
Setelah kepergian bos Vander dan Sekretarisnya, Kansa. Ajeng akhirnya dapat menghela nafas lega. Ajeng pun terkulai lemas di sofa.
"Astaga, aku tidak percaya Hari ini. Huft, kepalaku serasa ingin pecah!" Ajeng mengomel sendiri.
Ia menatap sang sahabat yang masih terlelap, rasanya sangat sedih, akhirnya tubuh sang sahabat tumbang juga.
Tidak lama, Ajeng pun terlelap dengan sendirinya. Rasa lelah dan ngantuk membuatnya seketika langsung tidak sadarkan diri.
Di sisi lain, Kansa yang terlupa meninggalkan kunci mobil di meja, kembali ke ruangan Netty untuk mengambilnya.
Ketika Kansa masuk, dia melihat Ajeng yang sudah terlelap dalam mimpi buruknya.
Pelan-pelan Kansa menatap Ajeng sudah tidur, matanya terlihat sendu dan penuh perhatian yang mendalam.
Ketika Kansa mengambil kunci mobilnya, terlihat tahi lalat di leher belakang Kansa yang sering tertutup oleh kerah baju.
Ternyata, yang menyelamatkan Ajeng adalah Kansa pada waktu malam kejadian itu.
Kansa saat itu sedang mengantarkan berkas penting ke salah satu kalienny yang sedang menginap di hotel yang sama dengan Ajeng kunjungi. Kansa sendiri sempat melihat Ajeng berjalan dengan seseorang. Namun Kansa tidak perduli dan berniat untuk pergi. Tetapi,
Kansa yang awalnya ingin pergi, entah mengapa dia tiba-tiba merasakan firasat yang tidak enak.
Kansa putar balik dan dia mencoba berlari mencari ke kamar mana Ajeng singgah. Setelah beberapa kali mengecek kamar, akhirnya Kansa dapat menemukan kamar yang Ajeng masuki. Suara seseorang minta tolong terasa tidak asing di telinga Kansa di nomor kamar 108.
Sebelum masuk, Kansa menutupi wajahnya agar Ajeng tidak mengenalinya.
Kini, Kansa menatap wajah yang sangat manis itu. Setelah Ajeng menembaknya menggunakan jari di dalam lift, dari sana Kansa terus merasakan perasaan aneh terhadap Ajeng.
Kini, entah dorongan dari mana Kansa diam-diam memberanikan diri mengecup bibir Ajeng dengan lembut.
Hanya sesaat membuat Ajeng yang benar-benar terlelap dengan nyenyak tidak menyadarinya.
Kansa tersenyum tipis sebelum akhirnya dia pergi.
"Tuan, kita pulang sekarang?" tanya Kansa di dalam mobil.
Vander menatap jam di tangannya, sudah pukul jam 11 malam.
"Mis Caren menghubungi ku, dia marah karena aku tidak memenuhi undangannya. Aku mengatakan padanya jika aku sedang menjenguk temanku yang sedang sakit, lalu dia sekarang memintaku untuk datang ke sebuah bar. Menurutmu Bagaimana?" tanya Vander meminta saran dari Kansa.
"Sebaiknya kita pulang dan istirahat, kita bisa menggantinya dengan makan siang esok sebagai permintaan minta maaf."
Vander mengangguk setuju dengan saran yang di berikan Kansa.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Vander langsung di sambut oleh Tuan Puan.
"Vander, kemari nak!?" ucap Tuan Puan.
"Pah? papa belum tidur?" tanya Vander.
"Katakan pada papah, siapa sebenernya gadis itu? Vander, pernikahan papa sebentar lagi, Vanda lagi sakit, dan kamu, papah minta kamu jangan membuat papa nambah pusing dengan membuat berita yang tidak-tidak dan menganggu acara pernikahan papah. Kamu tahu bukan, calon ibu barumu adalah seorang aktris senior, pasti banyak wartawan yang akan meliput keluarga kita setelah ini, jadi papah harap, kamu bisa mengangkat derajat keluarga kita dengan mengencani wanita yang setara dengan kita," tutur Tuan Puan to the poin.
"Dia hanya seorang karyawan dan bukan teman juga," jawab Vander singkat.
"Syukurlah jika kamu memang tidak memiliki hubungan dengan dia. Oya, saran papah, mulai saat ini kamu harus jaga jarak dengan karyawan mu."
"Baik, pah!" sahut Vander. "Ya sudah, jika begitu Vander ingin istirahat dulu. Papah juga istirahat, jangan terlalu memikirkan sial apapun," lanjutnya.
