Cinta Narsis Bos Arogan

Cinta Narsis Bos Arogan
Siap bertarung


__ADS_3

"Kalian cepat panggil semua pasukan dan cari keberadaan wanita jal*ng itu sampai ketemu. Jangan sampai melewatkan petunjuk sekecil pun. PAHAM!"


Suara dari wanita yang membelakangi pintu.


"Siap, Miss!" para ajudan hanya bisa tertunduk mendengar perintah dari Caren, bibi dari Netty.


Caren mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Bertahun-tahun dia mencari keponakannya yang bersembunyi, akhirnya kini dia mendapatkan petunjuk.


"Tunggu saja, kali ini aku tidak akan melepaskan kalian! Dasar wanita jal*ng!"


Caren sangat bersemangat untuk menangkap ponakannya yang bersembunyi seperti tikus.


...****************...


Siang pukul 2:30 WIB.


Vander lagi-lagi menerima tawaran untuk makan siang bersama dengan Mis Caren. Namun kali ini hal tidak terduga, Caren sudah duduk bersama dengan putrinya bernama Gisel dan juga ibu tiri Vander, Chamber.


Vander sedikit terkejut namun ia mencoba untuk bersikap profesional dan bersikap dingin.


"Sayang, kamu sudah datang, nak? sini, duduk di sebelah mamah." sambut Chamber dengan ramah.


Namun Vander hanya diam dan memilih duduk meja paling ujung. Di depan Vander, dia adalah Caren.


Caren yang melihat tatapan dingin dari Vander pun hanya tersenyum kaku.


"Selamat siang, Pak Vander. Apakah di ujung sana tidak terlalu jauh?" tanya Caren.


"Apakah kalian tidak dapat mendengar suaraku jika aku duduk di sini?" tanya Vander.


Caren dan semuanya hanya tersenyum getir. Gisel yang melihat ketampanan Vander pun tidak lepas dari memandangi pesona Vander.


Caren yang melihat putrinya tidak dapat mengontrol pandangannya pun mencoba untuk menyadarkan sang Putri.


"Gisel, beri hadiahnya kepada pak Vander, calon suamimu," ucap Caren dengan pelan, namun Vander masih mampu mendengarnya.


Gisel pun tersenyum dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam tasnya. Sepertinya isinya adalah jam tangan mahal.

__ADS_1


Gisel berjalan centil dan duduk di kursi dekat Vander.


"Bolehkah aku memanggil kamu kakak Vander? Memanggil pak atau tuan terlihat berlebihan untuk calon suami sendiri," ucap Gisel dengan malu-malu.


"Panggil aku pak, atau tuan. Tidak yang lain," jawab Vander tanpa menoleh sedikit ke arah Gisel.


Gisel yang sangat manja dan baperan pun langsung cemberut dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ah, Gisel, Vander belum mengetahui soal perjodohan ini. Jadi kamu jangan ambil hati ya, Tante akan berbicara dengan Vander soal ini. Siapa tahu dia akan mendengarkan mamanya ini," ucap Nyonya Chamber membujuk Gisel.


"Anda hanyalah istri dari ayah saya. Anda sama sekali tidak berhak untuk ikut campur soal hidup saya!" tandas Vander membuat Chamber merasa tertampar.


Di depan rekan bisnisnya, bahkan Vander berani berkata seperti itu untuk memperlakukan ibunya tirinya.


"Pak Vander, saya harap kerja sama kita bisa terus berjalan dengan adanya hubungan keluarga di antara kita. Jika anda bersedia menikah dengan putri saya, maka saya akan membagi 60% dari saham yang saya tanamkan. "


"Saya tidak memerlukan saham apapun. Saya sudah cukup kaya untuk menerima tawaran menjijikan ini. Saya bisa membatalkan kerja sama kita kapan pun saya mau!" jawab Vander. Duduknya sudah tidak jenak, rasanya ia ingin segera pergi dari acara yang tidak jelas ini..


"Pak Vander, apakah anda lupa, jika kita tidak dapat membatalkan kerjasama kita jika keuntungan yang kita peroleh tembus 10%. Saat ini, tingkat persentase penjualannya meningkat 11% dan kontrak sudah di perpanjang 5 tahun ke depan." Caren menahan emosi sambil tersenyum getir.


