral yang berbentuk abstrak.
"Keluargamu membencimu, habisi mereka dengan kekuatan mu. Mereka semua tertawa, mereka meremehkanmu,"
Bisikan aneh terdengar.
"Siapa kau," Tanya Serra
"Lionard tak pernah menyayangimu, ucapannya yang mengatakan jika dia menyayangi mu itu palsu. Cintanya hanya Aluna. Kau tidak ada apa-apanya dibanding Aluna yang cantik, putih dan keturunan bangsawan,"
Serra tak menjawab bisikan itu, ia kembali melamun, membayangkan hal-hal menyebalkan yang pernah Lionard lakukan padanya.
__ADS_1
"Dan apa kau tahu? Liana memiliki hati yang busuk, dia sengaja baik padamu. Aku akan menunjukkan gambarannya saat Liana membicarakan mu dengan Dimitri,"
Pandangan Serra nampak kosong, ia seperti terhipnotis akan tipu daya sosok asap hitam yang menyerupai bayangan.
"Serra, kau dimana?" Teriakan Hans membuat sosok hitam itu marah.
Sosok bayangan hitam yang melayang-layang itu keluar dan membuat hujan badai di sekitar danau. Membuat Hans basah kuyup dan segera menepi mencari tempat teduh.
Tetapi Hans memilih berteduh di balik pohon yang terlihat seperti gua kecil. Dia menemukan Serra terduduk dengan tatapan kosong didalam gua itu.
"Serra,"
Panggilan Hans tak dihiraukannya
Hans mendekati Serra dan duduk di sampingnya seraya menepuk pundaknya.
"Serra, kau melamun?"
Serra tersadar dan terkejut dengan kehadiran Hans, memundurkan duduknya secara otomatis, ia takut Hans akan mengecupnya lagi.
"Ka-kau bagaimana kau tahu aku disini?"
Hans membuka jaketnya dan memberikannya pada Serra
"Aku kan sudah bilang, aku akan selalu ada untukmu. Jadi disinilah aku. Diluar hujan....,"
Serra memeluk tubuh Hans tiba-tiba, kemudian menangis karena ucapan Hans membuatnya sedih.
"Menangis lah," Hans mengusap punggung Serra yang sangat butuh sosok teman dikala hati dan jiwanya terpuruk.
Serra melepaskan pelukannya dan tiba-tiba Serra mengatakan hal yang sangat mengerikan.
"Aku ingin melenyapkan klan drakula," ucap Serra dengan mantap dan dengan tatapan tajam.
"A-apa? A-aku juga drakula Serra,"
"Kecuali kau....., Sayang,"
Kemudian Serra mencumbu bibir Hans. Hans merasa aneh, benarkah orang yang didepannya ini adalah Serra yang dicintainya?
Hans melepaskan ciuman itu dan memakai cincin mistisnya, sebelum ia kehabisan akal. Karena sungguh darah Serra sangat lezat
"Kenapa kau menghentikannya? Bukankah kau menyukainya?"
"Serra, kau selalu menolakku. Dan....,"
"Kau tulus, cintamu tulus. Itulah yang membuatku berubah untuk mencintaimu,"
__ADS_1
Apakah semudah itu? Dia seperti bukan Serra, tetapi ini kesempatanku untuk memiliki dirinya, -batin Hans