Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 20


__ADS_3

Elaine pergi ke dapur mengambil nampan dan segelas air putih hangat untuk Henry. Setelah menurutnya lengkap dia menuju kearah lift untuk pergi ke kamar Henry.


\================================


Tokk.. tok.. tok


Elaine mengetuk pintu kamar Henry namun tak kunjung ada jawaban. Akhirnya Elaine membuka pintu kamarnya. Dia melihat Henry yang masih tertidur dengan lelapnya.


"Duhhh, sungguh indah ciptaan Tuhan ini" gumam Elaine melihat pemandangan indah di pagi hari. Walaupun Henry tertidur tapi masih terlihat sangat tampan dengan wajah pucatnya.


Elaine berjalan pelan-pelan karna Henry belum bangun. Dia menaruh nampan di atas nakas, duduk di pinggir tempat tidur Henry. Tangannya tergerak untuk membelai wajah Henry.


"Huh.... untung kakak masih bernafas, aku kira kondisi kakak sudah sangat parah kemarin sampai aku tak bisa tidur, eh kakak malah tidur nyenyak sampai sekarang. Kalau kak Hen tidur malah nambah ganteng gini ya hihihi jadi pengen cubit" gumam Elaine


Belaian tangan Elaine berubah menjadi cubitan di pipi Henry. Henry yang merasa terusik akhirnya membuka matanya perlahan.


Kini Henry sudah membuka matanya sempurna dia menatap wajah Elaine lekat. Menggenggam tangan Elaine yang tadi mencubit pipinya


"Kok ada Ela di kamar ku? ini mimpi? dia cantik sekali walau di mimpi. Duh jadi pengen lama-lama mimpi" gumam Henry tiba-tiba Elaine mengeratkan genggamananya dan membuat Henry sadar jika ini bukan mimpi


"Kak Hen sudah sadar? kak kok diem aja sih? Kakak gak bisa bicara? Ada yang sakit nggak? Kakak mau sesuatu?" ucap Elaine


"Bisa nggak nanya satu-satu aja dulu?" tanya Henry yang masih lemah mencoba untuk duduk


"Ehh... iyaa-iya. Kakak pelan-pelan duduknya" ucap Elaine membantu Henry duduk


"Ela, ambilkan aku air" ucap Henry


Elaine mengambil segelas air di nampan yang tadi dia bawa lalu meminumkannya karna Henry masih lemah


"Gimana kondisi kakak? Aku panggilkan dokter yaaa?" tanya Elaine duduk di pinggir tempat tidur Henry


"Tidak usah, nanti pasti dokternya datang sendiri. Kondisiku sudah lebih baik rasanya, hanya masih lemas saja dan agak mual" ucap Henry


"Yasudah kakak makan buburnya dulu, biar aku suapi" Elaine duduk di pinggir tempat tidur Henry mengambil bubur pada nampan


"Kamu yang buat El?" tanya Henry


"Iyalah... Tenang ini tidak berisi racun kok kak, Tidak ada untungnya juga kalau aku meracuni kakak" ucap Elaine langsung menyuapi Henry tanpa persetujuannya terlebih dahulu


Henry memakan suapan demi suapan yang diberikan oleh Elaine. Matanya menatap wajah Elaine dengan lekat hingga bubur itu habis.

__ADS_1


"Heii kak, ada apa di wajahku?" Elaine melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Henry yang bengong menatapnya


"Ehhhh, ada upil tuh besar" ucap Henry memalingkan wajahnya


Elaine beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju kaca besar yang tergantung di tembok kamar Henry dengan masih membawa mangkok bubur dia mencari upil yang dikatakan Henry namun tak menemukannya.


"Ishhh kak Hen bohong" Elaine menghentakkan kakinya wajahnya berubah masam karna kesal dengan kelakuan Henry


"Hahahahaha, aduhhh.." Henry meringis disela ketawanya karna perutnya masih agak sakit


"Nahhh, itu tuh karna kak Hen bohongin aku makanya sakit kan perutnya lagi" Elaine duduk kembali di tepi ranjang Henry


Henry menghentikan tawanya dan wajahnya berubah menjadi serius. Dia nampak memikirkan sesuatu yang berat.


"Kak Hen kenapa sih? tadi ketawa sekarang malah diem aja" ucap Elaine


"Hmmm El, aku ingin mengatakan sesuatu padamu" Elaine hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan Henry. Entah mengapa justru Elaine yang tegang


"Kamu sempat menanyakan tentang pernikahanku kan? Hmmm.. Sebenarnya pernikahan itu terpaksa kulakukan..." Henry lalu menceritakan pernikahannya dengan Aliza yang diawali karna jebakannya persis seperti yang dikatakan oleh Bagas


Elaine berusaha mencerna kata demi kata ucapan Henry, hatinya sakit rasanya mendengar ucapan Henry. Rasa bersalah yang dulu dia rasakan kini muncul kembali bahkan lebih perih rasanya ketika dikatakan langsung oleh Henry. Tanpa sadar bulir bening lolos dari pelupuk mata Elaine yang menyebabkan Henry panik.


