Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 21


__ADS_3

"Ekkkhheeemmm"


\================================


Elaine dan Henry melihat ke arah pintu yang merupakan sumber suara. Grace dan dokter Max juga seorang perawat masuk ke kamar Henry.


"Pagi-pagi sudah mesra-mesraan ya.. Kalau mau kangen-kangenan itu pintu kamar ingat ditutup jadi tidak ada yang akan mengganggu kalian hahaha" Grace menampilkan senyum mengejek pada Elaine dan Henry yang masih berpelukan. Tepatnya merusak moment kebersamaan yang baru saja terjadi.


 


Elaine dan Henry seketika melepas pelukannya, wajah keudanya bersemu merah saling membuang pandangan.


 


Elaine bangun dari duduknya dan menundukan wajahnya karna malu dipergoki sedang berpelukan dengan Henry.


Sedangkan Henry kembali dengan mode dinginnya memasang wajah datar.


 


"Ahhh.. Tante salah paham, aku hanya senang karna kak Hen sudah sadar" ucap Elaine kikuk


 


"Bilang saja kalau kamu kangen El, tidak akan ada yang melarang jika memang kalian saling kangen" Grace kembali menggoda Elaine.


 


"Sudah-sudah aku akan memeriksa pasien terlebih dahulu, sepertinya dia terlupakan" Dokter Max langsung memeriksa kondisi Henry yang baru saja bangun.


 


"Keadaannya sudah jauh lebih banik tapi istirahatlah beberapa hari dirumah, limpahkan pekerjaanmu pada Morgan dulu. Obatnya sudah kumasukkan dalam infus, dan terakhir nasehat dariku berhentilah minum alkohol kamu masih muda jangan cepat-cepat ingin menyusul mendiang istrimu. Kasian wanita cantik yang baru kembali ini" dokter Max melirik Elaine.


 


"Aku tidak punya istri"  jawab Henry dengan sarkas mendadak membuat keadaan di ruangan itu hening. Asalkan orang lain menyinggung soal mendiang istrinya mendadak moodnya akan berubah menjadi buruk karna hal itu hanya mengingatkannya pada kecerobohannya.


 


"Baiklah, aku akan meninggalkan perawat Tereza disini untuk menjagamu. Jika ada apa-apa dia akan menghubungiku" semua orang kini berbalik memperhatikan sosok yang sebenarkan terlupakan sejak tadi bahkan tidak ada yang tau akan keberadaannya.


 


Elaine memandangi penampilan Tereza meneliti dari ujung rambut dampai kaki. Dia menatap dengan tatapan tak suka, bagaimana bisa suka jika Tereza menggunakan pakaian yang sangat pas di badannya, rok ketat diatas lutut menampilakan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Tereza juga memasang senyuman yang sangat menggoda sambil menatap ke Henry namun tentu tidak diperdulikan olehnya.


 


"Aku merasa Tereza hanya ingin menggoda kak Hen saja. Awas saja jika berani macam-macam akan  ku patahkan kedua tangannya" ucap Elaine dalam hati dan masih menatap tak suka.


 


"Terserah om saja" ucap Henry acuh tak acuh yang langsung mendapat hadiah plototan oleh Elaine. Henry bingung dengan tatapan Elaine.


 


Grace dan Max keluar dari kamar Henry lalu menuju ruang tamu yang berada di lantai bawah sambil bercengkrama.


 


Kini tinggalah ketiga orang itu di kamar Henry, satu orang wajahnya sangat kesal yang pasti adalah Elaine, satunya acuh tak acuh tentu Henry dan seorang lagi senyum tak luntur dari wajahnya siapa lagi kalau bukan Tereza.

__ADS_1


 


Tereza adalah anak seorang pengusaha yang cukup sukses tapi dia tidak mengikuti jejak ayahnya. Dia lebih memilih menjadi seorang perawat karna tujuannya adalah menjadi orang yang bisa dekat dengan Henry. Semua wanita tentu mengidam-idamkan menjadi pendamping Henry walaupun sudah memiliki istri. Lewat pekerjaannya sebagai perawat dia berusaha menjadi asisten dokter pribadi keluarga Alexander dan saat ini adalah kesempatan emas baginya.


 


Tidak tahu saja dia jika Elaine sudah seperti macan betina yang mengunci magsanya, dia siap kapan saja menerkam mangsanya.


 


"Hmmm tuan Henry.. saya akan membantu tuan mandi" ucap Tereza memulai aksinya dengan tatapan genit mengedipkan salah satu matanya.


Mata Elaine terbelalak mendengar ucapan Tereza, memang wajar saja jika seorang perawat membantu pasiennya mandi tapi tatapan genit Tereza membuat Elaine meradang.


