
Sebuah tangannya menyentuh segala barang-barang misterius yang ada di atas meja. Dari uang sekoper, beberapa alat canggih dan bahkan ada senjata api juga.
Netty menatap ragu dengan semuanya ini. Apakah bener orang yang mengirimkan ini benar-benar orang yang niat menolongnya, atau hanya menjadikan mereka sebagai kambing hitam saja.
Ketika akan masuk ke dalam kamarnya, Netty mendengar suara Ajeng masih menangis sesegukan. Netty pun tertunduk dan merasa bersalah karena telah berkata kasar pada sahabatnya.
Sesungguhnya Netty sangat paham dengan niatan Ajeng. Tapi, untuk membalas dendam kita harus tetap waras, jangan sampai merugikan diri sendiri karena ego.
Netty menghela nafas dan membuka pintu kamar Ajeng.
Terlihat Ajeng yang menyembunyikan kepalanya di bawah bantal dengan posisi tengkurap.
Netty pun duduk di tepi kasur.
"Ajeng, maafkan aku? Aku tidak bermaksud berkata kasar padamu. Hanya saja, kamu adalah kekuranganku satu-satunya, aku hanya tidak ingin melihatmu hancur karena niat balas dendam ini. Kita sudah hancur karena bibikku, dan aku tidak mau kamu tambah hancur karena rencana balas dendam kita."
Netty terus berusaha membujuk sahabatnya untuk tetap tenang dan memaafkan dirinya yang telah bersikap kasar. Mau bagaimana pun, mereka tidak dapat berlama-lama saling diam dan marahan.
Ajeng membalikan tubuhnya dan duduk di samping Netty.
Ajeng masih sesegukan dengan mata yang memerah.
"Hiks..hiks.. A-aku, maafkan aku. Aku hanya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kita sudah terlalu lama bersembunyi dari Tante Caren, aku sudah tidak tahan ingin melawannya," ucap Ajeng dengan sesegukan.
Netty pun langsung memeluk Ajeng dengan sangat erat.
"Sekarang sudah saatnya. Tenangkan dirimu, lupakan semua rasa pedih. Siapapun yang ada di balik kita, kita tetap harus melumpuhkan Tante Caren." Netty menajamkan pandangannya, terlihat jiwa membara untuk menyerang.
...****************...
Vander di dalam ruangannya terlihat emosi dengan sikap ibu tirinya yang telah lancang menjebak dirinya.
Tangannya mengepal kuat dengan sorot mata ingin segera menghancurkan dunia.
"Kansa!?" panggil Vander. Kansa yang sedang berdiri diam sedari tadi melihat taunnya pun langsung maju.
"Iya, Pak?"
"Kamu sudah menemukan siapa saja ada di belakang Caren!?" tanya Vander.
"Baru beberapa, Pak."
"Siapa orang yang berpengaruh?"
"Masih belum saya temukan, Pak. Saya akan terus mencari siapa yang mendukung Caren dari belakang."
__ADS_1
"Apakah semua kebutuhan yang di perlukan wanita itu sudah kau kirim!?"
"Sudah, pak!"
Vander pun terdiam dengan seribu pikiran yang tersembunyi.
...****************...
2 Hari telah berlalu. Netty dan Ajeng sudah siap dengan setelan mahal di tubuh mereka.
Dari pakaian, tas dan juga sepatu. Untuk menarik perhatian para kolega penting, mereka harus terlihat meyakinkan.
Ajeng dan Netty bersiap keluar dari apartemen. Di depan, sudah ada mobil mahal yang mereka sewa.
kini, Ajeng dan Netty telah sampai di sebuah hunian mewah.
Ajeng dan Netty pun di sambut oleh pelayan rumah dan di antar ke ruangan khusus tamu penting. Karena pakaian mahal di pakai Netty dan Ajeng, pelayan pun tidak mencurigai apapun.
Di ruang tamu, ternyata ada seorang tamu sedang duduk bersama sama dengan tuan rumah yang terlihat sudah tidak muda lagi.
Tuan sepuh itu pun menyambut tamunya, meski dia sedikit heran ketika melihat Ajeng dan Netty, pasalnya tuan sepuh tidak mengenalnya.
"Silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" ucap tuan sepuh dengan ramah.
Ketika Ajeng dan Netty duduk, mereka sangat terkejut ketika melihat tuan Puan ada di depan mereka.
"Wah, ternyata ada tamu segar. Hahaha, jika begitu, saya permisi dulu. Besok saya akan datang lagi," ucap tuan Puan menyeruput teh untuk terakhir kalinya.
Setelah kepergian tuan Puan, tuan sepuh itu pun langsung menatap Ajeng dan Netty dengan serius.
"Nona, siapa sebenarnya kalian ini?" tanya tuan sepuh.
