
"Serius amat?" seru Lianita, tiba - tiba saja nongol di kamar Cheryl yang sedang mengerjakan 'tugas' terjemahan.
Laptop pemberian Dimitri memang sangat berguna, Selain sangat membantunya untuk mengerjakan terjemahan, Cheryl sedang mencoba - coba menggambar digital. Hobby-nya menggambar sejak kecil terpaksa berhenti karena Papa yang tak mendukung.
Cheryl hanya tersenyum, matanya tak lepas dari layar laptop. Dia sibuk mengetik di laptopnya sambil sesekali menghirup air putih di dalam cangkir. Terlihat nikmat sekali, karena untuk membeli snack pun Cheryl tak mau. Dia tak ingin membuang - buang uangnya. Jadi anggaplah air putih ini adalah kopi starbucks.
Meski Dimitri sudah mengatakan kalau laptop itu free, Cheryl merasa berkewajiban untuk rajin bekerja supaya bisa segera membayar laptop pemberian Dimitri. Entahlah nanti diterima atau tidak, yang penting usaha dulu.
Lianita duduk di kasur Cheryl. Dia mengedarkan pandangannya ke dinding kamar Cheryl. Ada sebuah gambar tokoh animasi menempel di atas kertas berukuran A3.
"Wow! Siapa yang gambar ini?" Lianita tak jadi duduk, dia malah bangkit berdiri dan menyentuh gambar tersebut. Ada tanda tangan Cheryl di ujung kanan kertas. "Serius nih? Kamu yang bikin gambar ini?" tanya Lianita tak percaya.
Cheryl menoleh sekilas. "Hm-hm." jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Tugas terjemahannya tinggal beberapa paragraf lagi, dia harus segera menyelesaikannya sebelum Dimitri menjemputnya sore ini.
Terbiasa mengejar bea siswa membuat sifat perfeksionis melekat padanya, dia tak akan berhenti sebelum tugas yang dikerjakannya selesai dengan baik.
"Wow! Kenapa kamu tidak mencoba publish komik saja?"
Membuat komik?
Cheryl jadi tertarik, menggambar adalah hobbynya. Sayangnya, dia tak bisa melanjutkan keinginannya untuk sekolah design. Jurusan yang dipilihnya saat ini pun adalah jurusan yang mengeluarkan bea siswa waktu itu. Apa pun jurusannya, asalkan tak mengeluarkan biaya dan Cheryl bisa kabur dari perjodohan, itulah yang akan Cheryl ambil.
"Sekarang ada aplikasi untuk membuat komik, kamu bisa publish disana dan dapat fee." Lianita meneruskan ocehannya, sekarang dia sudah kembali ke tempat tidur Cheryl dan rebahan disana.
Tangan Cheryl berhenti mengetik, dia mulai mendengarkan cerita Lianita soal bagaimana dan apa itu komik online dan novel online. Diam - diam dia mencatat nama aplikasi yang disebut oleh Lianita, dia bertekad akan mempelajarinya nanti. Ternyata temannya itu tak hanya hobby nonton drakor tapi juga baca komik online.
"Cari duit jaman sekarang tidak harus ngantor, Cher. Kalau ada yang waktunya lebih flexibel kenapa tidak?" Dimitri berusaha membujuk Cheryl untuk berhenti dari cafe. Biar bagaimana pun bekerja di cafe, sering kali membuat Cheryl pulang malam dan kecapekan. Lagipula Dimitri khawatir kalau Cheryl harus pulang sendiri malam - malam saat dirinya lulus nanti.
"Tapi bagaimana dengan Alex?"
"Aku bisa ngomong sama dia. Lagipula sudah ada kerjaan dari Bang Satrio kan?"
Cheryl diam, Dimitri benar. Dia terlihat berpikir sambil memajukan bibirnya, wajahnya begitu menggemasakan kalau sedang berpikir. Dimitri ingin sekali menciumnya karena gemas, tapi dia harus bisa menahan diri. Dekat begini saja sudah yang terbaik, entah apa status mereka. Biarkan mengalir dulu.
"Kamu mau tau darimana uang untuk membeli laptopmu itu?"
__ADS_1
"Dari mana?" Cheryl balik bertanya.
Dimitri mengutak - utik ponselnya dan membuka akun sebuah akun you tube dengan followers jutaan. "Nih, akun-ku sekarang followernya sudah banyak. Dan juga hasil menjual akun game-ku yang sudah rank" katanya bangga.