 


"Tidak usah suster, saya bisa membantu kak Hen SENDIRI! Henry yang baru saja akan menolak niatan Tereza kalah cepat dengan Elaine.


 


"Tapi nona, ini sudah pekerjaan saya. Jadi sebaiknya nona tunggu saja di luar" Tereza menunjukkan pintu keluar pada Elaine dengan senyuman penuh kemenangan.


 


"Kamu kira karna pekerjaanku bukan perawat jadi aku tak bisa memandikan seorang pasien?" Elaine semakin meradang dengan ucapan Tereza.


 


"Memang benar seperti itu nona, dan nona silahkan keluar jangan mengganggu pekerjaanku"


 


 


"Ohhh, jadi kakak lebih suka dimandikan olehnya? Suka disentuh-sentuh oleh dia? Atau sekalian aku suruh artis itu kesini untuk merawat kak Hen? Ya sudah aku pergi, sekalian aku pamit pulang dengan anak-anak"


 


Saat Elaine hendak melangkah keluar dengan susah payah Henry meraih tangan Elaine dan untung saja dia dapat meraih tangan Elaine dan menggenggamnya dengan erat


 


"Ckk, tunggu dulu. Aku belum selesai bicara kamu sudah mau pergi saja" Henry mengambil phonselnya yang berada di nakas dan menghubung dokter Max.


 


"Hallo om, tolong bawa kembali perawat om ini, ganti dengan perawat laki-laki" ucap Henry lalu menekan mode speaker pada panggilannya


 


"Loh kenapa? Dia salah satu suster terbaik di rumah sakit" dokter Max bingung membari menatap Grace yang masih berada di ruang tamu kediaman Alexander.


 


"Aku tidak nyaman ditemani perawat wanita dan dia sudah membuat macan betinaku meraung. Aku tidak mau di cabik-cabik" Henry melirik Elaine yang tentunya dihadiahi tatapan membunuh dari Elaine.


 


"Ya sudah suruh saja dia kembali ke rumah sakit" ucap dokter Max lalu menutup panggilannya.


 

__ADS_1


"Apa Henry memelihara macan betina di kamarnya? Dia bilang perawat yang kutempatkan membuat macannya meraung?" tanya dokter Max pada Grace


 


Grace nampak berpikir dengan ucapan dokter Max dan dia yakin betul jika tidak ada macan atau binatang lainnya di kamar putra sulungnya itu.


"Hahahaha aku tahu macan betina yang di maksud Henry adalah Elaine" Grace tertawa keras karna julukan yang diberikan oleh Henry ppada Elaine.


 


Kembali ke kamar Henry**


"Oke suster kamu sudah dengar sendiri kan? Sekarang pergi dari kamar ku ini.. Mengganggu saja" ucap Henry


 


"Ta.. tapi tuan.." Seketika wajah senangnya berganti dengan kekecewaan. Hilang sudah harapan Tereza menggoda Henry.


 


"Stttt tak perlu banyak bicara jika kamu tidak ingin kehilangan pekerjaanmu bahkan aku bisa melakukan apapun dengan keluargamu" Henry menatapya dengan tajam.


 


Tereza terpaksa pergi dari kediaman Alexander karna takut dengan ancaman Henry tapi dia berjanji akan kembali ke kediaman itu untuk menjadi nyonya rumah itu.


"Kak, lepas tanganku sakit" Henry sejak tadi menggenggam tangan Elaine dengan erat sehingga menimbulkan rasa sakit.


 


"Ehh.. Maaf-maaf El"


 


"Hmmm" Elaine kembal duduk di tepi ranjang Henry


 


"Tidak usah cemburu, aku juga tidak mungkin suka padanya" ucap Henry sambil mengelus rambut Elaine namun ditepis oleh Elaine.


 


"Bilangnya tidak suka tapi menikah dan punya dua orang anak, dasar laki-laki" Elaine mencebikkan mulutnya menggerutu kesal.


 


Henry meraih tangannya dan menggenggam dengan erat.


 


"Kan sudah aku katakan jika itu karna aku ceroboh El, saat aku sadar tidak sekalipun aku menyentuhnya"


 


\===================================


Aku mau minta bantuan dong dari kalian, biar aku juga nambah semangat dong ya nulisnya. Jadi aku minta tolong kalian like dan komen juga vote karya ku yaaa💙💙💙💙


Terimakasih kalian sudah menyempatkan membaca kisah Elaine dan Henry..


Aku sayang kalian guys❤💙❤💙

__ADS_1


__ADS_2