Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 17 -- Inferior


__ADS_3

"Kita makan di kos saja ya Kak? Sayang duitnya." ucap Cheryl sambil terkekeh. Dia merasa sudah cukup bersenang - senang hari ini, mereka terlalu banyak menghamburkan uang di pasar malam.


Dimitri tertawa, dia meraih tangan Cheryl dan menggenggamnya. Gadis manis yang sedang berjalan disampingnya itu, memang selalu perhitungan kalau sudah berurusan dengan uang. Tapi mau bagaimana lagi? Kerja partime, berhemat, belajar, menabung, akan terus begitu. Dan memang harus seperti itu pola hidup Cheryl kalau masih mau kuliah hingga lulus.


"Ayo pulang. Nanti aku bikinkan martabak mie. Jangan khawatir, rasanya pasti enak. Bu Budi sudah pernah mengajariku." bujuk Cheryl sambil tersenyum lebar. Tangan kirinya menarik tangan Dimitri sedangkan tangan kanannya menenteng keranjang kecil berisi anak ayam mereka.


Akhirnya mereka tidak kemana - mana lagi, Dimitri memutuskan untuk menuruti ajakan Cheryl. Lagipula malam ini dia mau membuat content baru untuk akun you tube-nya. Nanti malam dia sudah juga ada janji untuk 'war' bersama teman - teman gamers-nya.


"Makasih ya." ucap Cheryl tulus saat mereka sudah sampai di kost. Wajahnya nampak cerah meskipun hari sudah semakin malam.


Dimitri tersenyum senang. Bahagianya Cheryl adalah bahagianya juga.


"Aku buatkan Kak Dimi martabak mie ya? Kalau sudah selesai aku chat kak Dimi. Nanti Kak Dimi ambil disini. Oke?"


Dimitri terkekeh. "Tak usah repot - repot. Aku bisa buat sendiri di tempatku kan?"


Senyum Cheryl memudar, "Aku tidak merasa direpotkan kok... " suaranya terdengar kecewa. Dia sedih tak bisa membalas kebaikan Dimitri yang terus menerus menghiburnya sejak Nenek tak ada.


"Sebenarnya tadi aku sudah makan sama Alex sebelum mengajakmu keluar."


"Ha?"


"Hm-hm. Aku mengajakmu makan hanya untuk memastikan kamu makan yang teratur." lanjut Dimitri. Matanya menatap Cheryl teduh dan senyumnya masih terus terukir di wajah tampannya.


Cheryl menunduk, tatapan Dimitri membuatnya salah tingkah, hatinya seperti ingin meloncat keluar dari dada.


"Masuk gih... " perintah Dimitri lembut. Dia mengambil boneka yang ada diatas jok sepeda motor dan meletakkannya di pelukan Cheryl. Tangan kiri Cheryl masih menenteng dua anak ayam kesayangan.


Cheryl mengangguk. "Bonekanya mau aku pajang di kamar, buat nemenin aku tidur."


"Dimitri mengacungkan jempol. "Jangan lupa di cek dulu, mana tahu ada kamera tersembunyi di dalamnya."


"Hah? Beneran?" tanya Cheryl terkejut, tampak jelas kepanikan di wajahnya. Matanya memindai boneka di tangannya dari atas ke bawah sambil membolak balik boneka itu ke depan dan belakang.


Tawa Dimitri meledak melihat ekspresi Cheryl yang benar - benar lucu. Tanpa sadar tangannya terulur ke atas kepala gadis itu dan mengacak rambutnya dengan sayang.


"Polos banget sih kamu. Ketipu dong!" ucap Dimitri di sela - sela tawanya. Kepolosan Cheryl adalah salah satu dari sekian alasan kenapa Dimitri menyukainya.


"Ish... Kak Dimi!" Cheryl mencebik.


Dia menepis tangan Dimitri yang ada di atas kepalanya berpura - pura marah, untuk menutupi jantungnya yang berdebar kencang karena usapan tangan Dimitri di kepala. Usapan yang membuatnya merasa terlindungi.


"Hehe... ya udah sono masuk. Aku mau balik ke kamar.... See you tomorrow, Cheryl."


***


"Mas! Mas Dim." panggil Pak Kumis.

__ADS_1


Satpam kos yang bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal itu menghampiri Dimitri yang sedang memarkir motornya. "Dari mana saja Mas?" tanyanya sambil menepuk bahu Dimitri.


"Habis keluar, Pak. Cari makan."


"Sama Mbak Cheryl ya, Mas?" tanya Pak Kumis lagi. Dia memang biasa memanggil anak - anak kos dengan panggilan Mas dan Mbak, berbeda dengan Bu Budi yang memanggil mereka dengan sebutan Kakak dan Non.


"Ho-oh." Dimitri mengangguk. "Ada apa ya Pak?"


