Cinta Narsis Bos Arogan

Cinta Narsis Bos Arogan
Menolongnya..


__ADS_3

Pernikahan Tuan Puan dan Chamber berjalan sangat lancar. Vander sangat di sibukkan dengan kedatangan beberapa koleganya yang ikut hadir di acara pernikahan orang tuanya.


Beberapa bahkan ada yang menyindir.


"Tuan Vander, senang bertemu dengan anda lagi. Saya kira, undangan pernikahan ini dari anda. Saya sangat senang dan berniat akan membelikan tiket hanoeymoon untuk anda," sindir salah satu kolega.


"Tidak masalah, anda bisa memberikan tiket itu kepada para mempelai," jawab Vander dengan senyuman yang kaku dan hambar.


"Ahahaha, ya ya, baiklah .. sesuai dengan saran anda, Tuan Vander!"


Vander benar-benar merasa moodnya kurang bagus. Entah mengapa pikirannya jauh entah kemana.


Dia permisi untuk mencari angin. Namun, dia tidak sengaja melihat seseorang yang sedang berbincang-bincang di belakang pojok rumah.


"Kalian? apakah kalian sedang merencanakan balas dendam?" tanya Vanda tiba-tiba membuat Netty dan Ajeng terkejut karena kaget...


Mata Ajeng dan Netty melebar ketika melihat Vanda, yang bukan lain adalah adik Bos Vander.


Vander diam-diam menyimak apa sedang adiknya perbincangkan oleh Netty dan Ajeng.


"Oh, tidak kok! kami tidak membicarakan itu," jawab Netty tidak ingin berterus terang kepada Vanda.


"Ayolah, aku bisa membantu kalian. Aku bisa menjadi supplai dana untuk kalian." Vanda sangat berantusias. Entah mengapa, dia sangat tertarik dengan rencana balas dendam Netty dan Ajeng.


Apalagi, Vanda akhirnya tahu jika wanita yang bekerja menjadi OB di perusahaan kakaknya ini bukanlah orang biasa. Melainkan seseorang yang sangat misterius. Bahkan dia bisa jadi orang yang sangat berpengaruh..


Ajeng dan Netty pun saling menatap.


"Maaf nona, kami tidak dapat melibatkan anak-anak di dalam urusan kami. Ini sangat berbahaya," jawab Ajeng dengan tegas.


Di sisi lain, Vander tersenyum mendengarnya. Netty dan Ajeng tidak tergiur dengan tawaran adiknya yang sanggup membiayai kebutuhan balas dendam mereka. Mereka justru memikirkan keselamatan seseorang.


"Ayolah, aku pasti bisa. Ayolah, aku sangat ingin menjadi mata-mata yang handal. Aku ingin menjadi seseorang berguna. Aku punya keahlian khusus dan uang. Apalagi yang kalian ragukan dariku!?" Vanda masih kekeh meminta untuk diizinkan bergabung.


Netty dan Ajeng hanya bisa menundukkan kepala mereka. Dengan berat hati, Netty dan Ajeng tetap menolak tawaran Vanda.


Mereka tahu jika balas dendam ini sendiri akan melibatkan nyawa mereka. Kedua orang tua mereka saja mati, apa lagi mereka. Ajeng dan Netty sama-sama enggan untuk menatap Vanda.


Netty dan Ajeng pergi begitu saja melewati Vanda yang terlihat kecewa dengan keputusan Ajeng dan juga Netty.


Vanda yang kecewa pun hanya bisa menundukkan kepalanya dengan sendu. Dia terpincang-pincang berjalan menuju kamarnya.


Acara meriah pernikahan ayahnya tidak membuatnya bahagia, jadi Vanda tidak ingin bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati acara pesta.


Vander hanya bisa diam. Melihat adiknya yang bersedih, hati Vander pun merasa sakit.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, biar kakak yang membantu mereka," gumam Vander.


Ajeng dan Netty pun kembali ke perkejaan mereka. Ketika Netty dan Ajeng akan keluar dari dapur untuk menyajikan minuman pada para tamu. Kaki mereka terhenti ketika mata mereka melihat Mis Caren, yang bukan lain adalah Bibiknya Netty.


"Net, bukankah dia Tante Caren!? Berarti, dia memiliki hubungan baik dengan tuan Puan!?" bisik Ajeng.


"Iya, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum dia menemukan kita!" Netty dan Ajeng buru-buru bergegas meninggalkan acara.


Ketika Ajeng dan Netty keluar dari rumah Tuan Puan, mereka pun bernafas lega. Berhadapan dengan Caren membuat mereka sulit bernafas.


"Huft! sekarang kita mau kemana!?" tanya Ajeng.


"Kita pulang ke rumah aja yuk? semoga aja Tante Caren tidak melihat kita," ucap Netty yang merasa hatinya tidak enak.


Dan benar saja, ketika sedang berjalan menuju jalan raya, beberapa mobil hitam dengan gesit mengarah kepada Netty dan Ajeng.


"Net! mobil itu sepertinya mengarah kepada kita!?" tanya Ajeng panik.


