Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 20 -- Sidang


__ADS_3

Cheryl tak pernah menyangka akan berada dalam situasi tidak menyenangkan sepert ini. Membayangkan saja tak pernah, dia duduk satu meja bersama mereka. Oma Shinta, Keysia, Dimitri dan dirinya. Dan yang lebih menyeramkan adalah sorot mata membunuh yang ditujukan oleh Keysia padanya. Dan di sebelahnya, ada Oma Shinta yang menatapnya penuh selidik. Cheryl sampai bergidik saking ngerinya.


Dimitri duduk di sampingnya, setidaknya Cheryl merasa sedikit lebih tenang karena Dimitri memilih duduk di sampingnya saat Oma Shinta mengajak mereka kembali ke resto di hotel untuk bicara. Kini mereka duduk di dekat jendela kaca, dengan view kolam renang.


Dari tempat duduknya Cheryl bisa melihat beberapa orang sedang berenang, ada kolam besar dan kecil. Di kolam besar ada prosotan tempat dimana beberapa anak kecil bisa naik dan berseluncur.


Di kolam berbentuk lingkaran yang kecil, terdapat beberapa anak kecil bermain air. Selain itu, tempat duduk yang berbentuk payung di sekeliling kolam juga ada orangnya. Padahal ini bukan hari libur, namun suasana di sana lumayan ramai.


Cheryl memang sengaja melarikan pandangannya ke arah mana pun yang dia bisa asalkan tidak beradu pandang dengan Keysia.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Oma Shinta.


Suaranya lembut dan tegas khas seorang Nenek. yang bertanya pada cucunya. Ah, kalau sudah begini Cheryl jadi merindukan Neneknya.


Cheryl hanya menundukkan kepala, dia tak berani bicara. Takut salah ngomong.


Eh?


Diam - diam Dimitri meraih tangan Cheryl dibawah meja dan menggenggamnya, erat. Seolah memberitahu Cheryl kalau dia ada disana, dia yang akan menanggung semuanya. Dimitri tahu bagaimana Cheryl yang mudah takut dan gugup.


Perasaan Dimitri tersampaikan, Cheryl menarik napas dan menghembuskan napas sepelan mungkin supaya tak ada yang menyadari dirinya sedang tegang.


Melihat Dimitri yang tak juga merespons, Oma Shinta kembali memanggilnya. "Dimitri?"


Sayangnya, Dimitri tak mempunyai jawaban atas pertanyaan Oma Shinta, lebih tepatnya tidak tahu harus memulai dari mana. Apakah boleh dia memulainya dengan pernyataan bahwa dia menyukai Cheryl? Bukankah akan menyakiti Keysia yang notabene adalah malaikatnya Oma Shinta?


"Ya?" Akhirnya, Dimitri merespons tanpa menjawab pertanyaaan.


Oma Shinta mengerutkan keningnya. Apa - apaan Dimitri ini, kenapa responnya hanya begitu? Keysia mengalihkan pandangannya dari Cheryl sejenak, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menoleh pada Dimitri.


"Ini sudah kesekian kalinya, aku melihat kalian berdua - duaan." ucap Keysia. Suaranya terdengar datar dan ekspresi wajahnya begitu sinis.


Serta merta Oma Shinta menatap Dimitri dengan tatapan penuh tanya. Sementara Cheryl segera menarik tangannya dari genggaman Dimitri di bawah meja. Dimitri merasakan gerakan Cheryl, bukannya melepaskan dia justru menggenggamnya semakin kuat. Ya ampun, Dimitri!


Cheryl melirik ke pemuda yang duduk tegak menatap Oma-nya, ekspresinya tak terbaca.


"Apa penjelasanmu tentang ini, Dimitri?" tanya Oma Shinta, mencoba mengkonfirmasi cucunya. Tersirat harapan kalau dia ingin semua yang di pikirkannya adalah salah. Mereka hanya salah paham.


"Tidak ada, Oma." jawab Dimitri.


Ha?


Oma Shinta tercengang. "Apa maksudmu dengan tidak ada?" tanya beliau tak mengerti.

__ADS_1


Keysia mendengus kesal. Cheryl pun menunduk semakin dalam.


"Tidak ada, Oma. Semua seperti yang Keysia lihat, aku tidak mau berbohong."


Astaga!


Cheryl ingin saat itu juga bumi terbelah supaya dia bersembunyi di dalamnya hingga semua selesai, baru dia akan muncul lagi. Dimitri merasakan tangan Cheryl mulai bergetar. Dia mengusap punggung tangan Cheryl dengan jempolnya.


Oma Shinta menatap kedua anak muda di hadapannya bergantian, Cheryl yang menunduk terlihat serba salah dan Dimitri yang terlihat tenang seakan siap menghadapi badai. Wanita yang sudah banyak makan asam garam itu, semakin yakin kalau ada sesuatu antara Dimitri dan Cheryl.


Dia menghela napas, dan dengan gaya anggun menyesap secangkir teh chamomile yang baru saja diantar oleh pelayan. Bersiap mengajukan pertanyaan yang mungkin akan membuat dirinya sendiri terkejut saat mendengar jawabannya.


Oma Shinta menyadari, Dimitri bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan isi hatinya. Jadi, mau tak mau dirinya yang harus memancing dengan pertanyaan.


