
Terlihat suasana mencengkram ketika Netty memperkenalkan dirinya di depan tuan sumbing.
"Pak Vander, saya mohon maaf sekali. Tunggu saya di sini, saya harus berbicara dengan mereka di tempat lain. Tunggu saya 10 menit saja?" ucap tuan sumbing.
Vander hanya mengangguk dikit.
Tuan sumbing pun langsung meminta Ajeng dan Netty untuk berpindah tempat. Ajeng dan Netty dengan sombongnya melewati Vander. mereka sempat-sempatnya menjulurkan lidahnya untuk mengejek Vander.
Ketika Netty pergi, Vander pun tersenyum kecil. Entah mengapa, ini sangat lucu baginya. Jika sampai Netty dan Ajeng tahu jika dialah yang telah membantunya dari belakang, tidak terbayang bagaimana wajah yang telah menjulurkan lidah padanya itu akan bereaksi.
Kansa masih terus diam tanpa ekspresi. Namun, jauh dari lubuk hatinya. Dia benar-benar merasa gemas dengan tingkah centil Ajeng.
Di ruangan lain. Tuan sumbing memasukan Ajeng dan Netty di ruangan khusus. Ruangan ini adalah ruang kerja tuan sumbing.
Ajeng dan Netty tanpa curiga langsung duduk di sofa. Sedangkan taun sumbing, terlihat dia sedang membuka laci dan mengambil sebuah pistol dan menyembunyikan ke celana belakangnya.
"Netty jelita? aku tidak pernah menyangka anda telah bangun dari koma selama 3 tahun. Saya pikir, anda-"
"Saya tidak pernah koma, Tuan. Kedatangan ku kesini untuk menjelaskan kepada anda tentang semua kelicikan Tante saya, Caren!" jelas Netty.
"Astaga, jadi? selama ini kamu tidak pernah koma?" tanya Tuan sumbing terkejut.
Netty pun berdiri dan mulai berjalan-jalan di ruangan itu seolah-olah untuk mencari-cari sesuatu.
"Saya sedang mencari seseorang untuk mendukung saya untuk melumpuhkan Tante saya, dan mencari seseorang yang sudah membunuh orang tua saya," jelas Netty sambil menyentuh buku-buku yang ada di rak.
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba ponsel tuan sumbing yang ada di atas meja berdering.
Tertulis nama cintaku dan foto profil seorang wanita yang bukan lain adalah Caren.
Netty terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sedangkan Tuan sumbang tiba-tiba menondongkan pistol ke arah Netty yang berniat menyentuh ponselnya.
"Setop! jangan sentuh barang-barang ku atau kalian akan mati di tanganku seperti bagaimana orang tua kalian yang lagi di tanganku!" ancam Tuan sumbing dengan senyumnya yang mengerikan.
Netty pun tidak percaya jika seseorang yang selama ini sangat dekat dengan ayahnya, bahkan Netty sudah menganggap tuan sumbing sebagai pamannya sendiri, dengan tega menghancurkan keluarganya.
"Letakan pistol anda atau kami akan-!" ancam Netty.
"Hahahaha.... bagaimana saya bisa mendengarkan seorang bocah seperti mu."
Tiba-tiba beberapa anak buah tuan sumbing pun masuk dan bersiap untuk menangkap Netty dan Ajeng.
"Kalian, urus wanita ini. Saya akan menemui tamu penting dulu. Cih, yang benar saja, akhirnya tikus ini datang dengan sendirinya." tuan sumbing tersenyum sadis ke arah Netty dan juga Ajeng.
Ketika tuan sumbing membuka pintu.
BUGH!
__ADS_1
Sebuah bogeman mentah mendarat tepat di hidung tuan sumbing.
"Bos Vander!?" Ajeng dan Netty terkejut melihat Vander dan Kansa muncul di depan mereka.
"Aaahhh! yang kalian lakukan!?" Tuan Sumbing meringis kesakitan. Tuan Sumbing pun langsung menodongkan pistol ke arah Vander karena ia merasa terancam.
"Lepaskan dia," ucap Vander memperingati si sumbing.
"Apa hubungan mu dengan dia?" tanya si sumbing.
"Kamu tidak perlu tahu hubungan kami. Cepat menyingkir dan biarkan mereka keluar dengan saya!"
Si sumbing menyunggingkan senyumnya lalu dia dengan cepat melepaskan tembakan mau ke tubuh Ajeng.
DHUOR!
Suara tembakan membuat Vander, Kansa dan Netty mendelik dengan perasaan campur aduk.
"HAHAHAHAHA!" Melihat Ajeng yang tumbang membuat si sumbing tertawa terbahak-bahak.
"Kalian lihat itu, saya tidak bermain-main. Sekarang, lebih anda pergi dan biarkan saya menahan wanita ******* ini!" ancam Si sumbing.
Kansa merasa hatinya hancur melihat wanita pujaan hatinya terjatuh tak berdaya. Kansa mengepalkan tangannya dengan erat dengan sorot mata yang mematikan.
