
Setelah sampai di rumah Aluna yang seperti istana, dengan halaman yang luas ditambah ada kebun dan taman bermain di tengahnya terdapat air pancur dengan hiasan patung angel bersayap yang indah. Bangunan Eropa kuno berdiri dengan gagahnya di kawasan elit Edelweis.
Sang Ibu yang kebetulan hendak pergi dengan mobil Limousine nya menatap sinis dengan kedatangan seseorang pemuda dengan mobil sedan yang sudah tua seperti mobil rongsokkan baginya.
Menjijikan sekali, sudah ku bilang jangan berteman dengan anak miskin.
Sang ibu masih menunggu Aluna turun dari mobil temannya itu, meskipun berada di teras rumah yang beratap sang asisten harus berada di samping, untuk memayungi majikannya itu dengan payung yang amat besar. Terlihat sekali sang asisten sudah keberatan memegangi payung itu. Namun majikannya tak jua masuk kedalam mobil.
Aluna turun dari mobil Lionard, tak lupa ia berterimakasih. Lionard bertaruh pada temannya, "Dalam kehitungan ke tiga, jika Aluna berbalik maka itu artinya dia menyukaiku," ucap Lionard dengan bangga.
"Dua...Tiga..Yesss," ucap Lionard karena Aluna menoleh ke belakang sebelum sampai di teras rumahnya. Ia kemudian berlari karena hujan masih mengguyur deras. Setelah itu Lionard pulang melajukan mobilnya
Hans menoyor kepala Lionard yang sok ganteng, "Huh... Ambil aja Nard, bagiku Serra lebih menarik," Ucap Hans seraya mencolek dagu Serra dari belakang kursi yang diduduki Serra.
"Kau belum puas pernah ku bikin kau sekarat hah?" ujar Serra menepis tangan Hans dan melirikannya tanpa menoleh ke belakang. Sementara Lionard tidak menanggapi kedua makhluk yang ada didalam mobilnya, pria itu asik sendiri karena Aluna berbalik melihatnya.
Aluna naik ke atas teras dengan menaiki anak tangga yang kecil-kecil dengan berhati-hati karena sedikit licin. Setelah Aluna sampai di mobil Lionard menjauh, Ibu Serra memanggil Aluna dengan tatapan kejam.
"Aluna, kemari!" Panggil sang Ibu
Mampus kau Aluna
__ADS_1
"I-iya Moms," jawab Aluna dengan tertunduk.
Setelah Aluna mendekat dan berada di hadapannya. Ibu Aluna dengan kasar mendorong Aluna hingga terjatuh bergelinding menuruni anak tangga. Untung saja tangga itu tidak terlalu tinggi hanya 10 buah anak tangga berukuran kecil.
Aluna terjatuh ke dasar tangga dengan sikut yang berdarah serta pakaiannya kotor terkena paving yang basah. Belum lagi guyuran hujan membasahi tubuhnya. Aluna meringkuk kesakitan karena sikut lengan dan kakinya terbentur anak tangga. Ia tertunduk dan meringis kesakitan menahan tangis.
"Kau bodoh atau bagaimana? Sampai berapa kali harus ku ulang perkataan ku? Kau....Tidak boleh berteman dengan anak miskin! Mengerti!" Hardik Nyonya Angel, namanya angel yang berarti malaikat namun sikapnya tak mencerminkan seorang malaikat.
"Aku sudah menuruti mu, Moms! Aku bahkan tidak punya banyak teman... Aku terpaksa pulang dengan mereka karena mobil David tiba-tiba mogok dijalan," ujar Aluna dengan lirih.
"Aku tidak mau tahu! Kau dengar? Jika aku melihatmu dengan mereka lagi? Aku tidak akan segan untuk mengurung mu di ruang bawah tanah, mengerti!" ucap Nyonya Angel kemudian bergegas pergi dan berjalan dengan sombongnya.
