
Ini adalah hari pesta pernikahan Tuan Puan dan juga Nyonya Chamber. Meski usia menikah sudah tidak muda lagi, namun acara pernikahannya tidak kalah mewah megah seperti para muda-mudi.
Netty dan Ajeng yang membutuhkan uang banyak, mereka pun tidak melepaskan kesempatan untuk mendapatkan uang. Meski sangat lelah, namun mereka tetap harus bekerja.
Kali ini, Ajeng dan Netty ikut sebagai pelayan di acara pernikahan Tuan Puan. Netty dan Ajeng sama sekali tidak malu meski mereka bertemu dengan beberapa rekan kerja orang tua mereka ketika masih hidup.
Ada yang sangat menyayangkan nasib mereka, namun ada juga yang menertawakan mereka.
Netty dan Ajeng tidak ingin ambil pusing dan ambil hati perkataan orang-orang tentang nasib mereka saat ini.
Mereka hanya berharap, jika suatu hari nanti, mereka dapat membalas dendam kepada mereka yang sudah berbuat jahat kepada orang tua mereka.
"Loh, kamu Netty kan?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Iya, buk. Saya Netty. Senang dapat bertemu ibu lagi," sapa Netty dengan ramah. Netty pun dengan sopan memberikan minuman di meja itu.
"Ya ampun, setelah kepergian orangtuamu, saya tidak pernah melihatmu lagi. Ah, saya juga sudah sangat jarang datang ke Indonesia. Saya sekarang menetap di Singapura," ujar wanita itu.
"Iya Bu." Netty hanya tersenyum, dia bingung mau berkata apa.
"Netty, sini, duduk di sebelahku," ucap wanita itu.
Netty pun ragu-ragu duduk di sebelahnya.
"Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi, bibikmu, dia bersekokol dengan beberapa mafia untuk menjatuhkan orang tuamu," bisik wanita itu.
Netty pun hanya tersenyum.
"Saya tahu semuanya, Bu Zainap. Terima kasih telah memberitahu saya," jawab Netty yang langsung berdiri dan tersenyum aneh ke ibu itu.
Sebenarnya, dari daftar orang yang telah menjatuhkan orang tuanya dan juga orang Ajeng, Ibu bernama Zainap yang ada di depannya ini juga salah satunya.
Ibu Zainap pun hanya terlihat bingung dengan sikap Netty yang pergi begitu saja setalah dia membahas masa lalunya.
Di sisi lain, terlihat Ajeng yang sedang menangis di pojok rumah yang sepi. Ajeng tidak kuasa menahan tangisannya setelah seseorang menghina ibunya.
Kansa diam-diam dari kejauhan menatap Ajeng dengan perasaan geram dan tidak terima. Dia bertekad dalam hati, jika dia akan menghancurkan mereka yang sudah berbuat tidak adil pada Ajeng dan juga orang tuanya.
__ADS_1
Ceritanya...
Ajeng membawakan minuman ke salah satu meja. Di mana meja itu di duduki oleh 5 pria berusia kepala 5 ke atas.
Walaupun Ajeng sudah menggunakan masker, namun dirinya masih dapat di kenali oleh para pejabat-pejabat itu.
"Kamu, Ajeng kan?" tanya salah satu pejabat itu.
Ajeng hanya diam. Namun karena mereka sangat ingin mengusili Ajeng, salah satu dari mereka pun menarik masker Ajeng.
"Maaf tuan, saya permisi!" ucap Ajeng tidak ingin berurusan dengan mereka.
"Tunggu dulu, kami punya sesuatu yang harus di bicarakan. Ini soal ayahmu kamu yang pengecut itu!" ucap salah satu dari mereka.
Ajeng yang mendengar jika Ayahnya dikatai pengecut pun langsung menunjukan ekspresi protes dan tidak terima.
"Kamu lihat ini!" pejabat itu memberikan Vidio, sebuah rekaman yang menunjukan ayahnya Ajeng yang sedang dirundung oleh mereka yang sedang duduk di depan Ajeng.
Terlihat di malam sebelum Ayah dan ibunya Ajeng di nyatakan meninggal, mereka mendapatkan hinaan yang sangat pedih dari mereka.
"Sujudlah di kakiku dengan benar, maka kami akan mengampuni mu!" ucap pejabat itu dengan sombong menginjak kaki Ayahnya Ajeng.
Ajeng akhirnya dapat melihat mata ayahnya sebelum dia mati. Mata ayahnya nampak membara menahan amarah, namun dia tidak berdaya. Seolah berdoa pada tuhan, agar membalas perbuatan para rekan-rekannya yang terlah berkhianat.
