
"Se-Serra, kau mau apakan aku hah?" Aluna ketakutan dengan ucapannya yang terbata ia memundurkan langkahnya.
Serra menatap mata Aluna dengan pandangan yang penuh dendam, lalu satu tangannya dijulurkan ke depan seperti ingin mencekik Aluna.
Sementara Aluna sudah tidak mundur karena terhalang ranjang dengan kasur yang sudah usang. Serra semakin dekat ia ingin meraih leher Aluna, dan Aluna terus menepis Serra. Gadis itu juga mendorong Serra lalu bergeser kesamping dan meloloskan diri. Serra menarik tangan kiri Aluna yang memegang lilin hingga lilin itu terjatuh di kasur.
Serra berhasil mendapatkan mendapatkan kerah Aluna dengan tangan kirinya, lalu tangan kanan Serra mulai mencekik Aluna.
Aluna tercekat, ia kesulitan bernapas. Kedua tangannya memukul-mukul lengan Serra agar terlepas. Tetapi Serra terlalu kuat. Wanita itu bahkan tidak bergerak mundur saat Aluna mendorongnya sekuat tenaga.
Lilin yang terjatuh di kasur tadi telah membuat apinya semakin besar. Suhu ruangan di kamar itu semakin panas, Aluna berteriak tetapi suaranya tidak keluar, ia pun malah terbatuk-batuk tetapi juga butuh udara rasanya otaknya ingin meledak dan bahkan matanya melotot bukan karena marah tetapi dirinya membutuhkan oksigen.
Tak berapa lama Serra menjatuhkan Aluna ke kasur yang sudah berkobaran api.
"Panass!" Teriak Aluna yang langsung beranjak duduk kasurnya.
Kepalanya berputar ke kanan ke kiri, melihat sekelilingnya. Tak ada api, tak ada Serra. Rupanya dia sudah berada didalam kamarnya sendiri.
Suhu ruangan kamarnya terasa panas karena Aluna lupa mematikan pemanas ruangan.
"Pantas saja terasa panas, aku belum mematikan pemanas ruangan," ucapnya sembari mengelap peluh di keringatnya dengan tangannya.
"Mimpi yang sangat mengerikan, tapi terasa sangat nyata," Aluna masih merasa sakit di lehernya.
Ia pun meraba lehernya dan kemudian ia membuka selimut untuk melihat kakinya yang juga masih terasa sakit.
"Astaga apa ini? Apakah aku benar-benar di tempat itu dan Serra ingin membunuhku? Apa dia dendam karena aku yang membuatnya di hajar teman-teman," gumam Aluna terkejut saat melihat ada lingkaran hitam di kedua kakinya.
Gadis itu lalu beranjak dari kasurnya dan pergi ke meja riasnya untuk melihat di cermin apakah leher bekas cekikan itu juga berbekas?
"Astaga leher ini juga berbekas sedikit memerah terutama di bagian depan dimana tenggorokanku ditekan sangat kuat,"
Brak
"Serra, aku akan laporkan tindakanmu ini, hah lihat saja nanti,"
Sementara asap hitam yang terus mengikuti Aluna terlihat di cermin. Aluna memicingkan matanya, kemudian ia langsung berbalik. Tetapi tidak ada apapun dibelakangnya.
"Mungkin hanya halusinasi ku saja,"
"Apa? Ada sesuatu yang jahat berkeliaran dan menuju ke kota kita?"
"Ya sayang, aku tidak tahu siapa pelakunya. Aku juga tidak bisa menerawang dengan kekuatan ku,"
"Apa kau sudah melihatnya apa yang terjadi di masa depan?"
__ADS_1
"Sudah sayang, bahkan dia pintar menutupi dirinya sehingga aku tidak bisa melihatnya melihatnya dari pandanganku itu. Aku takut tidak dapat menjadi Raja drakula yang baik, Aku takut jika klan drakula kita musnah. Sudah sekian lama aku mempertahankan prinsip dasar agar drakula dan manusia berjalan beriringan. Tidak ada permusuhan,"
Liana kemudian memeluk Tuan D dari belakang, memberinya sebuah kekuatan untuk menenangkan kerisauan yang dihadapi suaminya.
"Aku yakin, jika suamiku ini ada Raja yang bijaksana, baik dan dapat melindungi rakyatnya. Aku akan selalu ada menemanimu. Ayo kita cari bersama, siapa pelaku pembunuhan ini, apakah manusia atau drakula kita harus menangkapnya. Lagi pula aku yakin, pemerintah juga ikut menyelidikinya,"
Tuan D tidak menjawab ucapan Liana, ia melepaskan pelukannya, berbalik lalu mencium bibir Liana, melummatnya hingga energi keduanya berubah menjadi panas.
"Aku sudah lama tidak membawamu ke dimensi lain. Aku butuh waktu untuk berduaan denganmu, tidak ada orang lain yang mengganggu,"
"Haha seperti waktu itu,"
"Ya waktu kau masih malu-malu mengakui perasaanmu,"
Whuuuuus
Tanpa berlama-lama, Tuan D dan Liana sudah menghilang dari kamar menuju dimensi lain.
Sementara diruangan lain, Serra tidak bisa tidur. Ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman dibelakang rumahnya.
