Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 1 -- Pacaran Yuk!


__ADS_3

"Pacaran yuk." kata Dimitri dengan tenang seolah-olah ajakan pacaran itu adalah ajakan untuk makan.


Cheryl terperangah, matanya membulat sempurna, mencoba mencerna kata-kata Dimitri barusan. Benarkah apa yang di dengarnya?


"Kita pacaran. Ya?" ulang Dimitri lagi seolah mengerti isi hati Cheryl. Kali ini dengan suara yang lebih rendah.


Oh! Ternyata Cheryl tak salah dengar. Jantungnya mulai berdegup tak beaturan.


Dia mengerjapkan matanya, tak berani menjawab. Mereka baru saja berkenalan, dan Dimitri sudah mengajaknya berpacaran. Bisa saja dia hanya bermain-main.


"Kamu pasti bercanda, Kak." jawab Cheryl pelan, tangannya mengaduk-aduk semangkuk es yang ada di depannya. Dia gugup.


Dimitri membetulkan posisi duduknya dan sedikit mencondongkan tubuhnya.


"Aku tidak bercanda." Katanya mencoba meyakinkan Cheryl.


"Mungkin semua ini terdengar konyol. Sebelum aku bertemu denganmu, Alex pernah cerita kalau ada kenalan Papanya menitipkan saudara jauhnya untuk bekerja di restaurant miliknya. Gadis itu kamu. Dia juga menceritakan bagaimana kamu bisa sampai di kota ini." Dimitri berhenti sejenak.


"Ternyata, aku langsung menyukaimu saat pertama kali Alex mengenalkanmu sebagai partner kerjaku." Lanjutnya lagi.


Cheryl masih terpana. Cowok manis berlesung pipit itu begitu blak-blakan soal perasaannya. Malangnya, Cheryl adalah tipe cewek yang gampang tersentuh hanya dengan sedikit kelembutan. Pengalaman pahit bersama Papanya seolah membuatnya haus kasih sayang.


*


"Papa sudah janji sama Pak Irwan. Bulan depan, kamu bakal nikah sama anaknya! Buat apa sekolah? Toh masuk dapur. Buang-buang uang saja!" geram Handoko saat mengetahui Cheryl mendaftar masuk SMA.


"Tapi guruku sudah membantu mendapat bea siswa ke SMA Favorite, Pah. Semua free." jawab Cheryl lirih, menahan air mata.


Cheryl sengaja menyebut kata free dengan harapan Handoko tak merasa keberatan mengenai masalah biaya. Entahlah, apa yang mendorong Handoko untuk menikahkan Cheryl di usia sangat muda.


Tak peduli penjelasan Cheryl, umpatan dan sumpah serapah dilontarkannya. Beruntung Nenek mendengar keributan itu, dia datang untuk membela. Cheryl merasa lega karena tak jadi dipukul.


"Selama aku hidup, cucuku harus jadi sarjana. Meski aku harus menjual rumah ini." katanya sambil menangis.


Hati Cheryl sakit karena kata-kata Handoko, tapi lebih sakit lagi saat melihat nenek membelanya sambil menangis. Nenek selalu menangis setiap Cheryl diperlakukan kasar oleh Handoko.


Jangan tanya dimana Mama Cheryl, karena Cheryl tak tahu apapun tentangnya. Sejak dia mulai bisa mengingat, hanya ada seorang nenek yang mengasuh, menyayangi dan selalu berjuang untuknya. Nenek yang selalu menjadi pelindung Cheryl dari kemarahan Papanya. Sedikit saja tak sesuai dengan keinginannya, caci maki dan pukulan yang akan didapat.

__ADS_1


Entah bagaimana prosesnya, yang jelas Cheryl tak jadi menikah. Cheryl tak peduli apakah pernikahannya dibatalkan atau ditunda. Yang paling penting, dia masih bisa belajar bersama teman-temannya.


Ekspektasi seringkali tak sejalan dengan realita. Lagi-lagi Handoko menyuruh menikah, alasannya karena dia sudah cukup umur untuk menikah, tujuh belas tahun.


Jelas saja Cheryl tak mau. Dia mau lulus SMA dan masuk Perguruan Tinggi. Lagipula, calon suaminya itu jauh lebih tua, dan sudah beristri.


Handoko tak terima dengan penolakan Cheryl, dia datang ke sekolah. Kepala sekolah dan wali kelas mendapatkan amukannya. Dia bilang kalau sekolah hanya mendidik seorang anak menjadi pembangkang.


Yang menyedihkan, Handoko memaksa sekolah untuk mencopot Cheryl sebagai perwakilan lomba matematika dan fisika. Sangat menyakitkan saat akhirnya guru-guru sepakat untuk menuruti bapak, daripada membuat masalah saat hari H.