Pejabat itu pun langsung mematikan ponselnya. Dia tidak memberi lihat apa yang terjadi selanjutnya. Bisa jadi, selanjutnya adalah Vidio pembantaian kedua orang tuanya Ajeng.
"Kamu lihat itu? ayahmu mati karena dia tidak mau mendengarkan kami. Begitu pun dengan kamu." Pejabat dengan ciri khas rambut belah tengah pun membisikan sesuatu yang menjijikkan di telinga Ajeng. "Jadilah teman ranjangku, maka aku akan memberikan apapun yang mau."
Ajeng setelah mendengarkan itu pun langsung melotot.
"Hahaha, kenapa, ibu kamu juga melakukan itu demi suaminya yang bodoh," sahut salah satu dari mereka.
Ajeng pun tambah membara setelah mendengarkan itu. Perasaan sakit dan dendam semakin menjadi-jadi di lubuk hatinya.
Acara pernikahan akan segera di mulai. Kedua mempelai telah turun dari lantai dua. Semua kini mulai berkumpul. Ajeng yang awalnya ingin menyiram 5 pejabat yang .di depannya itu dengan air pun hanya bisa mundur, karena acara akan di mulai.
5 pejabat itu berdiri dan berjalan meninggal Ajeng. Mereka tersenyum iblis ke arah Ajeng.
__ADS_1
Kembali...
Netty yang mencari keberadaan Ajeng, akhirnya menemukan Ajeng yang sedang menangis di pojokan.
"Hay, kamu kenapa?" tanya Netty yang langsung memeluk Ajeng.
"Hiks...hiks... mereka, kapan kita akan membalas dendam kepada mereka?" tanya Ajeng sesegukan.
"Tenanglah, kita pasti akan melakukan itu. Sebelum itu, kita harus menemukan kotak rahasia milik ayahku. Hanya mataku dan juga ayahku yang dapat membuka kotak itu. Ayahku sudah tiada, dan harapan satu-satunya bibiku adalah Aku. Kita tunggu waktu yang tepat untuk menyerang mereka. Kita tidak punya modal untuk memulai bertarung," jawab Netty.
"Kenapa kita tidak bekerja di perusahaan besar saja, dengan begitu kita pasti akan lebih cepat mendapatkan uang!?" Ajeng semakin menahan rasa sakit di hatinya.
"Jika kita bekerja di perusahaan besar, bibiku akan menemukan kita. Selanjutnya, kita bisa tahu apa yang akan terjadi. Tidak hanya aku, namun kamu juga akan mati, Ajeng." Netty semakin mempererat pelukannya.
Netty benar-benar merasa bersalah kepada Ajeng. Karenanya, mereka harus bekerja serabutan demi menghindari kejaran bibiknya Netty.
Bukan mereka tidak bisa bekerja di perusahaan besar. Namun jika bekerja di perusahaan besar, mereka akan dengan mudah di temukan oleh bibinya Netty.
Hanya bekerja serabutan, bibiknya Netty tidak akan menduga sampai kesana.
Sebenarnya Ajeng sudah tahu hal ini. Namun dia harus di ingatkan lagi agar hatinya kembali sabar dan tabah dan kuat.
"Maafkan aku, Net. Maafkan aku yang tergesa-gesa. Maafkan aku." Ajeng pun memeluk Netty dengan erat.
"Maafkan aku juga Ajeng. Sekarang, kita harus kembali bekerja, kumpulan uang untuk modal menyerang mereka. Semangat!" meskipun Netty sendiri tidak yakin, dengan bekerja serabutan bisa mengumpulkan uang banyak, namun dia juga berusaha mencoba untuk mencari uang dengan cara lain.
Walaupun kesehatannya taruhannya Netty tidak masalah. Yang penting balas dendam harus berlanjut.
Pembicaraan mereka diam-diam terdengar oleh Vanda, adik Vander.
Vanda yang tidak bisa berjalan merasa sedih karena ayahnya berubah ketika akan menikahi Chamber.
Ayahnya sibuk mengurus pernikahannya, dan sama sekali tidak mau menjenguknya ke kamar dan melihat keadannya.
"Kalian? apakah kalian sedang merencanakan balas dendam?" tanya Vanda tiba-tiba membuat Netty dan Ajeng terkejut karena kaget...
Mata Ajeng dan Netty melebar ketika melihat Vanda, yang bukan lain adalah adik Bos Vander.
__ADS_1
...****************...