
Deg
“Jadi… sikap kak Henry yang berubah dan hal yang dialami kak Henry selama 7 tahun ini semua karna aku? Bagaimana kak Henry melewati hari selama ini? Lalu anak-anak yang tak berdosa itu juga menjadi imbas dari sikapku?” ucap Elaine lirih
Wajah Elaine berubah menjadi murung. Dia diam pandangannya berubah menjadi sendu. Bagas menyadari
ekspresi wajah Elaine berubah langsung sadar bahwa yang dia katakan pada Elaine dapat membuatnya terpuruk kembali.
“******, bisa-bisa aku dibunuh Felix. Duhh ini mulut kenapa ember gini. Udah tau si Ela gampang banget sedih kalo menyangkut orang yang dia sayang. Duh kalo Ela terpuruk kayak dulu lagi gimana” gumam Bagas
Bagas langsung panik melihat wajah Elaine yang murung. Dia pindah duduk disebelah Elaine. Menggenggam tangannya berusaha menenangkan Elaine.
“Bukan begitu El, itu terjadi murni karna kesalahpahaman kalian bukan karna dirimu. Kan memang awalnya kamu berencana untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri kamu juga sudah berusaha menghubungi Henry. Jadi ini bukan salahmu. Harusnya si Henry yang mencarimu” Bagas berusaha meyakinkan Elaine
“Andai saja waktu itu aku mencari kak Henry maka dia tidak akan mengalami hal itu hiks hiks…” tangis
Elaine pecah
Elaine menangis sesenggukan di pelukan Bagas. Terakhir Bagas melihat Elaine menangis saat tertimpa masalah dengan Felix dan sekarang gara-garanya Elaine kembali menangis.
“El tenang, ini bukan salahmu, sekarang kamu istirahat dulu. Jangan terlalu memikirkan ini” Bagas mengelus lambut Elaine berusaha menenangkannya.
Hampir setengah jam lamanya Elaine menangis dan akhirnya dia bisa tenang. Bagas yang merasa Elaine
sudah cukup tenang akhirnya memutuskan untuk pulang karna sudah larut malam.
*Keesokan harinya*
Elaine duduk di sofa dekat jendela kamarnya. Dia diam seribu bahasa memandang ke arah luar jendela.
Pandangannya kosong, nampak ada lingkar hitam di matanya menandakan jika dia tidak tidur semalaman. Matanya sedikit membengkak dan sembab.
Karna Elaine sedari pagi tidak kenjung keluar kamar akhirnya bu Anna memutuskan untuk ke kamar
Elaine di lantai dua. Beberapa kali bu Anna mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, karna khawatir majikanya kenapa-napa akhirnya dia memberanikan diri masuk ke kamar Elaine
“Nona Elaine kenapa?” bu Anna terkejut melihat kondisi Elaine
“Ehhh.. Maaf bu An saya tadi melamun. Saya tidak apa-apa hanya lelah” Elaine tersadar dari lamunannya
“Nona belum sarapan tadi pagi an sekarang sudah hampir waktu makan siang. Apa nona ingin saya
bawakan makanan kesini?” tanya bu Anna
__ADS_1
“Tidak usah bu An, saya belum lapar. Nanti saya ambil ke bawah sendiri. Bu An lanjut bekerja saja. Saya
ingin sendiri” jawab Elaine kembali memandang ke arah jendela
Bu Anna memutuskan untuk meninggalkan Elaine di kamarnya sendiri dan menghubungi Felix. Karna Felix
berpesan jika ada apa-apa dengan Elaine, bu Anna harus segera menghubunginya.
*Kantor Keluarga Matteo*
Felix baru saja keluar dari ruangan rapat dan berjalan kembali ke ruangannya bersama dengan asistennya
Bagas. Sedari pagi Felix memperhatikan Bagas yang nampak resah. Sesampainya di ruangan Felix, dia duduk di kursi kebesarannya.
