Cinta Ku Tuan Drakula Season 2

Cinta Ku Tuan Drakula Season 2
Badmood


__ADS_3

Tuan D sekeluarga menyantap makan malamnya di ruang makan. Seperti biasa masakan Liana sangat enak. Mereka makan seperti layaknya manusia, meskipun makanan itu tidak membuat perut keluarga drakula merasa puas. Tetapi mereka menghormati Serra yang seorang manusia. Apalagi yang membuat keluarga drakula puas kalau bukan darah segar.


Suasana hening, tidak seperti biasanya mereka saling bercerita atau bahkan dimulai dengan pertengkaran antar saudara. Tapi kini Liana tidak mendapati keributan barang secuil pun.


Wanita itu memandangi putranya yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Namun matanya fokus menatap Serra yang duduk persis di hadapannya.


L kenapa menatapku seperti itu? Apa dia ingin menyantap ku? Ahh aku jadi salah tingkah, batin Serra


Kemudian Liana mengalihkan pandangannya. Kali ini ia memperhatikan Serra yang sedikit takut membalas tatapan L.


Ada yang aneh dengan mereka, batin Liana.


Sebelum Liana melihat suaminya meminta penjelasan, Tuan D sudah lebih dulu mengatakannya lewat telepati.


"Nanti akan ku ceritakan usai makan malam ini," jelas Dimitri


"Kenapa tidak mengatakannya sekarang?"


"Rumit, dan lagi pikiranmu yang selalu lambat,"


"Hah enak saja berani mengataiku,"


Dan Tuan D pun tertawa kecil, namun tawanya mengalihkan perhatian Serra dan Lionard, keduanya pun menanyakan hal yang sama.


"Ada apa Ayah?"


"Wow tidak biasanya kalian kompak,"


"Ya hanya kebetulan," jawab L malas.


"Tidak ada apa-apa, sudah lanjutkan makannya," sela Liana.


"Aku sudah selesai makan, terimakasih atas makanannya Ma," ucap Lionard kemudian membawa piring kotornya di dapur dengan sihirnya.


"Lionard, Mama sudah bilang kan? Biasakan membawanya sendiri ke dapur,"


"Sudah biarkan saja," bisik Dimitri dari kejauhan.


Sepertinya Lionard sedang berada di fase badmood. Pria itu pergi ke kamarnya pun dengan kekuatan menghilangnya.


Tak berapa lama, Serra sudah menghabiskan makanannya


"Aku juga sudah selesai. Ma, Pa...," kemudian ia pergi ke dapur untuk membersihkan piring kotornya.


"Kenapa dengan ku ya? Kenapa aku sangat menginginkan darah Serra. Semakin lama aku semakin tak bisa menepis keinginan ku, dan lagi Serra terlihat semakin manis," Lionard berbicara sendiri di kamarnya.


Ia pun memejamkan matanya lalu bersandar pada dinding jendela yang terbuka lebar. Menghirup udara malam dan menghembuskannya dengan kasar.


Tak berapa lama sekelebat bayangan hitam seperti asap melewatinya dari luar jendela. Lionard sedikit menyadari akan bayangan itu. Ia pun teringat akan ucapan ayahnya yang harus selalu berhati-hati. Karena ancaman akan datang sewaktu-waktu.


Kemudian angin sepoi berubah menjadi kencang hingga meniup kain gorden membuatnya berkibar-kibar. Segera ditutupnya jendela yang menganga lebar itu.


Tepat saat jendela tertutup, ada sesuatu yang menghantam keras jendelanya. Hingga kacanya menjadi sedikit retak.

__ADS_1


"Astaga, benda apa itu yang ingin masuk ke kamarku?" Lionard sedikit was-was.


Ia pun menerawang dengan kekuatan sihir drakulanya, namun sialnya pria itu tidak dapat mendeteksi apa yang baru saja menghantam kaca jendelanya.


Kemudian terdengar suara seseorang yang memanggil namanya. Lantas Lionard segera mencari asal suara.


"Sepertinya bukan berasal dari dalam rumah, suara panggilan itu berasal dari luar," Lionard mengintip ke luar jendela tetapi ia tidak membuka jendela itu.


Matanya fokus mencari seseorang di luar jendela.


Pluk


Sebuah tepukan di pundak mengagetkan pria itu. Tepukan itu sontak membuatnya terperanjat kaget hingga sedikit melompat dan reflek langsung berbalik.


"Haiiss Serra huff,"


"Haha memangnya kamu tidak mencium aroma keberadaan ku?"


Lionard tidak menjawab, dia hanya memperlihatkan cincin mistis yang ia pakai kepada Serra.


"Kau sedang lihat apa? Sampai menempelkan wajahmu ke jendela,"


"Kenapa kau kemari?"bukannya menjawab pertanyaan Serra, pria itu malah balik bertanya.


