
Elaine seharian menemani Dean dan Rava. Sampai mereka selesai makan malam Henry tidak kunjung kembali. Elaine menidurkan Dean dan Rava lalu pergi ke ruang keluarga menemui Grace dan Victor.
*Ruang Keluarga*
Elaine menghampiri Grace dan Victor yang sedang mengobrol santai.
“Tante, om.. Besok pagi aku akan dijemput oleh kak Felix dan pulang kerumah” ucap Elaine
“El sayang… Apa tidak bisa lebih lama kamu berada di sini?” ujar Grace
“Maaf tante.. Tapi besok pagi-pagi aku harus pulang dan melanjutkan pekerjaanku”
“Baiklah kalau begitu, jam berapa kamu akan dijemput?”
“Kak Felix bilang dia akan sampai jam 7 tante.. Aku akan pulang sebelum Dean dan Rava bangun. Supaya mereka tidak menangis saat aku pergi” ucap Elaine
“Yasudah, sekarang istirahatlah.. Supaya besok kamu bisa bangun pagi. Kami juga akan istirahat juga” kata Victor
“Oh ya om, tante.. Apakah kak Henry selalu pulang larut ya?” tanya Elaine
“Dia itu seperti monster yang gila kerja, kadang dia bisa saja tidak pulang ke rumah. Kadang anak-anaknya lebih sering tante ajak ke rumah utama dibanding disini. Sudahlah tidak usah memikirkan anak itu” tutur Grace
“Baiklah om, tante aku ke kamar dulu”
Elaine, Grace dan Victor kembali ke kamarnya masing-masing. Di dalam kamar Elaine belum bisa tidur. Dia mengambil ponselnya dan mencari-cari berita di internet. Matanya tercengang membaca judul artikel yang semuanya berisi tentang Henry
“Duda tampan yang kaya raya menjadi pusat perhatian banyak wanita di negara Z” Elaine menaikkan kedua alisnya membaca judul artikel yang membuatnya heran
“Baru kemarin istri kak Hen meninggal, sekarang dia sudah jadi pusat perhatian para wanita di negara ini. Sungguh kau luar biasa kak” gumam Elaine yang tidak suka
Selang beberapa saat terdengar pintu ruang baca terbuka. Langsung saja Elaine bangun dari tempat tidurnya dan melempar ponselnya sembarang ke kasurnya. Dia langsung berjalan cepat menuju ruang baca. Lagi-lagi pintu ruang baca terbuka lebat terlihat Henry sedang menuangkan alkohol di gelasnya.
“Kak Henry!!!” ucap Elaine dengan nada agak tinggi masuk ke ruang baca dan menutup pintunya rapat-rapat
“Hmmm” jawab Henry yang terkejut langsung menaruh gelas di meja dan duduk di sofa
“Kenapa kamu menghindariku dari kemarin?” tanya Elaine dengan nada yang sama
“Kapan?” jawab Henry singkat. Elaine duduk berseberangan dengan Henry menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya memasang wajah yang sangat masam
“Dari kemarin hingga detik ini! Aku baru saja pulang dari luar negeri. Apa kamu tak merindukanku? Sudah 7 tahun aku di luar negeri tiba-tiba saja pas aku pulang kak Henry sudah menikah dan punya dua anak bahkan tidak mengundangku saat kakak menikah” ucap Elaine dengan cepat tanpa jeda terlihat wajahnya yang sangat kesal
__ADS_1
“Ohhh begitu” kata Henry yang berusaha tetap tenang meski masih kaget mendengar perkataan Elaine yang sedikut berubah menjadi lebih berani
“Kakak tidak menanyakan kabarku?”
“Bagaimana kabarmu dengan lelaki yang melamarmu saat kelulusanmu? Kudengar kamu keluar negeri bersamanya” Henry langsung to the point selama ini hal yang sangat ingin dia tanyakan langsung pada Elaine
“Maksud kak Henry?” tanya Elaine tidak paham
“Kamu pura-pura tidak paham atau memang tak paham sih?”
“Lelaki yang kulihat melamarmu saat kelulusan yang membawa buket bunga mawar merah dan cincin itu.
Kan kau langsung menerimanya dengan wajah yang sangat senang. Dan pergi keluar
negeri bersama dengannya” ucap Henry menatap tajam pada Elaine
“Bhahahahahaha….” Elaine tertawa keras lalu pindah duduk di dekat Henry tapi masih ada jarak diantara mereka
Henry hanya terdiam melihat Elaine tertawa dan memperhatikannya pindah duduk disebelahnya.
“Kenapa kamu tau kak? Bukannya kakak tidak datang waktu itu?”
