
Pagi - pagi sekali, Dimitri sudah bangun, mandi dan membereskan beberapa file untuk skripsinya. Kemudian dia buru - buru pergi ke kos cewek.
Hari ini bakal sangat sibuk, semalam dia belum bertemu dengan Oma dan Keisya tak muncul lagi setelah masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya, Dimitri memutuskan untuk kembali ke kos dan sudah pasti kedua orang itu akan memanggilnya untuk bertemu hari ini atau setidaknya mereka akan datang berkunjung kemari.
Sebelum menyibukkan diri dengan Oma dan Keysia, Dimitri ingin memastikan Cheryl sarapan dengan benar sebelum memulai harinya. Gadis itu punya kebiasaan untuk brunch, dengan alasan hemat. Makan pagi digabung dengan makan siang.
"CHERYL... CHERYL!" panggil Dimitri beberapa kali dari depan jendela kamar Cheryl yang menghadap halaman luar. Cara memanggilnya sudah seperti anak TK yang mau mengajak temannya pergi main.
Hm... , tak ada jawaban?
Biasanya Cheryl langsung membuka jendela dan menyapanya. Dimitri melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul enam pagi. Setau Dimitri, Cheryl bukan tipe orang yang suka bangun siang.
"CHERYL... CHERYL... !" kali ini Dimitri sambil mengetuk jendela kaca di hadapannya. Ada celah kecil dari korden yang sedikit terbuka, ingin sekali Dimitri mengintip tapi takut dituduh mes-um.
Ah, sial! Dimitri meninggalkan ponsel di kamar karena terburu - buru. Andai saja ada ponselnya, dia pasti langsung menelepon Cheryl.
"Eh, Kak Dimi. Ngapain disitu?" Bu Budi keluar dari gerbang kos cewek, yang letaknya berdekatan dengan tempat Dimitri berdiri. Posisi kamar Cheryl memang paling depan dan berdekatan dengan gerbang masuk kos cewek.
"Mau mengajak Cheryl sarapan, Bu. Tapi dipanggil - panggil kok tak ada respon." jawab Dimitri. Dalam hati dia bersyukur karena tadi dia tidak jadi mengintip, bisa - bisa malu.
"Lho lha wong Non Cheryl pagi - pagi sudah sibuk ngurus pitik, Kak Dim... " sahut Bu Budi. Tangannya mengambil sepatu lidi panjang yang digantung dekat gerbang, dia mulai bergerak menyapu halaman depan. Tugas rutin Bu Budi setiap pagi.
OH!
Dimitri sampai lupa sama anak - anak ayam lucunya karena terlalu sumpek dengan Keysia. Entah kenapa hatinya terasa berat setiap bersama Keysia, Dimitri tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Keysia.
Ah, kontradiksi sekali dengan perasaannya terhadap Cheryl. Tanpa diminta pun, dirinya ingin selalu menuruti permintaan Cheryl.
"Ayam - ayamnya ditaruh dimana Bu?" tanya Dimitri. Sekali bertanya dua jawaban dia dapatkan. Dia tahu dimana ayam itu sekaligus pemiliknya.
__ADS_1
"Pak Kumis bikin kandang buat anak ayamnya Non Cheryl di kebun belakang. Kak Dimi kalau mau ketemu Non Cheryl susulin aja gih." jawab Bu Budi sambil tersenyum - senyum genit. Dia tahu kemana arah dan tujuan pertanyaan pemuda di hadapannya.
"Ini ayam potong, Mbak Cheryl. Kalau sudah gede nanti kita sembelih trus minta Bu Budi masak. Boleh ya Mbak?" Pak Kumis belum apa - apa sudah minta ijin buat menyembelih ayam itu.
"He? Kok dipotong?" Mata Cheryl membulat lucu.
Kepalanya bolak balik menoleh ke arah Pak Kumis dan anak - anak ayam itu, dengan tatapan tak percaya. Dia membayangkan anak - anak ayamnya yang lucu mati, dikuliti kemudian di goreng.
Oh, tidak, tidak. Dia memang suka ayam tapi mana mungkin dia tega makan peliharaannya sendiri. Cheryl berjongkok dengan wajah serius menatap anak ayam yang mungkin hanya akan satu hingga dua bulan bersamanya. Setelah itu mereka akan di potong.