Perasaan malu, kecewa dan sedih menjadi satu. Malu karena semua teman menyaksikan bagaimana barbar Papanya itu. Dan juga kecewa, karena tak jadi maju olimpiade setelah sekian banyak kerja keras dicurahkan dan waktu dihabiskan untuk belajar.


Rasanya sedih sekali karena mendapat orang tua seperti dia. Sejak kecil, Cheryl bahkan tak pernah meminta apapun darinya, hadiah atau pun kesenangan. Cheryl berusaha berprestasi supaya Papanya bangga dan menyayanginya. Tapi sia-sia, Handoko tak pernah peduli pada Cheryl.


Lagi-lagi berkat campur tangan Nenek, Handoko setuju untuk menunggu hingga Cheryl lulus SMA baru akan menikahkannya.


Aah..., tapi Cheryl memang serakah. Keinginan untuk masuk Perguruan Tinggi masih tetap menggebu. Cita-citanya masih sama, dia mau kuliah di design interior.


Mendekati kelulusan, ada pengumuman bea siswa dari beberapa universitas dan jurusan tertentu dengan syarat minimal nilai yang sangat mudah dipenuhi oleh Cheryl. Cheryl bahkan bisa lolos tanpa harus mengikuti ujian masuk.


Sebenarnya, jurusan itu bukan yang dia inginkan dan tak sesuai dengan passion-nya. Apapun itu, Cheryl menganggapnya sebagai jalan terbaik untuk keluar dari kota ini. Cheryl belum mau menikah, apalagi dengan pria beristri.


Dan, semua ini dilakukan diam-diam.


Lulus SMA artinya Cheryl harus menepati janji untuk menikah dengan orang itu. Tapi, Cheryl lagi - lagi menolak.


Sesuai perkiraan, Handoko marah besar. Tangan melayang dan ikat pinggang pun mampir ke tubuh Cheryl. Tubuh Cheryl terasa remuk.


Lebih remuk lagi hati Cheryl saat Handoko menyumpahinya.


"Tak tahu diri! Aku doakan hidupmu sengsara sampai tua. Kamu tidak akan pernah merasa bahagia. Dasar anak sialan!"


Selanjutnya kosakata kebun binatang serta umpatan kasar berhamburan dari mulut Handoko. Tidak cukup sampai disitu, Handoko juga tidak mengijinkan Cheryl pergi kemanapun hingga hari pernikahan.


Cheryl dikurung dan diikat dikamarnya serta tidak diberi makan. Katanya, ini adalah hukuman bagi pembangkang.


Lalu, diam-diam Nenek menolongnya. Dia memberikan tabungannya dan beberapa set perhiasan. Perhiasan itu juga boleh dijual kalau Cheryl terdesak suatu hari nanti.

__ADS_1


"Pergilah dan raih cita-citamu, Nak. Kemudian berbahagialah." kata Nenek sambil menangis.


Cheryl menghambur kearah Nenek, lalu mereka berpelukan erat, dan menangis bersama.


*


"Cheryl?"


Cheryl tersentak, panggilan Dimitri membuyarkan lamunannya.


"Aku takut jatuh cinta Kak." Akhirnya Cheryl memilih berkata jujur.


Dari lubuk hatinya yang terdalam, Cheryl takut kecewa seperti saat mengharapkan cinta dan perhatian dari Papanya.


Bukan karena dia tak menyukai Dimitri. Sejak awal mereka berkenalan, Cheryl sudah merasa nyaman bersamanya. Bagi Cheryl, Dimitri adalah orang yang perhatian dan hangat.


"Ayolah, kita akan belajar bersama. Sharing and caring, sampai kamu lulus dan mencapai cita-citamu." Dimitri berusaha meyakinkan.


Dimitri tahu benar bagaimana Cheryl kabur dari rumah dan harus sekolah sambil kerja demi menghemat uang pemberian Neneknya.


Cheryl belum bisa memutuskan, dia masih bimbang.


"Bagaimana? Jadilah pacarku." Dimitri tersenyum lembut.


Senyuman Dimitri menghangatkan hati Cheryl. Tatapan teduh itu berhasil menaklukkan hatinya.


Kemudian Dimitri mengulurkan tangannya, mengisyaratkan harapan supaya Cheryl menyambut perasaannya.


Akhirnya, dengan sedikit gemetar Cheryl mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Dimitri. Dalam hati, dia berdoa semoga keputusannya tak salah.


Mata Dimitri terlihat berbinar, dia segera menggenggam jemari Cheryl. Ada hangat menyelusup di hati masing - masing.


"Jadi kamu mau?" Dimitri meminta konfirmasi sekali lagi.


"Iya.... " Cheryl menjawab sambil mengangguk. Pipinya bersemu karena malu dan bahagia.


"Terima kasih, Cheryl." Senyum Dimitri mengembang.

__ADS_1


Jari-jari tangan mereka bertautan di atas meja di warung es kesambi.


Bersambung ya...


__ADS_2