Cinta Narsis Bos Arogan

Cinta Narsis Bos Arogan
Lagi-lagi, sesak nafas


__ADS_3

Di sisi lain, di perusahaan Grup AEIR PHONE sedang mengadakan meeting kerjasama yang akan di lakukan dengan Grup Dimention.


Dua perusahaan TI terdepan dengan keahlian di bidangnya masing-masing, grup Dimension sebagai penyedia solusi TIK dan Grub AEIR PHONE sebagai implementor aplikasi berbasis SAP, melakukan kerjasama menghadirkan solusi menyeluruh untuk pasar TIK (teknologi, informasi, dan komunikasi) di Negeri ini, solusi tangguh dari lini aplikasi hingga infrastruktur yang memudahkan suatu organisasi mengakselerasi bisnisnya.


Meeting yang tertutup itu Akhirnya usai dengan kepuasan yang di rasakan dari kedua belah pihak.


Seorang wanita anggun yang telah melakukan kerjasama dengan Vander berjalan dengan lenggokkan khas wanita berduit dan berkarir.


"Selamat siang, Tuan Vander?" sapa wanita yang biasa di sapa dengan Mis Caren.


"Selamat siang Mis Caren, apa yang membuat anda masih berada di sini?" tanya Vander yang berdiri dari kursi kejayaannya.


Mis Caren tersenyum.


"Apakah aku menganggu waktu anda? aku hanya ingin berbicara lain hal selain kerjasama kita, apakah anda tidak keberatan?" tanya Caren.


Vander berekspresi dingin dan menatap arloji di tangan kanannya.


"Aku hanya memiliki waktu 10 menit dari sekarang," jawabnya dingin.


Caren hanya tersenyum.


"Tidak perlu berlama-lama, aku hanya ingin mengundang anda untuk makan malam sebagai wujud partisipasi dari kerjasama kita."


"Baiklah, saya akan usahakan datang."


Caren memberikan tahu alamat yang akan jadi jamu makan malam mereka.


"Sebelumnya terima kasih atas waktunya. Saya juga ada urusan lain, jadi harus segera pamit."


"Baiklah.."

__ADS_1


Meski hati Caren sedikit kesal dengan sikap dingin Vander, namun ia mencoba untuk tebal muka dan tetap tersenyum didepannya.


Anak buah Vander datang setelah Caren keluar.


"Tuan, Nona Vanda," ucap anak buah itu terhenti.


"Kansa, katakan dengan benar, ada apa dengan adikku?" tanya Vander.


Anak buah Vander yang bernama Kansa itu pun langsung memberi tahu Vander.


Seketika mata Vander pun mendelik dan bergegas untuk pergi, di susul dengan Kansa.


Sampai di rumah sakit, Vander melihat adiknya yang terbaring di rumah sakit dengan kaki yang di perban.


"Vanda!?" Vander nampak marah dengan apa yang terjadi dengan adiknya.


"Kakak?"


"Aku terpeleset di sekolah kakak, dan aku jatuh dari tangga, tapi beruntung aku tidak papa."


"Kenapa bisa?" tanya Vander sambil mengelus rambut adiknya.


"Tangganya licin kak, tapi aku nggak papa kok." Vanda mencoba menjelaskan.


"Kansa, tuntut sekolahan itu sekarang juga!". titah Vander sambil matanya menatap tajam dengan hati yang pilu ke arah perban yang menyelimuti kaki Vanda.


"Tidak kak! bisakah kakak tidak berlebihan, sudah aku katakan aku tidak papa!" tolak Vanda dengan lantang.


Mendengar adiknya berteriak, Vander pun akhirnya menuruti kata adiknya..


kini, Vander membawa adiknya pulang kerumah, melihat rumahnya ramai orang, Vanda pun tersenyum senang.

__ADS_1


"Wah, rumah kita mulai di hias ya kak?" tanya Vanda yang duduk di kursi roda. Vander benar-benar tidak membiarkan adik perempuannya untuk berjalan sendiri.


Vander tidak menjawab, namun ia terus membawa adiknya masuk ke dalam rumah.


Mengetahui jika mantan bosnya telah kembali, Netty dan Ajeng yang awalnya lagi fokus memasang dekor pun dengan cepat kembali memasang masker mereka.


"Kenapa dia cepat sekali kembali?" tanya Netty kepada Ajeng.


"lihatlah, adiknya sakit," bisik Ajeng menjawab Netty.


"Sepertinya kakinya terkilir, kasihan sekali anak itu," ucap Netty.


Netty dan Ajeng terpaku ketika melihat Vander dengan gagah membopong adiknya menaiki anak tangga. Karena kamar Vanda berada di lantai dua.


"Waw, manis sekali.." puji Netty terpaku oleh pesona Vander.


Ajeng menjitak kening Netty.


"Sadar! apakah kamu kagum dengan seorang gay sepertinya!?" tanya Ajeng menasehati Netty.


"Amit-amit!" Netty pun langsung merasa tergelitik.


"Siapa yang Gay!?" suara dari belakang mereka membuat Netty dan Ajeng langsung terjingkat.


Mata Netty dan Ajeng pun lagi-lagi terbelalak ketika melihat anak buah Vander, yaitu Kansa, yang sudah memecat mereka dengan tidak hormat.


Ya tuhan, bos dan anak buah ini benar-benar membuat jantungku terasa sesak. batin Ajeng.


"Oh, tidak-tidak, kami tadi habis lihat drama yang sangat bagus." jawab Netty dengan spontan.


"Drama? kalian menonton drama di jam kerja kalian!?" tanya Kansa membuat Ajeng dan Netyy berkeringat dingin.

__ADS_1


Netty lagi-lagi merutuki kebodohannya, mengapa dia bisa asal ceplos di depan anak buah vander ini. Habis sudah! batin Netty.


__ADS_2