Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 14 -- Laptop Untuk Cheryl


__ADS_3

Sebuah kotak ada di atas meja perpustakaan, di dekat tumpukan kertas di atas meja belajar Dimitri di kamarnya. Ada sebuah amplop putih menempel diatas box itu.


"Special for my girl, Cheryl. Makin rajin belajar ya. Can't wait to see you on top."


(Spesial untuk gadisku, Cheryl. Tak sabar melihatmu berada di puncak.)


Bukan, bukan itu yang menjadi perhatian Cheryl. Tapi nama pengirim yang tertera di sudut kanan amplop. "With love, Dimitri."


Gadis manis itu menatap benda itu dan Dimitri bergantian dengan kening berkerut. Apa karena kotak ini Dimitri menyuruh dirinya mampir ke kamar? Tadi pagi Cheryl meminta ijin kepada Dimitri untuk meminjam laptop milik Dimitri. Alih - alih meminjamkan, Dimitri justru meminta Cheryl ke kamarnya siang ini. Dia bilang kalau ada surprise untuk Cheryl.


Sementara Dimitri sedang dalam mode serius mengerjakan skripsi dengan laptop miliknya. Dia tak menyadari Cheryl yang sudah datang dan gadis itu sekarang memandangnya dengan tatapan bertanya - tanya. Pikiran Dimitri terlalu fokus pada hasil observasi dan diagram hasil penelitian yang tertera di layar laptopnya.


Sesekali, Dimitri berhenti mengetik, membaca sejenak kemudian meraih gelas yang tak jauh darinya. Matanya tetap mengawasi layar sambil meneguk minumannya.


Dimitri yang sedang tekun, terlihat tampan, membuat hati Cheryl kembali berdesir. Perasaan suka dan berdebar - debar yang sering kalo ditepisnya kembali muncul.


"Ehm... " Cheryl berdehem untuk menarik perhatian Dimitri.


Berhasil!


Dimitri menoleh, serta merta dia berdiri dan menyambut Cheryl. "Udah datang ya?"


"Baru lima menit." jawab Cheryl sambil meringis.


"Ha? Kok aku tak tahu kamu sudah datang?" gumam Dimitri, heran dengan dirinya sendiri.


Cheryl tertawa, dia berjalan menuju bangku dekat meja belajar Dimitri dan melihat ke layar monitor. "Sudah sampai observasi ya? Sebentar lagi kesimpulan dong?" tanya Cheryl.


Ugh!


Rasanya baru kemarin Cheryl kenal dengan Dimitri, tapi sebentar lagi pemuda itu akan lulus. Semester pertama Cheryl sekolah, adalah semester ketujuh buat Dimitri.


"Hm-hm." Dimitri mengangguk.


"Oh.... " sahut Cheryl.


"Kenapa?" Dimitri merasakan ada sedih tersirat dalam nada suara Cheryl.


"Nope. Tak apa, Kak." jawabnya sambil berusaha tersenyum, waktu mereka berpisah tinggal beberapa bulan lagi. Itu pun kalau Keysia tidak datang lebih dulu. Demi apa pun, Cheryl ingin menghentikan waktu. Dia tak bisa membayangkan hari - harinya tanpa Dimitry.


Dimitri memutar kursinya menghadap Cheryl, dan memandangnya dengan mata menyipit.


"What's up?" tanyanya.


"Nothing." sahut Cheryl.


Lagi - lagi dia harus menyembunyikan perasaannya, tak mau Dimitri tahu bagaimana sedihnya nanti kalau mereka berpisah. Resiko memiliki status abu - abu.


Tak tahan dengan tatapan menyelidik Dimitri, Cheryl memilih berdiri dan berjalan mengelilingi kamar Dimitri. Ini adalah kali kedua dia masuk kesitu. Yang pertama adalah waktu Dimitri sakit. Ternyata ada foto - foto Dimitri waktu kecil, tergantung di dinding kamar dekat jendela.


"Cute sekali... " Tanpa sadar Cheryl memuji Dimitri. Dia menyukai wajah Dimitri kecil yang sedikit chubby, berkulit putih dan beralis tebal.

__ADS_1


Dimitri tertawa. "Kamu kesini bukan untuk melihat foto - foto dan memujiku kan?"


O'iya...


Pipi Cheryl merona saat menyadari kalau Dimitri mendengar ucapannya tadi. Dia sampai lupa kalau tujuan utamanya datang kesini adalah untuk meminjam laptop.


Bang Satrio mengenalkannya kepada beberapa mahasiswa yang menempuh pendidikan strata dua di kampus mereka dan sedang membutuhkan tenaga penerjemah diktat bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.


Cheryl menyanggupinya bukan hanya karena upah yang menggiurkan dan jam kerja yang flexibel, tapi juga karena dia suka membaca. Tapi yang menjadi masalah adalah Cheryl tak punya laptop untuk mengetik hasil terjemahan. Ponsel yang dimilikinya pun hanya ponsel standard yang kurang bisa mensupport aktivitasnya. Mau tak mau sekali lagi dia harus merepotkan Dimitri.


