
Kamar President Suite hotel Grand langsung terbuka, tak lama setelah Dimitri memencet bel. Keisya sudah menunggu kedatangannnya. Begitu melihat Dimitri di depan pintu, gadis itu langsung masuk lagi ke ruangan. Bahasa tubuhnya memberi kode kepada Dimitri untuk ikut masuk ke ruangan yang cukup luas dan elegan, di tata dengan konsep interior yang patut diacungi jempol.
Keisya duduk di sofa besar di tengah - tengah ruangan lengkap dengan meja dan pernak perniknya. Dimitri melirik sebuah pintu kamar yang tertutup, sepertinya itu kamar Oma dan beliau sudah tidur. Jadi di ruangan tamu ini hanya ada Keisya dan dirinya.
Di meja, tergeletak beberapa paper bag yang diletakkan sembarangan. Beberapa barang branded berserakan di meja. Tas ransel pria montblanc berwarna hitam yang terlihat gagah dengan jahitan rapi, ikat pinggang salvatore feragamo, dan juga sebuah kardus kecil bertuliskan bvlgarri home, wewangian woody floral musk untuk pria.
Dimitri menarik napas perlahan dan menghembuskannya, dia mengenali barang - barang itu.
"Tolong jelaskan padaku! Kenapa kamu kembalikan semua barang - barang ini? Aku membelinya khusus untukmu saat pergi ke Singapore bulan dua minggu yang lalu." tanya Keisya kesal. Dia sengaja membawa barang itu hari ini, dengan harapan Dimitri berubah pikiran dan menerimanya. Barang - barang itu mahal dan kebanyakan orang seusianya menyukai barang branded. Apalagi ini gratis, dan Dimitri malah menolaknya!
"Maaf, aku tidak memerlukannya." Jawab Dimitri pelan. Kepercayaan dirinya selalu lenyap setiap kali berhadapan dengan Keisya, tubuhnya selalu otomatis berbicara pelan dan sopan.
"Kenapa?" Keisya cemberut, kedua tangannya dilipat di depan dada.
Dia sudah terlanjur membayangkan Dimitri yang akan tampak semakin tampan dengan barang - barang branded yang telah di belinya. Kemudian dia berniat mengajak tunangannya itu jalan ke mall. Dimitri tampan, hanya saja belum dipoles.
Sayangnya, tunangannya itu tak memperlihatkan antusias sedikit pun terhadap pemberiannya. Keisya benar - benar kecewa dan merasa terhina.
"Tapi kenapa?" tuntut Keisya lagi.
Dimitri mengerutkan keningnya, apakah harus ada alasan untuk menolak memakai barang branded? Dia berdehem. "Yaa... karena memang aku tidak suka barang bermerk."
Ha? Apa?
Mereka saling berpandangan. Keisya bingung. Barang- barang ini mahal dan tak semua orang bisa mendapatkannya. Dia makin kesal saat melihat Dimitri duduk di hadapannya dengan posisi punggung tegak dan kaku, tidak menempel di sofa. Terlihat sekali kalau tunangannya itu merasa tak nyaman.
"Apa gara - gara gadis culun itu kamu menjauhiku?"
"Ha?"
__ADS_1
"Cheryl."
Dimitri menelan ludah. Ini yang ditakutkannya, Cheryl pasti disangkut - sangkutkan dengan barang - barang ini. Dimitri hanya merasa tak pantas memakai barang branded, padahal sekolah saja dia masih membutuhkan bea siswa dan sokongan. Lagipula, menerima barang dari Keisya semakin membuatnya merasa tak punya harga diri.
"Tidak ada hubungannya dengan Cheryl. Aku hanya tak ingin semakin berhutang budi padamu, Kei. Aku tak tega menghamburkan uang, sementara ada orang lain yang bersusah payah hanya untuk sesuap nasi." jawab Dimitri. Kepalanya sudah kembali menunduk, seperti anak buah yang tunduk kepada atasannya.
"Aku tahu kamu tadi pergi bersamanya, Dim. Toh aku nggak marah kan? Aku cuma mau kamu terima dan pakai barang - barang ini. Apa susahnya?" suara Keysia terdengar begitu kesal.
"Begini Key. Aku lebih suka naik sepeda motor dan pergi ke gunung daripada menghabiskan uang orang tuamu dengan membeli barang - barang ini."
