Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 5


__ADS_3

Keesokan harinya pagi-pagi Elaine sudah bangun dan membuat sarapan untuk semua orang. Setelah selesai memasak dia menata makannya di meja makan.


“El sayang, harusnya kamu tidak perlu menyiapkan sarapan” ucap Grace yang tiba-tiba menghampirinya di meja makan


“Tidak apa-apa tante, aku sambil menunggu kak Felix”ujar Elaine


“Pagi ma, pagi El” kata Henry yang tumben bangun pagi dan sudah bersiap untuk ke kantor


“Tumben kamu bangun pagi Henry, biasanya juga bangun lebih siang dan langsung ke kantor. Kamu salah minum obat ya?” ejek Grace


“Aku tidak sakit ma, ngapain minum obat” ucap Henry senyum tipis tersungging di wajahnya. Tentu itu membuat Grace tambah heran melihat anaknya


Henry memang tidak seperti biasanya bangun lebih pagi. Dia melakukan itu hanya untu dapat melihat Elaine sebelum dia pulang. Rasanya dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Elaine.


“Selamat pagi semua” sapa Felix yang baru saja sampai


“Eh Felix sudah datang, ayo sarapan bareng… ini semua Ela yang menyiapkan” ucap Grace


“Oke tante”


Mereka mendahului untuk sarapan karena kebetulan sarapan sudah selesai disiapkan oleh Elaine. Setelah selesai sarapan Elaine dan Felix berpamitan untuk pulang. Dalam perjalanan mereka saling diam dan akhirnya Felix memulai untuk bertanya


“Bagaimana kamu disana senang?” tanya felix


“Hmmm menyenangkan sih kak dan juga ada banyak hal yang membuatku penasaran” jelas Elaine


“Apa yang membuatmu penasaran?”


“Pernikahan kak Hen” Elaine juga menceritakan tentang kesalah pahaman Henry pada dirinya beberapa tahun


lalu. Tentu saja itu membuat felix tertawa semakin menjadi-jadi. Tentu saja membuat Elaine semakin kebingunan dengan sikap kakaknya


“Hahahahaha” Felix tertawa dengan keras membuat Elaine bingung dengan sikap kakaknya


“Biarkan nanti dia saja yang bercerita tentang pernikahannya. Aku yakin kamu akan terheran-heran” ujar Felix


“Ihhh kakak, selalu membuat orang penasaran” balas Elaine


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya Elaine ampai di kediaman keluarga Matteo. Elaine disambut oleh Ellen, Yona yang merupakan istri dari Felix dan juga si kecil Nico yang merupakan anak dari Felix yang seusia dengan anak Henry.


Usai makan siang Elaine meminta kakaknya mengantarkan ke tempat butiknya yang sedang di bangun. Felix membantu Elaine mencari tempat untuk dijadikn butik oleh Elaine sebelum dia sampai di negara Z.


Dalam perjalanan Elaine memperhatikan jalan yang seingatnya tadi pagi dia lewati. Karna bingung dan juga penasaran akhirnya Elaine menanyakan ke Felix.


“Kak, bukannya kita akan pergi ke butikku? Rasanya jalan ini menuju arah rumah kak Henry” tanya Elaine kebingungan

__ADS_1


“Dasar, dari dulu hingga sekarang di pikiranmu hanya Henry saja. Kita akan ke butik mu yang memang ada disekitaran sini. Rumah Henry masih jauh ke kiri, sedangkan kita ke kanan” jelas Felix


“Ohh begitu… hehe”


Setelah hampir 2 jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan yang hampir rampung pengerjaannya. Mereka masuk ke dalam gedung itu. Felix merasa senang melihat wajah adiknya puas melihat bangunan yang dibuatnya. Felix selalu berusaha memberikan apapun yang terbaik untuk adiknya. Meskipun dia harus secara diam-diam dan hati-hati membantu adiknya dikarnakan sifat Elaine yang terlalu mandiri sehingga membuat Felix kewalahan mengurusinya walaupun secara diam-diam.


“Wahhh.. kak ini sangat sesuai dengan keinginanku. Untung saja aku minta tolong kakak untuk menyiapkannya sebelum aku pindah ke sini” ucap Elaine yang sangat puas melihat butiknya.


"Aku akan memulai karirku yang baru disini” gumam Elaine


“Lusa pasti butiknya sudah rampung, bagaimana dengan isinya? Apa kamu membawa barang-barangmu juga?”


tanya felix


“Tentu saja kak, kebetulan lusa asistenku dan juga barang-barangku akan sampai disini… Aku merencanakan untuk membuka butik ini minggu depan. Bagamina menurut kakak?”


“Boleh saja. Lalu bagaimana denganmu? Kamu tinggal di rumah kakak atau rumah utama? Tanya felix


“Aku akan membeli rumah kak, aku akan tiggal sendiri seperti biasanya” balas Elaine.


