
Di sebuah minimarket, terlihat Kansa dan Ajeng sudah selsesai memilih sesuatu yang ingin mereka beli.
Ketika berjalan ke arah kasir, Kansa yang awalnya terlihat akan lebih sampai terlebih dulu, sengaja mengehentikan langkah kakinya dan berpura-pura mengambil sesuatu di dekat kasir. Sehingga, Ajeng yang berusaha berjalan cepat dengan senang hati memberikan barang belanjaan kepada kasir terlebih dahulu.
Entah kenapa, meski Ajeng tahu jika Kansa dan bos Vander telah menolongnya tapi hatinya tetap saja merasa kesal kepada mereka.
Ketika akan membayar, Ajeng kebingungan karena dia lupa membawa tasnya.
Dimana tas aku!? Astaga, aku telah meletakkannya di apartemen! sial, bagaimana ini!?
Kansa yang melihat raut wajah kebingungan dari Ajeng pun langsung bergegas menghampirinya.
Ketika memperhatikan sesuatu, Kansa pun langsung melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya.
Kansa berjalan cepat dan mencoba untuk menutupi pinggang Ajeng menggunakan jasnya.
Sontak Ajeng pun langsung terkejut dengan sikap Kansa ini.
Ternyata, saat ini Ajeng telah datang bulan. Celana kulot putih yang dia pakai, membuat penampakan si merah delima memenuhi celana Ajeng bagian belakang.
"Mbak, sekalian dengan ini, biar saya yang bayar," ucap Kansa sambil merangkul pundak Ajeng.
Deg
Deg
Deg
Jantung Ajeng berdetak tidak karuan. Ada rasa kesal, namun entah mengapa Ajeng tidak dapat memberontak kali ini. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
Ketika Kansa sudah membayar semua belanjaan. Kansa pun meneteng semua belanjaan dan satu tangan lainnya masih merangkul pundak Ajeng.
__ADS_1
Ketika sudah keluar dari minimarket, Ajeng pun langsung menepis tangan Kansa dan melototinya. Bahkan, Ajeng dengan segera melepaskan jas yang Kansa berikan padanya.
"Saya tahu anda sudah menolong saya, tapi anda tidak berhak untuk bersikap senonoh kepada ku!" sentak Ajeng sambil melemparkan jas itu kepada Kansa.
Meski tahi lalat di pindah Kansa sangat jelas, namun situasi posisi mereka membuat Ajeng tidak dapat memperhatikannya.
Kansa yang melihat pertolongannya tidak di anggap pun hanya diam dan memutar balikan tubuhnya begitu saja.
Sambil menenteng Jas dan dua kantong plastik besar, Kansa berjalan acuh tak acuh meninggalkan Ajeng.
Ajeng pun membuang muka dan enggan untuk melihat pundak Kansa. Rasa kesal dan rasa dendam di hatinya semakin mencuat ketika dia melihat sikap Kansa yang dingin.
Dasar pria menyebalkan! sesaat bersikap manis, namun sesaat cuek banget kek kucing lagi datang bulan! umpat Ajeng di dalam hati.
Berfikir dengan datang bulan, Ajeng pun baru ingat jika ini adalah tanggalnya datang bulan.
DEG!
Ajeng pun terkejut dan perlahan memegangi celananya untuk memastikan sesuatu menggunakan jarinya.
Ajeng pun melihat ke sekelilingnya. Ia menatap canggung orang-orang yang berlalu-lalang di sampingnya.
Karena perasaan malu, Ajeng pun menutup bokongnya menggunakan pohon besar yang ada di bahu jalan. Ajeng menyadarkan tubuhnya dan menatap Kansa yang sebentar lagi bersiap-siap akan menyebarang jalanan.
Melihat tidak ada pertolongan darurat, akhirnya...
"SAYAAAAAAANG!" Ajeng pun berteriak ke arah Kansa.
Kansa yang sudah melangkahkan satu kaki ke zebra jalan pun langsung berhenti ketika mendengar suara.
Kansa perlahan menoleh ke belakangnya, dan dia melihat Ajeng yang tersenyum canggung sambil melambaikan tangan kepadanya..
__ADS_1
Syukurlah dia menoleh. Haaaaai! lihat aku.... please, help me.... batin Ajeng merasa sangat senang ketika Kansa menoleh ke arahnya.
Kansa terlihat ragu-ragu untuk menolong Ajeng dan kembali ke padanya. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Kansa menyunggingkan senyum tipisnya.
...****************...
Di sisi lain, terlihat Netty yang sedang menutup mulut dan wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Vander, dia dengan santai menempelkan bongkahan es batu ke lukanya.
"Ba-bagaimana anda bi-bisa!? Jangan katakan jika orang menolong kami selama ini adalah anda!?" tanya Netty merasa tidak percaya.
"Jawaban seperti apa yang ingin kau dengar?" tanya Vander dengan santai. Entah mengapa, Vander sangat menikmati ekspresi wajah Netty.
"I-ini tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin untukku!?"
"Apa yang membuat anda bergerak hati untuk menolong ku terus menerus!?" tanya Netty membuat Vander langsung berhenti menggerakkan tangannya yang sedang mengopres lukanya.
Vander terlihat bingung harus menjawab apa. Alasan terakhir sudah ia gunakan. Tidak mungkin Vander terus menerus memberi alasan yang sama, yaitu soal untuk membuktikan ucapan Netty yang mengatakan jika dirinya tidaklah tampan.
Vander pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia menemukan jawaban yang tepat.
"Aku bekerjasama dengan Group Demantion," jawab Vander singkat.
DEG!
Apakah dia menyelidiki soal perusahaan yang bekerja sama dengan dia. Dan pada akhirnya, dia menemukan jika banyak kejanggalan. Apakah dia menolak keras kecurangan yang telah Tante aku lakukan!? Mungkinkah-!?
"Ja-jadi!?" Netty tertahan.
"Nona Netty jelita, sang penerus perusahaan grup Demantion yang selama ini di beritakan koma, Anda sudah saatnya kembali," ucap Vander menatap mata Netty dengan tanpa arti membuat kepala Netty terasa berputar-putar.
__ADS_1
Dia, dia sedang perduli dengan ku? atau sedang menjebak ku!?" batin Netty ragu-ragu.
...****************...