
"WHAT?!" seru Keysia tak terima. "Jadi kamu menyukai Cheryl?" hardik Keysia. Dia benar - benar tak terima, merasa dikhianati oleh Dimitri. Wajahnya tampak kecewa bercampur marah.
Dimitri diam, dia seperti sedang memilih kata - kata yang tepat untuk diucapkan. Oma Shinta mengamati cucu kesayangannya itu, melihat ekspresinya saja, beliau tahu kemana perasaan Dimitri tertuju. Ingin hati berpihak kepada cucunya, tapi di sisi lain Dimitri sudah bertunangan dengan Keisya sejak dia asal masuk kuliah. Oma Shinta jadi serba salah.
"Aku... " Dimitri berhenti sejenak, dia menarik napas panjang. "Aku memang menyukai Cheryl tapi ---"
"Jadi kamu anggap apa aku selama ini, Dimitry?" sergah Keisya lagi.
Dia sudah tak peduli lagi dengan sopan santun pada Oma Shinta yang hanya diam disana. Dadanya bergemuruh, kepalanya seperti mau meledak. Siapa sangka Dimitri berani terang - terangan mengatakan perasaannya begitu saja.
"Aku pikir, aku bisa bersamamu karena waktu itu aku tak menyukai siapa pun, Kei. Maafkan aku... "
"Hah?"
"Apa maksudmu?" tanya Keisya. Dia yang semula garang, kini melemah mendengar kata maaf keluar dari mulut Dimitri. Jangan - jangan Dimitri ingin mengakhiri hubungan mereka.
Tidak! Keisya tak akan pernah rela. Dia yang lebih dahulu mengenal Dimitri, dan dia juga yang selalu membantu Oma Shinta dan Dimitri.
Oma Shinta memandang Dimitri dengan tatapan sedih, sementara Cheryl menunduk semakin dalam. Andaikata bisa Cheryl ingin menghilang saja dari tempat ini.
"Aku tidak ada maksud apa - apa, Kei. Hanya saja aku mengatakan perasaanku sesungguhnya. Aku menyukai Cheryl. Perasaanku padanya dan kepadamu benar - benar berbeda. Ternyata aku menyayangi kamu hanya sebagai teman."
Astaga!
Bukan hanya jantung Keisya saja yang bertalu - talu, tapi juga Cheryl. Jantung Keisya berdebar kencang karena menahan emosi, sementara Cheryl, dia benar - benar takut. Dia tak mau disebut sebagai pe-la-kor. Meski sebenarnya kelakuannya tak jauh beda dengan pe-la-kor. Dirinya sudah tahu kalau Dimitri bertunangan, tapi tetap saja tak bisa menolak saat didekati.
"Dimitri... " kali ini Oma Shinta mencoba menyela dan menengahi Keisya serta Dimitri. "Apa menurutmu, perasaanmu pada Cheryl bukan hanya perasaan sesaat saja?"
Keisya, Dimitri dan Cheryl terdiam, mereka mencoba merenungi kata - kata Oma Shinta. Oma Shinta memandang wajah ketiganya satu per satu. Tak ada yang salah dengan perasaan masing - masing, jatuh cinta itu wajar. Yang salah adalah ketika kita salah bersikap terhadap perasaan itu sendiri.
"Dimi tak tahu, Oma. Yang pasti Dimi selalu ingin bersama Cheryl dan support dia. Tapi, Oma dan Kei tak perlu khawatir. Cheryl sudah tahu posisinya, dia tak pernah meminta apa pun. Bahkan dia yang meminta putus lebih dulu." Dimitri mencoba menjelaskan kepada Oma-nya. "Dan kami pasti akan berpisah. Bulan depan aku akan meninggalkan Indonesia."
Hah?
Wajah - wajah terkejut bermunculan di hadapan Dimitri, termasuk Cheryl. Pemuda itu tak berkata apa pun sebelum ini. Tapi, seperti biasa Cheryl hanya diam. Dia menunggu kelanjutan cerita Dimitri.