Caren lagi-lagi memaksakan senyumnya.


"Kecurangan? Siapa yang berbuat kecurangan!?" tanya Caren.


"Anda bukanlah Presdir utama. Anda hanyalah pengganti sementara Presdir utama grup Demention yaitu, Netty jelita."


Mendengar jika jati dirinya telah .terbongkar, Caren pun langsung mendelik dan memaksakan senyumnya.


"Dia adalah ponakan saya. Kini dia sedang koma di sebuah rumah sakit. Saya memiliki hak penuh atas kendali perusahaan yang sedang saya urus ini!" jelas Caren dengan tangan yang mengepal kuat.


"Jika begitu, untuk memastikan, saya perlu melihat sendiri keadaan Nona Netty?" Vander semakin memojokkan Caren.


"Dia sedang di rawat intensif disebuah rumah sakit Singapura," jawab Caren, kini dia tidak menampakan senyumnya. Pertarungan sengit membuat suasana terasa mencengkram.


"Kebetulan, akhir pekan saya juga akan ke Singapura untuk perjalanan bisnis."


Caren lagi-lagi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Karena sejatinya dia tidak tahu di mana keponakannya berada.

__ADS_1


"Ah, maaf, karena pekerjaan saya jadi lupa. Ponakan saya sudah di pindahkan ke AS." Caren mencoba untuk mencari celah.


"Di rumah sakit mana? kebetulan saya juga besar di AS. Saya juga memiliki teman seorang dokter spesialis saraf di AS. Saya akan coba menelponnya untuk menanyakan keadaan ponakan anda. Siapa tahu dia sendiri yang menangani kasus Nona Netty." Vander mengeluarkan ponselnya bersiap untuk menelpon temannya yang seorang dokter.


"Maaf Pak Vander. Di As, ponakan saya tidak di rawat di rumah sakit, namun ia di rawat di rumah kakeknya. Kakeknya sangat ingin menghabiskan waktu untuk merawat cucunya yang tidak ada kemungkinan untuk sembuh."


Lagi dan Lagi Caren terus mengelak serangan dari Vander.


"Mengapa tidak di rawat di rumah sakit? apakah kalian sengaja membuatnya mati secara perlahan!?" sindir.


Mendengar Vander terus menyerang tanpa alasan. Nyonya Chamber pun mencoba untuk menghentikannya.


"Vander, cukup nak! itu adalah masalah keluarga mereka. Kita tidak harus ikut campur. Tenangkan dirimu, sebentar lagi wartawan akan datang untuk meliput perjodohan ini. Mama harap kerjasamanya."


Nyonya Chamber menatap Vander dengan penuh harapan.


Namun, Vander yang mendengar jika akan ada wartawan datang ia pun langsung mengeraskan rahangnya karena marah.


"Anda mengundang wartawan tanpa seizin saya!? ****!" Vander mengumpat. "Kansa, blokir jalan sekarang!" Vander pun langsung bergegas keluar tanpa menghiraukan ekspresi semuanya yang menatapnya dengan tidak percaya.


Kansa pun langsung bergegas untuk menghadang wartawan yang sudah datang.


"Pak! Pak, boleh tanya-tanya sedikit saja!?" Para wartawan gemuruh meminta untuk mewawancarai Vander.


Beruntung, Vander bergegas dengan cepat, jadi dia dapat lepas dari terkaman para wartawan yang mengejarnya.


Kansa yang menghadang para wartawan pun langsung mengancam para wartawan itu.


"Jangan sampai ada yang meliput tentang apapun soal bos kami, atau kalian tahu akibatnya!" ancam Kansa membuat para wartawan langsung bersorak.


"HUUUUUU......!"


Meski begitu, para wartawan tidak ada yang berani untuk mengejar Vander dan mewawancarainya.


Nyonya Chamber yang tahu situasinya tidak sesuai harapan pun langsung mengajak Caren dan Gisel untuk bersembunyi.


Chamber tidak dapat menahan rasa malu jika sampai berita buruk menimpa namanya. Reputasinya akan tercemar hanya karena masalah sepele.

__ADS_1


__ADS_2