Tuan Puan tersenyum melihat kepatuhan anaknya. Dia sangat bahagia, karena memiliki dua anak yang sangat hebat dan patuh.
...****************...
Pagi ini Ajeng bersiap untuk kembali ke rumah Tuan Puan karena pekerjaan pasang dekor belum selesai.
"Net, maaf banget ya aku gak bisa nemenin kamu sekarang. Aku harus tetap bekerja, pekerjaan kita belum selesai. Besok adalah acara pernikahan Tuan Puan, jadi nanti aku paling akan pulang terlambat," ucap Ajeng dengan suara tidak enak kepada Netty.
"Iya gak papa, aku nitip salam sama Kaka senior, maafkan aku yang tidak bisa datang hari ini. Sebenarnya aku sangat ingin, tapi-"
"Makasih ya." Netty menggenggam erat tangan Ajeng. Rasa syukur memiliki sahabat seperti Ajeng.
Ajeng pun memeluk Netty sebelum akhirnya dia pergi.
Ketika sampai di rumah besar dan megah itu, Ajeng pun mengatur nafas untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Selamat pagi kakak senior," sapa Ajeng.
"Loh, kamu datang? bagaimana keadaan Netty?" tanya senior.
"Dia masih di rawat di rumah sakit, dia titip salam meminta maaf karena hari ini dia tidak dapat datang," ucap Ajeng.
"Semoga lekas sembuh temanmu itu ya. Jangan di pikirkan soal pekerjaan, nanti setelah sembuh, dia bisa ikut bergabung dengan kami lagi."
"Makasih banyak kak atas pengertiannya?"
"Iya, sama-sama."
Ketika sedang mendekor tangga, Ajeng melihat Vander yang akan turun. Ajeng pun langsung berdiri tegap dan tersenyum menyapa Vander.
__ADS_1
"Selamat pagi, pak!?" sapa Ajeng.
Namun Vander seperti tidak melihat siapapun, dia melewati Ajeng begitu saja membuat Ajeng langsung merasa mati kutu untuk kesekian kalinya.
Aist, ya ampun, dia telah kembali ke setel awalnya. Menyebalkan.
Umpat Ajeng dalam hati.
Dari pintu masuk, Kansa yang menjemput bos-nya yaitu Vander, diam-diam memperhatikan Ajeng yang memanyun cemberut karena sudah di cuekin oleh Vander.
Kansa tersenyum tipis melihat tingkah Ajeng.
Di dalam perjalanan, Vander berbicara, " Kansa?"
"Iya, Tuan?"
"Kamu selidiki semua tentang perempuan itu, yang sekarang lagi di terbaring di rumah sakit," titah Vander.
"Baik, Tuan!"
...****************...
Siang ini, di rumah sakit Netty terlihat sangat suntuk dan jenuh. Tanganya terasa gatal karena tidak bekerja dan melakukan sesuatu yang menghasilkan uang.
Namun tiba-tiba pintu terbuka, dia adalah Rain. Pria yang Netty sukai sejak kecil.
"Rain!? kamu tahu dari mana aku di sini?" tanya Netty tersenyum senang melihat kedatangan Rain.
Rain membawakan bunga kecil dan buah untuk Netty.
"Ajeng mengabari aku, katannya kamu sakit, kebetulan aku juga akan sedang mengambil barang ke pabrik, jadi sekalian mampir," jawab Rain.
"Apakah kamu akan langsung ke berangkat lagi setelah ini?" tanya Netty sambil menerima bunga yang Rain berikan.
"Tidak, besok pagi aku kembali ke kota xxx. Sekarang, aku akan di sini menemani kamu," jawab Rain sambil membelai rambut Rain.
Mereka mengobrol panjang lebar membicarakan kenapa Netty tidak lagi bekerja di AIER PHONE, meski hanya membagikan brosur dan menjual produk sekala kecil-kecilan, namun itu masih di bawah naungan perusahaan AEIR PHONE.
Di sisi lain, terlihat Vander yang sedang makan siang bersama Mis Caren di sebuah restoran.
Caren tidak sendiri, dia membawa anak gadisnya bernama Gisel.
Menatap Caren dan anaknya yang bernama Gisel, Vander hanya bisa menahan amarah dan mengepalkan garpu di tangannya.
__ADS_1
Vander, setelah mengetahui jika Caren adalah Bibik dari Netty, dan mengambil semua hartanya, membuat jiwa Vander yang sudah bersimpati dengan Netty langsung mencuak.