Cinta Ku Tuan Drakula Season 2

Cinta Ku Tuan Drakula Season 2
Ketakutan


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


"Hah?"


Sial seharusnya aku tidak mengatakan itu batin Serra.


"Kau mengatakan jika kau menyayangiku bukan seperti saudara, tetapi layaknya seorang wanita yang menyayangi seorang laki-laki?" Lionard mengulang perkataan Serra dengan bahasanya sendiri sembari mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak mengatakan itu, kau salah dengar,"


"Tapi aku yakin..."


"Aku hanya bilang meski aku wanita dan kau laki-laki, tapi aku tetap menyayangimu karena kita saudara,"


Aneh, rasanya aku tidak mendengarnya seperti itu, batin Lionard


"Sudah malam, aku kembali ke kamar ku dulu ya. Hemm seharusnya kau bilang pada Ayah soal retaknya kaca ini," ucap Serra kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Lionard dengan sedikit terburu-buru.


Lionard menatap punggung Serra yang mulai semakin menjauh, seraya berpikir.


"Benar juga sih, tidak mungkin Serra mempunyai perasaan lebih padaku. Aku melihatnya dengan Hans berciuman. Sudah pasti dia menyukai Hans," kemudian Lionard melihat telapak tangannya yang berbekas terkena duri.


Tapi kenapa itu membuat hatiku sedikit perih? Apa aku cemburu, tidak mungkin kan? Ah mungkin saja hatiku tak suka jika ada yang lebih bisa melindungi Serra melebihi aku.


Lionard terus berpikiran didalam hatinya. Setelah itu ia mengambil ponselnya, membuka pesan yang belum juga dibalas oleh Aluna.


Disisi lain, Aluna berada disebuah tempat seperti istana dengan bangunan kuno. Lantainya berdebu Daan tempat itu sangat gelap tanpa cahaya lampu. Hanya lampu dari rembulan yang sinarnya masuk melewati jendela dan ventilasi.


Dimana aku, apakah ini mimpi karena aku sedang tidur tadi tapi....kenapa semuanya terasa amat nyata, -batin Aluna


Tak berapa lama, persis dibelakannya sebuah ruangan terbuka dengan suara pintu yang berderit disertai gema membuat Aluna berbalik cepat dan jantung berdegup kencang karena terkejut disertai takut.


Terlihat dari luar pintu jika ruangan yang baru saja terbuka itu, lebih gelap dari tempat Aluna berpijak. Terlebih lagi tidak ada manusia yang terlihat disana.


Dengan langkah penuh ragu, Aluna berjalan perlahan mendekati ruangan yang lebih gelap itu. Jantungnya terus bertabuh, untuk menenangkan dirinya dari rasa takut wanita itu pun memegang dadanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Saat kaki menginjak lantai ruangan yang terbuka itu, tiba-tiba sebuah lilin menyala dengan ukuran sedikit besar. Lilin itu berada di sebuah tempat yang menempel pada dinding . Dan saat kaki itu melangkah maju beberapa langkah, sebuah lilin menyala lagi. Sepertinya dia sedang dituntun ke sebuah tempat, dan semakin terlihat jelas jika itu bukan ruangan melainkan pintu masuk yang memiliki lorong panjang.


Aluna menghentikan langkahnya, dan mulai menganalisa sendiri, jika ia terus melangkah kemungkinan lilin -lilin disepanjang lorong itu mulai menyala dengan sendirinya.


Segera saja Aluna melanjutkan langkahnya, kali ini ia menambah kecepatan berjalannya, lama kelamaan ia pun berlari hingga menabrak sesuatu didepannya lalu terpental dan jatuh


Entah sesuatu apa yang ditabrak Aluna, yang pasti Aluna tidak melihat ada sesuatu yang menghalanginya. Lorong itu terlihat masih panjang ke depan.


Kemudian ada sekelebat bayangan hitam yang melewatinya. Aluna yang sebelumnya tidak melihat bayangan hitam itu, kini ia jelas melihatnya. Bayangan yang terlihat di lantai itu kemudian hilang dari lantai seolah-olah berkumpul dan membentuk sebuah asap hitam.


Aluna memundurkan bokongnya, ia sungguh takut.


Ya Tuhan, asap apa itu? Jika ini mimpi, bangunlah Aluna. -batin Aluna


Asap hitam yang melayang itu semakin membesar. Kemudian sebuah pintu terbuka lagi dari sisi kanan Aluna.


Aluna hanya bisa melirik ke kanan melihat pintu yang terbuka. Ia tak berani bergerak, pikirannya dipenuhi dengan rasa takut. Dadanya terlihat kembang kempis karena napasnya mulai tak teratur. Ia juga merasa sesak karena minimnya udara disekitar.


Aluna memejamkan mata dan memberanikan diri untuk beranjak bangun. Namun ia tidak melanjutkan langkahnya, melainkan berbalik ke pintu semula.