Ajeng dan Netty saling menatap sebelum akhir mereka membuka kaca mata. Netty tahu, jika tuan sepuh adalah seseorang yang sangat di percaya oleh orang tuannya. makannya Netty dan Ajeng berniat untuk meminta bantuannya.
Ketika Netty dan Ajeng membuka kaca mata, tuan sepuh pun terlihat terkejut.
"Loh! kalian!? Bu-bukankah kamu sedang koma di AS?" tanya tuan sepuh menunjuk Netty. "Dan kamu juga, bukankah kamu telah mati?" lanjutnya.
"Tidak, pak. Saya belum mati," jawab Ajeng.
"Dan saya tidak pernah koma," lanjut Netty.
Tuan sepuh pun terlihat sangat terkejut. Setelah menjelaskan segalanya, Tuan sepuh pun terlihat geram dengan kelakuan Caren selama ini.
"Baiklah, kalian tenang saja, saya akan membantu kalian. Saya harap, kalian jangan melakukan sesuatu yang gegabah, aku tidak ingin kalian terluka," ucap Tuan sepuh memperingati Ajeng dan Netty.
__ADS_1
Setelah mendapatkan dukungan dari tuan sepuh. Ajeng dan Netty pun dengan percaya diri mendatangi beberapa orang yang ada di bawah kendali Caren. Tujuannya adalah, agar mereka mau mundur mendukung Caren dan beralih mendukung mereka untuk menjatuhkan Caren.
Tidak diduga. Semuanya berjalan dengan lancar. Mereka dengan mudah menerima suap yang Ajeng dan Netty berikan tanpa penolakan sama sekali.
Hampir 7 orang menerima suap yang Ajeng dan Netty berikan. Ajeng dan Netty berharap dapat dapat menjatuhkan Caren dan menjebloskannya ke penjara.
Di rumah terakhir yang akan Ajeng dan Netty datangi. Di sana tidak sengaja Ajeng dan Netty bertemu dengan Vander dan juga Kansa.
...*Astaga, apa yang di lakukan orang ini di sini? batin Netty....
Dia lagi-lagi, kapan aku tidak melihat wajah-wajah ini!" umpat Ajeng dalam hati*.
Netty dan Ajeng pun terlanjur masuk dan tidak mungkin untuk keluar hanya karena ada Vander dan Kansa di ruangan itu.
Vander dan Kansa hanya diam, santai dan dingin. Mereka tidak memperlihatkan gelagat yang tidak nyaman karena kehadiran Ajeng dan Netty.
Berbalik dengan sikap Vander, kini justru sikap Ajeng dan Netty lah yang terlihat tidak nyaman. Mereka tidak tahu apa yang akan di pikirkan Vander tentang diri mereka.
Tapi, Ajeng dengan percaya diri membuka kaca matanya. Dia ingin menunjukan kepada Vander dan Kansa jika sebenarnya mereka adalah anak sultan. Hanya saya saja mereka sedang tersesat gara-gara adanya penyihir.
Ajeng menyenggol Netty agar mau membuka kaca matanya juga. Melihat kode dari Ajeng, Netty juga akhirnya membuka kaca matanya.
"Hay, mantan bos?" sapa Ajeng dengan percaya diri.
Karena tuan rumah belum datang, jadi Ajeng mencoba untuk mengejek Vander. Ajeng dan Netty belum menyadari, jika mereka bisa begini itu karena bantuan yang di kirim oleh Vander itu sendiri.
"Kalian pasti tidak pernah menduga jika kami bisa berpenampilan seperti ini kan? sekarang akan aku beri tahu kalian siapa sebenarnya kami!" ucap Ajeng menge'ce keduanya.
"Kami tidak perduli siapa kalian!" jawab Vander dengan dingin.
Jleb
Ajeng pun langsung terdiam dengan perasaan kesal, begitu pun dengan Netty.
Netty tiba-tiba mengeluarkan uang dari tasnya dan memberikannya kepada Vander.
"Hay, mantan bos. Ini, saya bukannya mau bersikap kurang ajar atau tidak tahu terima kasih. Justru ini saya ingin membayar hutang budi saya kepada anda. Ini uang untuk mengembalikan biaya pengobatan saya. Saya beri lebih untuk wujud terima kasih saya," ucap Netty.
Vander dan Kansa masih diam saja dan tidak merespon sama sekali ucapan Netty. Membuat Netty dan Ajeng mati kutu
Tidak lama, Tuan rumah pun datang dan duduk di antara Netty dan Vander.
"Oh, hoho, lihatlah siapa yang datang. Pak Vander, senang bertemu dengan anda. Oya, apakah ini Istri anda?" tanya seseorang dengan bibir sumbing. Kita sebut saja tuan sumbing.
"Oh, bukan tuan. Saya dalam Netty jelita," sahut Netty menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar nama itu, Tuan sumbing pun langsung memudarkan senyumnya sesaat sebelum akhirnya dia tersenyum kembali dengan senyum yang berbeda.