
"Apa?" Elaine dan Bagas kompak kaget.
"Ssssttttttttttt! Jangan ribut makanan sudah datang" ucap Felix yang melihat bu An dan bu Meta membawa nampan berisi bubur ayam.
"Ayo makan dulu, nanti saja kita laanjutkan bicaranya" ucap Felix lagi
Elaine hanya mengangguk lalu memakan makanannya, dia memang sangat lapar karna terakhir makan saat makan malam kemarin terlebih lagi menangis membuat banyak tenaganya terkuras hingga saat ini dia memakan buburnya dengan lahap.
Sementara Bagas tampak sangat murung, seperti dugaannya bukan pelajaran yang menyenangkan yang dia dapat melainkan hukuman yang berat.
Usai makan Elaine sudah tak sabar mendengar penjelasan kakaknya.
"Kak, kenapa kak Bagas menggantikan kakak selama sebulan?" tanya Elaine yang memang sedari tadi sudah penasaran
"Karna dia membuat kamu menangis" ucap Felix santai
"Apa??? Tapi kak, kasian kak Bagas toh juga aku tidak apa-apa" Elaine kaget menurutnya apa yang dikatakan kakaknya sangat konyol
"Yuhuuuu... Elaine membelaku" gumam Bagas agak sedikit lebih senang
"Dia membuat mu menangis dan sampai sekarang dia tidak mau memberitahuku tentang kamu yang sedih berlarut-larut karna berita konyol dulu itu" Felix menekankan setiap kata yang dia ucapkan wajahnya berubah menjadi serius.
Deg
Bagas dan Elaine saling menatap. Kaget, itu yang mereka rasakan saat ini. Setau mereka hanya merekalah yang mengetahui hal itu dan sepakat untuk merahasiakannya. Mereka takut jika apa yang Elaine alami membuat Felix khawatir.
"Bagaimana kalian akan menjelaskan itu? Apa aku bukan keluarga kalian?" Felix menatap sahabat dan adik kesayangannya seperti menatap seorang anak yang ketahuan mencuri.
"Ma-maaf kak, aku hanya tidak ingin kakak khawatir. Dan masalah itu timbul karna keegoisanku kak" Elaine berucap sambil tertunduk tak berani memandang Felix sedangkan Bagas tidak berani berkata apapun.
"El, dengar sampai kapanpun kamu tetap menjadi adik kecilku. Bahkan sampai maut menjemputku kamu masih adik kecilku yang manja" ucap Felix halus.
Mata Elaine berkaca-kaca mendengar ucapan sang kakak hanya satu kata yang bisa keluar dari mulutnya.
"Maa-maaf" tanpa disadari air mata Elaine jatuh
"Heiii, kenapa kamu menangis? Tenanglah, yang penting kamu baik-baik saja sekarang dan kakak sudah memaafkanmu"
"Benar kak?" mata Elaine berubah berbinar rasa sedihnya hilang seketika
"Tentu saja, tapi bersikap biasalah pada kakak. Sekarang kamu sudah diakui dunia kamu adalah seorang designer hebat. Apa tidak sebaiknya mengungkap identitas aslimu?" tanya Felix
"Sepertinya belum saatnya kak, tunggulah sebentar lagi hehe" ucap Elaine
__ADS_1
"Ehhemm... Lalu aku bagaimana? Apa aku juga dimaafkan?" Bagas memberanikan diri untuk bertanya walau dengan wajah yang ragu
"Kalau kamu tetap harus menggantikan ku selama sebulan penuh mulai dari besok, jika ada berkas yang penting kamu bawa ke rumah utama hahaha" wajah Felix kembali tersejum penuh kemenangan
"Tapi kak kan kasian kak Bagas saja yang dihukum, aku juga salah" Elaine berusaha membujuk Felix
"Kalau begitu kamu juga kakak hukum menjaga Nico beberapa waktu, mumpung kamu akan mengajak anak-anak Henry disini jadi kan tambah rame" Felix tampak sangat senang dengan ide-ide yang terlintas sejenak di otaknya namun sangat efektif
"Apaa???" Bagas dan Elaine kompak kaget kembali
"Jangan mau El, ini sih maunya Felix saja agar bisa bersama Yona terus" dahi Bagas mendadak mengkerut wajahnya tampak kesal
"Eh, jadi kakak benar sekarang jadi bucinnya kak Yona? Kakak sudah jatuh cinta pada kak Yona?" Elaine semakin kaget dibuatnya
"Hehehehe... Memang pernikahan kakak dengan Yona hanya karna bisnis saja. Tapi entah sejak kapan kami mulai saling mencintai dan sekarang Yona sedang mengandung. Usia kandungannya baru 4 minggu jadi rasanya lebih aman jika Nico bersamamu kan dia bisa menjadi teman Dean" Felix berusaha meyakinkan adiknya supaya rencannya berhasil
"Tapi kak, 3 orang anak terlalu banyak. Aku takut tidak bisa mengurus mereka" ucap Elaine
"Kamu pasti bisa, toh juga ada pengasuh mereka semua"
"Tapi kak..."
"Sudahlah terima saja hukumanmu, kakak pulang dulu. Kamu hari ini istirahat saja dulu, besok baru menemui Dean" Felix berdiri lalu mengecup kepala adiknya.
Keesokan harinya Elaine sudah bangun pagi-pagi, dia mengingat Dean ingin makan kue coklat buatannya. Bu Anna dan Bu Meta awalnya ingin membantu Elaine tapi dia bersikeras tidak mau dibantu. Usai membuat kue dia langsung bergegas ke rumah sakit.