“Aku kesana dan langsung pergi setelah melihat kejadian itu. Aku tak ingin menganggu momen romantsi kalian” ucap Henry ketus
“Kenapa kamu tertawa kegirangan seperti itu?” Henry menatap tajam Elaine juga heran akan sikapnya
“Ohhh begitu, aku kira kak Hen tidak datang waktu itu. Begini kak Henku sayang… Waktu itu memang aku dilamar oleh temanku namanya Nathan tapi aku menolaknya. Aku menutup kotak cincin itu bukan mengambilnya. Aku keluar negeri memang berbarengan dengan dia karna kebetulan dia ada bisnis disana. Tapi kami tidak pernah bertemu bahkan kami tidak saling menghubungi” jelas Elaine
“Oh jadi begitu” wajah Henry yang awalnya dingin kini tersenyum lebar
“Padahal waktu itu aku menunggumu dan karna kakak tidak datang akhirnya besoknya aku langsung memutuskan untuk pergi keluar negeri”
“Jadi aku salah paham?” tanya Henry
“Kak Hen memang pintar dalam segala hal tapi waktu itu kakak terlalu cepat mengambil kesimpulan jadi itu salah kak Hen sendiri” ejek Elaine mengeluarkan lidahnya
Tanpa sadar Henry menarik tubuh Elaine memeluknya dengan erat. Wanita yang Henry anggap membut hidupnya kacau balau ternyata hanya sebatas salah paham yang tak pernah Henry ingin perjelas. Sedangkan Elaine yang terkejut mendapat pelukan erat dari Henry hanya terdiam sesaat.
Deg… deg… deg… deg… Jantungnya berdetak cepat. Setelah kesadarannya kembali, Elaine berusaha untuk melepaskan pelukan Henry
“Kenapa sih kak tiba-tiba meluk?” tanya Elaine berusaha menenangkan diri
__ADS_1
“Maaf” ucap Henry yang masih tersenyum senang
“Oh ya, sekarang giliranku untuk bernyata tentang pernikahan kakak dan kenapa tidak mengundangku?” tanya Elaine penuh selidik
“Hmmmm…..” wajah Henry yang tadinya tersenyum lebar sekarang menjadi dingin kembali
“Baiklah kalau kakak belum siap mengatakannya lain kali saja ceritakan karna aku juga ada banyak pertanyaan. Akan aku tagih nanti kak” ujar Elaine yang melihat perubahan pada wajah Henry
Beberapa kali Henry melepas nafas dengan kasar untuk menghilangkan perasaan gusar yang melandanya.
“Apa kakak sudah makan?”
“Sudah tadi pagi di rumah” kata Henry singkat
“Astaga kak! Ini sudah larut malam tapi kak Hen belum makan juga dan sudah mau minum-minum? Ayo ikut aku pokoknya kakak harus makan!!” Elaine menarik tangan Henry mengajaknya ke dapur
“Iya, tapi tidak bisakah kamu berbicara dengan sedikit jeda dan halus? 7 tahun di luar negeri membuatmu berubah menjadi preman” ejek Henry
“Iya aku memang preman.. Duduk disana dan tunggu aku memasak sebentar!” ucap Elaine ketus
Dari meja makan Henry terus memandangi Elaine yang sedang memasak. Perasaan cintanya yang dulu sempat dia kubur dalam-dalam kini kembali perlahan
“Bukannya aku tidak mau memberitahu tentang pernikahanku, jika aku ceritakan kamu pasti meledek dan mentertawakanku. Bisa-bisa wibawaku hilang. Aku yang begitu cerdas dalam bisnis tapi dijebak 2 kali oleh gadis yang sama. Huffffttttt” kata Henry dalam hati
Tak lama Elaine sudah selesai memasak. Dia menghidangkan satu piring nasi goreng omelat dan segelas teh jahe.
“Ayo dimakan kak, semoga saja kakak suka” pinta Elaine
Henry memakan masakan yang dibuat oleh Elaine dengan sangat lahap tidak perlu waktu lama makanan itu sudah habis.
“Ini enak sekali El, aku tidak tau kamu pintar memasak. Apa kamu juga yang memasak sarapan tadi pagi?” tanya Henry
“Tentu saja, aku memang bisa segala hal kak. Tapi kamu malah mengatakan itu masakan pembantu” ucap Elaine kesal
“Aku kan tidak tau, biasanya juga pembantu yang masak” balas Henry membela diri
“Oh ya, besok pagi aku akan pulang dijemput kak Felix jam 7 kak”
“Kenapa besok pagi? Kenapa tidak lebih lama saja menginap disini?”
“Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan kak dan juga aku tidak mau Dean dan Rava menangis”
__ADS_1
“Ohh begitu, ayo kita tidur sudah larut malam” ucap Henry
Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Sebelum tidur Elaine bersiap-siap untuk pulang besok