
"Kita kemana Kak Dimi?" tanya Cheryl bingung.
Dia baru menyadari kalau Dimitri sudah menarik tangannya dan berjalan keluar dari pelataran rumah sakit.
"Aku dengar kamu belum makan dari tadi. Ayo, kita makan sesuatu." Dimitri berjalan menuju sebuah restaurant sushi di depan rumah sakit. Cheryl terpaksa mengikutinya, dia juga tak mau ribut lagi dengan Papanya di dalam.
Melihat Cheryl tidak mau memesan apa pun, Dimitri berinisiatif memesan tiga porsi sushi dan dua teh manis hangat untuk mereka berdua.
"Aku nggak lapar." ucap Cheryl pelan.
"Kamu harus makan." perintah Dimitri tegas.
Saat makanan tiba, Dimitri mengambil beberapa potong sushi dan meletakkannya di piring Cheryl dan juga piringnya. Mentaiko seafood roll, maguro roll, usuguri roll yang terlihat menggiurkan itu tak juga bisa membangkitkan selera makan Cheryl. Gadis lebih banyak diam dan termenung.
Dimitri memakan bagiannya. Dia menoleh ke arah Cheryl yang tidak mau menyentuh makanan di depannya sama sekali. Perlahan dia meletakkan sumpit ke dalam tangan Cheryl.
"Makan." ucapnya tegas.
Cheryl cemberut lalu sebutir air mata jatuh membasahi pipinya.
"Aku tau kamu memikirkan nenekmu. Tapi aku nggak mau kamu menyiksa dirimu sendiri. Jangan menambah beban pikirannya dengan mendengar kabar kalau kamu sakit."
Menyebalkan sekali, tapi Dimitri benar. Sekarang perutnya harus diisi kalau tak mau kena maag. Lagipula manusia masih boleh berharap keajaiban kan? Meski pun sangat kecil.
Cheryl menoleh ke arah Dimitri lalu pandangannya beralih ke makanan lezat yang ada di hadapannya. Mendadak Cheryl tersentak, ingatannya kembali kepada hubungannya dengan Dimitri.
"Bukankah ini semua makanan mahal?" tanya Cheryl sambil memandang deretan sushi di hadapannya. Ini jelas - jelas bukan makanan low budget ala anak kos. Dia juga kembali teringat bagaimana 'mewahnya' kamar Dimitri.
Dimitri tertawa pelan. "Yang jelas lebih murah dari Sushi Tei, dan rasanya juga enak."
Cheryl melongo, rasanya tak tega menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk tiga porsi sushi. Kalau dihitung - hitung uang yang dihabiskan untuk sekali makan di De'sushi, bisa digunakannya untuk makan sederhana selama dua hari.
"Sekali - kali nggak apa - apa. Aku yang traktir." kata Dimitri lagi saat melihat reaksi Cheryl.
"CK!"
"Why? Nggak suka?" tanya Dimitri. Dia menoleh saat mendengar Cheryl berdecak.
Cheryl mengangkat alisnya. "Kamu tau, Kak?"
"Apa?"
"Satu - satunya yang membuatku merasa sedikit lebih baik, di kondisi menyedihkan seperti ini, adalah aku jadi tak sempat memikirkan sakit hatiku padamu."
__ADS_1
Cheryl mengatakan semua itu dengan nada datar tanpa emosi apa pun. Namun suaranya yang pelan dan halus justru menyayat hati Dimitri. Pemuda itu menghela napas. Dia tahu gadis dihadapannya sedang kecewa terhadap dirinya. Mau bagaimana lagi, dia memang salah dari awal.
"Habiskan dulu. Setelah itu baru kita bicara. Ya?" kata Dimitri lembut.
**
Sepintas Dimitri melihat sosok yang sangat dikenalnya melintas dengan cepat menuju pintu masuk rumah sakit. Cheryl? Apa yang dilakukannya di sini? Ini Semarang dan bukan Salatiga. Dari raut wajahnya yang panik dan langkahnya yang terburu - buru, sepertinya ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Dimitri!" panggilan Keysia mengembalikan fokus Dimitri kepada orang - orang di hadapannya.
Setelah 'tertangkap basah' kemarin bersama Cheryl, Dimitri terpaksa pulang ke Semarang untuk menemani Keysia sekaligus menengok Oma Shinta. Dan hari ini Keysia, lebih tepatnya Keysia dan Dimitri, sedang mengantar Oma Dimitri untuk check up rutin di rumah sakit St. Elizabeth.