"Ishhhh kakak aku serius" Elaine mulai sebal dengan sikap Henry


"Aku juga serius"


"Jadi malam itu kakak tidak mau cerita karna takut aku tertawakan? Dasar!! Aku sampai menghawatirkan yang tidak-tidak. Aku sudah tau malah tentang pernikahan kakak" Elaine menyombongkan diri melipat kedua tangannya di dada


"Bagaimana kamu bisa tau? Kamu menyelidiki aku?" Henry heran dengan penuturan Elaine alisnya hampir menyatu karna ucapan Elaine


"Tentu saja, setelah mendengar kebenarannya aku malah menyalahkan diriku sendiri karna apa yang kakak alami"


"Heii... dengar, apa yang terjadi padaku itu hanya sebatas kecerobohan seorang Henry Mosha Alexander yang dimata orang sempurna tapi ceroboh juga. Kamu jangan sedih Ela aku baik-baik saja sekarang"


Henry menarik Elaine dalam pelukannya membelai rambutnya dengan lembut. Elaine menerima perlakuan Henry tanpa penolakan. Dia mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku kak, harusnya hari itu aku mencari kakak bukannya malah langsung pergi keluar negeri yang akhirnya menimbulkan kesalah pahaman kita" Elaine semakin menenggelamkan wajahnya di dada Henry


Henry melonggarkan pelukannya mendongakkan wajah Elaine dan menangkup kedua pipi yang sudah basah dengan air mata


"El dengar... Itu juga salahku harusnya aku menghampirimu dan membawamu pergi dari aula itu.. Tapi karna aku terlalu kesal jadilah seperti itu. Maafkan aku El" Henry mencium kening Elaine sesaat lalu kembali memeluknya

__ADS_1


"Baiklah aku maafkan tapi bunga mawar biru di luar aula yang tergeletak mengenaskan itu untukku kak?" Elaine mendonggakkan kepalanya masih dalam pelukan Henry


"Hahh mengenaskan?" tanya Henry


"Iyaaa bunganya hancur. Emang kakak apakan?"


"Ohhh aku buang sembarang saja lalu pergi" ucap Henry santai sambil mengelus rambut Elaine


"Kan kasian bunganya kak, harusnya kak kasi ke aku" Elaine menyebikkan mulutnya wajahnya cemberut


"Sudahlah jangan cemberut seperti itu nanti aku ganti bunganya ya" bujuk Henry


"Tapikan momentnya tidak sama kak" kesal Elaine


"Tidak apa kan lebih penting siapa yang memberikan" ucap Henry


"Selalu percaya diri tinggi, kemana kak Hen yang dingin kemarin-kemarin itu?" tanya Elaine sewot


"Henry yang itu hanya muncul pada orang lain, sedangkan Henry mode ini hanya muncul pada orang tersayang saja" Henry menampilkan senyum paling menawan yang tentu mematikan untuk para wanita. Elaine yang tersipu malah menenggelamkan wajahnya di dada bidang Henry. Wajah Elaine merah padam hatinya berbunga-bunga


"Hahahaha kenapa wajahmu merah El??"


"Ishhh apasih kakak, wajahku baik-baik saja" ucap Elaine


"Eh.. tapi kak bagaimana dengan anak-anak? kakak tetap menerima mereka kan? Bagaimanapun di tubuh mereka mengalir darah kakak juga. Bagaimanaoun maminya kakak tetap papa mereka" Seketika wajah Henry murung namun masih memeluk Elaine


"Hmmm itulah El, aku baru sadar jika aku gagal menjadi seorang papa. Aku ingin sekali memperbaiki hubungan ini tapi apa Dean mau menerima papa sepertiku?"


"Kak... Dean anak yang baik juga pintar, dia pasti akan menerima kakak. Makanya kakak harus percaya diri dekati Dean dengan perlahan dan juga lembut... Ehhh tapi kenapa Dean saja? Rava kan juga anak kakak jangan pilih kasih kak" ucap Elaine


"Tapi Rava kan..."


"Ekkkhheeemmm"


\===================================


Aku mau minta bantuan dong dari kalian, biar aku juga nambah semangat dong ya nulisnya. Jadi aku minta tolong kalian like dan komen juga vote karya ku yaaa💙💙💙💙


Terimakasih kalian sudah menyempatkan membaca kisah Elaine dan Henry..


Aku sayang kalian guys❤💙❤💙

__ADS_1


__ADS_2