"Mereka pasti anak buah Caren. Sial! kita ketauan!" seru Netty yang langsung menarik tangan Ajeng agar menyingkir dari pinggir jalanan dan naik ke trotoar.


Ketika mobil itu berhenti, beberapa orang langsung turun dan berniat untuk menculik Netty dan juga Ajeng.


"Hay, lepaskan kami! siapa kalian!?" tanya Netty memberontak.


Namun namanya culik harus buru-buru, tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan Netty, karena keburu di lihat orang lain.


"Kansa, jangan sampai kehilangan mobil itu!" titah Vander terlihat sangat greget dan geram.


"Baik, Tuan! aku tidak akan pernah melepaskan mereka."


Tatapan Kansa sangat tajam. Jiwanya membara melihat gadisnya di culik seperti ini.


Sampai di jalan sepi, Vander dan Kansa siap menghadang mobil yang menculik Netty dan Ajeng.


Kansa dan Vander menggunakan masker agar identitas mereka tidak di ketahui.


Netty dan Ajeng sama-sama pingsan karena telah di sekap oleh penculik kurang ajar itu.


"Siapa kalian!?" tanya Penculik itu menatap Vander dan Kansa dengan tatapan bengis.


Vander dan Kansa yang gak sabaran pun enggan menjawab pernyataan para penculik itu.


Hampir ada 5 orang penculik, tidak membuat Kansa dan Vander kalah. Hanya beberapa langkah, mereka pun dapat melumpuhkan musuh mereka.


"Kalian, beri tahu bos kalian agar tidak lagi menganggu wanita-wanita ini, atau kami akan menghancurkan bos kalian tanpa tersisa!" ancam Vander tidak main-main.

__ADS_1


Vander dan Kansa pun membopong wanitanya masing-masing. Para penculik yang sedang meringis kesakitan pun tidak dapat berkutik banyak. Di tambah ada dua rekannya yang mati, membuat mereka menyerah dari pada ikut mati.


Vander dan Kansa membawa Ajeng dan Netty ke apartemen mereka tinggal.


Mungkin kalian bertanya-tanya, dari mana mereka tahu apartemen milik Ajeng.


Sangat kebetulan, ternyata Ajeng dan Kansa satu apartemen. Bedanya, Kansa tinggal di apartemen paling atas, dan Ajeng hanya berada di lantai 2. Semakin tinggi apartemennya, maka akan semakin mahal harganya.


Kansa sendiri memang belum lama membeli apartemen barunya ini. Sehingga Ajeng dan Netty belum menyadarinya. Namun, indra penciuman Kansa kepada Ajeng sangatlah tinggi, sehingga Kansa dapat mengetahui terlebih dahulu jika ternyata mereka tinggal di satu gedung yang sama.


Ajeng dan Netty di tidurkan begitu saja di sofa. Melihat rumah yang sangat kosong, Vander iseng-iseng memasuki dapur dan melihat isi kulkas.


Betapa terkejutnya Vander ketika mendapati kulkas tidak ada isi apapun, hanya satu botol air minum, itu saja sudah tinggal setetes.


Tidak ada selain mie instan di dapur.


"Kansa, isi semua yang di butuhkan oleh dapur," ucap Vander. Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk mengecek sesuatu.


Di dalam kamar mandi pun peralatan mandi sudah pada habis. "Kansa, isi juga peralatan kamar mandi!" lanjut ucap Vander.


"Baik, Tuan!"


Sampai akhirnya, Vander memasuki kamar Netty. Kamar ini sangat bersih, maksudnya bersih tidak ada apapun selain kasur dan bantal.


meja rias pun hanya satu bedak dan satu botol parfum yang sudah habis.


,"Kansa, isi meja rias ini juga. Semuanya harus nampak sempurna layaknya kamar wanita," ucap Vander.


Kemudian Vander yang di ikuti terus oleh Kansa memasuki kamar Ajeng. Berbeda dengan Netty, kamar Ajeng cukup layak seperti kamar wanita.


Terutama di meja rias. Nampak banyak bedak dan beberapa alat make up lainnya.


Bukan tanpa alasan, Ajeng rela menguras uangnya untuk membeli peralatan make up karena dia berfikir jika dia akan menjadi aktris yang sukses.


Namun sangat di sayangkan, tabungannya sudah terkuras, namun dia pun gagal menjadi aktris.


"Ajeng bercita-cita ingin menjadi artis," ucap Kansa seolah menjawab pikiran Vander yang terlihat bingung.


Vander menepuk pundak Kansa.


"Ternyata kamu mengetahui banyak tentang dia. Ya sudah, kerjakan semua yang saya perintahkan. Kerjakan sebelum mereka berdua sadar," ucap Vander.


"Baik, Tuan!"


Vander dan Kansa pun keluar dari apartemen Ajeng. Mereka membiarkan Ajeng dan Netty pingsan di sofa.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Netty pun perlahan membuka matanya. Dia melihat ke sekelilingnya.


"Apa? kami di rumah?" gumam Netty merasa tidak percaya..


__ADS_2