Dimitri mengulum senyum, dia tahu kalau Cheryl pasti tak berani meneruskan niatnya untuk meminjam laptop karena melihatnya mengerjakan skripsi menggunakan benda itu.


Dimitri mengambil kotak yang sudah disiapkannya untuk Cheryl. "Look at this." ucap Dimitri ceria, sambil menyodorkan box tersebut pada Cheryl.


"Apa itu?" Cheryl memiringkan kepalanya, dan melihat kotak yang dari tadi membuatnya penasaran.


Dimitri tertawa pelan. "Buka sendiri dong, bukan surprise namanya kalau aku kasih tahu."


Cheryl menghela napas, dia selalu merasa sungkan setiap kali Dimitri memberinya ini itu apalagi mereka sama - sama kuliah, sama - sama masih mahasiswa dan masih kerja partime pula.


"Ayo, cepetan buka!" Desak Dimitri.


Cheryl menerimanya, menguncang pelan dan mencoba menerka isinya. Agak berat, tapi tidak bersuara ketika diguncang.


"Aku tak mau menerimanya kalau mahal." Keluh Cheryl. Perasaannya mengatakan kalau isinya bukan kaleng - kaleng. Dia benar - benar tak berani membukanya.


"CK! Tapi itu berguna untuk masa depanmu." sahut Dimitri pelan. Dia tahu kalau Cheryl tak akan semudah itu menerima pemberiannya.


"Apa isinya?"


(Tolong hargai aku!)


Cheryl melirik Dimitri kemudian kembali melihat box di pangkuannya. "Baiklah. Tapi kalau isiny hanya barang tak berguna dan membuang - buang uang, aku pasti tak akan mau."


"Kalau berguna bagaimana?"


"Hmmm... " Cheryl nampak berpikir.


"Kalau berguna, kamu harus berjanji akan menerimanya. No komplain - komplain! Bagaimana?" tanya Dimitri lagi.


Cheryl tak mau berjanji apa pun, dia mengangkat bahu dan membuka box tadi.


Tak seperti gadis lain yang akan berteriak senang saat mendapat hadiah mahal, Cheryl justru termenung melihat isi kotak pemberian Dimitri.


Sebuah laptop yang memiliki spesifikasi cukup mewah dan bisa menjalankan beberapa aplikasi design dengan sangat lancar. Dari spesifikasi yang dibacanya, batere laptop itu bisa bertahan hingga dua belas jam, layarnya juga sudah HD dan yang lebih menakjubkan adalah layarnya touchscreen. Bahkan laptop milik Dimitri pun masih menggunakan mouse biasa. What a gift.


"Ini masih baru kan Kak?" tanya Cheryl tak percaya. Tangannya memegang kartu garansi yang terselip di bawah laptop.


"Yes." Dimitri mengacungkan jempol.


"Bagus sekali, Kak... "

__ADS_1


"Karena untuk mensupport pekerjaanmu kelak. Kamu juga bisa belajar design sama Bang Satrio, siapa tau berguna untuk masa depanmu nanti."


"Tapi kan mahal?"


"Asalkan worth it dengan kegunaannya, kenapa tidak?" Dimtri mengangkat bahunya.


"Uang dari mana?"


Nah!


Pertanyaan yang paling tidak ingin didengar oleh Dimitri akhirnya muncul. Pemuda itu diam sejenak, menimbang.


Fiuh!


Baiklah...


"Dari tabunganku."


"Hah? Habis dong tabungan kakak?"


Dimitri menggeleng, sesusah ini meyakinkan Cheryl untuk menerima pemberian darinya.


"No! Aku tak mau." Cheryl menolak pemberian Dimitri, dia meletakkannya kembali ke meja.


Bagaimana mungkin Cheryl tega menerima barang semahal itu, sementara dia tahu kalau hidup Dimitri saja ditanggung oleh keluarga Livia. Apa kata mereka nanti, bisa - bisa Dimitri dianggap tak tahu diri.


Dimitri mendengus. "Pakai sajalah, aku ingin memberimu sesuatu yang berguna dan bisa kamu ingat selamanya." ucap Dimitri setengah memaksa.


"Maaf, Kak Dimi. Aku kan sungkan.... "


"Kamu tahu? Darimana uang ini?"


"Darimana?"


"Aku menjual salah satu akun game-ku yang sudah rank dengan harga mahal kepada gamers lain di luar negeri."


"Ha?" Cheryl tercengang.


Dia tahu Dimitri hobby dan sangat jago main game online. Beberapa kali pemuda itu bercerita kalau habis begadang demi mendapatkan rank. Cheryl tak begitu paham dengan game online, tapi siapa sangka game yang dimainkannya bisa menghasilkan.


Dimitri mengangguk dan tersenyum. "Aku juga lagi coba bikin akun you tube dan bakal ikut kompetisi game online. Let's go to the top together, Sayang."


Mata Cheryl berkaca - kaca, dia tak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Dimitri yang terus berusaha mensupport dirinya.


Bersambung ya....


Note



Worth it \= setimpal

__ADS_1


Let's go to the top together \= mari mencapai cita - cita bersama.



__ADS_2