Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 5 -- Dia Temanku


__ADS_3

Cheryl tak ingat bagaimana caranya dia bisa sampai di rumah sakit ini. Satu - satunya hal yang ada di dalam ingatannya adalah dia terbangun bukan karena jam weker yang disetelnya, melainkan Om Salim menelpon sebelum weker itu berbunyi.


Rencana semula, memang subuh ini dia akan berangkat dengan bis pertama ke Semarang. Namun kabar dari Om Salim membuatnya semakin panik dan kalut. Beliau bilang Nenek sedang kritis dan akan dioperasi pagi ini.


Sekarang dihadapannya, Om Salim dan istrinya sedang duduk dengan raut wajah cemas di dekat pintu kamar operasi. Dimana Papanya, anak kandung nenek? Kenapa malah Om Salim yang menungguinya saat ini? Entahlah, Cheryl tak mau memikirkannya. Lebih baik tak ada Handoko disana. Kalau mereka bertemu, bisa - bisa dirinya disuruh pulang kampung dan menikah.


"Maaf, kamu jadi buru - buru kesini. Om cuma takut kalau Nenekmu ingin bertemu denganmu." suara Om Salim terdengar pelan.


"Tak apa, Om."


Om Salim tak banyak bicara, Cheryl tahu kalau beliau sedang sedih. Biar bagaimana pun Nenek sudah seperti Ibu kandung bagi Om Salim, hubungan mereka sangat dekat. Bahkan lebih dekat dari Handoko.


Om Salim berdiri. Dia menarik napas panjang lalu berjalan mondar mandir di dekat Cheryl. Sementara Tante Mery hanya duduk diam di bangku panjang dekat kamar operasi, berdoa.


Cheryl menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang meleleh. Nenek satu - satunya orang yang mencintainya. Kalau Nenek tak ada, mungkin lebih baik dia mati saja.


Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Mereka segera mendekat. Ah, tapi mimik wajah dokter tampak begitu kuatir.


"Bagaimana keadaan Tante saya, dok?" tanya Om Salim tak sabar.


Dokter menghela napas, menunduk sejenak nampak jelas kalau berita yang akan disampaikannya bukanlah berita baik.


"Kami sudah melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan." Dokter berhenti sejenak, memandangi wajah - wajah cemas yang ada di hadapannya. Belum juga selesai perkataan dokter, Cheryl sudah tak tahan dan air matanya terus menetes.


"Ibu Fatima sudah berjuang dengan keras. Tapi kondisinya sangat lemah. Kami tidak tahu sampai kapan dia bertahan. Dalam kasusnya, dia bisa saja bertahan satu minggu, dua minggu ehm... mungkin juga satu bulan. Semua bergantung pada kuasa Tuhan. Dan kalau sampai dia bertahan, itu adalah sebuah keajaiban." ucap Dokter itu. Sekali dia lagi menghembuskan napas berat, ikut merasakan kesedihan keluarga pasien.


Kalimat itu bagaikan belati yang menghunjam jantung Cheryl. Apakah Nenek tak punya banyak waktu lagi? Kaki Cheryl mulai goyah, Tante Merry memeluknya. Selama ini Nenek selalu sehat, kenapa mendadak jadi seperti ini?


"Ibu Fatima sudah dipindahkan ke ruang ICU. Bila keadaannya stabil, dia akan dipindahkan ke kamar rawat. Kalian bisa bergiliran menjenguknya apabila jam jenguk telah tiba. Sekarang sebaiknya biarkan dia istirahat." lanjut dokter itu lagi.


Ruang tunggu ICU sangat padat sore itu. Ada banyak anggota keluarga yang menunggu keluarganya yang juga di rawat di ruangan yang sama. Om Salim dan Tante Merry duduk berdampingan di bangku panjang tak jauh dari Cheryl.

__ADS_1


Saat jam besuk tiba, Om Salim menyuruh Cheryl masuk terlebih dahulu. Di dalam, Cheryl hanya bisa menangis melihat Nenek tampak begitu lemah dengan banyaknya jarum dan alat yang terpasang di seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, bibirnya tak lagi mengulas senyum.


"Nek, ini Cheryl. Katanya Nenek mau lihat Cheryl pakai toga, sembuh ya Nek." bisik Chery di telinga Nenek. Harapannya adalah Nenek bisa mendengar dan membuka matanya.