"Kamu beneran nggak mau mampir ke rumah?" tanya Keysia.
"Maaf, aku harus kembali ke Salatiga hari ini. Besok aku ada janji ketemu dosen dan paperku belum selesai." kata Dimitri beralasan.
"Aku bisa mengantarmu setelah mengantar Oma pulang. Biar aku suruh anak buah Papa mengirim motormu ke Salatiga besok." kata Keisya penuh perhatian.
Hari ini mereka mengantar Oma dengan kendaraan masing - masing, Keysia bersama Nenek dan suster dengan mobil milik Keysia. Sedang Dimitri lebih suka mengendarai sepeda motornya sendiri.
"Nggak usah, Key. Terima kasih. Aku sudah cukup merepotkanmu dengan kondisi Nenek." Dimitri menolak, karena ada yang harus dilakukannya sekarang.
"Baiklah, Nek. Dimi pamit pulang ke kost dulu. Nenek sehat - sehat ya, begitu libur Dimi pasti tengokin Nenek." Dimitri menyudahi percakapan mereka. Dia memeluk dan mencium pipi Neneknya.
Begitu mobil Keysia menghilang, mata Dimitri kembali mencari - cari sosok yang dari kemarin dirindukannya.
Nah, itu dia. Orang yang dicarinya sedang berbicara serius dengan salah seorang satpam.
"CHERYL!"
Namun yang dipanggil sama sekali tak mendengar. Tak lama datanglah seorang pria paruh baya menghampiri dan membimbing Cheryl untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dimitri mempercepat langkahnya untuk mengejar Cheryl.
"CHERYL." panggilnya sekali lagi. Dimitri setengah berlari mengejar Cheryl masuk ke dalam rumah sakit.
"Maaf, Dik. Pengunjung dilarang masuk diluar jam besuk." tegur seorang satpam dengan sopan. Telapak tangannya menunjuk ke papan kecil bertuliskan jam besuk pasien.
SIAL!
Dimitri melirik arloji dipergelangan tangannya, baiklah tak sampai tiga puluh menit lagi jam besuk sudah mulai.
"Maaf, Pak. Anak gadis yang barusan tadi kenapa bisa masuk? Ini nggak fair lho, Pak." protes Dimitri.
"Oh, maaf Dik. Gadis tadi punya kartu jaga untuk menunggu pasien jadi dia diijinkan untuk masuk."
__ADS_1
"Apa tadi dia bilang mau ke kamar berapa Pak?" Tanya Dimitri lagi.
"Dia tadi cuma bertanya dimana ruang operasi. Dan bapak yang tadi sudah datang untuk mengajaknya masuk."
"Terima kasih, Pak."
*
"Kasihan kamu, Kak Dimi." ucap Cheryl sambil tertawa. Tawanya terdengar sumbang.
Dimitri mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"There's no way out."
"Untuk?"
"Keluar dari pertunanganmu."
"Tapi aku tak pernah menyukainya."
"Bohong!"
"Nope!" jawab Dimitri dengan tegas. "Keluarga kami dekat dari dulu, sejak kami masih kecil. Iya, dia gadis yang baik dan manis. Tapi aku hanya menyayanginya sebagai adikku. No more no less."
Cheryl menatap dalam - dalam pemuda dihadapannya, lalu dia menghembuskan napas. "Lupakan saja Kak Dimi."
"What?"
"Lupakan kalau kita pernah dekat." lanjut Cheryl, dia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Tapi... "
"Kamu berhutang budi sama Keysia, Kak!" potong Cheryl cepat sebelum Dimitri sempat berargument.
"Keputusan pertunangan itu tanpa persetujuanku, Cher. Semuanya karena Oma." keluh Dimitri putus asa.
"Tapi apa kamu ada pilihan lain? Oma nggak akan cuci darah kalau tanpa keluarga Keysia. Hutang uang bisa dibayar, hutang budi tak bisa." suara Cheryl sedikit bergetar.
Sesaat Dimitri termangu, kemudian dia mengusap wajahnya kasar.
"SH -- IT!" geramnya, kesal pada keadaan dan juga dirinya sendiri.
Bersambung ya....
__ADS_1