
Di dalam mobil, Ajeng diam-diam menatap Vander yang memangku kepala Netty di pahanya.
Oh my God. apakah ini nyatanya? bos Vander memangku Netty? Apa, apa yang sudah terjadi di antara mereka? apakah ada sesuatu yang selama ini tidak aku ketahui. Netty, sadarlah, kenapa kamu pingsan lama sekali, ada apa denganmu?
Ajeng bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan sangat penasaran.
"Hay, mantan bos, aku ingin bertanya, apa sebenarnya yang terjadi pada sahabatku? Anda tidak sedang mencoba untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada sahabatku kan?" tanya Ajeng memberanikan diri menoleh ke belakang.
Vander tidak menjawab, dan tatapannya masih lurus menatap ke jalan dengan tajam.
Sial !
Umpat Ajeng merasa mati kutu karena di cuekin oleh Vander.
Sedangkan Netty hanya bisa terus memejamkan matanya dan mencoba untuk merilekskan pikirannya. Sungguh, Netty ingin bangun dan mencolot dari dalam mobil ini. Berada di dekat Vander, membuatnya sangat sesak nafas sehingga perutnya kembali merasa mual.
Di tambah dengan aroma mobil, membuat Netty benar-benar dilanda siksa yang sangat pedih.
Ya tuhan, aku ingin segera turun... seru Netty dalam hatinya.
"Abang!?" Ajeng pun menatap Kansa.
"Abang?" Vander pun mengerutkan keningnya ketika mendengar Ajeng seorang mantan bawahnya memanggil orang kepercayaan dengan sebutan "Abang"
Menurut Vander, sebutan Abang sepertinya untuk seseorang yang sudah dekat dan saling mengenal.
"Uhuk"
"Uhuk"
Kansa pun terbatuk-batuk mendengar Ajeng dengan berani memanggilnya begitu di depan Vander.
"Mengapa? apakah salah jika aku memanggilnya Abang!?" tanya Ajeng.
Vander dan Kansa lagi-lagi hanya diam dan tidak menggubris perkataan Ajeng.
...Ajeng, diamlah, jangan membuatmu terlihat lebih bodoh dengan pertanyaan-pertanyaan konyol mu itu! seru Netty dalam hati....
Ajeng yang lagi-lagi dicuekin tiba-tiba langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Huhuhuhuu...huuu..huuu... Pak polisi, tolong kami pak!? ada orang yang dendam pada kami dan mencoba untuk untuk menculik kami!?" Ajeng dengan aktingnya melakukan tindakan yang membuat Kansa langsung membanting setir ke posting pinggir jalan.
Ajeng yang melihat tatapan mematikan dari Kansa pun langsung mengelap air matanya dan menunjukkan giginya kelincinya.
"Apa yang kamu lakukan!?" tanya Kansa.
"Hehehe, aku hanya bercanda, pis...!" Ajeng memberikan dua jari untuk meminta damai.
Ajeng, yang kamu lakukan bodoh. Aduh, perutku kembali melilit dan rasanya ingin muntah lagi. Aaaaa... aku sudah tidak kuat! umpat Netty
Tiba-tiba, Netty langsung bangkit dari pura-pura pingsannya dan langsung membuka pintu mobil.
HUWEEK...
HUWEEK...
HUWEEK...
Akhirnya Netty memuntahkan sisa-sisa makanan yang masih ada di dalam perutnya. Hanya sedikit, karena perut Netty sudah tak ada isinya lagi.
"Netty!?" Ajeng pun langsung panik ketika melihat sahabatnya muntah-muntah dan terlihat pucat.
__ADS_1
"Netty, kamu tidak papa, hah!?" tanya Ajeng sambil mengelus-elus pundak Netty.
"Perutku, rasanya seperti terlilit, belikan aku obat maag saja untuk meredakannya," ucap Netty dengan Bibir yang bergetar.
Vander pun turun dan langsung memberikan minum air putih kepada Netty.
"Minumlah, setelah ini kita langsung kerumah sakit saja," ucap Vander.
Ajeng dan Netty sama-sama melongo melihat Vander. Merasa tidak percaya, itulah yang sedang mereka pikirkan.
"Maaf pak, aku tidak perlu ke rumah sakit, hanya perlu minum obat warung setelah itu aku akan membaik," tolak Netty.
"Kamu harus kerumah sakit!" ucapnya lagi.
