Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 13


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, Elaine kini terbiasa dengan kesehariannya menjadi seorang ibu dengan 3 anak tanpa harus hamil dulu.


Ketiga anak itu tentu Dean, Rava dan Nico panggilan mereka pun berubah pada Elaine yang awalnya bunda sekarang menjadi mama karna celotehan Rava yang baru belajar berbicara bahkan Nico pun sekarang memanggil Elaine dengan sebutan mama. Sedangkan pada Felix dan Yona Nico memanggil papi dan mami.


Elaine sungguh telaten dalam mengurus anak-anak, dia mampu membagi waktu antara bekerja dan mengurus tiga anak tersebut. Kini dia menyerahkan butik pada asistennya Vanya tapi sesekali dia juga pergi ke butik untuk sekedar mengamati kondisi butik.


Elaine kadang masih membuat desain yang dipesan oleh klien dan rapat dengan klien yang memang tidak bisa diwakilkan oleh Vanya.


Ketiga anak itu selalu mengintili Elaine jika keluar rumah kecuali Elaine rapat penting. Mereka saling menjaga satu sama lain, mereka tidak rewel seperti anak kecil pada umumnya. Kadang Elaine sering heran dengan mereka karna mereka sangat penurut dan tidak nakal.


Sinar matahari masuk melalui selah selah tirai jendela nenandakan hari sudah pagi. Elaine sudah selesai membersihakn badannya seperti biasanya, dia lalu turun menuju arah dapur untuk membantu para pembantu menyiapkan sarapan.


Sebenarnya para pembantu tidak enak hati jika Elaine selalu membantu menyiapkan beberapa pekerjaan rumah, mereka selalu melarang Elaine untuk melakukannya tapi Elaine beralasan ingin menyiapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Setelah selesai membuat sarapan Elaine menuju ke kamar ketiga anak itu yang memang masih satu kamar.


"Anak-anak ayo bangun" ucap Elaine menggoyangkan lembut badan mereka bergantian namun tidak ada tanggapan


Satu hal yang sering membuat Elaine kesusahan yaitu membangunkan mereka di pagi hari. Entah mengapa kebiasaan mereka sama. Sama-sama susah bangun, jika sudah begini terpaksa Elaine menggendong satu-satu dan membawanya ke kamar mandi jika tidak demikian maka akan terjadi drama di pagi hari hingga satu jam lamanya.


Sekarang semua sudah ada di meja makan menikmati sarapan mereka. Elaine mengambilkan makanan untuk Dean dan Nico juga menyuapi baby Rava sarapannya.


"Mama, hari ini ada kemana?" tanya Dean


"Hari ini mama ke butik sebentar lalu pulang. Kenapa? Kalian mau ikut?" tanya Elaine memandangi ketiga anaknya


"Ikutttttt" ucap Dean dan Nico kompak


Sedangkan Rava menjawab terakhir "kuttt...." ucapnya sambil menikmati sarapannya


"Ma, kita jalan-jalan ke mall yaa datang dari butik?" Nico mengedipkan satu matanya pada Elaine menandakan ada maksud lain dari ajakannya


"Hmmmm, biar mama tebak.. Kamu mau beli mainan baru lagi?" tanya Elaine


"Hehe boleh mah?" Nico cengengesan


"Tentu saja boleh, mama terakhir membelikan kalian mainan sebulan lalu jadi boleh saja kok" ucap Elaine


"Yesssss" Dean dan Nico berbarengan sambil bertosria


"Tapi ingat, kumpulkan dulu mainan kalian yang sudah tidak terpakai tapi masih bagus masukan dalam satu kardus dan taruh di kamar belakang" ucap Elaine

__ADS_1


"Siap mama" ucap Dean dan Nico kompak lagi


Elaine memang suka membelikan mainan atau pakaian pada mereka namun sebelum membelikan mainan baru Elaine selalu meminta untuk mengumpulkan mainan yang tidak mereka pakai lagi dan masih bagus. Nantinya mainan itu akan disumbangkan ke panti asuhan setiap bulannya oleh Elaine.


Setelah menyelesaikan sarapannya Elaine dan ketiga anak itu berangkat menuju butik Elaine. Selang beberapa jam akhirnya mereka sampai. Elaine turun dari mobil sambil menggendong Rava diikuti oleh Dean dan NIco berjalan sambil berpegangan tangan karna Elaine selalu meminta kedua anak itu jika berada di temopat umum agar saling menjaga satu sama lain. Karna kali ini usai dari butik mereka akan berbelanja maka Elaine mengajak 2 pengasuh untuk ikut bersama mereka.


"Mama, kami mau keliling dulu yaa. Turunkan saja Rava ma, kami akan menjaganya" ucap Dean


"Baiklah, jangan ganggu karyawan mama dan mama ada di ruangan atas jika kalian ingin mencari mama" ucap Eliane dibalas anggukan oleh Dean dan Nico


Dean dan NIco menggandeng tangan Rava mereka berjalan bersama berkeliling. Sedangkan Elaine berada di ruangannya bersama dengan Vanya.


