
SIUUUUTTT KRATAK KRATAK!
SIUUUUTTT KRATAK KRATAK!
"WOW! WOW!"
"Waaaah... "
"Haha.... "
SIUUUUTTT KRATAK KRATAK!
SIUUUUTTT KRATAK KRATAK!
"Lagi! Lagi!" seru Cheryl.
Malam sudah hampir menghilang, hari menjelang pagi. Udara dingin Salatiga yang menusuk tak membuat anak - anak itu segera masuk kamar. Mereka malah bermain kembang api. Tomi mendadak ingat kalau dia punya sisa kembang api di kamarnya.
Aroma jagung bakar, singkong bakar dan bau api dari sisa kayu api ungun asap dari arang yang baru saja dimatikan. Sebagian barang sudah di bereskan, sebagian berantakan.
"Nih!" Dimitri menyodorkan kembang api sparkle pada Cheryl. Cheryl meraih ujung kawat kembang api itu dan memegangnya dengan hati - hati. Ini pertama kalinya dia bermain kembang api sebanyak ini. Selama ini mana mau Papanya membelikan sedikit saja kesenangannya.
"Mau! Mau!"
"Aku juga!"
Pekikan tertahan dan antusias para gadis menyambut kembang api dari Dimitri. Pemuda itu dengan senang hati membagikan, dan menyalakan satu per satu kembang api di tangan para gadis.
Entah siapa yang memulai, mendadak alunan lagu dari grup band lawas Sheila On Seven terdengar.
Pegang pundakku jangan pernah Lepaskan
Bila ku mulai lelah
Lelah dan tak bersinar
Remas sayapku jangan pernah Lepaskan
Bila ku ingin terbang
Terbang meninggalkanmu ho ho ho ho ha ho
Tak pernah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini ho ho ho ho
Mereka bernyanyi sahut menyahut, kembang api ikut bergoyang mengiringi nyanyian sumbang mereka. Wajah - wajah ceria di balik pendar kembang api yang hanya menyala sesaat, di iringi cekikikan dan diiringi letupan kembang api kecil - kecil, semakin berisik. Lupa dengan rencana mereka untuk tidak berisik. Biarkan mereka berpesta sampai pagi.
__ADS_1
Cheryl mengulum senyum, dia sekarang tahu kenapa kost ini di gosipkan yang tidak - tidak. Tapi peduli apa, 'Kami bukan anak - anak nakal.' Cheryl mendeklarasikan kalimatnya dalam hati.
Melihat Cheryl yang antusias, Dimitri berkata. "Rasanya setelah ini kembang api bakal jadi favoritmu." Dia menyelipkan jari - jarinya di antara jari Cheryl. Bergandengan tangan.
Cheryl mengangguk, matanya berbinar. Pertama kali dalam hidupnya bisa bermain dengan bebas. Selama ini dirinya selalu dibayang - bayangi dengan ketakutan karena Papanya. Tak bisa berteman karena harus membantu nenek, tak boleh pergi keluar rumah karena Papanya akan ngamuk. Lagipula, dia harus belajar dan belajar untuk mengejar bea siswa.
"Kapan - kapan aku mau lihat kembang api yang banyak seperti di TV." gumam Cheryl tanpa sadar.
"Lihat! Lihat!" Dimitri mengedikkan dagunya ke arag Tomi.
Pemuda dengan tubuh sedikit gemuk itu sedang berusaha keras menancapkan kembang api berbentuk seperti tongkat di tanah yang keras.
"Namanya spinwheel. Kalau dinyalakan dia akan meluncur ke atas dan meledak di udara. Ledakannya akan berbentuk seperti kincir angin atau bunga api." ucap Dimitri menjelaskan.
Ups!
Kembang api itu jatuh lagi
"Tanahnya terlalu keras dan berbatu." keluh Tomi.
Heri meraih kembang api itu dan mencoba membantu Tomi untuk memasangnya. "Ah bisa begini! Cuma bisa dilakukan oleh orang pro." Heri berdiri dan menepuk dada bangga saat kembang api itu berhasil menancap.
PLUK!
Eh? Jatuh lagi!
Anak - anak itu saling pandang dan tertawa terbahak. Hal simple seperti itu saja sudah bisa memancing tawa mereka. Mungkin inilah definisi bahagia itu sederhana.