"Apa hubungan kalian? Dimitri dan... ?" Oma Shinta berhenti sejenak, mencoba mengingat apa tadi Dimitri sudah menyebut nama gadis itu atau belum.


"Cheryl, Nek." jawab Dimitri.


Lagi - lagi Keysia mendengus kesal saat mendengar mulut Dimitri mengucapkan nama Cheryl dengan penuh kasih.


"Bagaimana hubungan kalian?" tanya Oma Shinta lagi.


"Kami teman."


Duh!


Mereka menjawab bersamaan. Padahal Cheryl buru - buru menjawab, dia tak ingin jawaban Dimitri semakin menambah runyam. Tapi kenapa pemuda di sampingnya malah menjawab 'dekat' bukannya memilih jawaban netral.


Alis Keysia terangkat satu, sekuat tenaga menahan emosi yang sudah ada di ujung lidahnya.


"Sedekat apa, Dimi?"


Oma Shinta bisa menangkap perubahn micro ekspresi di wajah Cheryl, gadis itu begitu lugu. Dia seperti buku yang terbuka, mudah dibaca. Berbeda dengan Dimitri yang selalu tertutup, cucunya itu tak mungkin bersuara kalau tidak ditanya.


"Dekat sekali." jawab Dimitri tanpa ragu.


"Tapi kami tidak pacaran seperti yang Kak Keysia pikirkan, Oma." sela Cheryl. Dia memberanikan diri untuk menjelaskan.


Cheryl tak hanya takut pada tatapan Keysia yang mengintimidasi tapi dia juga tak mau Dimitri kesulitan karena status abu - abu mereka. Biarlah hari ini semua selesai.


Keysia berdecih. "Kamu kan sudah tau kalau Dimitri bertunangan, kenapa terus saja mendekatinya?"


Cheryl tertegun. Pertanyaan Keysia tepat sasaran, menembus nurani Cheryl. Dirinya memang tidak pernah mendatangi Dimitri, tapi dia tak pernah bisa menolak kalau pemuda yang disayanginya itu datang atau mengajaknya pergi. Bahkan Cheryl. juga menerima hadiah dari Dimitri.

__ADS_1


"Bukan Cheryl yang mendekati aku, tapi aku yang mencarinya." jawab Dimitri, mengambil tanggung jawab Cheryl untuk menjawab.


Keysia melotot. "Lalu apa yang dilakukannya di kamarmu hingga pagi?"


"Hah? Apa maksudmu, Key?" Sekarang giliran Oma Shinta yang terkejut.


Keysia belum pernah bercerita kalau ada seorang anak gadis yang tinggal di kamar Dimitri semalaman.


Cheryl memejamkan matanya, habis sudah. Dia tahu kalau ini adalah bagian dari resiko karena dekat dengan orang yang sudah bertunangan. Tapi tetap saja, ada bagian dari dirinya yang tak siap untuk menghadapi hantaman badai.


Keysia melengos sambil berkata. "Tanya saja pada mereka, Oma. Aku sudah berbaik hati tidak memperpanjang masalah karena tahu Cheryl menginap di kamar Dimitri."


Dimitri menarik napas panjang, tidak ada jalan lain. "Cheryl menginap di kamarku karena tak sengaja ketiduran, dia kelelahan setelah merawatku yang sedang sakit." ucapnya memulai penjelasan. Dimitri melepaskan genggamannya pada Cheryl dan menumpukan kedua sikunya diatas meja. Wajahnya serius dan bersungguh - sungguh.


"Maafkan aku, Oma dan Keysia. Aku yang terlalu impusive karena menyatakan perasaanku lebih dulu kepada Cheryl. Dan, waktu itu Cheryl belum tahu apa pun soal Keysia. Aku tidak memberitahunya." Dimitri memberi penekanan pada tiga kata terakhir.


Oma Shinta tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Jadi kamu berpacaran dengan Cheryl?"


"Ya!"


"APA?!" suara Oma Shinta mulai meninggi.


"Tapi dia sudah memutuskan hubungan kami saat tahu kalau aku sudah bertunangan dengan Keysia."


"Oh... " Oma Shinta ber-OH dan terselip sedikit rasa lega di dalam nada suaranya.


"Tapi kenapa kalian masih berduaan terus?" sergah Keysia tak terima.


Cheryl yang merasa tak enak, merasa perlu ikut bicara dan menyela. "Maaf, boleh saya bicara?"


"Tidak perlu, biar aku saja." Suara Dimitri terdengar lembut tapi tegas.


Menyadari Dimitri yang sedang tidak ingin berbantah, Cheryl hanya mengangguk dan menutup mulut.


Oma Shinta diam - diam mengamati interaksi keduanya, Dimitri tampak begitu tegas sekaligus lembut pada gadis lugu itu. Berbeda saat bersama dengan Keysia, cucunya nampak kaku dan hanya menuruti apa pun mau Keysia.


"Aku, Key." Kata Dimitri.


"Ha?"


"Karena aku yang tidak tega meninggalkan Cheryl sendiri. Saat ini, dia tak punya siapa pun selain aku."


"WHAT?!" seru Keysia tak terima. "Jadi kamu menyukai Cheryl?" hardik Keysia.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2