
Tok... tok...
Tok... tok...
Tok... tok...
Samar - samar telinga Cheryl menangkap bunyi ketukan berirama, membawanya kembali dari alam mimpi. Sesaat dia celingukan, mencari dari mana asal suara itu. Pintu? Atau jendela? Atau mungkin saja seseorang sedang mengetuk kamar sebelah. Dinding antar kamar di kos ini sangat tipis, seringkali ketukan di kamar sebelah terdengar seperti berasal dari kamarnya sendiri.
Tok... tok... pssst...
Tok... tok... pssst...
Tok... tok... Cheryl...
Lho?
Ketukan itu kembali terdengar. Tak salah lagi, kali ini namanya disebut.
"Cheryl... Cheryl."
Suara yang familiar dan tanpa sadar membuatnya menunggu seharian ini. Sejak pagi tadi, mereka berpisah dan Dimitri berpamitan akan ke Semarang, dia belum muncul lagi. Biasanya pukul tujuh malam, Dimitri akan datang untuk mengajaknya makan malam. Atau kalau dirinya sedang kerja part time, maka Dimitri akan menjemputnya di cafe. Bergegas Cheryl menuju ke tempat asal suara itu.
"HOLAAAAA!!!" seru Dimitri bersemangat ketika. Cheryl membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman depan kos.
"PSSTTTTTTtttttttt....."
Suara desisan kompak terdengar dari balik punggung Dimitri, diiringi tatapan membunuh makhluk - makhluk yang spontan menyuruh Dimitri mengecilkan volume suaranya. Beberapa mahasiswa mengepalkan tangan di udara ke arah Dimitri yang tanpa sadar sudah berisik.
Dimitri nyengir, dengan jari telunjuk dan tengah teracung. Peace, man!
Spontan Cheryl menoleh ke arah desisan itu berasal. Matanya terbelalak. Gerombolan anak kost, baik kost mahasiswi mau pun mahasiswa sedang berkumpul. Diliriknya jam weker biru muda yang ada di meja belajar. Pukul 00.20? Astaga!
"Ngapain?" tanya Cheryl pelan saat dilihatnya Dimitri memberi kode untuk tidak berisik. Suasana malam yang sunyi membuat suara sekecil apa pun bisa terdengar.
"Makan - makan kita!" Seorang mahasiswa berseru dengan suara tertahan. Tangannya melambai ke arah Cheryl, memberi kode untuk bergabung.
"Ayo gabung!" sahut yang lainnya.
__ADS_1
"Let's go for party." bisik Dimitri.
Jempolnya mengarah ke gerombolan anak - anak kos mahasiswa dan mahasiswi yang sedang asyik dengan aktifitas mereka.
Mata Cheryl melebar. "Maksudnya semacam pesta tengah malam gitu?" Ingatannya melayang pada acara tengah malam pada novel yang pernah dibacanya, berjudul Semester Pertama Di Malory Towers Karya Enyd Blyton, tentang anak - anak badung di sekolah berasrama.
"Hey, Cheryl. You only live once." ledek Lianita sambil melambaikan tangannya.
Wow! Ada Lianita. Siapa sangka Lianita yang terlihat alim juga ada disana. Gadis itu mengenakan piyama lengan panjang dan menguncir rambut ala kadarnya.
Cheryl jadi penasaran bagaimana rasanya pwsta tengah malam bareng teman - teman, dia menggigit - gigit bibirnya sambil berpikir.
"Hey, bersenang - senanglah karena hari ini akan kamu rindukan." ucap Dimitri, mengutip kalimat dari band lawas Sheila On 7.
Dia langsung menarik tangan Cheryl dan memaksanya keluar dari kamar melalui jendela kamarnya yang cukup untuk diloncati tubuh semungil Cheryl. Gadis itu menyambar cardigan sekenanya dan meloncat keluar jendela.
YUP!
You Only Live Once!
Hidup cuma sekali, jangan di sia - siakan. Selama ini dia terus belajar dan bekerja. Kali ini dia tak akan membiarkan dirinya lulus tanpa memory! Biarkan saat ini dia menikmati masa mudanya.
"Shhh... dinginnya." ucap Cheryl, sambil merapatkan cardigannya dengan satu tangan.
"Nanti juga hangat." jawab Dimitri santai, dagunya menunjuk ke arah api unggun yang ada di ujung halaman. Teman - temannya sedang mengelilingi api unggun sambil membakar jagung.
Cheryl baru pertama kali merasakan apa yang namanya pesta tengah malam atau yang disebut sebagai barbeque time oleh teman - teman kost-nya.
