Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 3


__ADS_3

*Di kamar Dean dan Rava*


Setelah menaruh Rava di tempat tidur, Elaine lalu menggendong Dean.


“Dean, apa kamu mengantuk juga? tanya Elaine.


“Iya tante, aku sangat mengantuk” ucap Dean


“Mau tante bacakan dongeng?” langsung menaruh Dean di tempat tidur dan mengambil buku cerita


“Dean, tante boleh tanya sesuatu tidak?” tanya Elaine


“Apa tante?”


“Kenapa tadi Dean bilang papa jahat?”


“Papa selalu marah pada Dean, papa tidak pernah bersama Dean juga adik” jawab Dean dengan polosnya


“Hah? Apa maksud anak ini? Tidak mungkin kak Henry yang begitu penyayang mengabaikan anaknya. Kenapa


semakin aneh rasanya disini” gumam Elaine


Setelah Dean tertidur Elaine kembali ke ruang keluarga. Dia memperhatikan sekeliling rumah itu dia mencari-cari hal yang menurutnya janggal. Lamunannya terhenti saat Grace memanggilnya.


“Elaine sayang sini, apakah Dean dan Rava sudah tidur?” ucap Grace


“Sudah tante, mereka baru saja tertidur”


Jam dinding besar yang berada dirumah itupun berbunyi menunjukkan pukul 22:00 semua yang berada diruangan itu langsung saja memperhatikan jam tersebut.


“Ini sudah malam, apakah tidak sebaikknya jika kalian menginap saja?” tanya Victor


“Maafkan kami Victor, kami sebenarnya sangat ingin menginap dan bernostalgia tentang masa lalu kita. Tapi besok aku ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan begitu juga dengan Felix. Istrinya Felix dirumah dengan para pembantu saja jadi kami tak bisa menginap” balas Daniel


“Lalu bagaimana denganmu Elaine sayang? Apakah kamu akan pulang juga? Tetap saja disini ya? Temani tante, tante sangat merindukan kamu” kata Grace sambil memeluk Elaine


“Hmmm, mama bagaimana menurutmu?” tanya Elaine pada mamanya


“Kamu boleh kok menginap disini, lagi pula kamu baru saja sampai di negara ini setelah penerbangan yang sangat jauh dan lama. Lebih baik kamu menginap disini agar dapat langsung beristirahat, lusa kakakmu akan menjemputmu” sahut Ellen sambil mengangguk


“Baiklah, aku akan menginap disini” kata Elaine


Keluarga Elaine pun semuanya berpamitan dan kembali pulang kerumah mereka. Elaine sudah sangat dekat dengan keluarga Henry sehingga keluarganya tidak khawatir jika dia menginap disana.


“Hugo, bagaimana denganmu? Apakah kamu akan menginap disini bersama mama dan papa?” tanya Grace


pada anak keduanya


“Tentu saja….. Tidak mamaku sayang. Istriku juga menunggu di rumah, dia sedang hamil tua jadi aku tak mau meninggalkannya terlalu lama” balas Hugo sambil bersiap untuk pulang


“Baiklah, kamu pulang saja jaga istrimu degan baik. Ingat jika ada apa-apa langsung hubungi kami”


“Tentu saja ma, pa. Oh ya, El aku sangat merindukanmu apa kamu tak membakanku oleh-oleh? Huh aku kecewa menjadi temanmu” ucap Hugo dengan senyum sinisnya


“Kamu merindukanku atau hanya ingin oleh-olehku saja? Dasar pria tua Hahahaha” Elaine tersenyum mengejek Hugo

__ADS_1


“Aku dan kamu hanya berbeda 2 tahun saja. Aku ini masih muda tau”


“Sudah-sudah, Hugo sana pulang cepat istrimu menunggu dirumah” Grace menarik telinga Hugo dan langsung saja Hugo berpamitan pulang masuk ke mobilnya dan meninggalkan rumah Henry


“Elaine sebaiknya kamu istirahat juga ya, kamar mu ada di lantai atas di sebelah ruang baca Henry” ucap Grace


“Baiklah tante, aku akan ke kamar dulu” Elaine langsung menaiki tangga menuju ke kamar yang telah disiapkan


Saat melawati ruang baca Henry pintunya tidak ditutup refleks saja Elaine masuk ke ruang baca itu. Bau menyengat alkohol menyelimuti ruangan itu. Mata Elaine terheran-heran melihat sosok yang terbaring di sofa yang masih memengang gelas berisi alkohol


“Dasar kak Hen, entah sejak kapan dia berubah menjadi pria dingin yang suka minum alkohol” gerutu Elaine sambil mengambil gelas dari tangan Henry


“Apa sebaiknya aku ambilkan selimut kak Hen ya?” langsung saja Elaine melangkah ke luar ruang baca dan mencari selimut di lemari kamarnya. “Nah, ketemu” Elaine tersenyum langsung kembali ke ruang baca Henry dan menyelimuti tubuh Henry agar tidak kedinginan.


Tiba-tiba tangan Elaine di pegang erat oleh Henry dan berkata “El… Jangan tinggalkan aku. Kenapa kamu pergi…” Henry menitikan air mata pada ujung matanya yang amat sangat membuat Elaine terkejut tanpa bisa mengatakan apapun.