Ketika Kansa akan maju, Vander memberi kode kepada Kansa agar tetap tenang.
Sesaat kemudian, di perlihatkan Ajeng yang sadar dan bangkit.
"Ah! ini sedikit menendang tubuhku. Rasanya sedikit gatal," ujar Ajeng membuat Netty tersenyum konyol.
"Baiklah, sepertinya permainan akan segera berakhir!" lanjut Ajeng dengan tatapan serius ke arah si sumbing.
"SERAAANG!" seru Ajeng.
Kansa pun maju dia langkah sebelum akhirnya dia menendang pistol di tangan si sumbing.
Perkelahian pun tidak dapat dielakan. Ternyata Ajeng dan Netty telah menguasai bela diri. Di sini, terlihat Ajeng dan Netty yang tidak terkalahkan.
Vander sedikit terpaku melihat apa yang ada di depan matanya. Gara-gara ia tidak fokus, wajah tampannya merasakan Bogeman hangat dari anak buah sumbing.
"AHK! wajahku!?"Vander sempat-sempatnya mengambil cermin mini dari dalam jasnya.
Vander merasa marah ketika melihat wajah mulusnya memar membiru.
"****!" Vander pun memekik.
Semua orang yang awalnya ter-puse karena tindakan konyol Vander, langsung terpacu emosi ketika melihat wajah Vander yang memerah dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
"Akan aku habisi kalian, SEMUAAA.... HIAK!" Vander pun langsung membabi buta mengajar anak buah sumbing.
Si sumbing ke kualahan mengahadapi Vander, Kansa, Netty dan juga Ajeng pun langsung melarikan diri.
Walaupun Netty mengejarnya, namun ia tidak dapat mengahalau sumbing.
"Sial, aku akan mendapatkan mu!" umpat Netty.
Ajeng pun menyusul mendatangi Netty.
"Gimana?" tanya Ajeng.
"Sepertinya dia akan mendatangi Tante Caren. Kita harus mempersiapkan peperangan sekarang juga."
"Kita baru meminta bantuan beberapa orang, apakah itu cukup?" tanya Ajeng.
"Jika tidak cukup, terpaksa aku harus masuk kandang dan masuk ke brangkas. Aku harus mendapatkan semua bukti kejahatan-jahatan mereka dan memulihkannya nama orang kita di FBI."
Ajeng pun mengangguk mengerti. Ini adalah jalan terakhir mereka. Meski nyawa taruhannya, mereka sudah terlanjur maju.
Tidak lama, datang Kansa dan Vander. Melihat wajah Vander yang babak belur membuat Netty merasa bersalah.
"Bos Vander, anda tidak papa?" tanya Netty menyapa Vander. Netty merasa tidak enak, sebab dia sempat memperlakukan Vander dengan tidak baik.
"Apa kamu tidak lihat, wajah tampanku membengkak tidak karuan. Operasi apa yang mempercepat untuk pemulihan wajahku ini!?" Vander benar-benar tidak dapat menyepelekan wajahnya yang mulus ternodai.
Netty dan Ajeng hanya tersenyum kikuk. Rasanya mereka ingin tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa, orang kejam sepertinya bisa letoi hanya karena wajahnya tergores dikit.
"Em, Bos Vander, sebenarnya anda tidak perlu perawatan khusus apa lagi sampai operasi. Anda hanya cukup mengopresnya dengan air dingin dan memberinya sedikit salep," jelas Netty.
"Jika begitu, cepat kamu lakukan. Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat wajahku seperti ini!" titah Vander.
"B-baiklah, ayo mari ikut dengan kami?" ucap Netty mengajak Vander ke apartemennya.
Setelah sampai di apartemen, Netty pun langsung mengobati luka Vander.
Sedangkan Ajeng dan Kansa, mereka sedang berjalan sesuatu di minimarket di dekat apartemen mereka.
Terlihat Ajeng salah tingkah ketika tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan Kansa. Namun, sikap dingin dan acuh tak acuh dari Kansa membuat hati Ajeng merasa beku untuk Kansa. Sampai sini, Ajeng masih belum menyadari jika Kansa adalah superhero idamannya.
Di apartemen, terlihat Netty sedikit ragu-ragu mengobati Vander.
"Bos, apakah anda baik-baik saja? em, maksud saya, seharusnya anda tidak perlu ikut campur urusan saya. Jika sudah begini, saya sendiri malah merasa tidak enak," ucap Netty mengungkapkan isi hatinya yang merasa tidak enak.
Vander hanya diam, sampai akhirnya, dia berkata," baju anti peluru itu ternyata ampuh juga. Aku akan memesannya lebih banyak lain waktu."
Ucapan Vander membuat Netty membeku dan terperangah sejenak. Dia tidak percaya jika orang yang membantu mereka adalah bos Vander itu sendiri.
__ADS_1
"Ba-bagaimana anda bi-bisa!?"
...****************...