Dimitri pun menjelaskan asal muasal dia main game dan membuat akun you tube, dan sekarang hasilnya mulai dirasakan.
Ya. Cheryl pernah dengar kalau Dimitri punya akun you tube yang isinya game online. Dia sengaja menyembunyikan identitasnya dengan memakai topeng dan mengubah suaranya. Siapa sangka bisa menghasilkan seperti itu?
"CHERY! WOI! CHERYL!"
"YA?"
Cheryl gelagapan dan berdiri dengan panik, seperti murid yang ketahuan lagi tidur di kelas oleh gurunya.
Lianita sedang mengoceh eh dirinya malah melamun. Otaknya ini tak bisa tidak selalu memikirkan duit dan duit. Bagaimana caranya bertahan untuk semester ini, semester berikutnya dan berikutnya lagi.
Suara tawa mereka membahana melihat ekspresi Cheryl yang panik.
Eh? Mereka?
Cheryl menoleh, "Kak Dimi udah datang?" tanyanya pada wajah tampan yang muncul dari balik jendela kamar.
"Wait." Cheryl kembali menatap laptop, dia harus menyelesaikan paragraf terakhir, menyimpannya di folder dan baru bisa pergi.
"Wuih... yang mau pacalan cepet amat ngetiknya?" komentar Lianita sambil mengulum senyum. Dia senang menggoda dua orang yang sedang dekat ini namun punya status hubungan yang tak jelas.
"Get awat, Lia. Kita mau nge-date." Ledek Dimitri pada temannya satu kos beda atap.
Lianita tertawa kecil. "Take your time, selagi bisa. Sebelum kekasih yang sesungguhnya datang." balas Lianita tepat sasaran.
Dimitri mendengus kesal, dia sedang tak ingin mengingat - ingat lagi soal Keisya. Biarlah dirinya menikmati waktunya bersama Cheryl sementara ini.
Melihat perubahan wajah Dimitri, Lianita mendekat ke jendela dan menepuk bahu Dimitri. "Just kidding, Dim. I stand for both of you." ucap gadis itu bersungguh - sungguh.
Selama dua tahun mengenal Dimitri, dia tak pernah melihat pemuda itu tertawa lepas dan ceria sebelumnya. Sejak Cheryl datang, dia bisa melihat bagaimana kedekatan mereka.
__ADS_1
Lianita bisa merasakan chemistry yang berbeda saat Dimitri menghabiskan waktu bersama Cheryl dan waktu dia bersama Keisya. Definisi bahwa perasaan tak bisa dipaksa.
***
"Kamu mau makan apa?" tanya Dimitri penuh perhatian. Dia menyodorkan helm kepada Cheryl, seperti biasa mereka akan makan malam naik motor kesayangan Dimitri.
"Hmm... "
Cheryl menghembuskan napas, terus terang dia tak punya keinginan untuk makan apa pun. Baginya, kenyang dan murah adalah pilihan menu makanan terbaik.
"Hey! Jangan bilang terserah ya." potong Dimitri saat melihat mulut Cheryl terbuka. "Aku paling mumet kalau dijawab terserah." ucap Dimitri, pura - pura marah.
Cheryl langsung menutup mulut dan menunduk malu karena Dimitri sudah langsung bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.
"Kak Dimi ada ide?"
Nah ini!
Dimitri mendengus, kebiasaan Cheryl selalu melempar tanggung jawab berpikir kepadanya. Tapi untuk kali ini dia dengan senang hati akan menentukan pilihannya.
"Bagaimana kalau kita ke pasar malam? Ada permainan juga makanan disana."
"Pasar malam?" Ulang Cheryl, ada kilatan takjub bercampur senang di mata Cheryl. Dia selalu kagum pada Dimitri yang selalu punya banyak ide, dibanding dirinya yang monoton. "Memangnya ada pasar malam?" Nadanya terdengar antusias dan bersemangat.
Dimitri tersenyum, entah kehidupan bagaimana yang dilalui Cheryl selama ini. Hanya sebuah pasar malam saja sudah membuatnya senang seperti ini. "Ada dong. Di dekat kompleks perumahan Salatiga." jawab Dimitri. Dia menepuk jok sepeda motornya, memberi kode supaya Cheryl naik.
"LET'S GO!"
Cheryl naik ke sepeda motor Dimitri dan mengepalkan tangan ke udara.
Note
Just kidding : Bercanda, Dim.
__ADS_1
Stand for \= mensupport