Cinta Narsis Bos Arogan

Cinta Narsis Bos Arogan
Salah kamar


__ADS_3

Mata Netty dan Ajeng pun lagi-lagi terbelalak ketika melihat anak buah Vander, yaitu Kansa, yang sudah memecat mereka dengan tidak hormat.


Ya tuhan, bos dan anak buah ini benar-benar membuat jantungku terasa sesak. batin Ajeng.


"Oh, tidak-tidak, kami tadi habis lihat drama yang sangat bagus." jawab Netty dengan spontan.


"Drama? kalian menonton drama di jam kerja kalian!?" tanya Kansa membuat Ajeng dan Netyy berkeringat dingin.


Netty lagi-lagi merutuki kebodohannya, mengapa dia bisa asal ceplos di depan anak buah vander ini. Habis sudah. batin Netty.


"Maaf, pak. Ini ada apa ya? apakah rekan saya ini membuat masalah?" tanya senior yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Mereka melihat drama di saat sedang bekerja!" jawab Kansa.


"Em, begini kak." Ajeng mencoba maju untuk menjelaskan. "Bukan sekarang, namun tadi malam ketika di rumah kami menontonnya," jelas Ajeng.


Kansa masih menatap mereka dengan dingin.


"Lalu, apa yang kalian perhatikan tadi?" tanya Kansa.


"Em, kami tadi-" Netty mencoba menjelaskannya.


Namun Ajeng tidak membiarkan Netty mengucapkan apapun, ia tidak ingin mengambil resiko apapun lagi.


"Tadi kami hanya sedang bergosip sedikit saja," sahut Ajeng cepat.


Melihat situasinya tidak serumit itu, sang senior pun mencoba untuk membantu rekannya.


"Maaf, Pak, mungkin ada kesalah pahaman di sini. selanjutnya saya akan lebih mengawasi rekan kerja saya."


"Saya tidak ingin ada yang berbicara ketika kalian bekerja di sini. Jika tidak, saya akan membatalkan kontraknya!" peringatan dari Kansa membuat semuanya yang melihat mereka langsung merasa keringat dingin mengucur.


Gilak! ini anak buah kenapa bisa lebih galak dari bosnya sih! umpat Ajeng dalam hati.

__ADS_1


Hari ini benar-benar sangat melelahkan. Di tambah mereka harus lembur karena Tuan rumah tiba-tiba meminta acara pernikahan di majukan 2 hari lagi. Hanya karena undang salah cetak tanggal, jadi kini tukang dekor harus bergerak cepat.


"Netty, tolong kamu dekor kamar utama, contohnya seperti ini ya. Bisakan?" tanya senior sambil menyerahkan contoh gambar.


"Serahkan saja padaku, kak. Aku dan temanku akan menyelesaikannya malam ini juga," sahut Netty.


"Aku percaya dengan ketrampilan kamu."


"Terima kasih banyak, kak."


Ajeng lagi memakan roti jatah makan malam mereka. Ajeng sengaja makan di pojokan karena tidak ingin mantan bosnya melihat wajahnya. Seharian menggunakan masker, membuat Ajeng sangat pengap.


"Ajeng, cepat makan, kita harus mendekorasi kamar pengantin. Malam ini harus selesai." Netty menghampiri Ajeng.


"Kamu gak makan dulu? dari sore tadi kamu belum makan loh!?" sahut Ajeng.


"Nanti lah, aku merasa mual, lagi gak napsu makan. Aku ingin cepat pulang dan istirahat, jadi kita harus cepat."


Ketika menaiki anak tangga, tiba-tiba Netty merasa sangat mual dan ingin muntah. Sepertinya dia benar-benar masuk angin.


"Jeng, kamu duluan saja ya, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Netty.


"Iya, jangan lama-lama, aku tunggu."


"Oke!"


Netty dengan buru-buru ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang dia makan seharian ini.


Uwek..


Uwek..


Uwek..

__ADS_1


Netty terkulai lemas merasakan tubuhnya yang tidak enak.


"Ayo Netty, kamu pasti bisa!" Netty bercermin dan menyemangati dirinya sendiri.


Setelah merasa lebih baik, Netty pun bergegas menaiki anak tangga. Setelah sudah di dasar lantai dua, Netty pun bingung harus ke kanan atau ke kiri.


Aduh, ini tadi kamarnya Tuan puan sebelah kanan atau kiri ya? Em, kayaknya ke kiri deh!? batin Netty bingung, namun ia tetap yakin dengan apa yang ada di hatinya.


Netty berjalan ke arah kiri, setelah menemukan sebuah pintu kamar, Netty pun langsung membukanya dan masuk ke dalam.


Setelah masuk, Netty pun menutup pintu kamar dan melepaskan maskernya. Karena dia pikir di sini sudah aman.


Namun, Netty belum menyadari jika ada sosok pria sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan buku di tangannya.


Vander dengan tatapan dingin menatap Netty yang tiba-tiba sedang mencoba untuk mengucir rambutnya ke atas dari pantulan cermin.


"Ajeng, apakah semua bahan sudah di antar ke sini?" tanya Netty yang masih belum menyadari jika dia salah kamar, dan hanya ada Vander di dalam kamar itu.


Vander hanya diam dan masih menatap pantulan tubuh Netty dari cermin yang ada di depannya.


Merasa tidak ada jawaban, Netty pun langsung membalikan tubuhnya dan mencoba untuk mencari sahabatnya.


Netty masih belum menyadari, jika di depannya ada sebuah cermin yang memantulkan ranjang tidur lengkap dengan sosok si empunya di atasnya.


Ketika sudah 6 langkah, Netty pun terperangah ketika menemukan ranjang besar dengan sosok tanpa baju di atasnya.


Badan kekar dengan perut kotak-kotak seperti kumpulan kotak amal terpampang dengan jelas tanpa ada penghalang.


Vander dengan santai menutup buku di tangannya dan meletakkan di sebuah meja kecil di samping ranjangnya.


Vander berdiri dan menampakan tubuhnya yang hanya menggunakan boxer yang hanya memiliki panjang dua jengkal dari pinggangnya.


Netty terpaku tidak dapat bergerak. Hatinya sangat syok sehingga rasanya ingin mati saat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2