
"Iya kak nggak pernah kak Felix kesini setelah nganter Nico kesini itupun cuma sampe depan rumah nggak singgah dulu. Jangankan nengok ke sini telpon anaknya aja nggak pernah selama ini" jelas Elaine
Bagas terkejut dengan pengakuan Elaine. Pasalnya Felix tipe orang yang sangat sayang keluarga, apalagi Nico. Apapun keinginan Nico pasti dipenuhi. Walaupun memang Felix sangat sibuk tapi belum pernah dia melupakan ulang tahun Nico.
\====================================
"Mungkin karna dia sibuk dengan urusan kantor dan juga istrinya. Salah dia sendiri mengambil cuti begitu lama" ucap Bagas menyeruput kopinya
"Tapi tetap saja, Nico kan anak pertamanya. Hmm sudahlah kak jangan dibahas. Aku akan membuat pesta kecil untuk ulang tahun mereka besok sore kak" ucap Elaine duduk d sebelah Bagas
"Mereka?" Bagas bingung dengan ucapan Elaine
" Iya, Nico, Dean dan Rava. Kebetulan besok ulang tahun Dean dan Rava juga aku baru mengetahui kalau ulang tahun Nico sudah lewat. Jadi sekalian saja besok aku merayakannya" ucap Elaine
"Ohh begitu, perlu bantuan ku?" tanya Bagas
"Tidak usah kak, aku bisa sendiri lagi pula sebagian sudah aku pesan online dan besok akan ada orang yang mengurusnya d tamn belakang.. Kakak tolong beritahu kak Felix saja ya.. besok acaranya jam 5 sore" ucap Elaine
Percakapan mereka terhenti ketiga tiga anak-anak itu datang setelah selesai mandi dan sangat tampan. Mereka lalu menghabiskan rasapan mereka, setelah sarapan Bagas pamit hendak ke kantor. Sementara Elaine menghampiri anak-anak yang tengah bermain di ruang keluarga.
"Anak-anak, mama mau ke butik ayo siap-siap" ucap Elaine
"Mah aku tidak ikut ya, aku ingin dirumah saja" ucap Nico
"Aku juga ma" ucap Dean menimpali. Elaine memicingkan matanya pasalnya ini pertama kalinya anak-anak tidak ikut dengannya ke butik
"Rava ikut mama kan?" tanya Elaine
"Nggak, mau sama akak" ucap Rava yang masih sibuk dengan mainannya
"Hmmm yasudah kalau tidak da yang mau ikut dengan mama. Kalian jangan pergi tanpa izin mama ya dan jangan merepotkan para pengasuh" ucap Elaine seraya mencium ketiga anaknya lalu meninggalkan mereka untuk berangkat ke butik
****Sore hari
Elaine sudah terlihat cantik dan menawan menggunakan dress selutut berwarna navi. Dress itu sangat sederhana namun sangat elegan jika dikenakan olehnya. Sementara di taman belakang sudah semua keluarga datang ada Victor, Grace, Hugo dan istrinya, Daniel dan Ellen, Felix dan Yona, Bagas serta Vanya tentu minus kehadiran dari Henry tentunya.
Taman di belakang rumah Elaine pun sudah dihiasi dengan beberapa balon dan aneka hiasan ulang tahun sederhana.
__ADS_1
Tak lama kemudian datanglah anak-anak mengenakan pakaian yang seragam berwarna senada dengan dress Elaine. Acara ulang tahun pun dimulai dengan gembira.
Malam harinya acara usai semua tamu pulang kerumah masing-masing. Tapi tidak dengan Nico, dia menolak keras untuk pulang bersama papi dan maminya. Tentu hal ini sempat memancing keributan. Tapi setelah Ellen memberi pengertian pada Felix akhirnya mereka pulang tanpa Nico.
Setelah memastikan anak-anak sudah tidur, Elaine menuju ke dapur dan membuat secangkir teh herbal. Lalu dia menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Kini Elaine ada di balkon kamarnya, menikmati sunyinya malam ditemani oleh secangkir teh hangat, bulan dan bintang yang menghiasi langit malam.
Elaine mengambil ponselnya dan mengecek berita mancanegara dan seketika wajahnya berubah membaca sebuah judul berita.
"Kekasih baru sang miliaeder muda"
Kedekatan pewaris grup Alexander dengan seorang model ternama
Sang Miliarder berganti kekasih lagi. Hah sungguh kak Hen menyebalkan, dia bahkan tidak ingat ulang tahun anaknya tapi disana dia sedang bersenang-senang dengan banyak wanita. Sungguh aku tidak yakin jika kak Hen adalah korban dari pernikahannya. Pasti dia sama saja dengan mantan istrinya. Dasar playboy!!! Awas saja kalau pulang akan kuberikan pelajaran" Elaine menaruh ponselnya kasar di meja, entah mengapa Elaine menjadi sangat kesal dengan berita itu.
