
Sampai akhirnya, mobil yang Netty dan Ajeng naiki berhenti di sebuah rumah yang sangat besar dan luas.
Bersama dengan 10 teman lainnya, Netty dan Ajeng sama-sama menatap rumah besar itu dengan hembusan nafas "SEMANGAT!"
Baru akan masuk ke dalam rumah, Netty dan Ajeng di kejutkan dengan sosok pria yang tidak asing di mata mereka.
"Pak bos?" batin Netty langsung terperangah. Ternyata rumah ini adalah rumah mantan bosnya.
Netty dan Ajeng dengan buru-buru menggunakan masker yang ada di tangan mereka. Sedangkan senior mereka mencoba untuk mendekati keluarga besar itu.
"Selamat pagi, Tuan Puan, saya dan tim saya yang akan mendekorasi rumah ini sesuai dengan permintaan Tuan dan Nyonya." Senior ini sangat ramah.
Tuan Puan selaku ayah dari Vander mencoba untuk menatap putranya dan meminta pendapatnya.
"Vander, bagaimana menurutmu, apakah yang ini benar-benar cocok?" tanya Tuan Puan tersenyum kepada Putranya sembari bertanya. Tuan Puan menunjukan foto yang kepada Vander.
"Terserah papa saja, saya ada meeting penting hari ini, tidak ada waktu untuk memberi pendapat," sahut Vander dengan dingin. Vander pun tanpa memperdulikan raut kecewa dari ayahnya langsung bergegas pergi.
__ADS_1
Ketika akan menuju pintu, Vander berpapasan dengan Netty yang berdiri mematung di dekat pintu.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Netty menggema sampai ke telinga Netty. Dengan cepat Netty pun memegangi jantungnya agar dapat berdetak dengan stabil.
Tuhan, apa ini? apakah begitu jahatnya pria ini sampai-sampai rasanya kakiku terasa bergetar saat bertemu dengannya.
"Sayang, apakah dia merasa iri dengan kita? Dia adalah pria matang, mengapa kamu tidak segera menikahkannya?" tanya Chamber kepada calon suaminya, Tuan Puan.
Suaranya tidak dilirihkan sehingga Netty dan yang lain dapat mendengarkannya.
Netty dan Ajeng saling melirik.
__ADS_1
"Mungkin dia belum menemukan wanita yang tepat," jawab tuan Puan singkat.
"Benarkah? semoga desas-desus yang mengatakan jika Vander tidak menyukai wanita dan tidak ingin menikah dengan seorang wanita adalah hanya gosip belakang. Sangat di sayangkan jika pria setampan dirinya tidak normal," sindir Chamber membuat raut wajah Tuak Puan langsung memerah karena marah.
"Apa yang kamu katakan!? Kamu sedang mengatai anakku!?" tanya Tuan Puan dengan suara meninggi.
Mengerti jika dirinya membuat kesalahan, Chamber pun langsung memeluk kekasihnya itu dan merayunya.
"Tenang sayang, aku berkata seperti karena aku ingin anakku menjadi sosok yang Sempurna. Mau bagaimana pun, Vander adalah anakku juga. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Aku juga tidak rela jika ada yang berfikiran buruk tentang anak kita." Chamber pun berhasil menurunkan suhu panas calon suaminya.
"Oh begitu, jika begitu kamu memang calon ibu yang tepat untuk anak-anak ku." puji Tuan Puan.
Chamber pun menyungging senyum dan bersikap sangat manis di depan Taun Puan.
"Jika begitu, kalian lakukan saja tugas kalian. Yang penting dalam 3 hari ini semuanya harus siap dan hasilnya sesuai dengan apa yang di inginkan oleh calon istri ku ini." ucap Taun Puan kepada senior dekor yang berdiri di dekatnya.
"Baik, Tuan!" sahut Senior itu dengan tersenyum canggung.
__ADS_1
Netty dan Ajeng pun hanya bisa tertawa dalam hati. Bagaimana tidak, mereka dapat menyimpulkan jika mantan bos mereka adalah seorang gay. Hal itu benar-benar membuat perut Ajeng dan Netty merasa tergelitik, namun mereka hanya bisa menahan tawa dan fokus menerima arahan dari senior mereka.
****************