"Tadi ada yang cari Mas Dim. Bilangnya sih Omanya Mas Dim." kata Pak Kumis yang memang belum pernah bertemu dengan Oma.


"Oma? Sendiri?" tanya Dimitri heran. Detik berikutnya Dimitri langsung menyadari kebodohannya. Mana mungkin Oma datang kesini sendiri.


"Sama Mbak yang ayu tenan itu lho, Mas. Yang katanya bakal tinggal di kos mahasiswi."


Nah, benar kan? Keysia!


Baru saja dia bersenang - senang bersama Cheryl, mendadak saja mood-nya berubah menjadi buruk. Bukan karena dia tak ingin bertemu Oma, tapi masalahnya adalah orang yang datang bersama Oma. Dan dalam rangka apa beliau kemari? Oma hampir tak pernah datang ke kos, karena Dimitri rutin menengoknya.


Ehm..., hingga Oma pindah ke rumah Keysia. Dimitri jadi mengurangi jadwal kunjungannya.


"Makasih, Pak."


"Tapi maaf Mas Dim. Saya kayanya salah ngomong. Tadi saya bilang kalau Mas Dim lagi keluar sama Mbak Cheryl. Trus Mbak Keysia kaya tidak suka gitu, Mas." Pak Kumis menunduk, dia merasa tak enak pada Dimitri.


Semua orang di kos tahu kalau Dimitri dekat dengan Cheryl, entah apa status mereka. Di sisi lain, mereka juga tahu ada seorang gadis bernama Keysia yang katanya tunangan Dimitri. Gadis yang rutin mengunjungi Dimitri.


Ah, sudahlah. Katakan saja dunia sudah gila, mereka semua malah mendukung hubungan Dimitri dan Cheryl. Padahal jelas - jelas Dimitri sudah memiliki tunangan.


( terlihat serasi saat bersama.)


Dimitri menarik napas dalam - dalam dan menghembuskannya. "Tak masalah, Pak." ucapnya sambil merogoh kantongnya dan mengambil ponsel.


Tiga panggilan tak terjawab dari Nenek, dua puluh lima miscall dan rentetan pesan dari Keysia. Dimitri tersenyum kecut membaca rentetan pesan dari yang terkesan halus, tak sabar dan berakhir dengan penuh emosi.


Ups!


Sebuah pop up muncul, notifikasi pesan dari Cheryl.


"Good Nite, Kakak. Salam dari Didi dan Mimi." *emoticon senyum.


'Siapa Didi dan Mimi?' balas Dimitri dengan cepat. Seketika dunianya teralihkan hanya karena sebuah pesan singkat dari Cheryl. Oma terlupakan dan Keysia tereliminasi dari pikirannya.


TING!


Sebuah foto makhluk berbulu pink dan biru di dalam keranjang masuk ke ponsel Dimitri.


What?

__ADS_1


'Jadi anak - anak kita kamu kasih nama Didi dan Mimi?' *emoticon sedang berpikir.


'Yes. Dimitri. Didi dan Mimi.'


Dimitri mengulum senyum, membaca ulang tulisannya sendiri. Anak - anak kita! So silly!


Drrrt...


KEISYA CALLING


SIAL!


Dimitri tak bisa tidak mengumpat, dia sedang tak ingin menjelaskan apa pun pada Keysia. Matanya menatap layar ponselnya dengan galau, Dimitri menghembuskan napasnya.


"Ya?"


"Dimitri! Kemana saja kamu? Kenapa kamu tidak mengangkat satu pun telepon dariku?"


"Uhm, maaf. Aku di luar tadi." jawab Dimitri pendek, tanpa penjelasan apa pun. Dia tidak berbohong, dirinya memang tadi sedang di bazar yang begitu berisik hingga tak mendengar bunyi ponselnya.


"Dan pesanku hanya dibaca tanpa respons? Padahal aku lihat kamu sedang online. Apa yang kamu lakukan?" tanya Keysia dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.


Hhh....


Mendengar nada suara Keysia, Dimitri jadi merasa inferior. Merasa seperti kacung dan nona besarnya.


"Maaf." ucap Dimitri pelan.


Meski tahu Keysia tak melihatnya, Dimitri menundukkan kepalanya. Apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertinya, selain minta maaf? Dia yang tak punya apa - apa dan berhutang budi pada keluarga Keysia, hanya bisa patuh.


Permintaan maaf Dimitri ternyata tak cukup untuk meredakan amarah Keysia.


"Aku tak mau tahu. Datanglah ke Hotel Grand sekarang juga! Kami menginap disana dan kamu sudah melewatkan makan malam kita hari ini."


"Baik, Kei." jawab Dimitri patuh.


Bersambung ya....


Note:



inferior : rendah


war : perang


ayu tenan : cantik sekali

__ADS_1


Silly : konyol



__ADS_2