Ya. Barbeque ala anak kos, menu utamanya jagung dan singkong yang dibeli dengan cara patungan. Menu tambahan roti tawar dan margarin, dari beberapa anak yang dengan rela mengeluarkan sisa makanan dari kamar mereka. Minumannya teh hangat dan wedang jahe.
"Aaaa.... " Begitu melihat Cheryl datang, Lianita menyodorkan ketela bakar yang sudah matang ke mulut Cheryl, begitu tiba di dekat api unggun.
"Han.. niezz... " Cheryl membuka tutup mulut dan mengipas tangannya di depan mulut, ketelanya masih panas. Lianita dan beberapa gadis cekikikan melihat mulut Cheeyl yang megap - megap kepanasan.
Dimitri diam - diam mencuri pandang, ikut bahagia melihat Cheryl, yang terkenal pendiam, sudah mulai mempunyai teman di kost itu. Harapannya Cheryl bisa feel at home di kost ini.
"Hey, tambah lagi bumbunya!" perintah Reni yang bertubuh sedikit gemuk. Tangannya memegang dua jagung sekaligus untuk dibakar.
__ADS_1
"Makan teros....diet kapan - kapan." sindir seorang pemuda berbadan tinggi kurus dengan panggilan Acong menumpuk kayu bakar.
"Baunya wangi banget." sahut Devi sambil mencium - cium mangkuk berisi bumbu jagung bakar.
"Nah, perlu apa lagi?" Tanya Mbak Cici, seorang mahasiswa hitam manis dari Solo.
"Gitar, Mbak. Ayo duet sama aku." ucap Dimitri, matanya mengerling iseng. Dia tahu Mbak Cici mempunyai suara yang bagus dan suka sekali menyanyi.
Mbak Cici menoleh ke Dimitri dengan mata berbinar - binar seolah berkata ide bagus.
"Wooi... Tomi! Pinjam gitarmu dong!" Tanpa sadar Mbak Cici berseru pada Toni. Dia lupa aturan pesta tengah malam inj adalah tidak boleh berisik.
"PSSTTTTTTtttttttt..... "
Desisan disertai tatapan membunuh kali ini diarahkan kepada gadis solo yang baru saja berteriak.
Ups!
Mbak Cici hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajahnya, sebagai permintaan maaf. Anak - anak mahasiswi lainnya malah cekikikan. Mereka takut ketahuan ibu kos, tapi juga ingin barbequan. Mereka menepis keraguan, dan melanjutkan kegiatan malam yang bagi mereka dianggap memacu adrenalin.
Suara - suara antusias tertahan, bisik - bisik dan saling mengingatkan untuk tidak berisik terus mengiringi malam yang semakin gelap.
Diam - diam Cheryl tersenyum lega, teman - teman kost-nya ternyata anak - anak baik. Tidak seperti yang di dengarnya seperti saat dia hendak masuk kemari. Salah satu alasan, yang membuatnya jarang bergaul dengan siapa pun selain Dimitri yang memang kerja part time dengannya, dan juga Lianita yang memang ramah.
Dia duduk di bangku kecil sambil menikmati wedang jahe hangat di gelasnya dan mengamati tingkah polah anak - anak kos yang lucu dan saling iseng satu sama lain.
Tomi menakuti Mbak Cici dengan meletakkan akar tanaman kering di bahunya, hingga Mbak Cici terpekik ngeri. Ingin berteriak takut terdengar sampai ke rumah tinggal ibu kos atau ditegur tetangga. Mau diam, dia geli karena dipikirnya akar tanaman tadi adalah ulat.
Perasaannya terasa menghangat. Sesaat dia melupakan soal Neneknya yang sudah tak ada, tak lagi memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Dimitri. Biarlah begini saja sudah bahagia.
"Kami ini anak - anak baik." Tau - tau Dimitri sudah duduk di sebelah Cheryl. Dia tersenyum dan menatap Cheryl teduh, lalu melanjutkan kata - katanya. "Kami suka party tapi bukan nar-ko-ba. Kami sering minum - minum tapi hanya teh dan wedang jahe. Kami tak melakukan free s-e-k-s but yeah... we always have a party like this."
(Kami selalu berpesta seperti ini.)
Cheryl mengangguk, matanya kembali menatap keseruan yang dilakukan oleh teman - temannya. "Mereka semua seperti saudara ya Kak?"
Diam - diam tangan Dimitri menggenggam Cheryl hangat. "Bertemanlah dengan mereka, nanti kamu bakal tahu the meaning of Ohana."
__ADS_1
Bersambung ya....