
Tok... tok.. tok..
Suara ketukan pintu memecah lamunan Elaine
"Masuk" ucap Elaine
"Maaf mengganggu nona, sesi pemotretan anak-anak sudah siap" ucap Vanya
"Oke.. Ayo kita ke sana" ucap Elaine yang berubah menjadi semangat
*Studio foto di butik Elaine"
Dean, Nico dan Rava sedang mengikuti arahan dari sang potografer. mereka nampak sungguh menggemaskan dengan baju yang digunakan. Mereka terlihat seperti model profesional, beberapa saat kemudian Elaine datang dengan didampingi Vanya. Dia dibuat kagum oleh anak-anak itu.
"Wahh, mereka menggemaskan sekali kalau memakai pakaian yang sama. Uhhh sangat menggemaskan" ucap
Elaine dengan wajah berbinar terpukau akan penampilan anak-anak itu. Sudah beberapa bulan mereka tinggal bersama tapi Elaine tidak pernah menyadari pesona dari anak-anak itu
"Mereka sudah tampan sejak dini" Vanya tidak kalah terpukau akan pesona anak-anak itu
"Kapan katalog pakaian anak-anak ini akan di terbit?" tanya Elaine
"Seminggu dari sekarang nona, dan aku yakin dengan mereka yang menjadi modelnya akan ada banyak pesanan yang datang" jelas Vanya yakin
"Bagaimanapun hasilnya aku akan tetap memberikan hadiah untuk anak-anak, mereka sudah bekerja keras" ucap
Elaine
Pemotretan selesai setelah anak-anak menggunakan beberapa potong pakaian, Elaine segera memeluk mereka
"Kalian pasti lelah kan? Ayo kita ke mall, kita makan siang setelah itu kita akan membeli banyak mainan" ajak Elaine yang disambut antusias oleh anak-anak
Beberapa saat Elaine menunggu anak-anak untuk mengganti pakaian dibantu oleh dua orang pengasuh yang
diajaknya. Lalu mereka keluar dari butik menuju mobil yang sudah siap mengantar mereka ke mall. Butuh sekitar 15 menit untuk sampai ke mall yang paling dekat dengan butik Elaine.
Sesampainya di restoran Elaine segera mengajak mereka menuju restoran dengan private room yang sudah dipesan Elaine sebelum sampai di restoran. Setelah menyelesaikan santap siangnya Elaine mengajak ketiga anak itu ke toko mainan seperti yang dijanjikannya. Mereka sudah sangat tidak sabar untuk membeli mainan.
"Mama, aku boleh membeli beberapa robot?" tanya Nico
"Hmmm... Baiklah, untuk hari ini mama izinkan kalian kalian membeli beberapa mainan karna sudah mau menjadi
__ADS_1
model mama" ucap Elaine mengelus kepala Nico dan Dean
"Terbaik" ucap mereka kompak dan mengacungkan jempol ke arah Elaine
Elaine hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anak itu yang layaknya suadara kembar selalu kompak dan menjaga satu sama lain.
"Maa, ikut aakak" celoteh Rava dia berusaha turun dari gendongan Elaine dan menyusul kakaknya
"Rava sama mama aja yaa.. biarkan mereka berdua" ucap Elaine lalu mengajak Rava berkeliling toko
mainan itu dan mengambil beberapa mainan yang dominta Rava
Satu jam berlalu akhirnya Nico dan Dean selesai memilih mainan yang mereka inginkan. Elaine membulatkan matanya melihat satu keranjang belanjaan yang penuh dengan mainan robot dalam berbagai bentuk.
"Mama, kami sudah selesai memilih mainan ayo ke kasir dan pulang" ucap Dean
"Kalian tidak salah? Ini banyak sekali mainannya" ucap Elaine
"Tidak ma, kan ini untuk kami berdua. Tadi mama juga yang mengizinkan mengambil beberapa mainan tanpa ada
batasan yakan? ucap Nico tersenyum dengan sangat imut
"Yasudah, ayo ke kasir lalu pulang" ucap Elaine
"Bukannya itu Elaine, loh dia menggendong anak. Tapi anak siapa? Setahuku dia belum menikah, eh tapi dia mengajak 3 orang anak. Hanya satu anak yang mirip dengan Elaine itupun hanya matanya. Mungkin itu keponakannya. Aku harus menemuinya" gumam lelaki itu baru selangkah dia berjalan ada suara yang memanggilnya.
"Nathan, ayo pulang mama sudah mendapat kuenya" ucap mama Nathan
Ya.. laki-laki itu adalah Nathan yang dulunya adalah sahabat Elaine. Sampai saat ini dia tidak bisa melupakan
perasaannya pada Elaine. Dia berusaha untuk mendekati Elaine namun selalu saja gagal. Dia bahkan menyewa detektif untuk menyelidiki Elaine namun hasilnya sangat tidak memuaskan. Tentu saja dia akan gagal jika menyelidiki latar belakang atau keseharian Elaine karna banyak pengawal yang ditempatkan disekitarnya dan informasi latar belakangnya selalu dilindungi seduai dengan keinginan Elaine.