Keysia menoleh. "Hah? Motor? Gunung?" Rasanya dia ingin mengorek kupingnya yang tiba - tiba terasa gatal.
"Kamu belum pernah bonceng aku naik motor kan?" tanya Dimitri kemudian, suaranya tetap halus dan sopan.
Keysia memandang Dimitri dengan heran, menerka - nerka arah pembicaraan mereka. "Papa seringnya ngajak aku ke Singapore, Orchard Road is the best. Naik pesawat, Dim." Gadis itu mengibaskan rambutnya yang tebal dan berkilau ke belakang.
"By the way, kalau kamu suka gunung. Aku mau kok pergi ke Alpen. Kita bisa tidak hanya bisa melihat Dammastock dan Matterhorn, tapi juga main ski. Pasti seru!" katanya ceria.
"Kenapa kita tidak pergi ke Bromo saja? Kita bisa menyewa jeep dan melihat sunrise disana." Mata Dimitri menerawang, mengingat saat dia mengajak Cheryl ke puncak Telomoyo.
Ah, andai saja suasana hati Cheryl sedang baik saat itu. Tentu kunjungan mereka ke Telomoyo akan lebih menyenangkan.
Keisya mende-sah. Dia tak ada ide sedikit pun mengenai Bromo yang dimaksud oleh Dimitri. Ponsel pintarnya tak cukup pintar untuk memberitahu dirinya soal Gunung Bromo di Jawa Timur. Benda itu hanya akan menjawab ketika ditanya. Selama ini yang dia lihat hanya wisata di luar negeri, atau Bali.
Dimitri tersenyum tipis. "Barang - barang itu kan masih bisa dijual. Masukkan saja ke market place, pasti ada yang mau."
"Lho kok gitu?"
"Mubazir."
__ADS_1
"Oh, kalau dipakai kan tidak mubazir."
"Backpack-ku masih bagus, ikat pinggangku juga baru beli bulan lalu." Dimitri mengambil kotak parfum di atas meja. "Dan ini? Kamu lupa kalau aku hanya mahasiswa biasa, bukan seorang CEO yang layak menghamburkan uang hanya untuk sebotol parfum?" Dimitri memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
Keisya memandangi pemuda tampan di hadapannya. Sebenarnya Dimitri lahir dari keluarga yang cukup mampu, hanya saja Papanya salah menggunakan uang dan tidak becus menjalankan perusahaan Kakeknya. Barang - barang ini bukanlah hal asing untuk Dimitri.
Tapi Dimitri berbeda, sejak kedua orang tuanya tidak ada dan Oma-nya sakit. Dia menanggalkan segala barang branded miliknya dan memilih kerja partime. Semua barang yang ada di kamar Dimitri, semua karena hasil paksaan dari Mama Keisya.
"Tidak mau. Apa kata teman - temanku kalau aku menjual barang - barang yang sudah terlanjur aku beli."
Dimitri tersenyum tipis. "Kita ini tidak cocok, Kei."
Keysia menatap Dimitri tidak percaya. Setelah sekian tahun dia menyukai Dimitri dan akhirnya mereka berhasil bertunangan. Setelah sekian banyak usahanya mendekati Dimitri. Enak sekali dia ngomong kalau mereka tidak cocok.
Padahal dirinya termasuk cewek cantik dan kaya di kotanya. Cowok - cowok berebut, berusaha memenangkan hatinya. Tak perlu dia mendekati, hadiah - hadiah berdatangan dari mereka. Teman - teman socialita mamanya ingin menjodohkannya dengan anak mereka.
Tapi anehnya, dia malah jatuh cinta pada pemuda pendiam dan tidak punya apa - apa. Biaya pengobatan Oma Dimitri juga ditanggung oleh Mama Papanya. Dia tak tahu kenapa dia tak bisa membuang cowok yang terlalu cuek kepadanya. Jatuh cinta setengah mati. Mencari - cari kesempatan untuk menemuinya.
Selanjutnya lima menit berlalu tanpa interaksi apa pun. Keysia tak bisa berkata - kata saking kesalnya. Dia berdiri, menghentakkan kakinya dan masuk ke salah satu kamar di president suite room tersebut.
Bersambung ya....
Note :
Alpen nama pegunungan di Swiss.
Dammastock dan Matterhorn : puncak yang diselimuti salju..
__ADS_1
Orchard Road : sebuah jalan di singapore tempat retail dan hiburan (pusat barang branded)