Elaine bangkit dari duduknya, mengambil ponselnya lalu berjalan menutup pintu balkon. Dia memutuskan untuk tidur saja untuk menghilangkan kesalnya.
Namun setiap dia memejamkan mata yang terlintas dipikirannya hanya foto Henry dengan wanita lain. Dengan susah payah akhirnya elaine bisa tidur walau itu sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi.
Untuk pertama kalinya wajah Elaine terlihat sangat kusut seperti baju yang belum di setrika, kantung matanya terlihat jelas. Saking jelasnya dia harus menggunakan make up untuk menyamarkan warna hitam yang melingkar di matanya. Sebelum anak-anak mengatainya hantu.
"Ma, kok mama terlihat lesu?" tanya Dean yang datang menghampiri Elaine di meja makan yang sedang menyiapkan sarapan
"Ohhh, aku tau.. Pasti mama sedang memikirkan seorang pria tampan. Mama sudah punya kekasih?" ucap Nico lagi
Elaine memicingkan matanya, memberikan tatapan yang menyeramkan pada Nico. Tentu saja anak itu tidak takut sama sekali.
"Mama hanya kurang tidur saja, jngan mengada-ngada Nico" ucap Elaine
"Ma, kekasih itu apa?" tanya Dean polos
"Kekasih itu..." ucap Nico yang langsung dipotong Elaine
"Sudah Dean, jangan kau dengarkan Nico.. Ayo kita sarapan" ucap Elaine
Mereka menikmati sarapan seperti biasanya sambil bersanda gurau. Setelah sarapan Elaine akan berangkat ke butik namun dia kembali heran karna anak-anak tidak ada yang mau ikut dengannya ke butik.
"Apa yang kalian akan lakukan jika tidak ikut dengan mama?" tanya Elaine
__ADS_1
"Kami akan main seharian ma" ucap Nico
"Kalian tidak bosan?" tanya Elaine lagi
"Bosan sih ma, tapi kami juga bosan jika jalan-jalan di butik mama saja" kali ini Dean yang menjawab pertanyaan Elaine
"Yasudah, ayo ikut mama ke atas.. Mama akan memperlihatkan sesuatu" ucap Elaine mengajak anak-anak menuju lantai dua
Elaine mengajak anak-anak ke sebuah ruangan yang ada di dekat kamarnya yang tidak lain adalah ruangan kerjanya. Memang di lantai dua ada tiga ruangan yaitu kamar utama(kamar Elaine), ruang kerja dan sebuah kamar tamu.
Elaine membuka ruang kerjanya namun anak-anak nampak kebingungan mereka hanya melihat sebuah ruang kerja dan sofa di ruangan itu, namun Elaine menuju sebuah pintu di ruang kerjanya dan ternyata itu adalah sebuah perpustakaan yang cukup besar. Juga sudah disesuaikan agar anak-anak nyaman karna sudah di persiapkan Elaine sebelum anak-anak tinggal dirumahnya.
"Nah, kalian bisa membaca buku disini. Banyak buku anak-anak yang mama taruh disini. Mama ke butik dulu ya"
"Wahh, sangat keren maa.. Oke ma hati-hati" ucap Dean dan Nico
***Kantor Henry di luar negeri"
Hatcihhhhhhh
"Aduh tuan, kenapa akhir-akhir ini anda bersin terus?" tanya Morgan
"Entahlah, aku tidak merasa jika aku sakit kok. Pasti ada yang menjelekan aku lagi" ucap Henry mengusap hidungnya sesaat lalu kembali memperhatikan berkas yang ada di mejanya
"Tuan sebaiknya anda istirahat dulu, akan saya panggilkan dokter sekarang" Morgan nampak hawatir saat ini pada atasannya yang memang gila kerja dan tingkat percaya dirinya tinggi
"Tidak usah, belikan saja aku vitamin. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku karna kita akan kembali ke negara Z beberapa hari lagi" ucap Henry
"Tapi tuan..." ucapan Morgan langsung dipotong Henry
"Sudah sana kerjakan tugasmu, mau aku potong gajimu lagi?" ucap Henry menekankan diakhir kalimat
"Dasar tuan pelit" ucap Morgan segera berlari keluar ruangan Henry
"Astagaa, kenapa aku memiliki asisten sekaligus sahabat macam itu. Ingin rasanya aku tenggelamkan dia di lautan" Henry memijit pelipisnya yang mendadak pening karna kelakuan asistennya
\===================================
Aku mau minta bantuan dong dari kalian, biar aku juga nambah semangat dong ya nulisnya. Jadi aku minta tolong kalian like dan komen juga vote karya ku yaaa💙💙💙💙
__ADS_1
Terimakasih kalian sudah menyempatkan membaca kisah Elaine dan Henry..
Aku sayang kalian guys❤💙❤💙