“Bagas!!!! Kamu kenapa sih resah gitu? Kamu sakit? Atau habis ditolak cewek?” ucap Felix meledek Bagas
“Heh… deket sama cewek saja saya tidak sempat karna selalu sibuk menggantikan atasan saya yang sedang jadi bucin istrinya bagaimana caranya bisa melamar cewek” sindir Bagas yang merujuk ke Felix
“Hehe maklumkan saja istriku sedang hamil muda jadi dia agak manja. Tapi kamu kan sudah dapat bonus
yang besar”
“Wahhhh… Selamat tuan, semoga anaknya tidak semenyebalkan papanya hahahaha tuan memang top, udah mau
punya dua anak aja nihh” puji Bagas
“Duhh bilang apa ngak ya,gara-gara aku Elaine menangis? Kalo bilang dipecat sih ga mungkin tapi kalau di bunuh pasti” gumam Bagas
“Woe!!!! Astaga ditanya malaah melamun, kelakuan kamu kayak anak yang ketangkep basah habis nyuri uang
bapaknya” ucap Felix mengagetkan Bagas
“Ehhh… Hmmm sebenarnyaa tuan….”
Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt… suara ponsel Felix menyela ucapan Bagas. Felix melirik layar ponselnya
ternyata yang menghubunginya bu Anna.
“Eh tunggu sebentar Bagas. Ini kenapa tumben bu Anna menghubungiku?” ucap Felix
“Aduuhhhh… Mati aku sekarang. Kan sudah kuduga Elaine pasti kenapa-kenapa” gumam Bagas
“Hallo, kenapa bu An.Apa ada masalah?” ucap Felix
__ADS_1
“Maaf tuan jika saya mengganggu, tapi saya rasa harus menyampaikannya pada tuan. Ini mengenai nona Elaine” ucap bu Anna
“Elaine kenapa bu An?” raut wajah Felix berubah menjadi masam
“Nona Elaine murung sejak pagi tuan” bu Anna menceritakan kondisi Elaine seperti yang dia lihat barusan
“Baiklah, saya akan ke sana sekarang” ucap Felix menutup panggilan bu Anna
“Bagas ayo kita ke rumah Elaine, ada yang tidak beres dengannya” ucap Felix lagi
“Tuan, sebenarnya kemarin saya ke rumah nona Elaine” dengan perasaan waswas Bagas akhirnya menceritakan apa yang terjadi kemarin malam di kediaman Elaine pada Felix
Plakkk Felix memukul keras kepala Bagas
“Kamu ini yaaa!!! Benar-benar harus diberikan pelajaran. Aku yang duluan tau saja tidak memberitahu Elaine. Supaya dia nanti bisa mendengar dari mulut Henry sendiri. Tapi kamu malah memberitahunya” ucap Felix dengan nada sedikit meninggi
“Aduhhh sakit tuan, mengajari saya belakangan saja tuan. Lebih baik sekarang kita ke rumah nona Elaine saja”
bujuk Bagas sebenarnya dia hanya tak mau terkena amukan dari atasannya
“Yasudahh.. sana ambil mobilnya. Awas yaa aku belum ngasi kamu pelajaran” ucap Felix dengan nada
mengancam
“Siap tuan”
“Huhhh… untuk saat ini aku masih aman” gumam Bagas
Satu jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah Elaine. Dan langsung disambut oleh bu Anna.
“Elaine dimana bu An?” tanya Felix
“Nona Elaine masih di kamarnya tuan” jawab bu Anna
“Hmmm yasudah bu An, saya akan ke atas. Tolong buatkan bubur ayam dan susu hangat untuk Elaine. Kalau
sudah matang bawa ke atas ya bu” ucap Felix lalu menaiki tangga menuju kamar Elaine
Karna merasa sendirian menaiki tangga sendiri akhirnya Felix menoleh ke belakang. Benar saja dia sendiri sedangkan Bagas malah asik nongkrong di meja makan sambil mengobrol dengan bu Anna. Tentu saja itu membuat Felix tambah geram. Dia mendekati Bagas dan menarik telinganya menuntunnya naik ke lantai atas.
“Adududuhhhhhh… Sakit Felix, nanti telingaku putus” ucap Bagas sambil memegangi telinganya.
“Kamu yaaa.. Udah bikin anak orang nangis bukannya tanggung jawab malah nongkrong sama bu An. Ayo ikut ke kamar Elaine” ucap Felix tegas.
__ADS_1
“Iyaiya maaaf. Kan tidak perlu narik telinga jugaa” ucap Bagas dengan berat hati mengikuti Felix ke kamar Elaine.
Bukannya Bagas tak ingin menemui Elaine, dia hanya tak sanggup jika melihat kesedihan di wajah Elaine. Terlebih lagi itu karna dirinya.