"Lha namanya ayam potong, Mbak. Kalau ndak mau di sembelih, lain kali beli ayam hias." sahut Pak Kumis. Dia menyelesaikan kandang ayam sambil menberi kuliah cara merawat anak ayam kepada Cheryl.
Kandang ayam sudah jadi, dan sekarang Pak Kumis memasang dua buah lampu bohlam berukuran 5 watt. Mereka berdua begitu asyik sampai tidak memperhatikan Dimitri yang sudah ikut berjongkok di belakang mereka.
"Anak ayamnya lucu ya Cher?" sapa Dimitri lembut.
Mendengar suara Dimitri, serta merta Cheryl menoleh dan mengungkapkan kegalauannya. "Kak Dimi! Pak Kumis bilang kalau sudah besar, dua bulan lagi mau dipotong ayamnya... " Mulut Cheryl mencebik dan matanya terlihat sedih.
Cheryl memutar bola matanya. Dia masih ingin bermain dengan anak ayamnya. "Bapak tadi udah kasih makan ayam - ayamnya." jawab Pak Kumis yang juga senang karena mendapat mainan baru.
"Nah! Ayuk... " Dimitri menarik tangan Cheryl. "Pergi dulu, Pak." pamit Dimitri sambil melambai dengan tangan satunya.
Cheryl mengikuti langkah Dimitri sambil bertanya - tanya. Kak Dimi-nya nampak terburu - buru. Dia langsung mengajak Cheryl ke tempat parkir sepeda motor dan memberikan helm. Cheryl mengerutkan kening.
"Aku kan belum pakai jaket?" tanya Cheryl heran. Biasanya Dimitri paling cerewet soal jaket atau sweater, udara di Salatiga dingin menusuk di pagi dan malam hari. Apalagi mereka hanya naik motor.
Dimitri berpikir sejenak, waktu sudah menunjukkan pukul hampir setengah tujuh. Dia tak mau terpergok sedang bersama Cheryl. Tapi Cheryl benar, dia tidak pakai jaket.
"Lima menit ya, Cher. Ambil jaket trus langsung balik lagi." perintahnya lembut.
__ADS_1
Cheryl mengangguk patuh dan berlari ke arah kamar kost-nya. Dimitri menghembuskan napas, rasanya seperti pencuri yang harus mengendap - endap karena takut ketahuan. Menyebalkan!
'Kenapa dirinya harus bertemu Cheryl kalau pada akhirnya mereka tak bisa bersatu?'
Pertanyaan yang hingga detik ini belum menemukan jawaban, bahkan otaknya yang cerdas pun tak pernah bisa menemukan jawabannya.
"Kak Dimi!"
"Dimitri!"
Ugh!
Dua suara wanita memanggilnya di saat bersamaan. Ini dia yang ditakutkannya dari tadi. Dimitri memejamkan mata, tangannya mencengkeram erat setang sepeda motornya karena kesal pada dirinya sendiri yang lagi - lagi tak berdaya.
Cheryl terpaku di tempatnya, dia sudah mengenakan jaket dan helm, siap meluncur bersama Dimitri. Dan, ternyata ada Keysia di hadapan mereka sekarang. Astaga! Alasan apa. lagi yang harus diberikannya kepada tunangan Dimitri itu?
Sementara itu, Keysia melangkah anggun dengan gerakan slow motion menghampiri Dimitri tanpa melepaskan pandangannya dari Cheryl. Pandangan penuh kebencian.
Tak jauh dari Keisya, Dimitri dan Cheryl, sosok Oma Shinta berdiri di gandeng oleh perawatnya. Dia menatap tiga anak muda di hadapannya dengan tatapan tak terbaca.
Usianya yang sudah banyak, membuat beliau bisa merasakan ada yang tak beres dengan hubungan mereka bertiga. Apalagi sejak pagi tadi, mood Keisya terlihat buruk. Oma Shinta juga mendengar dari Keysia kalau semalam cucunya datang ke hotel dan tidak menemuinya karena dirinya sudah tidur.
Oma Shinta menerka - nerka.
Cinta Segitiga?
Perseling-kuhan?
Atau hanya salah paham?
__ADS_1
Bersambung ya....