Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 2


__ADS_3

Baru saja pesawat mendarat di negera Z, penumpang pun turun memasuki areal bandara negara Z.


Seorang wanita salah satu penumpang itu terlihat menjadi pusat perhatian dari pengunjung bandara. Wanita dengan tampilan sederhana tapi sangat elegan itu tak lain adalah Elaine yang baru saja sampai d negara Z. Dia tengah mencari keluarganya yang harusnya menjemputnya saat itu.


Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…


Ponsel Elaine berbunyi, bertuliskan  “Mama”.  Langsung saja Elaine menjawabnya “Hallo Ma… Mengapa aku tak dapat menemukan kalian, bukannya Mama bilang akan menjemputku?”


“Hallo sayang… Maaf nak kami tak bisa menjemputmu. Apa kau ingat Henry tetangga kita dulu?” ucap Ellen


“Iya, aku mengingatnya memang kenapa Ma?” jawab Elaine penasaran


“Istri Henry baru saja meninggal karna kecelakaan dan kami dalam perjalanan ke sana untuk melayat. Makanya kami tak bisa menjemputmu. Tapi sudah ada supir yang menjemputmu di parkiran bandara. Carilah dia dan susul kami kemari”


“Baiklah Ma… Aku akan segera menyusul kesana” kata Elaine. Dia sangat terkejut dengan kabar yang dikatan Mamanya karna setaunya Hennry baru beberapa tahun lalu menikah saat dirinya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.


Elaine pun bergegas menyusul keluarganya menuju ke kediaman Henry. Setelah menempuh perjalanan yang hampir memakan waktu 1 jam akhirnya Elaine sampai di kediaman Henry. Nampak banyak pelayat yang berdatangan.


Saat Elaine akan masuk ke dalam rumah itu seorang wanita paruh baya memanggilnya dan langsung memeluknya yang ternyata adalah Grace yang tak lain adalah mami Henry.


“Elaine…. Kaukah itu?”  ujar Grace yang langsung memeluk Elaine penuh kerinduan.


“Iya Tante.. Ini aku Elaine” ucap Elaine sembari membalas pelukan Grace.


“Wah, kamu jauh lebih cantik setelah lama kita tak bertemu. Tante sangat merindukanmu.”


“Aku juga sangat merindukan Tante. Aku turut berduka atas meninggalnya istri kak Henry tante. Maaf aku baru sempat kesini karna baru saja aku sampai di negara ini” ujar Elaine.


“Tak apa sayang. Tante sudah sangat senang karna kamu sudah kesini. Ayo masuk keluargamu ada di dalam” ajak Grace.


Elaine pun mengikuti Grace masuk ke dalam rumah menemui keluarganya. Elaine pun berbincang dengan keluarganya.


Namun pandangannya kian teralihkan melihat sosok yang dikaguminya dan dicintainya sejak kecil seorang pria dengan paras yang tampan tak lain adalah Henry.


Tapi perasaan aneh yang dirasakan, Henry sama sekali tak terlihat sedih akan kematian istrinya.


Henry nampak biasa saja dengan tatapan yang dingin dan datar tanpa menunjukkan rasa sedih dan kehilangan. Ekspresi yang tak pernah Elaine lihat sedari kecil yang tumbuh bersama Henry hingga saat ini.


Saat Elaine ingin menghampiri Henry namun belum sempat dia menghampirinya, tiba-tiba Henry menghadap ke arah Elaine dan tak sengaja melihatnya. Mereka pun beradu pandang tanpa salah seorang dari mereka menghampiri.


Mereka hanya diam membeku dengan


tatapan penuh kerinduan tak sadar keduanya meneteskan air mata. Perasaan rindu, amarah dan kesedihan bercampur menjadi satu terpancar dari matanya.

__ADS_1


Belum sempat saling menghampiri, orang lain menghampiri Henry yang tak lain adalah Victor yang merupakan ayah Henry.


“Henry ayo, pemakamannya akan segera dilaksanakan” ucap Victor mengajak Henry bergegas.


“Baiklah…” Henry mengakhiri pandangannya pada Elaine.


“Elaine, kamu kenapa? Kenapa menangis?” ucap Felix menghampiri adiknya.


“Ehhh.. Kakak, aku tak apa hanya saja tadi debu mengenai mataku akhirmya aku terlihat menangis hehe” kata Elaine sambil menghapus air matanya.


“Oh aku kira kenapa. Baru saja sampai di negara ini matamu itu sudah mengeluarkan air Hahahaha” sahut Felix.


“Dasar kak Felix, sudah tua masih saja suka membully adikmu yang cantik ini” balas Elaine sambil tersenyum.


“Sepertinya kadar kepercayaan dirimu semakin meningkat di selama kamu di luar negeri” Felix mangangkat satu alisnya dan tersenyum sinis pada Elaine.


“Sudahlah kalian ini, baru saja bertemu sudah bertengkar” ujar Ellen menengahi perdebatan


anak-anaknya


Pemakaman pun akhirnya telah selesai dilaksanakan dan para pelayatpun perlahan meninggalkan rumah duka. Sekarang disana hanya ada keluarga Henry dan Elaine yang berkumpul di ruangan keluarga.