"P-pak, sebenarnya aku tadi hanya pura-pura pingsan saja," jawab Netty jujur.
"Saya tahu kamu hanya pura-pura pingsan, tetapi sakit kamu tidak pura-pura, jadi kita tetap harus kerumah sakit," tandas Vander membuat Netty dan Ajeng langsung terbawa suasana perasaan baper tingkat dewa.
Aaaa... kenapa pak Vander bisa semanis ini.. uuu sweet sekali...
Ajeng jingkrak-jingkrak di dalam hati.
Akhirnya Netty dan Ajeng pun bersedia untuk kerumah sakit.
Di dalam perjalanan, kini posisi duduk berpindah. Netty dan Ajeng duduk di belakang, dan Vander duduk di depan.
"Net, apakah perutmu masih sakit?" tanya Ajeng.
"Sedikit, jeng!" jawab Netty, namun dari suara dan getaran bibir terlihat jika itu sepertinya tidak sedikit, namun sangat-sangat sakit.
Tidak lama mereka pun sampai ke rumah sakit. Vander turun dari mobil dan langsung membuka pintu Netty. Tidak menunggu persetujuan, Vander pun langsung membopong Netty, membuat Netty benar-benar ingin pura-pura pingsan lagi karena dia sangat malu kali ini.
WHAT !
Kansa dan Ajeng membuntuti Vander dari belakang. Tatapan Kansa yang sama sekali tidak melirik Ajeng, membuat Ajeng merasa sangat kesuh.
Sedangkan Vander, ia langsung membaringkan tubuh Netty di ruang UGD.
Tidak berlangsung lama, dokter pun datang dan memeriksa Netty.
"Apa yang di keluhkan oleh pasien?" tanya Dokter.
"Saya merasa perut terlilit, panas, nyeri, sakit di perut, Dok!" jawab Netty.
"Baiklah, biar saya periksa dulu ya."
Setelah beberapa saat, dokter pun mengambil kesimpulan jika Netty mengalami gejala infeksi lambung.
"Apakah ini perlu melakukan operasi?" tanya Vander.
"Tidak, pak. Kita tidak perlu melakukan operasi, karena ini baru gejala dan belum parah. Kami akan memberikan obat-obatan dan melakukan perawatan," jawab dokter.
Vander dan semua orang pun menghela nafas lega.
Karena uang yang di miliki Vander, Netty akhirnya di tempatkan di ruangan VVIP yang sangat nyaman.
Vander dan Kansa duduk di sofa, sedangkan Ajeng duduk di samping ranjang Netty.
"Net, makan buburnya sedikit dan minumlah obatnya, agar kamu lekas sembuh, ya?" Ajeng mencoba untuk menyuapi sahabatnya.
Vander dan Kansa hanya duduk dan diam. Sesekali, Vander melirik ke arah Netty yang masih pelan-pelan makanan apa yang di suapi Ajeng.
__ADS_1
"Maafkan aku yang sudah merepotkan mu, aku sudah berusaha menahanya agar tidak sakit," ucap Netty merasa tidak enak kepada Ajeng.
"Hmm.. aku akan marah-marah setelah kamu sembuh nanti. Jika aku ngamuk sekarang, takutnya kamu sedih dan malah meninggoy!" gurau Ajeng.
Netty tersenyum di sela-sela perutnya yang terus merasa melilit.
Setelah minum obat, akhirnya Netty benar-benar bisa terlelap. Ajeng tersenyum dan merasa lega, akhirnya Netty bisa melepaskan rasa sakitnya dengan tertidur.
Ajeng menghampiri Vander dan Kansa.
"Pak Vander, dan Abang, terima kasih banyak karena kalian sudah sudi menolong sahabatku, saudariku satu-satunya di dunia ini. Aku tidak tahu harus berkata apa kepada kalian, sebagai sahabatnya, aku merasa sangat bersalah karena tidak tahu jika Netty sedang sakit."
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Vander.
"Hah!?" Ajeng pun terperangah, tidak mengerti.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku? apakah kalian sedang mencoba untuk menggoda kami?" tanya Vander.
Deg
Gilak, baru aja di puji baik, kenapa dia sekarang jadi nyebelin lagi sih. umpat Ajeng.
"Oh, hoho.. nggak pak, kami bahkan sama sekali tidak tahu jika itu adalah rumah anda. Kami mendapatkan pekerjaan baru setelah anda memecat kami."