Tangan Cheryl mengusap - usap telapak tangan Nenek yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin karena efek obat atau bisa saja karena kondisinya yang menurun. Dengan berat hati Cheryl meninggalkan ruang itu untuk bertukar giliran dengan Om Salim atau Tante Merry.


Tante Merry mempersilahkan Om Salim masuk terlebih dulu. Sekarang Tante Merry dan Cheryl berdiri di dekat pintu masuk ruang ICU, menunggu Om Salim selesai besuk.


"Cher, menengok siapa?"


Seseorang menyapanya, suaranya begitu familiar di hati dan telinga Cheryl. Cheryl menengok.


Kak Dimi, ngapain dia disini?


Cheryl berdiri canggung. Mulutnya yang sudah membuka, kembali tertutup. Sejak kemarin dia menunggu Dimitri tapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Menyebalkan sekali, sekarang tahu - tahu dia muncul begitu saja di hadapannya.


"CHERYL!"


"Ouch!"


Hardikan seorang pria terdengar. Dibarengi dengan bunyi tamparan serta pekik sakit bercampur kaget.


"Beraninya kamu muncul disini anak sialan!" maki Handoko pada Cheryl.


Dimitri yang berdiri tak jauh dari sana mengepalkan tangannya erat dan rahangnya mengeras. Dia tak terima Cheryl diperlakukan kasar, tapi tak bisa berbuat apa pun. Siapa dirinya dibanding Papa Cheryl. Meski selama ini dia tahu bagaimana perlakuan Handoko pada Cheryl. Tetapi dia tak pernah berkomentar atau menghakimi. Yang selama ini dilakukannya adalah menemani Cheryl dan berbagi dengannya.


"Jangan membuat keributan, Han. Ini rumah sakit." Untunglah Om Salim keluar dari ICU, setidaknya ada yang menenangkan Handoko.


Tapi, tak semudah itu. Seolah tak puas menampar Cheryl, Handoko kembali marah - marah.


"Kamu tau, Lim? Gara - gara anak sial ini! Mama kena serangan jantung." geram Handoko berapi - api. Tangan satunya berkacak pinggang dan tangan yang lainnya menunjuk - nunjuk hidung Cheryl.

__ADS_1


Cheryl terperangah. Dia tak paham apa maksud Handoko berkata seperti itu. Dirinya bahkan belum pernah bertemu lagi dengan Nenek sejak kabur dari rumah.


"Sudahlah. Itu bisa dibicarakan nanti dan tidak di tempat seperti ini." Om Salim mencoba melerai.


"Coba sekali saja dia jadi anak penurut, tentu Mama tidak akan banyak pikiran. Dan pasti sehat - sehat saja." sahut Handoko.


"Pergilah, Cheryl. Sebaiknya kamu makan, dari tadi kamu belum makan." perintah Om Salim. Dia memberi kode supaya Cheryl menyingkir dulu.


Cheryl memandang Om Salim dengan wajah memelas, berharap beliau mengijinkannya tetap disini. Dia masih ingin berada di dekat Nenek.


Om Salim mengangguk sebagai kode supaya Cheryl patuh padanya.


Merasa kehadirannya hanya akan menambah gaduh, Cheryl memutuskan untuk menyingkir.


"Ayo, Kak Dimi." Cheryl mengajak Dimitri yang sedari tadi diam dan hanya menonton drama keluarga dihadapannya.


"Tunggu! Kamu siapa? Apa kamu pacar Cheryl?" tanya Handoko, terasa jelas nada tak suka di suaranya.


Dimitri sedikit terkejut. "Iy... "


"Bukan, Pa." potong Cheryl cepat.


Ow!


Seketika kata - kata, yang hendak diucapkan oleh Dimitri, menggantung di udara. Dia menoleh kearah Cheryl, menunggu kalimat selanjutnya.


"Kak Dimi dan aku cuma berteman, kami tak sengaja bertemu disini barusan." lanjut Cheryl kemudian.


Ya, berteman adalah status yang terbaik mereka saat ini. Cheryl tak mau menambah masalah lagi dengan siapa pun terutama Keysia dan Papanya.


Merasakan tatapan Dimitri, Cheryl menoleh. Pandangannya bertemu dengan tatapan sedih milik Dimitri. Dan Cheryl pun membalasnya dengan sebuah senyuman, senyum getir.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2