Seperti dugaan awal Elaine, Dean pasti ngambek karna kemrin dia tidak datang. Di ruangan itu terlihat Grace dan Victor masih setia menemani cucu mereka.
"Pagi om, tante" sapa Elaine
"El sayang, akhirnya kamu datang. Dari kemarin Dean mencarimu" Grace menghampiri Elaine yang baru saja masuk ke ruagan da memeluknya
"Ya, dan dia sempat tidak mau makan karna tidak ada bundanya" tambah Victor
"Maaf om, tante... Kemarin aku sedikit sibuk jadi tidak sempat kemari" Elaine berbohong, tak enak hati jika menyampaikan apa yang terjadi kemarin
"Karna kamu sudah disini, om dan tante pulang dulu ya... Nanti sore kami akan kesini lagi" Victor bangun dari sofa dan menghampiri cucunya. Mengusap keningnya lembut dan pamit pulang bersama Grace
Elaine menaruh kue coklat yang dia bawa dan menghampiri pria kecil itu. Dean hanya diam dan tak mau melihat Elaine, namun Elain tak menyerah dia duduk di kursi di sebelah ranjang Dean, memegang tangannya dan mulai membujuknya.
"Dean sayang, maafin bunda yaa? ucap Elaine namun tidak ada jawaban daari Dean yang masih membelakangi Elaine
"Dean, bunda bawa kue coklat rasanya enak banget loh" Dean masih dengan mode diam tanpa menjawab
__ADS_1
"Yaampun, ini sih versi kak Hen kalo lagi ngambek. Persis banget, aku harus bilang apa lagi ya" gumam Elaine
"Dean, sebenarnya bunda sedang menyiapkan kamar untuk Dean di rumah bunda kemarin. Dean mau tidak tinggal dengan bunda?" seketika Dean langsung berbalik matanya berbinar menatap Elaine
"Bunda Serius?" ucap Dean
"Tentu saja, nanti bunda akan minta izin pada kakek dan nenekmu. Dan kalau kamu sudah boleh pulang dari rumah sakit kita akan pulang ke rumah bunda. Apa kamu setuju?" tanya Elaine
Dean langsung memeluk Elaine dengan erat. Pria kecil itu merasa sangat senang. Tanpa sadar mata Elaine mulai berkaca.
"Betapa manisnya kamu nak, bunda janji akan membahagiakan kamu. Bunda janji kamu tidak akan kekurangan apapun mulai sekarang" gumam ELaine
"Bunda apa Rava akan diajak juga?" Dean mendongakkan kepalanya memandang wajah Elaine
"Tentu saja Rava akan bersama kita" Dean kembali mengeratkan pelukannya wajahnya nampak sangat bahagia. Seakan dia mendapat apa yang dia idam-idamkan.
Seharian Elaine menemani Dean di rumah sakit mereka bersanda gurau dengan riang. Dean juga sangat menyukai kue buatan Elaine. Dia tidak sabar menantikan untuk tinggal bersama Elaine. Grace dan Victor datang sore hari ke rumah sakit untuk menemui Dean.
Wajah Elaine nampak gunda, dia ingin secepatnya mengutarakan keinginannya mengurus Dean dan Rava. Tapi dia masih ragu, dia takut tak diizinkan oleh Grace dan Victor. Grace yang melihat Elaine melamun menghampirinya.
"El sayang... Kamu kenapa melamun?" ucap Grace lembut
"Ehmmm.. tante, sebenarnya aku ada permintaan pada om dan tante" Elaine mulai gugup, dia menunduk
Victor yang mendengar ucapan Elaine langsung mendekat.
"El, kamu sudah om dan tante anggap anak sendiri. Apa yang kamu inginkan pasti om dan tante usahakan memberikannya" ucap Victor. Grace mengelus lembut lambut Elaine seolah memberikan kekuatan untuk mengutarakan keinginannya.
"Sebenarnya El ingin mengasuh Dean dan Rava om, tante. Aku mau mengajak mereka tinggal bersamaku" Elaine mengucapkannya dengan satu tarikan nafas
Grace dan Victor membulatkan matanya. Mereka kaget dengan permintaan Elaine. Mereka tidak menyangka jika Elaine meminta hal itu, karna Elaine belum lama bertemu dengan anak-anak itu.
"Kenapa kamu menginginkan itu?" wajah Victor berubah menjadi serius sekarang membuat Elaine lebih menciut
"Ehmmm... Ka-karna kak Hen tidak memperhatikan mereka" jawab Elaine seadanya
"Hmmm, sebenarnya om juga sempat berfikir demikian Ela. Dean dan Rava layak mendapat kasih sayang oeang tua. Tapi anak om yang gila itu terlalu mementingkan pekerjaanya. Memang perusahaan mengalami kemajuan yang pesat selama 7 tahun ini tapi om merasa hatinya kosong" wajah Victor berubah menjadi sendu
Grace dan Elaine tak berani menjawab takut melukai hati Victor. Terlebih lagi Grace yang paham betul akan sifat suaminya itu.
"Om tentu akan setuju dengan permintaanmu Ela, kamu lebih tepat menjaganya. Bagaimana menurut mama?" Victor menatap istrinya mencari jawaban
"Mama juga setuju pa, toh jarak kediaman utama dan rumah Ela lebih dekat dan jika Ela yang menjaga mereka pasti anak-anak ini akan senang" Grace dan Victor menatap Elaine dengan lekat.
__ADS_1