"Aku ada ide!" Devi yang berambut panjang dan kalem mendekat dan menyodorkan botol kosong bekas minuman. Entah dimana dia menemukannya.
Mendengar pertanyaan Tomi yang terdengar konyol di telinganya, Devi mencebik.
"Tancap kembang apinya disinilah. Buat apa lagi?"
"Hm-hm."
Good idea!
Sebuah kembang api terpasang di dalam botol siap meluncur, imajinasi anak - anak itu melayang terbang. Mereka berkerumun seolah sedang melihat peluncuran roket pertama menuju bulan.
Sifat dasar manusia adalah tak pernah puas, setelah menemukan ide memasang kembang api di botol, sekarang muncul rasa penasaran bagaimana kalau meluncurkan dua atau tiga roket sekaligus.
Heri menambahkan dua buah spinwheel ke dalam botol.
"Cukup, Her. Nggak muat botolnya nanti." tegur Dimitri. Dia Dia memang teliti dan banyak pertimbangan.
Tomi tanpa pikir panjang langsung menyalakan sumbunya, semua mata memandang.
BLUSSH
"LHO?!"
__ADS_1
Terdengar koor anak - anak ber-lho. Kembang apinya melempem. Mungkin karena terlalu lama di simpan ditambah dengan udara Salatiga yang selalu dingin, membuatnya jadi dia tak bisa menyala dan malah mengeluarkan asap dan bunyi berdesis.
"Yaaah... "
Wajah - wajah kecewa muncul di raut anak - anak. perempuan. Gagal melihat si spinwheel meluncur di langit.
"Eh, bisa kok. Bisa!"
Tak tega melihat wajah 'saudara - saudaranya' yang kecewa, Tomi mengutak utik kembang api di dalam botol.
"MINGGIR, TOMI!" teriak Dimitri. Matanya melihat ada percikan api kecil di ujung kembang api.
Tomi terkejut, dia langsung meloncat mundur sampai - sampai terjatuh dengan posisi pantat terlebih dulu.
Ssssss... kembang api berdesis bersamaan, tapi tak bergerak dari tempatnya. Asap mulai keluar semakin banyak.
Devi, Lianita, Nana, Mbak Cici dan beberapa anak perempuan lainnya melongo, tanpa sadar tangan mereka mengepal. Menyadari ada bahaya mengintai.
"AIR!" pekik Cheryl.
Terlambat! Kembang apinya berhasil meluncur, wajah - wajah yang semula tegang berubah lega.
PLUK!
Botol tempat landasan roket kecil itu terjatuh. Ugh! Gawat! Dimitri menarik tangan Cheryl, menyingkir menjauh dari area kembang api.
"BOTOLNYA!" teriak Dimitri lagi. Ada satu kembang api spinwheel yang tersisa di botol. Dan botol itu terjatuh dengan posisi kembang api masih di dalamnya.
WOAH! Pekikan histeris cewek - cewek bergema, mereka kalang kabut menyingkir. Asap semakin tebal, percikan - percikan dari sumbu spinwheel di dalam botol malah semakin banyak.
Ngiiiiing... blus... blus...
Kembang api meluncur ke atas tanpa pendar cahaya yang indah, hanya meninggalkan asap. Sebagian terbatuk - batuk, Cheryl menutup hidungnya. Bau bubuk kembang api yang terbakar mengudara.
SIUT! BLUSH!
KRATAK... blush... blush...
Hah?
'Anak - anak badung' itu bertukar pandang, saling menatap horor. Bukannya mengudara, kembang api itu naik sesaat dan malah jatuh di beranda lantai dua.
"Haduh!" suara Tomi terdengar hampir menangis. Tangannya menunjuk ke pusat asap pagi ini.
"Uhuk! WOI! Kalian anak - anak nakal!" suara batuk diiringi suara berat laki - laki terdengar dari paviliun lantai dua.
"Sial!" umpat anak - anak laki - laki.
Anak - anak perempuan saling menyenggol, suasana riuh mendadak sepi. Mendadak jantung Cheryl berdegup kencang, genggaman tangan Dimitri tak membantunya untuk tenang. Dia paling takut kena marah. Emosi papanya meninggalkan trauma tersendiri di hatinya.
Ya. Kembang api itu mendarat di kamar Satriyo, seorang arsitek yang menyewa kamar atas dengan posisi menghadap ke jalanan. Anak - anak menyebutnya paviliun atas.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi dengan mereka?
Bersambung ya....