"Ayo ma" ucap Nathan lalu berbalik ke belakang mencari keberadaan Elaine namun Elaine sudah tidak ada
Nathan dan Elaine berjalan dengan arah yang berlawanan sehingg mereka tidak saling bertemu. Elaine butuh waktu satu jam untuk sampai di kediamannya. Elaine menatap sendu ketiga anak yang sekarang sedang tidur pulas di kamar mereka karna kelelahan.
Sedih menyelimuti hati Elaine, tak seorang pun mengetahui betapa rapuhnya dia jika dihadapkan dengan orang kesayangannya. Kali ini dia benar-benar menyayangi ketiga anak itu. Dean dan Rava yang awalnya di jaga Elaine karna rasa bersalahnya kini malah membutnya menjadi sangat menyayangi keduanya juga Nico yang berawal dari hukuman dari sang kakak membuat Elaine tambah menyayangi keponakannya.
Nico yang awalnya memanggil Elaine tante sekarang juga ikut memanggil mama karna kedekatannya. Felix memang menitipkannya beberapa waktu lalu karna ingin berlibur dengan istrinya yang tengah hamil muda. Entah apa yang dipikirkan oleh Felix dia tak menghubungi Eline untuk mengetahui kondisi anaknya ataupun menjemputnya.
Elaine tau dua bulan lalu kakaknya sudah selesai dengan cutinya dan sudah pulang ke tanah air namun sekalipun dia tak menghubungi Elaine. Dia masih berusaha berpikir posotif mengenai kakaknya mungkin Felix sibuk hanya kata itu yang selalu Elaine tanamkan dihatinya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Yona ibu dari Nico? Hmmm dia dibesarkan di keluarga kaya yang sangat memanjakan putrinya. Memang dia adalah wanita yang sangat baik tapi sifat sosialitanya sudah melekat sejak lama, Elaine sempat terkejut jika ternyata Nico lebih sering diajak oleh pengasuh ketimbang maminya. Sama seperti Felix mungkin Yona juga lupa memiliki putra.
Kakek dan nenek Nico (orang tua Elaine dan Felix) tentu mereka sangat menyayangi cucunya, namun mereka juga sangat sibuk mengurusi bisnis keluarga yang terlalu banyak dan tidak setiap hari mereka ada di rumah.
Maka dari itu Elaine dengan sungguh-sungguh merawat ketiga anak itu walaupun mereka dari keluarga yang sangat berada sekalipun. Elaine bangun dari duduknya di pinggir ranjang anak-anak itu. Dia berjalan keluar kamar tidak lupa untuk meminta dua pengasuh mengawasi ketiga anak itu. Elaine menaiki tangga menuju ke kamarnya untuk bersih-bersih terlebih dahulu.
Elaine selesai dengan ritual mandinya lalu dia duduk di balkon kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana, hingga suara ponsel elaine memecah lamunannya.
Drrrttttt.... Drrttttt.... Drrrttttt...
Elaine mengambil ponselnya dan melihat layarnya dilihatnya nama sang penelpon dan ternyata adalah Grace.
"Hallo tante"
"Hallo El sayang, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja tante. Bagaimana dengan tante?"
"Tante juga baik-baik saja sayang. Maaf tante baru menghubungimu karna tante sangat sibuk belakangan. Tante dan om juga masih di luar negeri"
"Oh, tidak apa-apa tante. Bagaimana kabar om Victor tante?"
"Om baik-baik saja El, bagaimana dengan anak-anak? apa kamu betah menjaga mereka?"
"Tentu saja tante, mereka jauh dari kata rewel ataupun nakal"
"Wah, senang mendengarnya. El bisakah tante minta tolong padamu? Tante minta kamu untuk menyiapkan perayaan kecil untuk ulang tahun kedua anak itu. Kebetulan mereka ulang tahun di tanggal yang sama"
"Tentu saja tante. Kapan anak-anak ulang tahun?"
"Dua hari lagi dan tante juga om akan pulang dua hari lagi jam 8 pagi"
"Tante tenang saja nanti aku yang akan menyiapkan segalanya. Mungkin jamuan makan kecil di rumah El bisa siapkan"
"Terima kasih sayang, tante minta maaf sudah merepotkan kamu terus"
"Tidak kok tante, aku senang bersama anak-anak"
"Baiklah tante tutup dulu panggilannya sayang, jaga kesehatanmu"
"Iya tante, tante dan om juga"
__ADS_1
Elaine menaruh ponselnya di atas meja setelah panggilan terputus. Beberapa kali dia menghembuskan nafas kasar.
"Hmmmm... Tante Grace suka sekali memberitahukan hal dengan mendadak. Perayaan kecil-kecilan tentu saja aku bisa menyiapkannya. Besok aku akan hubungi kak Hen dan juga kak Felix untuk menyuruh mereka meluangkan waktu dua hari lagi. Sekalian acara kumpul keluarga, tapi apa kak Hen ingat hari ulang tahun anaknya? Menggendong anaknya saja aku yakin bisa dihitung dengan jari. Jika sampai dia lupa atau bahkan tidak tau huhhhhh.... Awas saja akan aku buat menyesal" gumam Elaine