"Sepi betul, biasanya jam segini Mama belum tidur,"
Serra mengamati rumahnya sendiri sebelum benar-benar keluar dari rumahnya. Saat ia sampai di taman, ada seekor anak kucing yang imut sedang menggaruk-garukkan badannya ke salah satu tumbuhan.
"Ahh lucunya kamu, kucing kecilku,"
Serra berlari mengejar kucing kecil yang berbulu hitam berbelang. Sepertinya kucing itu baru lahir beberapa bulan, jadi entah kemana induknya.
"Hei mau lari kemana kau, kau harus jadi milikku ya, haha," ucap Serra terus mengejar kucing yang ternyata sudah melewati pekarangan rumahnya.
Kucing itu berlari sangat jauh, dan Serra yang sangat ingin memiliki kucing itu pun ikut mengejarnya tidak peduli seberapa jauhnya. Padahal hari sudah sangat malam, pukul sebelas malam. Suasana di perumahannya pun sudah sangat sepi.
Serra kehilangan jejak arah lari kucing itu, ia pun berjalan kecil sembari melihat-lihat jika kucing itu bersembunyi di semak-semak tanaman.
Terdengar suara mengeong entah dari mana, Serra mengikuti asal suara tersebut dan ternyata si kucing sudah berada di atas pohon.
"Astaga kau memanjat dengan cepat tapi kau sendiri tidak tahu cara turunnya ya hehe, sini aku bantu,"
Serra memanjat pohon yang sebenarnya tidak tinggi, namun untuk ukuran kucing itu, pohon yang dinaikinya sangatlah tinggi. Serra menginjak ranting yang satu dengan ranting yang lainnya. Sebenarnya Serra juga takut, namun ia berhati-hati demi menyelamatkan sang kucing.
Screetch
Serra mendapatkan kucingnya, namun ia menginjak ujung ranting yang tipis dan terjatuh lah dia, tetapi dengan cepat tangan kanannya meraih ranting yang lain. Sedangkan tangan kiri Serra memeluk si kucing kecil. Lalu ia mengangkat kakinya untuk mendarat di ranting yang lain tetapi jaraknya terlalu jauh.
Sebenarnya ia bisa saja memakai sihir, namun keluarganya selalu berkata, jangan gunakan sihir jika tidak dalam keadaan darurat.
"Tidak ada cara lain kucing, sepertinya kita akan terjatuh bersama, kau tetap dalam pelukanku ya. Aku akan menjagamu,"
__ADS_1
"Siap-siap ya, satu, dua....tiga," ucap Serra sembari memejamkan matanya dan menjatuhkan diri ketanah
Bruk
Serra terjatuh tetapi ia tidak terjatuh ke tanah melainkan ia terjatuh ke pelukan Hans.
"Hans," ucap Serra setelah membuka mata karena merasa aneh dengan jatuhnya karena tidak sakit sama sekali.
"Hai, calon istriku,"
"Hmm mimpi saja kau, turunkan aku,"
"Jutek sekali, aku sudah menolong mu loh," Hans menurunkan Serra dari gendongannya.
"Aku tidak butuh pertolonganmu,"
"Suatu saat, akulah yang selalu bisa kau andalkan. Akulah yang selalu ada disampingmu, saat semuanya mulai menjauhimu. Cintaku ini buta Serra, kau telah melumpuhkan diriku,"
Andai L yang berbicara seperti itu padaku - batin Serra
"Hahaha, Hans. Terimakasih aku ucapkan. Maaf aku tidak bisa membalas cintamu,"
"Tidak apa, aku rela asal kau bahagia," ucap Hans seraya mengerlingkan satu matanya dengan ekspresi genit.
"Sudah ya, aku mau pulang,"
"Aku temani ya,"
Dan mereka pun berbicara apapun, sebenarnya ini kali pertamanya Serra berbicara banyak pada Hans. Sebelumnya Serra selalu menjauhi pria itu. Karena saat melihat Hans, dirinya selalu teringat akan orang tuanya yang tidak sengaja ia lenyapkan.
Sesampainya di rumah Serra langsung bergegas, karena melihat lampu rumahnya yang menyala terlihat dari luar.
"Gawat mama bisa marah kalau aku keluar malam-malam,"
"Tenang saja, ada banyak alasan sayang,"
"Hans aku serius, kau pulang lah," seru Serra pelan
Namun Hans tidak juga pulang, ia masih berada dibelakang Serra. Mengikutinya hingga wanita itu masuk dengan keadaan baik-baik saja.
Ceklek
Pintu utama rumah dibuka, dan semua orang telah berkumpul di ruang tamu itu. Tidak hanya kedua orang tuanya, tetapi juga ada Lionard dan Aluna dengan wajah menangis.
"Hai, Mama, Ayah, ka-kalian belum tidur ya," ucap Serra sedikit tergagap karena semua orang memandangnya dengan tatapan tajam.
"Lihat Tuan, tanyakan saja pada Serra kemana dia. Dia yang sudah membuat saya seperti ini, dia mencoba membunuh saya," pekik Aluna sembari menuding dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Apa membunuh?" ucap Serra dengan membelalakan bola matanya dan mengerutkan dahinya.