Cinta Pertamaku Kembali

Cinta Pertamaku Kembali
Bab 6


__ADS_3

Elaine dan Henry pun melakukan donor darah untuk dean. Mereka berbaring di ranjang yang berbeda namun bersebelahan. Henry memandangi wajah Elaine yang nampak sedikit pucat dan mata yang sembab habis menangis.


“El… kenapa kamu mau memberikan darahmu?” tanya Henry


“Kalau kak Hen kenapa?” Elaine balik menanyakan Henry


“Tentu karna dia anakku”


“Sama, karna Dean anak kak Hen” jawab Elaine yang masih memejamkan mata.


Henry tersenyum mendengar jawaban Elaine. Perasaannya semakin mencintai Elaine namun gengsinya masih lebih tinggi dibanding rasa cintanya. Tak lama mereka selesai donor darah. Mereka kembali ke depan ruang operasi bergabung dengan keluarga Henry. Henry menanyakan apa yang terjadi kepada anaknya pada mamanya.


Grace pun menceritakan bagaimana dean bisa terluka. Tentu saja itu membuat Henry mengeluarkan aura mencekam lagi.


“Nona Vita, sebaiknya anda pulang. Saya tidak perlu pengasuh disini. Dan jangan pernah berkunjung ke rumah saya lagi atau pun mendekati anak-anak saya” ucap Henry dengan tegas


Vita tidak bisa menjawab perkataan Henry. Dia hanya megangguk dan melangkah pergi. Pupus sudah harapannya untuk mendekati Henry,


“Kak Hen!! Jangan kasar begitu dengan wanita kak” ucap Elaine dengan nada agak tinggi


Belum sempat Henry membalas ucapan Elaine, Elaine tiba-tiba sakit kepala dan badannya lemas sehingga tidak mampu berdiri. Untung saja Henry sigap memegangi Elaine.


“El… kamu kenpa?”


“Ahhh… maaf kak, mungkin aku lelah karna mempersiapkan grand opening butik besok dan tadi selesai mandi langsung kemari” ucap Elaine


“Kamu sudah makan?”


“Belum kak”


“Ayo kita makan dulu” ajak Henry


“Nanti saja kak.. aku masih ingin menunggu Dean”


“Baiklah terserah kamu saja” Henry mengajak Elaine duduk di kursi tunggu, menyandarkan kepala Elaine di bahunya lalu merangkul bahu Elaine. Sedangkan Elaine sedang tak ingin berdebat dengan Henry jadi dia menerima semua perlakuan Henry yang menurutnya masih wajar.


Melihat sikap Henry tentu membuat orang tuanya heran. Henry yang selalu bersikap dingin dan acuh.


Bisa perhatian sekali dengan Elaine


“Papa, apa anak kita salah minum obat? Kalau iya aku akan membelikan obat itu sebanyak mungkin” Grace


berbisik kepada suaminya


“Obatnya hanya Elaine seorang” Victor terkekeh kecil agar tak di dengar oleh Henry dan Elaine


Beberapa saat kemudian dokter pun keluar dari ruang operasi dan menyampaikan bahwa kondisi dean saat


ini sudah bak-baik saja dan akan dipindahkan ke ruang rawat.


Tiga jam sudah berlalu sejak operasi usai, namun Dean masih belum sadarkan diri walaupun dokter sudah


mengatakan jika kondisinya baik-baik saja sekarang. Elaine tetap setia menunggu pria kecil itu bangun. Matanya sembab, wajahnya pucat dia duduk di kursi sebelah tempat tidur Dean.


“El, kamu istirahat saja dulu.. aku akan menjaganya” ucap Henry

__ADS_1


“Tidak kak.. aku ingin melihatnya membuka mata” balas Elaine


“Baiklah, tapi kamu harus makan dulu. Ini aku sudah belikan makanan tadi. Kalau kamu tak mau juga aku akan mengiirimmu pulang” Henry menarik tangan Elaine mengajaknya duduk di sofa dan makan. Tentu saja Elaine menurut pada Henry karna kalau tidak bisa-bisa dia tidak diizinkan untuk menunggu Dean.


Elaine dengan cepat menyelesaikan makannya dan kembali duduk di sebelah tempat tidur dean. Menunggu


pria kecil itu untuk bangun.


Henry hanya bisa diam melihat Elaine yang begitu khawatir dengan dean. Grace dan Victor memutuskan


untuk pulang karna sudah sangat malam.


Masih sibuk dengan laptopnya duduk di sofa sesekali Henry memperhatikan Elaine yang terus berada


di sisi dean. Elaine tertidur di sebelah dean tangannya terus memegang tangan kecil dean.


Henry menutup laptopnya menaruhnya di atas meja dan berjalan mendekati Elaine. Dia menggendong tubuh Elaine


menaruhnya di sofa dan menyelimutinya.