"Apa maksudmu?" Tanya Keisya lagi, suaranya sudah tak segarang tadi.
"Aku mendapat bea siswa di Malaysia untuk melanjutkan S2. Dan aku sudah memutuskan untuk menerimanya dan bekerja disana." Dari sudut mata Dimitri, dia bisa merasakan tatapan sedih Cheryl. Tapi ini yang terbaik untuk mereka semua.
"Maafkan Dimi, Oma. Dimi harus pergi." ucapnya sambil tertunduk. Oma Shinta hanya tersenyum dan mengangguk haru, dia tak pernah berniat menghalangi Dimitri untuk mencapai cita - citanya.
"Oma tak apa - apa, Dimi. Masih ada Om kamu kan? Tapi bagaimana dengan pertunanganmu dan Keisya?" tanya Oma Shinta. Dia hanya tak mau hubungan baik antar keluarga rusak karena keputusan gegabah Dimitri.
"Oma, Kei, apa bisa kita bicara masalah pertunangan itu tanpa Cheryl? Dia tak ada hubungannya dengan masalah itu." kata Dimitri. Dia menoleh dan menatap lembut pada Cheryl. "Biarkan saya mengantarnya pulang. Aku janji akan pulang hari ini dan berbicara dengan kalian."
Oma Shinta menatap Keisya dengan pandangan memohon, dia menganggukkan kepala sebagai. pertanda supaya Keisya menuruti permintaan Dimitri. Masih dengan perasaan tak karuan, Keisya mengangguk. "Baiklah. Oma, mari kita pulang saja." ucapnya sambil melengos. Dia tak sudi melihat wajah Cheryl.
***
Malam itu Cheryl hanya berguling - guling di tempat tidurnya, matanya terbuka lebar menatap langit - langit kamar kost-nya. Pekerjaan terjemahan sudah selesai dan ujian semester pun berakhir. Hari ini kos sudah sangat sepi, kebanyakan penghuni kos menghabiskan libur akhir tahun di kampung halaman.
Berbeda dengan Cheryl, dia tak berani pulang ke tempat Papanya. Lebih baik dia sendiri di kos, meski terasa sepi dan membosankan.
Sejak pertemuan mereka di rumah makan bersama Keisya dan Oma Shinta, Dimitri tak lagi pernah muncul.
__ADS_1
Terakhir kali, sekitar satu bulan lewat, Dimitri hanya mengatakan harus mengurus beberapa hal di Semarang dan Cheryl harus benar - benar menjaga dirinya. Hari itu Cheryl tahu kalau Dimitri tak akan menemuinya dalam waktu dekat.
Seperti biasa, Cheryl hanya menunggu kabar dari Dimitri. Dia tak pernah mencoba menghubungi pemuda itu, khawatir kalau akan menimbulkan masalah di belakang.
Entah karena lelah atau bosan, yang pasti Cheryl tak sengaja tertidur saat tiba - tiba saja terdengat ketukan halus di jendela kamarnya.
TOK! TOK!
"Cheryl... Cheryl... "
Sebuah bisikan terdengar dari balik jendela, tapi Cheryl tetap tak bergeming. Di dalam mimpinya, dia merasa seseorang memanggilnya. Tapi dia enggan menoleh.
"Cheryl... Cheryl... "
Sekali lagi suara itu memanggil - manggil namanya, kali ini terdengar lebih keras dan jelas. Di antara sadar dan tidak sadar, Cheryl menggeliat mencoba memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak.
"Cheryl... Cheryl... "
'Kak Dimi!!'
Cheryl membeku, dia mengucek matanya dan kembali mendengarkan baik - baik suara diluar sana.
Sepi... , hanya terdengar sesekali bunyi kembang api meletus dan suara beberapa kendaraan bermotor melintas. Malam ini adalah malam tahun baru, menurut cerita biasanya orang - orang berkumpul di lapangan pancasila. Disana ada bazar dan juga pasar malam.