"Kau tidak takut padaku hah? Aku bahkan ingin menyantap mu jika tanpa cincin ini," timpal Lionard


"Aku hanya khawatir padamu. Kau aneh, tidak seperti biasanya," ucap Serra


"Ya... sepertinya kau selalu bercanda, dan suka menjahiliku,"


"Hehe lucu," Lionard tersenyum miring


"Apa yang lucu?"


"Disaat aku menjahilimu, kau marah. Jadi kau senang jika aku selalu menjahili mu?"


"Tidak bukan itu maksudku...Kau terlihat lebih sering diam. Apa kau sakit?"


Lionard mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak sakit, Aku hanya tidak ingin berbicara. Itu saja," jawab Lionard kemudian kembali diam dan hanya menatap Serra.


"Oh jadi seperti itu...Hmm, haha kenapa rasanya canggung ya," ucap Serra kemudian berjalan menuju jendela.


Ia melihat ada keretakan di kaca jendela itu.


"Kenapa jendela ini retak, dan biasanya jam segini kau masih membuka jendela kamarmu," Serra meraba keretakan kaca jendelanya dan tangannya mulai memegang gerendel jendela bersiap membukanya.


"Jangan dibuka," pekik Lionard dan segera berberlari kecil mendekat tepat dibelakang Serra dan tangannya menggenggam tangan Serra yang masih memegang gerendel. Seakan meminta wanita itu untuk tidak membukanya.


Tapi berbeda yang dirasakan Serra, Lionard seperti memeluknya dari belakang. Jantungnya semakin berdegup kencang.


Ahh seharusnya aku tidak masuk ke kamarnya saat ini, batin Serra

__ADS_1


Rambut Serra wangi sekali, apakah ini aroma wanita? Kenapa dengan jantungku, batin Lionard


"Hemm L, bisakah kau menjauh dari ku,"


"Maaf Serra, aku hanya tidak ingin kau membuka jendela itu," ucap Lionard sembari memundurkan langkahnya dan Serra berbalik menghadap L.


"Apa ada seseorang yang melempar sesuatu ke arah kamar ini?" terka Serra


"Sepertinya begitu, tapi aku tidak yakin. Ini kaca anti peluru, kau tau sendiri kan. Tidak mungkin bisa retak jika ada manusia yang melemparnya. Dan jika itu drakula, lalu siapa? Aku tidak punya musuh,"


"Kau harus mengatakan hal ini pada Ayah,"


"Hemm nanti sajalah, malam ini aku benar-benar badmood ,"


"Tak biasanya seorang pangeran badmood,"


"Aluna tidak membalas pesanku, dia juga tidak menjawab telepon ku. Aku takut dia marah karena, aku meninggalkannya di sekolah tanpa pamit,"


"Astaga jadi ini semua soal Aluna,"


"Tidak juga,"


"Lalu apa?"


"Serra, mulai sekarang kau jangan mendekatiku. Dan sebaliknya, aku tidak akan mendekatimu. Kita harus jaga jarak, kalau perlu menjauh,"


"Bagaimana bisa, kita tinggal satu rumah,"


"Aku berencana meninggalkan rumah, aku tidak bisa serumah dengan manusia sepertimu. Kau harus pahami aku,"


"Kau punya cincin kan?"


"Aku tidak yakin jika hanya dengan mengandalkan cincin mistis ini. Aku memikirkan hal ini selama makan malam tadi,"


"Jadi keberadaan ku dirumah ini sangat menggangu mu?" ucap Serra dan kemudian mereka berdua terdiam.


"Jika ada yang harus pergi, harusnya itu aku. Karena aku bukan anak Raja dan Ratu," timpalnya lagi.


Lionard menunduk, dia harus mengatakan sesuatu yang tidak menyakiti Serra. Masalahnya ada pada Lionard sendiri bukan Serra.


"Tidak Serra, kau sama sekali tidak menggangguku. Tetapi akulah, aku tidak ingin membahayakanmu. Aku tidak bisa menahan keinginan ku untuk tidak...,"


"Untuk tidak apa?"


"Kau pasti mengerti maksudku kan?


Serra hanya menggelengkan kepala, meskipun sebenarnya dia tahu tetapi Serra tidak hanya ingin menerka saja.


"Aku menginginkan darah, dan aroma darahmu terus menghantuiku. Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Aku sangat menyayangimu Serra," ucap Lionard yang tulus menyayangi Serra sebagai saudara sepupunya.


"Aku juga menyayangimu L," balas Serra, "Aku menyayangimu sebagai wanita kepada lelaki, bukan seperti layaknya saudara," timpal Serra


"Maksud mu?"

__ADS_1


__ADS_2