Pandangan Elaine tertuju kepada dua anak yang sedang digendong oleh pengasuh mereka.


“Siapa anak-anak itu? Hmmm apa mungkin mereka adalah anak dari kak Henry. Mereka terlihat sangat tampan seperti ayahnya. Tapi kak Henry tambah tampan dan gagah sekali sekarang setelah beberapa tahun tak bertemu, ingin sekali aku memeluknya seperti dulu. Aduhhh apasih yang kamu pikirkan Elaine, ingat kak Henry baru saja kehilangan istrinya” ucap Elaine dalam hatinya


“Mereka anak-anak Henry sayang. Yang lebih besar namanya Dean usianya 4 tahun dan yang kecil namanya Rava usianya baru 2 tahun” jawab Grace sambil tersenyum.


 Tiba-tiba Rava rewel tidak mau diam yang sedang digendong oleh pengasuhnya. Entah kenapa Elaine bangun dari duduknya dan meminta menggendong Rava


“Biar saya saja yang gendong bik, sepertinya dia haus. Bibi buatkan susu saja” pinta Elaine sambil meminta menggendong Rava.


Sesaat setelah digendong oleh Elaine, Rava kembali tenang. Semua yang berada di ruangan itu kaget. Karna Dean dan Rava susah sekali ditenangkan oleh orang.


Elaine mangambil botol susu yang diberikan oleh pengasuh Rava dan segera memberikannya pada Rava.


Setelah susu dalam botolnya habis Rava yang masih digendong Elaine tertidur dengan lelap. Pemandangan itu tentu membuat Henry sangat terkesan matanya berkaca melihat pemandangan itu.


Diam-diam Dean memperhatikan sikap Elaine ke Rava. Langsung saja Dean yang digendong oleh pengasuhnya meminta diturunkan dan langsung memeluk tangan Elaine yang duduk di sofa sambil menggendong Rava.


“Tante… Aku juga mau digendong” ucap Dean lirih.


Semua hanya bisa terdiam saat melihat kedua anak Henry tiba-tiba bisa senyaman itu dengan Elaine padahal baru ketemu sekali.

__ADS_1


“Dean, jangan menyusahkan orang lain. Kamu sudah besar” ucap Henry dengan tatapan dingin.


“Tidak mau!!!!! Papa jahat” teriak Dean


“Dean, kamu jangan seperti itu dengan papamu. Tunggu sebentar ya tante bawa adikmu ke kamar dulu”


Elaine pun mengikuti pengasuh Rava ke kamar dan Dean terus saja memegang tangannya tanpa mau melepaskan tangan Elaine walaupun sebentar.


“Aku ke atas dulu semua” kata Henry pamit dengan semua orang diruangan itu dengan wajahnya yang


datar tanpa senyuman.


Saat Henry melewati kamar anaknya dia kembali terkagum degan Elaine yang bisa dekat dengan anaknya


melebihi dirinya sendiri.


“Mengapa kau sangat mengagumkan wanita cantikku. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau pergi meninggalkanku saat itu. Hmmmm entah kenapa anak-anakku bisa dekat denganmu melebihi dengan ibu kandungnya sendiri. Ingin sekali aku mendekat dan memeluknya melepas rindu ini. Tapi itu tidak mungkin karna dia pasti akan segera menikah sehingga dia kembali ke negara ini” gumam Henry dalam hatinya dan langsung masuk ke kamarnya.


Di ruang keluarga mereka masih sangat terkejut dengan kejadian barusan.


“Apa papa saja yang melihat ini aneh?” tanya Victor.


“Iya Pa, ini sangat aneh.. Bahkan kak Henry tak bisa menenangkan anaknya tp saat Elaine mencoba


menenangkannya keudanya bisa tenang dengan cepat” jawab Hugo.


“Elaine memang menyukai anak-anak, tapi aneh juga sih mereka bisa cepat nyaman dengan Elaine” sahut


Felix


“Apa mungkin ini karna Henry begitu menyukai Elaine sehingga anaknya juga sangat nyaman dengan Elaine”


celetuk Grace.


Semua orang menatap kearah Grace dengan pandangan penuh tanya.


“Hmmm… Maksudnya bagaimana ya Grace? Tanya Ellen


“Ehhh… Aduh aku jadi keceplosan. Begini jadi sejak dulu Henry memang sangat menyukai Elaine tapi entah mengapa saat Elaine pergi ke luar negeri Henry bilang sudah tak menyukainya lagi. Sehingga akupun menjodohkannya dengan Aliza tapi dia pergi begitu cepat” jelas Grace


“Kita tak bisa memprediksi kapan kita akan meninggal Ma, mungkin memang itu jalan yang harus ditempuh kak Henry” kata Hugo.


“Mungkin Henry dan Elaine belum jodoh, jika memang mereka ditakdirkan bersama maka mereka pasti bersama” sahut Daniel.

__ADS_1


Mereka kembali bercakap-cakap menghentikan membahas tentang Elaine yang tiba-tiba bisa dekat


dengan anak-anak itu.


__ADS_2