TOK! TOK!
"Cheryl... Cheryl.... "
Otomatis Cheryl melonjak, jantungnya berdebar kencang. Tidak salah lagi, dia tidak bermimpi. Itu suara Dimitri. Benarkah dia datang? Mata Cheryl mengerjap, terharu. Tak bisa dipungkiri kalau dirinya merindukan pemuda itu.
"KAK DIMI!!!" pekik Cheryl sambil membuka jendela kamar. Dia tak bisa menutupi rasa girangnya.
Benar saja!
Dari balik jendela, Dimitri sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Hai, I miss you, Cheryl... "
'Miss you too, Kak Dimi...'
Cheryl hanya mengerjapkan matanya menahan segenap rasa yang ada di hatinya.
"Kak Dimi kok disini?"
"Yuk!"
"Kemana?"
"Pakai jaketmu trus ikut aku!" perintah Dimitri lembut dan seperti biasa Cheryl langsung mematuhinya.
Dan, disinilah mereka. Diatas balkon lantai dua kos mereka, duduk berdua tanpa kata - kata dengan tangan saling bertautan.
PLETAK... PLETAK..... Kratak... kratak...
Siiiungg... cetar... Dor... dor...
Suara petasan bersahutan, kembang api warna warni susul menyusul berpendaran di langit.
__ADS_1
Terang dan meriah!!!
"Kembang apinya indah sekali." ucap Cheryl dengan mata menerawang jauh
"Hu-um." Dimitri mengangguk.
"Indah tapi cuma sekejap seperti... --"
"Kisah kita." Kata Dimitri dan Cheryl bersamaan. Mereka menoleh dan saling bertatapan lalu sama - sama tertawa sumbang.
Letupan - letupan kembang api tinggal sedikit, mereka kembali menatap langit malam, seakan tak rela berpisah dengan kembang api.
"Sebentar lagi, kembang apinya habis. Dan cerita kita juga habis, Cheryl." kata Dimitri pelan.
"Aku mengerti, Kak Dimi. Kapan berangkat?"
"Besok."
Cheryl menunduk sejenak dan menghembuskan napas. "Ya." jawabnya.
Entah ya untuk apa, tapi hanya kata - kata itu yang sanggup diucapkannya tanpa tangis. Cheryl sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menangis saat mereka berpisah.
Dan hari ini Dimitri sengaja datang untuk mengucapkan perpisahan.
"Happy New Year, Cheryl. Semoga tahun ini dan tahun - tahun selanjutnya, kamu berbahagia. Dengan atau tanpaku."
"Ya."
"Jangan telat makan. Cepat lulus dan cari pekerjaan yang baik."
"Ya, Kak."
"Teman - teman disini juga adalah keluargamu. Kamu tidak sendiri, Sayang. Bang Satriyo dan yang lainnya akan membantumu."
"Thanks, Kak."
Mereka kembali berpandangan, hanya mata mereka yang berbicara. Entah disebut apa hubungan Cheryl dan Dimitri. Tak seorang pun tau perasaaan apa yang sebenarnya ada diantara mereka. Yang jelas mereka pernah bercanda, tertawa, menangis dan merenung lalu saling memahami, menjaga dan berbagi.
Dan kini, mereka akan berpisah tanpa tangis.
"Selamat tinggal, Cheryl."
"Selamat tinggal, Kak Dimi."
...THE END...
Note :
Dear Readers,
Sorry untuk cerita yang sangat tidak nyaman dibaca ini. Prosesnya tersendat - sendat dan endingnya juga begini saja.
Cerita ini sebenarnya untuk event, tapi entah kenapa prosesnya tidak semulus itu. Dan juga karena suatu sebab kontraknya ditolak, dan saya tidak ingin revisi2 lagi. Dengan berat hati, saya putuskan tamat saja dan mungkin revisinya akan dalam bentuk cerita lain saja.
Thank you, Readers 🙏
__ADS_1
Maaf sebesar - besarnya dan harap maklum.