"Bagaimana kondisi butik sekarang?" tanya Elaine


"Semuanya baik-baik saja, kita mendapat beberapa tambahan proyek dan semuanya bisa aku wakilkan" ucap Vanya


"Hmmm... Baguslah, jika ada hal yang tidak bisa kamu tangani langsung hubungi aku" ucap Elaine sambil membuka berkas-berkas dimejanya yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Vanya


"Oh iya, nona ada seseorang yang meminta dibuatkan pakaian untuk satu keluarganya dan dia ingin nona yang menemuinya" ucap Vanya


Elaine menyipitkan matanya "Siapa orangnya?"


"Hahhhhh.... Jika Nathan yang kamu maksud sama dengan yang dipikiranku maka..." Elaine kaget


"Memang kenapa dengan Nathan nona?" Vanya nampak bingung dengan respon sang atasan


"Hmmmm... Ini hanya masa lalu, dia adalah sahabat baikku tapi semua berubah ketika dia menyatakan perasaanya. Hal ini juga membuat salah paham yang berujung merugikan banyak orang. Dan aku belum menyelesaikannya dengan baik" Elaine menyangga kepalanya dengan satu tangannya


"Jika nona tidak nyaman dengan ini bagaimana jika kita tolak saja permintaannya?"


"Tidak, aku tidak enak jika sampai menolak permintaannya. Aku akan menyelesaikan desainnya 2 minggu lagi, buatlah janji dua minggu lagi dengannya" Kali ini wajah Elaine nampak gusar


"Baiklah nona, Oh ya baju anak-anak yang nona minta sudah selesai"  Vanya mencoba mengalihkan pikiran Elaine


"Benarkah? Suruh anak-anak mencoba pakaian itu dan bawa mereka ke studio bawah untuk foto" pinta Elaine


"Baik nona, aku permisi dulu" hanya dibalas anggukan oleh Elaine


Setelah Vanya pergi Elaine malah melamun sendiri.

__ADS_1


 


"Tapi perasaanku mengatakan dia hanya menggunakan ini sebagai langkah awal untuk mendekatiku lagi. Aku harus cepat menyatukan kak Hen dan anak-anaknya. Tapi bagaimana caranya? Orangnya saja masih di luar negeri dan entah kapan akan pulang. Sungguh menyebalkan, sudah beberpa bulan tapi kak Hen sama sekali tidak menghubungiku. Awas saja kalau pulang akan kubalas perbuatannya dasar menyebalkan" gumam Elaine


*Ditempat lain*


Henry berada di ruangan kantor yang baru ditempatinya beberapa bulan. Dia tengah sibuk memeriksa berkas-berkas perusahaan dengan Morgan sang asisten yang selalu siap siaga dan setia menemani atasannya yang gila kerja ini. Tapi tiba-tiba Henry bersin mungkin karna umpatan dari Elaine


Hatttcciiiihhhh


Henry menggosok-gosok hidungnya


"Tuan apa anda tidak enak badan?" tanya Morgan


"Hmmmm sepertinya aku kelelahan atau ada orang yang sedang mengumpatku ya?" ucap Henry


"Hahahaha... Tuan bisa saja. Siapa yang akan mengumpat tuan?" ucap MOrgan


"Entahh... Bisa sajakan, musuhku kan banyak. Berapa lama lagi kita disini?"


"Seminggu lagi tuan akan kembali ke negara Z dan langsung menghadiri acara amal di salah satu panti asuhan dekat perusahaan Alexander" jelas Morgan


"Hmmmm masih lama sekali, aku sudah sangat merindukannya" Henry menyandarkan badannya di kursi kebesarannya tentu membuat sang asisten kebingungan


"Tuan merindukan siapa?" selidik Morgan


"Kamu tidak perlu tau" ucap Henry dengan wajah dinginnya kembali memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya


"Pasti tuan merindukan nona Elaine karna kesalah pahaman kalian sudah usai" Morgan menatap jahil pada Henry


"Tidak usah sok tahu kamu, mau aku pecat?" Henry menatap tajam pada asistennya yang sangat senang mengejeknya karna salah paham yang terjadi dengan Elaine


"Jika tuan memecat saya, tuan tidak akan menemukan asisten dan sahabat super tampan dan cekatan seperti saya tentunya" Morgan membenarkan posisinya berdiri menyombongkan diri langsung saja Henry melemparnya dengan pulpen di tangannya


"Sebaiknya kamu siapkan rapat sebentar lagi sebelum berkas-berkas ini melayang ke wajahmu" ucap Henry dengan wajah sangat kesal


"Baik tuan laksanakan. Tapi tuan sepertinya nona Elaine juga merindukan tuan, sebaiknya tuan hubungi saja nona Elaine hahahahahaha" Morgan langsung berlari sebelum terkena amukan sang atasan


"Dasar, awas saja kau. Akan kupotong bonus bulananmu" Henry dengan wajah sinisya

__ADS_1


__ADS_2