Felix menghela nafas panjang dan memijat pelipisnya yang tidak sakit “Kamu masih sama saja. Kalau itu memang keputusanmu aku akan menikutinya El, untung saja aku juga sudah melihat-lihat rumah di sekitar sini benar saja kamu ingin tinggal sendiri”


“Kakakku memang yang terbaik” ucap Elaine sambil memeluk kakaknya


Usai melihat butiknya, Elaine ditemani oleh felix untuk mencar rumah baru. Tak perlu waktu lama untuk sampai di perumahan elit yang sangat megah. Awalnya Elaine menolak untuk tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh Felix karna menurutnya rumahnya terlalu besar untuk dirinya sendiri. Tapi felix berusaha meyakinkan adiknya jika nantinya dia akan ditemani oleh beberapa pekerja.


Pagi-pagi sekali Elaine sudah bangun membantu mamanya membuat sarapan dan bersiap pergi ke butik karna


hari ini asistennya dan barang-barangnya akan datang. Selesai sarapan Elaine berangkat dengan mobil sportnya menuju ke butik. Sesampainya di butik Elaine sudah ditunggu oleh asisten sekaligus sahabatnya Vanya.


“Selamat pagi nona Elaine” sapa Vanya


“Pagi Va, bagaimana persiapannya? Tanya Elaine


“Sedang kami kerjakan nona, sore nanti semuanya akan selesai dan besok kita dapat membuka butik nona.


Ada beberapa klien yang menghubungi nona meminta dibuatkan desain” ucap Vanya


“Butik belum dibuka tapi sudah ada yang meminta desain. tapi kita tidak boleh menolak rezeki. Hubungi mereka dan tanyakan konsepnya seperti biasa”


Saat ini Elaine telah menjadi designer yang karyanya banyak dikagumi kalangan elit. Tentu saja itu menyebabkan banyak orang yang menghubunginya walaupun butiknya belum dibuka.


Elaine seharian di butik untuk mempersiapkan grand opening butiknya. Pukul 18.00 Elaine ke rumahnya yang berada di perumahan elit yang telah disiapkan oleh kakaknya. Sesampainya disana Elaine dibukakan gerbang oleh pak Joe.


“Selamat datang nona Elaine, biar saya yang memarkirkan mobilnya nona Ela” ucap pak joe ramah

__ADS_1


“Trimakasih pak Joe” jawab Elaine


Elaine disambut oleh dua asisten rumah tangga yang bernama bu Anna dan bu Meta mereka sudah lama bekerja dengan felix sehingga mereka diminta untuk membantu Elaine di rumah barunya.


“Nona Elaine makan malam sudah siap” ucap bu Anna


“Terimakasih bu, saya akan bersih-bersih dulu ke atas”


Elaine berjalan menaiki tangga lalu ke kamarnya untuk mandi. Usai mandi Elaine duduk di sofa kamarnya


dan mengecek email masuk dari phonselnya. Entah kenapa Elaine merasakan sesuatu yang buuk akan terjadi tapi entah apa itu. Tak ingin memikirkan itu Elaine turun untuk makan malam.


Baru saja Elaine sampai di meja makan, phonselnya berbunyi Elaine memperhatikan phonselnya terlihat


“Tante Grace” yang menghubungunya.


“Halo El sayaang..” suara Grace terdengar bergetar


“Iya tante, kenapa?” jawab Elaine


“Sayang, bisakah kamu ke rumah sakit Z sekarang? Dean jatuh di rumah dan sekarang masih di operasi”


“Baik tante aku kesana sekarang” Elaine langsung berlari mengendarai mobilnya melaju dengan sangat


cepat. Entah mengapa dia merasakan perih di dadanya mendengar Dean kritis.


Untunglah letak rumah sakit dan rumah Elaine dekat sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai. Elaine langsung bergegas menuju ruang operasi. Terlihat di depan ruang operasi Grace, Victor dan seorang wanita yang tidak dikenal.


“Bagaimana kondisi Dean tante? Kenapa ini bisa terjadi tante?” tanya Elaine berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah


“Ela sayang, tenanglah. Ini Vita, tadi saat dia berkunjung ke rumah Henry dia mencoba untuk menggendong Dean, tapi dean tidak mau dia berjalan mundur dan jatuh dari tangga. Kepala Dean mengeluarkan banyak darah dan sekarang masih di operasi” tutur Grace


“Apa kak Hen sudah di beritahu tante?” tanya Elaine lagi


“Sudah nak, mungkin sebentar lagi dia sampai”


Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria tampan dengan wajah dingin yang memancarkan aura mencekam. Tak lain adalah Henry. Saat Henry tiba di depan ruang operasi seorang perawat keluar dari ruang operasi.


“Dengan keluarga pasien atas nama Dean…” ucap perawat


“Saya ayahnya suster. Bagaimana kondisi anak saya?” tanya Henry yang nampak hawatir


“Pasien sedang dalam penanganan, tapi pasien memerlukan dua kantong darah. Sedangkan stock darah golongan A kosong saat ini. Apakah dari keluarga pasien ada yang memiliki golongan darah sama?”


“Saya suster” ucap Henry dan Elaine bersamaan. Sesaat mereka saling menatap. Tatapan mereka berakhir

__ADS_1


saat suster meminta mereka mengikutinya untuk transfusi darah.


__ADS_2