“Apa maksud kak Hen mengatakan itu? Tapi apa yang dimaksud Ela itu aku? Atau orang lain?” gumam Elaine di dalam hati


Tangan Elaine akhirnya dilepaskan oleh Henry yang masih saja tertidur lelap. Elaine pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


*Keesokan Harinya*


Pagi-pagi Elaine sudah bangun dan membantu pembantu untuk memasak sarapan walaupun sudah di larang


tapi Elaine tetap memaksa untuk membantu memasak, malah sekarang Elaine yang memasak dan pembantu hanya membantu menyiapkan bahan saja. Hampir selesai Elaine memasak dikejutkan oleh Grace


“Wah…. Kamu yang menyiapkan semua sarapan ini Elaine?” tanya Grace


“Eh, tante sudah bangun…. Tidak tante, aku hanya membantu sedikit saja” jawab Elaine yang sedang


“Tidak nyonya, kami hanya membantu menyiapkan bahan masakannya, sedangkan nona Elaine yang memasak semuanya” tutur pembantu yang membantu Elaine menyusun makanan di meja makan


“Tante tidak menyangka kamu pintar memasak sayang” Grace yang kagum pada Elaine yang mampu menyiapkan


sarapan dengan cekatan


“Aku sudah biasa memasak sendiri tante, karna sewaktu di luar negeri aku tidak pernah mempekerjakan pembantu” ucap Elaine yang sedang mencuci tangan


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari kamar Dean dan Rava. Semua mata orang-orang yang berada di dapur menoleh ke arah tangisan itu berasal. Dan ternyata Dean yang baru bangun sedang menangis mencari sosok Elaine.


“Dean, kenapa kamu menangis?” ucap Elaine yang menghampiri Dean langsung menggendongnya


“Kenapa tante meninggalkanku? Apa aku anak yang nakal? Makanya tante meninggalku? Tanya Dean yang masih menangis


“Dean, tidak boleh cengeng seperti itu. Kalau kamu cengeng tante pasti akan meninggalkanmu” ucap Grace


yang berusaha membuat Dean tenang


Dean langsung menghentikan tangisannya, langsung mengusap air matanya dan berkata “Aku tidak cengeng lagi. Tante janji ya jangan meninggalkan aku lagi?” menunjukan jari kelingkingnya seolah meminta Elaine berjanji agar tidak meninggalkannya


“Janji” Elaine tersenyum membuat Dean ikut tersenyum dan tertawa.


“Oh iya tante… Siapa nama tante?” tanya Dean polos


“Astaga… tante lupa memperkenalkan diri hahaha, nama tante Elaine kamu boleh panggil tante El” Elaine

__ADS_1


tersenyum mencubit pipi gembul Dean dengan lembut


“Tante El ini teman papamu Dean, dulu rumah nenek dan tante Ela bersebelahan” ucap Grace


“Ayo kita sarapan dulu”


“Iya tante, tapi aku akan memandikan Dean dulu dan melihat Rava. Tante tunggu di meja makan saja.


Aku tidak akan lama” kata Elaine


“Baiklah sayang” ucap Grace memandangi Elaine dan Dean yang menjauh darinya menuju kamar Dean dan Rava


Tak lama Elaine telah selesai memandikan Dean dan Rava lalu segera menuju meja makan untuk sarapan


bersama


*Di ruang baca*


Henry yang berusaha membuka matanya sedagkan kepalamya masih sedikit pusing. Sinar matahari


menembus celah-celah gorden.


“Ahhhh….. kepalaku masih sedikit pusing. Hah sejak kapan aku mengunakan selimut? Seingatku kemarin masih memegang gelas minuman?” gumam Henry yang nampak kebingungan karna dia bangun dengan badannya yang telah ditutupi selimut dan gelas yang semalam ada di tangannya sekarang ada di meja dekat dengan sofa tempatnya tidur.


Tanpa pikir panjang Henry langsung menuju kamarnya dan langsung mandi. Selesai mandi Henry langsung


mengenakan pakaian lengkap seperti biasanya dia akan ke kantor. Henry lalu turun dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan.


Semua mata kaget melihat pada Henry yang turun dari tangga lengkap dengan pakaian kantorya.


“Henry kamu mau kemana? Kenapa pakainmu lengkap seperti itu?” tanya Victor dengan senyum yang tak suka


akan sikap anaknya


“Tentu saja aku akan ke kantor” jawab Henry santai dengan wajah dinginnnya langsung duduk di kursi


mengambil sarapan


“Baru kemarin istrimu meninggal, kita masih dalam kondisi berduka! Setidaknya kau harus libur beberapa hari dan diam dirumah, perusahaan tidak akan bangkut jika kamu diam dirumah beberapa hari!” nada Victor yang meninggi geram akan sikap anaknya yang masih acuh


“Itukan sudah kemarin, jadi tidak perlu di besar-besarkan.. Oh ya.. masakan ini sangat enak tidak seperti biasanya. Pertahankan pembantu yang membuat ini. Aku sudah selesai sarapan aku akan berangkat” Henry menghabiskan sarapannya dan langsung pergi menuju mobilnya untuk berangkat ke kantor


“HENRYYY!!!!!!!” teriak Victor yang tidak dipedulikan oleh Henry


“Sudahlah biarkan saja, ayo kita lanjutkan sarapannya” ujar Grace menenangkan suaminya


Elaine hanya diam tanpa suara tertegun dengan sikap Henry yang sangat singin dan tidak memperdulikan


apapun yang dikatakan ayahnya.


Elaine tertegun dan hanya bisa diam melihat sikap Henry yang berubah drastis hanya dalam beberapa tahun tak bertemu


Elaine seharian menemani Dean dan Rava. Sampai mereka selesai makan malam Henry tidak kunjung


kembali. Elaine menidurkan Dean dan Rava lalu pergi ke ruang keluarga menemui Grace dan Victor.

__ADS_1


__ADS_2