Karena gaya berjalannya yang angkuh Nyonya Angel pun terpeleset saat menuruni anak tangga di teras rumahnya sendiri. Sang asisten ingin tertawa namun ia segera menahan tawanya dan membantunya berdiri. Jika tidak bisa-bisa ia dipecat saat itu juga.
Apa hubungannya Nona Aluna dengan terpelesetnya Nyonya Angel huh Nyonya kau tahu tidak, baru saja kau di tegur Tuhan agar tidak jahat pada anak sendiri.
Sang asisten kemudian mendekati Aluna dan membantunya berdiri.
"Sudah jangan hiraukan ucapan Nyonya, Dia bersikap seperti itu semenjak Ayahmu menikah lagi. Mungkin itu akibat dari stres. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya?" Ucap Tito, sang asisten wanita yang mengurusi urusan rumah tangga.
Aluna pun bangkit berdiri, sembari menangis tersedu-sedu karena sedari tadi ia menahan air matanya untuk tidak keluar. Aluna di ajarkan menjadi kejam dan sombong padahal itu diluar dari karakter pribadinya. Tak ada teman yang betah disampingnya. Tidak satupun kecuali Anna, dia anak Tito yang seumuran dengannya. Terkadang Anna datang kerumah besar itu untuk bermain, belajar bersama dengan Aluna jika Nyonya besar keluar kota atau keluar negri
__ADS_1
Ayah Aluna, Marten sudah lama menikah lagi sejak Aluna masih bayi. Dia tidak hanya dua kali menikah. Baru saja ia menikah dengan gadis seumuran Aluna. Marten hanya datang kerumah itu seminggu dua kali untuk memberi jatah harian pada Nyonya Angel sebagai istri pertama.
Setelah Aluna mandi dan berganti baju, Tito mengobati lukanya yang ada di lengan, sikut dan lutut. Tidak luka serius hanya luka lecet dan goresan saja.
"Nona Aluna, makanan sudah siap di meja makan, saya permisi," ujar Tito dengan sopan dan lembut.
"Aku tidak napsu makan, rasanya aku ingin mati," sahut Aluna sembari menyisir rambutnya yang sedikit basah.
"Aduh jangan berkata seperti itu Non. Nanti makan ya, nanti jika Nyonya kembali tapi Nona belum makan, saya bisa terkena marah Non,"
"Ya sudah saya permisi," pamit Tito.
Tito sangat kasihan terhadap Aluna, ia berharap anak gadis itu segera dilamar oleh pangeran berkuda putih, kalau tidak punya kuda putih setidaknya memiliki mobil mewah seperti yang sering dikatakan Nyonya Angel.
Setelah Tito keluar dari kamar Aluna, wanita itu menyisir rambutnya mengingat kejadian Lionard yang datang membawa payung untuknya. Itu hal teromantis yang dilakukan seorang pria padanya.
Aluna mulai tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Tapi ia kemudian menjadi takut saat mengingat Serra. Dirinya memang salah berkata tapi sikap sombongnya kerasnya sudah terbentuk karena didikan yang salah. Hanya penyesalan yang datang belakangan.
Bagaimana jika Serra membenciku dan melenyapkan ku, aku sudah salah berucap. Besok aku akan meminta maaf padanya. Tapi....Aku selalu diawasi mata-mata dari Mommy. Huff bagaimana caranya ya agar pertemuan ku dan Serra tidak ada yang tahu?
Aluna sendiri tidak tahu siapa yang terus melaporkan perbuatannya pada ibunya, setiap Aluna berbaik pada temannya, ketika pulang ia selalu terkena marah dan mendapatkan hukuman.
__ADS_1
Tujuan Ibunya sendiri untuk mendidik seperti itu karena ingin anaknya menjadi orang yang kejam, berambisi untuk bisa membalaskan dendam ya pada istri muda Ayahnya. Dan Aluna harus bergaul dengan orang kaya agar dapat menjalin kerjasama kedepannya.
Namun sayangnya teman Aluna yang kaya raya tidak ada yang ingin berteman dengannya. Mereka tidak suka tersaingi karena Aluna sangat cantik.