Cinta Narsis Bos Arogan

Cinta Narsis Bos Arogan
Satu atap ternyata


__ADS_3

Ajeng mengekor di belakang Kansa. Sampai di lantai 2 mereka pun keluar dari lift dan saat itu bertepatan dengan Netty yang sedang mengantar Vander.


"Kansa, kita pulang sekarang," ucap Vander ketika melihat Kansa di dalam lift.


Kansa pun tidak jadi keluar dan membiarkan Vander untuk masuk ke dalam.


Ajeng dengan hati-hati keluar dengan langkah yang sangat di perhatikan.


"Pak Vander, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membantu kami," ucap Netty.


Vander pun hanya diam dan menutup pintu lift. Ketika pintu tertutup, Ajeng baru ingat kalo barang belahannya masih di tangan Kansa.


"Ya ampun! net, aku lupa kalo barang-barang belanjaan aku masih di tangan angsa!" seru Ajeng panik.


"Angsa!?" Netty mengerutkan keningnya.


"Em, maksud aku itu si Kansa!" jelas Ajeng.


Netty dan Ajeng melihat arah lift berjalan. Mata mereka pun terbelalak ketika melihat arah lift menuju ke puncak apartemen.


Netty dan Ajeng sama-sama tepengarah. Mulut mereka sangat sulit untuk di tutup karena saking terkejutnya.


"Ajeng, kamu lihat itu!? kenapa bos Vander dan anak buahnya ke lantai atas? ataukah!?"


"Cepat Net, kita harus segera mengikuti mereka!" tutur Ajeng yang langsung pergi ke pintu tangga darurat.


"Apa yang mau kau lakukan, Jeng?" tanya Netty.


"Tentu kita harus segera mengikuti mereka!" sahut Ajeng.


"Sudahlah, mungkin mereka memang memiliki apartemen di sini. Lagi pula mereka berada di gedung paling atas, tentu itu sangat wajar," ucap Netty dengan positif thinking.


"Apa yang kamu katakan, Net! sejak kapan mereka berada di sini? kita tidak pernah melihat mereka berkeliaran di tempat ini, tapi hari ini, dia ada tiba-tiba memiliki tempat tinggal di sini!?" Ajeng masih saja kekeh untuk memeriksa sesuatu.


Ketika Netty akan menjawab, ponsel di tangannya berdering. Terlihat jika itu dari Rain.


"Ajeng, kamu selidiki sendiri mereka, aku ada panggilan penting!" ujar Netty tersenyum sumringah.


Dasar yang lagi bucin!


umpat Ajeng kesal.

__ADS_1


Ajeng pun berlari sekuat tenaga untuk sampai ke lantai paling tinggi di gedung ini.


"Hah! rasanya kakiku mau patah! Ayo Ajeng, kamu pasti bisa.. kita tidak boleh kehilangan jejak mereka!" gumam Ajeng menyemangati dirinya sendiri.


Ketika sampai di lantai VVIP, Ajeng pun langsung di suguhkan dengan kemewahan dan ke elegan nan.


"WAW! selama tinggal di sini, aku tidak pernah naik ke atas sini. Jelas bukan orang sembarangan yang dapat membeli hunian di sini. Ya ampun Ajeng, apa kamu baru ingat siapa bos Vander itu, tentu ini sangat mudah dia dapatkan, tidak seperti aku, butuh 5 tahun untuk melunasi sisa pembayaran."


Ajeng terus menggerutu dirinya sendiri sembari berjalan celukan mencari keberadaan Kansa dan Vander.


Tidak butuh waktu lama, Ajeng menemukan Vander dan Kansa yang sedang bertemu sama di sebuah Aula mewah nan berkelas.


Terlihat mereka sedang bertemu sapa dan hanya berbincang ringan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Kansa dan Vander melanjutkan langkah kaki mereka menuju kamar apartemen.


Ajeng pun tidak membuang-buang waktu dan terus mengikuti mereka dari belakang.


Sampai akhirnya, Vander dan Kansa masuk ke dalam salah satu kamar. Mata Ajeng terpaku sejenak sebelum akhirnya dia melihat bahwa pintu apartment itu tidak tertutup rapat.


"Masuk gak ya?" gumam Ajeng bergulat dalam hati. "Masuk saja lah, siapa tau aku dapat menguping percakapan mereka. Aku harus menemukan sesuatu untuk di bawa pulang," lanjutnya dengan yakin.