"Kami tidak memecat kalian, tapi kalian sendiri yang meminta untuk mundur. Bukankah aku sudah berbaik hati untuk memindahkan kalian. Tapi kalian sendiri yang menolak!" sahut Vander tidak terima dengan pengakuan Ajeng.
Ajeng hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ingin membantah, namun kali ini dia sedang membutuhkan Vander untuk membiayai pengobatan Netty.
Baiklah, terserah anda mau berkata apa. umpat Ajeng dalam hati.
"Iya, pak, maafkan kami. Kami waktu itu hanya merasa jika kami tidak cocok bekerja di perusahaan besar. Mungkin kami hanya cocok bekerja sebagai kuli di luar sana. Lalu, kebetulan kami mendapatkan pekerjaan baru sebagai penata dekorasi. Tidak duga, ternyata rumah yang harus kami dekor adalah rumah anda," jelas Ajeng.
"Lalu, jika memang kalian tidak bermaksud apa-apa, kenapa kalian langsung memasang masker ketika melihatku?" tanya Vander..
DHUOR!
Aaaa... helem mana Helem.. pintu Dora Emon, munculah, aku benar-benar sangat malu telah ketahuan.
"Hehehe.... i-itu, ka-kami hanya merasa malu bertemu dengan bapak," jawab Ajeng dengan pipi memerah dan jantung berdegup kencang.
"Benarkah? lalu, mengapa dia dengan sengaja masuk ke dalam kamarku, dan pura-pura pingsan di pangkuan ku? dan satu lagi, kenapa kamu terus menggoda rekanku dengan memanggilnya Abang terus-menerus? apakah kalian sedang mencoba untuk merayu kami!?" ucapan Vander benar-benar sangat konyol membuat isi kepala Ajeng terasa menguap. Namun meski itu sangat konyol, Ajeng sangat kesulitan untuk menjelaskannya dan berusaha untuk tenang.
"Nganu.. em,, jadi begini pak. Mungkin, teman saya yang pelupa ini tidak ingat kemana arah kamar utama Tuan Puan yang sudah di arahkan, aku akui jika Netty adalah pelupa yang handal, sudah keahliannya menjadi seorang yang pelupa. Lalu, kenapa dia pura-pura pingsan, mungkin karena dia merasa sangat malu sehingga rasanya dia ingin mati. Itulah sahabatku, jika dia merasa malu, dia bisa lompat dari atas gedung yang bahkan tingginya 1 meter dari lantai." jelas Ajeng mengenai Netty.
"Dan untuk panggilan Abang ke pak Kansa, itu karena aku merasa jika sebutan itu lebih cocok untuknya. Lagi pula, kami bukan lagi anak buah bapak."
Lanjutannya dengan pelan dan ucapan yang lembut untuk menjelaskannya. Ajeng sangat takut jika ia telah salah berucap lagi.
"Apakah benar aku ini tidak tampan!?" tanya Vander.
Ternyata pengakuan Netty mengatakan jika dirinya tidaklah tampan, membuat Vander dilanda sulit tidur akhir-akhir ini.
What! oh my God. Kenapa aku baru tahu jika bos ini sangatlah narsis.
"Ahhahaha... yang benar saja, dia pasti asal bicara. Bagaimana bisa bapak yang tampan, berkarisma, dermawan, baik hati, kekar dan juga cool habis, bisa di kategorikan jelek. Hehehe, teman saya sebenarnya sangat mengagumi anda, hanya saja dia merasa malu sehingga berkata bohong. Ho'oh!" jelas Ajeng.
"Hemm.. Jadi, dia sangat mengagumi aku sehingga dia berani masuk ke dalam lift pribadiku? Terus, karena dia merasa malu, jadi dia berkata jika aku tidak tampan, padahal yang sebenarnya dia sangat tergila-gila padaku!?" tanya Vander untuk lebih memastikan sebenarnya apa yang Netty maksud.
Ajeng hanya bisa tersenyum bodoh sambil mengangguk.
"Hehehe, kurang lebih ya begitu pak."
__ADS_1
"Bagus, jadi kini aku tidak perlu memikirkannya lagi. Kansa, kita pulang sekarang!" Vander pun berdiri dan tidak lupa mengambil cermin dari kantong baju tidurnya.
Entah dari mana cermin itu, Vander pun dengan percaya diri bercermin di depan Ajeng, membuat Ajeng merasa tidak percaya jika ternyata bos mereka yang dingin dan arogan sangatlah narsis.