Ia terjebak di lorong sempit yang panjang itu.


"Bukaa....!" Teriak Aluna sambil menggedor-gedor pintu yang besar dengan ukiran yang sangat rumit.


Aluna menangis kemudian berteriak, "Siapa kau! Biarkan aku pergi! Ku mohon hiks,"


Aluna memejamkan matanya berharap jika itu adalah mimpi. Namun saat ia membukanya kembali, dirinya masih berada ditempat itu. Di sebuah bangunan kuno seperti istana.


Kemudian Aluna menghantukkan kepalanya sembari terus menangis. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia hanya manusia biasa


"Ini nyata, bahkan hantukan itu membuat dahiku sakit, hiks tolong buka pintunya," Aluna semakin menangis sesegukan hingga ucapannya yang lirih tidak terdengar jelas.


Lututnya melemas dan dia berjongkok didepan pintu. Kemudian asap hitam itu kembali mendekat menuju kearahnya. Aluna yang tahu kedatangan asap itu pun segera merapatkan diri ke sudut dinding. Dirinya duduk hingga terpojok.


Lalu sesuatu terasa mencengkeram satu kakinya, Aluna dapat merasakannya tapi dia tidak melihat ada yang mencengkeram kakinya.

__ADS_1


Cengkraman yang semakin erat itu menyeret kakinya. Hingga badan Aluna ikut terseret.


"Aahhhh siapa kau! Toloooong," pekik Aluna mencoba melepaskan cengkraman itu dengan menghentakkan kaki satunya. Tetapi malah kedua kakinya ikut dicengkeram bahkan semakin erat seperti tulangnya mau patah.


Aluna ingin berteriak lagi namun sepertinya percuma, ia pun memilih diam dan menahan sakitnya.


Ia terseret masuk ke ruangan kedua, yang pintunya terbuka tadi. Kemudian Aluna diangkat dan dihempaskan hingga dirinya membentur tembok. Lilin yang menyala di dinding, dekat Aluna dihempaskan, juga ikut terjatuh.


"Arghhh, ahh sakit! Kau siapa hah?" Aluna kesal berteriak marah dan disertai tangis.


Tetapi tidak ada jawaban dari siapapun. Asap itu pun menghilang dari pandangan Aluna


Aluna berdiri mencoba melarikan diri lagi. Namun pintu itu tertutup dengan sendirinya. Aluna melihat sekelilingnya dengan cahaya yang redup. Penerangan di ruangan itu, hanya lilin yang terjatuh tadi. Ia pun memungut lilin itu dan melihat sekelilingnya.


Rupanya ruangan itu terdapat ranjang yang terlihat usang, berdebu. Ranjangnya yang terbuat dari besi terlihat berkarat.


Tempat itu tidak memiliki cukup udara yang baik. Sarang laba-laba sampai betah terperonggok di atas atap, di dinding dibalik pintu, di jendela dan masih banyak lagi.


Persis disamping Aluna terjatuh tadi ada meja yang diatasnya ada beberapa buku dan peralatan menulis disampingnya ada botol tinta yang tidak tertutup rapat. Bahkan tinta itu bercecer di meja. Sisi atas dan kaki meja, sudah tak utuh karena dimakan rayap. Sementara ada kursi yang hancur didekat ranjang.


Kamar itu berukuran kecil, dan ada jendela yang terpaku dengan kayu menyilang.


Aluna berjalan mendekati jendela dan melihat keluar. Dia tidak bisa melihat apapun karena kaca jendela itu dipenuhi debu tebal yang sudah menghitam. Pandangannya kemudian tertuju pada sesuai yang menyeramkan. Sebuah rantai besi yang terlilit di sisi dan kiri besi ranjang.


"Apakah kamar ini bekas penyekapan?" gumam Aluna


Seketika bulu kuduk Aluna meremang. Ada angin yang bertiup di belakangnya. Ia pun menoleh kebelakang sembari membalikkan badannya.


"Siapa kau, keluarlah!" Pinta Aluna.


Ia memberanikan diri untuk maju meskipun takut, ia berjalan menuju asal angin. Kakinya masih terasa sakit bekas cengkraman tadi. lalu langkahnya terhenti. Ia melihat sebuah bayangan yang berjalan dan kemudian bayangan itu naik dan berubah menjadi asap kembali.


Aluna memundurkan langkahnya karena asap itu bergerak maju mendekatinya. Dan ia menjatuhkan lilinnya saat Asap itu berubah menjadi sosok yang dikenalnya, Serra.


"Serra?" Aluna bergetar menyebut nama Serra.

__ADS_1


Pasalnya, Serra membunuh orang tuanya sendiri dengan kekuatannya. Melenyapkannya menjadi abu dan abu itu sendiri ikut menghilang. Tidak ada jasad, tidak ada abu yang tertinggal, hanya kenangan yang bisa terhapus sewaktu-waktu, karena sejatinya memori manusia tak ada yang abadi.


__ADS_2