Di sisi lain, Netty baru saja melakukan vidio call dengan Rain berniat untuk mandi membersihkan diri.


Ketika sedang mandi, seseorang membuka pintu kamar Netty dengan perlahan. Mereka adalah orang-orang bertopeng, mahluk ciptaan Tuhan dengan seribu niat buruk di dalam hati mereka. Mereka di beri perintah oleh Caren untuk menculik Netty.


Ketika Netty akan keluar dari apartemen, tiba-tiba seseorang langsung menyekap mulutnya.


Netty pun sangat terkejut dan berusaha untuk memberontak, namun sayang, obat bius yang menyengat itu tidak dapat Netty tahan lebih lama.


Netty pun pingsan dan di masukan ke dalam koper besar.


Untuk mengelabuhi penjaga, penculik itu pun membuka topeng mereka dan menggunakan outfit mahal.


Kembali dengan Ajeng yang masuk ke dalam apartemen Kansa dan berusaha untuk mencari tempat sembunyi.


Setelah menemukan tempat yang tepat untuk bersembunyi, Ajeng melihat Kansa yang berjalan ke menaiki anak tangga.


Ternyata di dalam apartemen Kansa pun berlantai dua. Sedangkan Vander, dia berjalan menuju balkon.


Ajeng melihat Vander yang nampak gusar dan dengan tatapan penuh beban. Ia terlihat meneguk sebuah win dengan kadar yang cukup tinggi.


Tidak lama terlihat Kansa yang menuruni anak tangga dengan penampilan santai.

__ADS_1


Oh, jadi ini adalah apartemen milik Abang Kansa. Hmmm, dia terlihat sangat tampan sekali.


gumam Ajeng terpaku dengan penampilan Kansa.


Kansa pun mendekati Vander sambil membawa segelas es batu di tangannya. Minum win dingin membuat cita rasanya lebih segar dan nikmat.


"Bagaimana?" tanya Kansa tiba-tiba kepada Vander.


"Entahlah. Apakah kamu sudah menemukan penyebab adik perempuan ku celaka?" tanya Vander.


"Em, aku akan urus semuanya, kamu tidak perlu cemas memikirkan itu," jawab Kansa.


Di sini, terlihat Vander dan Kansa seperti teman biasa. berbalik jika diluar, status bos dan anak buah sangat melekat.


"Menurutmu, apa yang akan di lakukan caren selanjutnya? Apakah wanita itu benar-benar sangat berbahaya?" tanya Vander.


"Kematian kedua orang tua Netty sangat jelas bersangkutan dengan Caren. Kita tidak dapat menyepelekan sifat psikopatnya. Selain kedua orang Caren, dia juga membunuh tangan kanan dan semua orang kepercayaan orang tua Netty. Jika kita lihat, wanita itu penuh tekad yang berbahaya. Berhati-hatilah!"


"Tidak ada yang bisa menggertak ku!" tandas Vander.


"Ckckckc!" Kansa terkikik.


"Ada apa? kamu menertawai ku?" tanya Vander merasa tidak suka dengan ejekan Kansa.


"Tidak, aku hanya bertanya-tanya, apakah kamu sudah mulai merasakan jatuh cinta? apakah kamu menyukainya?" tanya Kansa.


"Pikiran saja dirimu. Jika kamu sudah tidak lagi menjomblo, baru kamu dapat mengejek ku dan menanyakan soal perasaan ku!" ejek Vander balik.


"Aku? em, aku sudah ada, dan sebentar lagi, dia akan jatuh dalam kepelukan ku," jawab Kansa dengan bangganya.


Cekit! Ah!


Mendengar itu, entah mengapa hati Ajeng tiba-tiba merasa sakit. Entah apa yang membuatnya merasakan hal itu kepada Kansa.


Apa ini? apakah aku cemburu?


Ajeng yang merasa tidak nyaman dengan hatinya pun tidak sengaja menyenggolnya vas bunga yang ada di tembok hias.


PRANG!


suara keras itu membuat Vander dan Kansa bergegas untuk melihat.

__ADS_1


Ajeng yang panik pun segera lari ke pintu, tapi sayang, dia yang tidak tahu kode pintu pun akhirnya tertangkap basah oleh Vander dan Kansa.


__ADS_2