
PRANG!
Ajeng tidak sengaja menjatuhkan sebuah guci.
suara keras itu membuat Vander dan Kansa bergegas untuk melihat.
Ajeng yang panik pun segera lari ke pintu, tapi sayang, dia yang tidak tahu kode pintu pun akhirnya tertangkap basah oleh Vander dan Kansa.
Senyum yang di paksakan membuat wajah Ajeng terlihat sangat bodoh.
"Ha-hay!?" ucap Ajeng merasa kikuk.
Kansa dan Vander hanya diam dan melipat tangan mereka di dada.
Iiiii... kenapa kalian diem aja sih.. mati kutu nih gue...!
umpat Ajeng dalam hati merasa ingin salto guling-guling.
"Maaf, saya tadi mencari kamar teman saya yang ada di lantai atas ini, tidak di duga tenyata saya salah kamar, dan .... em, ini ternyata apartemen kalian ya?" ucap Ajeng mencoba untuk serileks mungkin dan menenangkan jiwanya yang benar-benar terguncang hebat.
Lagi-lagi Vander dan Kansa hanya terdiam, mereka hanya menatap Ajeng dengan tatapan dingin.
"Baiklah jika begitu, bisakah anda membukakan pintu untukku? aku harus segera kembali," lanjut Ajeng yang benar-benar telah kehilangan muka di depan Vander dan juga Kansa.
Kansa pun berjalan mendekati Ajeng. Tanpa berkata banyak, Kansa langsung membuka kunci pintu.
Bahkan, Kansa dengan tidak sabaran membukakan pintu secara lebar-lebar untuk Ajeng.
Ajeng hanya membulatkan mata tidak percaya. Dua pria menyebalkan ini benar-benar tidak menganggapnya mahluk ciptaan tuhan yang paling seksi.
Mereka sama sekali tidak menanyakan perihal dirinya yang sudah masuk ke dalam apartemen mereka.
Ajeng pun dengan langkah kaki seribu langsung keluar dari apartemen Kansa. Ajeng sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Matanya sangat perih dan hatinya terasa linu. Entah mengapa Ajeng merasa sangat sakit hati dengan sikap cuek yang Kansa lakukan padanya.
Di dalam lift, Ajeng menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Iiiiii Menyebalkan! Dasar pria menyebalkaaaaaaa!
umpat Ajeng dalam hati.
Sesampainya di kamar, Ajeng mendengar merasakan sesuatu yang tidak beres.
Ajeng bergegas mengetuk pintu kamar Netty untuk memastikan perasaannya yang tidak enak.
"Netty! Net,!?" Ajeng memanggil Netty namun tidak ada balasan. Ajeng pun dengan buru-buru membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Netty.
__ADS_1
Benar saja, Netty tidak ada di dalam kamarnya. Bahkan, di lantai terdapat handuk rambut yang berceceran. Bahkan masih ada bekas air seperti orang habis terpeleset.
Dari bekas jejak air di lantai, terlihat seperti ada bekas jejak sepatu yang ukurannya lebih besar dari pada kaki Netty.
Ajeng yang panik pun langsung bergegas lari untuk meminta pertolongan. Tidak tahu mengapa, langkah kaki Ajeng kini berjalan menuju apartemen Kansa.
Kini, Ajeng benar-benar hanya berpangku pada Kansa dan Vander.
TING TONG
TING TONG
Ajeng terus menekan bel apartemen Kansa.
Kansa dan Vander yang sedang berbicara serius pun langsung berhenti ketika mendengar bel yang terus-menerus berbunyi.
ketika Khansa membuka pintu ia pun terpaku ketika melihat Ajeng yang ada di depan apartemennya.
"tolong aku, tolong!? Netty-!" Ajeng sangat gugup untuk menjelaskannya.
Vander yang menyimak dari dalam pun langsung berdiri ketika ia mendengar nama Netty disebutkan. melihat ekspresi wajah Ajeng terlihat sepertinya jika situasinya sedang tidak baik-baik saja.
Vander pun berjalan mendekat ke arah Ajeng.
"Ada apa ini? ada apa dengan Netty? apa yang telah terjadi dengannya!? tanya Vander dengan serius.
"Netty tidak ada di dalam kamarnya, dia diculik!" sahut Ajeng dengan panik.
Mendengar hal itu, Vander dan Kansa pun langsung keluar.
"Aku tahu siapa dia!" tandas Vander dengan mata yang menyala.
Melihat ekspresi wajah Vander yang sangat mengerikan, Ajeng pun sepertinya dapat menyimpulkan suatu hal.
Dari semua perhatian yang Vander berikan kepada Netty, sepertinya. "ini tidak mungkin, apakah dia menyukai sahabatku?" batin Ajeng.