“Sungguh kamu selalu keras kepala Ela” mengecup kening Elaine dengan lembut.


Keesokan harinya*


Kreet…


Suara pintu terbuka membuat hanry terbangun. Henry menatap ke arah pintu ternyata orang tuanya yang


datang. Henry pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian Dean mulai membuka matanya. Elaine terbangun karna suara berisik orang-orang yang ada di ruangan itu. Tampak dokter sedang memeriksa kondisi dean dan Grace serta Victor di sampingnya.


“Tante… aku takut.. ada tante-tante yang wajahnya seram” ucapnya terbata-bata Dean menangis memeluk erat Elaine


“Tenang saja Dean, dia sudah tidak disini” Elaine berusaha menenangkan dean, mengusap-usap rambutya


dengan lembut


“Tante kenapa meninggalkanku?” rengek Dean yang masih memeluk Elaine dengan erat


“Maaf sayang… tante sedang bekerja jadi belum bisa berkunjung. Tante janji akan berkunjung setiap hari untuk Dean” ucap Elaine


“Tante… bolehkan aku memanggil tante Bunda?” tanya dean mendongakkan kepalanya menatap wajah Elaine


Grace dan Victor kaget dengan ucpan dean, begitu juga Henry yang baru saja keluar dari kamar mandi. Elaine


diam sesaat menatap orang-orang itu. Grace memberi anggukan pada Elaine seolah


mendukung permintaan cucunya.


“Tentu saja boleh sayang…” ucap Elaine


“Terimakasih Bunda, aku sangat senang. Sekarang aku punya Bunda” kata Dean menghapus air matanya dan


tersenyum lebar.


“El, bukannya hari ini ada grand opening butikmu?” Henry menyela pembicaraan Dean dan Elaine

__ADS_1


“Iya kak, tapi aku akan disini saja… nanti aku hubungi asistenku saja” ucap Elaine tanpa ragu


“Baiklah, terserah kau saja…”


“Papa, mama.. aku akan pergi ke kantor dan sorenya aku akan langsung berangkat ke negara X untuk mengurus perusahaan disana” Henry merapikan pakaiannya dan berkas-berkasnya hendak ke kantor


“Berapa lama kamu akan disana Henry?” tanya Victor


“Aku belum tau pa, mungkin beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan”


“Henry!!!! Anakmu sedang sakit bahkan baru siuman.. tidak bisakah kamu bersikap baik padanya? Kamu ini seorang ayah dengan dua anak!!” bentak Victor


Henry dengan wajah dinginnya keluar ruangan itu tanpa berkata apapun lagi. Victor beberapa kali membuang


napasnya dengan kasar. Dia tak mengerti lagi jalan pikiran anaknya.


“Dasar anak itu membuatku pusing dengan tingkahnya. Mengapa setelah menikah dia malah jadi seperti ini” ucap Victor memijat keningnya yang terasa berat


Suasana mendadak hening. Tak ada yang bersuara, sedangkan Dean masih berada dalam pelukan Elaine


*Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…*suara ponsel Elaine memecah keheningan diruangan itu setelah Henry pergi.  Elaine


meninta izin keluar sebentar untuk menerima panggilan


“Nona Elaine anda dimana? Apakah tidak ke butik?” tanya Vanya


“Aku tidak bisa ke butik untuk beberapa hari, tolong kamu urus acara hari ini seperti rencana ya..” ucap Elaine


“Mengapa? Apakah anda sakit?”


“Tidak… aku hanya ada urusan mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan” jelas Elaine


“Hmmm jadi kak Henry berubah sejak menikah? Sebenarnya apa yang terjadi


hingga dia berubah seperti ini. Hmmmm tunggu… jangan-jangan karna kesalah


pahaman kami yang membuat kak Henry berubah. Aku harus menyelidikinya..” gumam Elaine


Elaine menghubungi nomor Bagas yang merupakan asisten dari Felix. Selang beberapa saat panggilan pun


terhubung.


“Hallo kak Bagas” ucap Elaine


“Hallo nona. Ada yang bisa saya bantu?” balas Bagas


“Kak, aku ingin kamu menyelidiki kak Henry. Laporkan semua kejadian yang terjadi padanya 7 tahun terakhir selengkap-lengkapnya dan aku ingin laporan itu selesai esok”


“Baik nona”


“Dan jangan beritahu siapapun permintaanku ya kak. Termasuk pada kak Felix dan jangan panggil aku Nona!!!” ucap Elaine penuh penekanan pada akhir ucapannya.


“Haha… Kamu masih saja galak seperti dulu El. Secepatnya akan aku lakukan” Balas Bagas dengan senyuman kecil terukir di wajahnya.


“Trimakasih kak”

__ADS_1


Elaine memutuskan panggilannya dan kembali ke ruangan Dean.


__ADS_2