
Tok... Tok.. Tok...
"El sayang, ini kakak.. Boleh kakak masuk?" ucap Felix Namun tidak ada jawaban dari dalam dan akhirnya Felix memutuskan masuk ke dalam kamar Elaine.
Betapa terkejutnya dia saat melihat adiknya dengan kondisi seperti itu. Felix berjalan perlahan menghampiri Elaine yang sedang duduk termenung memandangi jendela kamarnya. Dia mengusap lembut kepala adiknya.
"El... Ini kakak.. Kamu tidak mau berbicara dengan kakak?" ucap Felix lembut. Dia berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Elaine, menggenggam lembut tangan Elaine.
"Kakak kapan datang?" Elaine akhirnya tersadar dari lamunannya, dia kaget saat melihat kakaknya sudah berjongkok di depannya.
"El.. Kakak sudah tau kenapa kamu seperti ini.. Kamu mau kan mendengarkan kakak sebentar?" ucap Felik yang dibalas dengan anggukan oleh Elaine
"El, sebenarnya kakak sudah tau tentang Henry sebelum kamu meminta Bagas menyelidikinya. Kakak selalu mengawasi gerak gerik Henry karna bagaimanapun dia juga adalah sahabat kakak. Hanya kakak ingin masalah itu disampaikan langsung oleh Henry padamu. Karna mendengar dari mulutnya sendiri lebih baik daripada kamu dengar dari orang lain" Felix melirik tajam pada Bagas yang saat itu berada di sebelahnya.
Bagas semakin resah dibuatnya oleh tatapan tajam Felix. Tangis Elaine kembali pecah setelah Felix mengatakan demikian. Felix duduk di sebelah adiknya dan memeluknya erat.
"El, ini semua bukan salahmu. Semua ini sudah takdir, kakak liat Henry masih sangat mencintaimu dan lihat anak Henry pun menyukaimu. Henry hidup dengan baik selama ini juga anak-anaknya. Walaupun tidak ada kasih sayang diantara mereka tapi bukannya kamu bisa menumbuhkan rasa kasih sayang itu?" Felix berusaha menenangkan Elaine yang menangis sesenggukan.
Elaine mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah kakaknya, melonggarkan pelukkannya lalu berkata "Maksud kakak apa?"
"Kamu bisa menjaga anak-anak Henry kan? Mereka dari baru lahir tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya walaupun kebutuhan mereka dipenuhi tapi tak ada sentuhan kasih sayang disana. Kamu bisa mengasuh mereka disini jadi kamu tidak akan kesepian disini" jelas Felix
"Tapi bagaimana caranya meminta izin kak Henry? Aku saja tidak tahu dia dimana saat ini dan apakah aku akan diizinkan merawat anak-anaknya?" tanya Elaine dengan suara khas sehabis menangis
"Kamu tidak perlu menghubungi Henry, minta izin pada tante Grace dan om Viktor saja. Mereka juga tidak bisa menjaga anak-anak itu terus menerus. Kalau kamu pasti bisa kan? Butikmu tidak harus kamu jaga terus"
Elaine tampak berfikir keras tentang ide yang diberikan kakaknya. Menurutnya apa yang dikatakan kakaknya ada benarnya. Toh dia tidak terlalu sibuk dengan butiknya karna dia bisa melimpahkan pekerjaannya pada asistennya.
__ADS_1
"Baiklah kak, sepertinya itu ide yang bagus. Tapi bagaimana caranya membuat kak Henry menyayangi anak-anaknya?" tanya Elaine lagi
"Untuk Henry tidak usah kamu pikirkan, dia pasti kembali mendekatimu karna dia sangat mencintaimu. Asal kamu tahu saat kamu di luar negeri tak seorang wanitapun yang mampu mendekati Henry. Tepatnya Henry yang tidak mau membuka celah untuk wanita lain. Apalagi setelah kamu bilang bahwa dia memelukmu waktu dirumahnya. Jadi dapat dipastikan jika dia sangat mencintaimu namun gengsi untuk mengungkapkannya sama sepetimu" ucap Felix menggoda adiknya
Wajah Elaine yang awalnya murung kini terdapat senyum kecil yang terlukis di wajahnya bersama dengan warna merah yang bersemu di wajahnya. Dia merasa malu akan ucapan kakaknya karna memang benar baik dirinya maupun Henry sama-sama tidak mengungkapkan perasaannya hingga terjadi salah paham diantara mereka.