Melihat Ajeng yang melamun, Kansa pun langsung menarik tangan Ajeng untuk segera bergegas.
"Ayo, kita tidak punya waktu!" ucap Kansa menarik tangan Ajeng.
Sontak Ajeng pun langsung kaget ketika melihat tangan Kansa menarik tangannya.
Ketika Ajeng menaikan pandangannya, dia pun tambah merasa jantungnya akan copot ketika melihat tanda yang tidak asing di matanya di pundak Kansa.
"APA!? DIAAA.... JADI? INI TIDAK MUNGKIN!?""
batin Ajeng bergejolak tidak menentu ke mana arahnya. Satu sisi, sahabatnya di culik, satu sisi ada mantan bos yang sangat perhatian pada sahabatnya, satu sisi lagi kini dia menemukan dan mengetahui siapa sebenarnya super Hero yang slalu dia dambakan.
__ADS_1
"AKU PASTI SALAH, INI HANYA KEBETULAN, INI TIDAK MUNGKIN!" batin Ajeng mencoba untuk mengelak.
Di dalam mobil, terlihat Vander yang tidak sabaran dan terkesan ingin menguasai jalanan seorang diri. Macetnya kendaraan lain tidak membuat Vander mengurangi kecepatan mobilnya.
Ajeng pun hanya bisa menyatukan kedua tangannya seraya berdoa "tuhan, aku masih ingin hidup."
Selain merasakan jantungnya ingin copot, ia juga merasakan perutnya yang keram karena datang bulan.
Ajeng pun merutuki dirinya sendiri karena tidak mengganti celananya terlebih dulu dan memakai pembalut.
Dari kaca mobil Kansa dapat melihat kegelisahan yang Ajeng rasakan. Kansa sangat ingin membantu Ajeng, namun situasinya sedang tidak tepat.
Tidak lama, akhirnya mereka memasuki kawasan kediaman Caren, yang bukan lain adalah rumah Netty.
Ketika memasuki rumah besar itu, Ajeng pun langsung teringat masa-masa itu. Bagaimana rumah ini adalah saksi kebersamaan Ajeng bersama dengan keluarga Netty.
Ketika sedang mengenang masa lama, tiba-tiba Ajeng pun langsung terkejut. Bagaimana Vander dan Kansa tahu soal Caren dan Netty.
Netty belum menceritakan segalanya kepada Ajeng karena Ajeng keburu menguntit Kansa dan Vander yang ternyata satu gedung dengan-nya.
Belum Ajeng bertanya, Vander sudah keluar dari mobil dan membuka menutup pintu dengan membantingnya.
BRUAK!
Ajeng pun langsung mengelus jantungnya yang serasa akan copot.
"Kamu tunggu di sini saja, jangan kemana-mana!" perintah Kansa memperingati Ajeng.
"Aku ikut!"tidak sahut Ajeng.
"Tunggu di sini, jangan biarkan orang lain menertawai mu karena masalahmu!" sindir Kansa.
Ajeng pun teringat dengan dirinya masih datang bulan. Karena tidak pakai pembalut, jelas darahnya akan tembus kemana-mana. Meski dia menyelipkan jas Kansa di pinggangnya, tetap saja itu tidak cukup untuk menahan darahnya akan tidak keluar.
Ketika Kansa pergi, Ajeng memperhatikan mobil milik Vander.
Di dalam mobil, Ajeng mencoba mencari sesuatu yang dapat ia gunakan. Ketika mencari-cari, akhirnya Ajeng menemukan sebuah paper bag di belakang jok.
Itu adalah setelan jas mahal milik Vander. Tidak hanya setelan jas, di paper bag lainnya juga ada kaos dan juga ada parfum. Bahkan, yang paling mencengangkan, di dalamnya ada sekotak CD(****** *****) yang masih baru.
Akhirnya, ide cantik muncul di kepala Ajeng.
Tanpa ragu, Ajeng pun mengambil CD baru milik Vander, bahkan dia nekat menyobek koas Vander yang harganya setara satu unit motor beat. Ajeng membuat balut alami dari kaos milik Vander.
Setelah itu, dia pun langsung memakai setelan jas baru milik Vander tanpa ragu. Untuk menghilangkan bau amis di tubuhnya, Ajeng pun menyemprotkan parfum baru milik Vander yang masih tersegel dengan rapi.
Tanpa dosa, Ajeng tersenyum sumringah. Meski baju ini sedikit kebesaran, namun itu tidak membawa Ajeng merasa bagaimana. Justru dia seperti model cantik yang slalu cocok dengan style yang peragakannya.
__ADS_1
Ajeng pun turun dari mobil dengan percaya diri. Dia pun meniup poninya agar terkesan karismatik dan wah.
Tante sinting tunggu kedatangan ku! seru Ajeng bersemangat untuk berperang dengan Caren.