"Ishhh kakak, suka asal bicara" ucap Elaine malu
"Akhirnyaa kamu tersenyum juga dari semalam rasanya langit runtuh saat kamu menangis" Bagas menyela percakapan antara kakak beradik itu yang mengakibatkan dirinya mendapat pelototan dari Felix
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Felix
"Sudah kak, terimakasih atas sarannya. Aku harus menebus kesalahanku dengan menjaga anak-anak itu. Mereka tidak bersalah dan layak bahagia" ucap Elaine yang kini kembali bersemangat
"Nahh, kalau begini kan lebih baik... Sana kamu mandi dulu lalu ke taman belakang. Kita akan makan disana, kakak tau kamu belum makan dari pagi dan ini sudah lewat jam makan siang"
"Bu An, masakannya sudah siap?" tanya Felix
"Sebentar lagi matang tuan" balas bu Anna
"Baiklah, hidangkan tiga mangkuk dan bawa ke taman belakang ya bu, kami akan makan disana. Terimakasih" ucap Felik
"Baik tuan"
Rumah Elaine memang cukup luas dan karna Elaine menyukai taman bunga sehingga Felix menyiapkan taman bunga yang cukup luas dengan ditengah-tengahnya ada bagunan tempat untuk bersantai namun cukup besar. Felix duduk berhadapan dengan Bagas.
Bagas masih saja menundukan kepalanya. Tak berani menatap Felix.
__ADS_1
"Bagas!! Lihat aku" ucap Felix dengan nada tegas
"iya" Bagas reflek menaikan kepalanya memberanikan diri menatap Felix
"Aku belum memberikanmu pelajaran. Pelajaran apa yang kamu mau?" tanya Felix
"Aduhhhh, jawab apa sebaiknya, pasti pelajaran yang dimaksud sangat menyiksaku" gumam Bagas
"Woeee!! Ditanya malah melamun, kebiasaan kamu sekarang banyak melamunnya. Pikirkan dulu pelajaran apa yang kamu inginkan dengan baik" ucapan Felix penuh penekanan disetiap katanya.
Bagas menghela nafas kasar beberapa kali merenungi nasibnya yang tidak akan tidur nyenyak beberapa hari kedepan karna pelajaran dari Felix yang menurutnya pasti akan menyiksanya.
Sementara itu Felix duduk dengan santai memainkan ponselnya sambil senyum-senyum. Tentu saja itu karna dia sedang membalas pesan dari istrinya tercinta. Awalnya pernikahan Felix dan istrinya hanya sebatas pernikahan bisnis tapi entah dari kapan rasa cinta tumbuh pada mereka. Terbesit ide yang menurutnya cocok untuk pelajaran Bagas, bukan pelajaran tapi tepatnya hukuman hanya saja katanya diperhalus menjadi pelajaran.
"Sebaiknya aku suruh dia menggantikanku selama satu bulan penuh di perusahaan dan aku akan libur bersantai bersama istriku dan juga anakku. Nanti kalau papa tanya aku bilang saja itu karna istriku yang mengidam hahahahahaha, rasakan selama sebulan ini kamu pasti tersiksa Bagas. Untung juga dia membuat Elaine menangis jadi aku punya kesempatan berlibur ria" gumam Felix, senyim licik menghiasi wajahnya
Bagas yang melihat perubahan raut wajah atasan sekaligus sahabatnya menjadi semakin tidak karuan perasaannya.
Beberapa saat kemudian Elaine menyusul Felix dan Bagas ke taman belakang. Kali ini wajahnya sudah terlihat segar semangatnyapun sudah kembali seperti semula.
"Kakak maaf menunggu lama" ucap Elaine
"Tidak apa-apa El, kakak sedang banyak waktu luang" balas Felix
"Bukannya kakak selalu sibuk, kenapa jadi banyak waktu luang" tanya Elaine
"Jadwal kakak hari ini sudah selesai dan mulai besok sampai satu bulan kedepan kakak akan cuti dan digantikan oleh Bagas" Felix tersenyum dengan licik dan penuh kemenangan.
__ADS_1