Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 3 -- Siapa Kamu?


__ADS_3

Mata Cheryl terbelalak lebar saat membaca caption bertuliskan "HAPPY ENGAGEMENT!!


Ini tak mungkin! Tak dapat dipercaya, Dimitri yang lembut dan perhatian telah menipunya. Sesuatu yang baru berbunga dihati, seketika rontok. Perasaannya begitu kacau hingga Cheryl tak bisa menemukan satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.


"Awas... Awas...!!" Suara panik salah satu mahasiswi di kamar Dimitri mengubah fokus Cheryl dengan cepat.


Dimitri-nya berdiri dan jalannya oleng. Wajahnya seperti menahan sesuatu.


Seketika rasa kecewa Cheryl menguap. Dia menepis semua pikiran buruknya, tergopoh masuk kedalam kamar. Dan lagi-lagi, tanpa pikir panjang tangannya terulur menyodorkan baskom yang sedari tadi masih dipegangnya.


Tepat waktu! BYOOOoorR!


"Ouch!"


"Iiih!"


"Duh!"


"Haizzz... "


Pekikan-pekikan tertahan bernada jijik berhamburan keluar dari mulut para mahasiswi yang menengok. Sebagian menyingkir keluar, untuk menghirup udara yang lebih segar.


Dengan hati pilu, Cheryl membersihkan kotoran Dimitri. Baiklah, ini semua hanya karena faktor kemanusiaan. Cheryl menghibur dirinya sendiri. Bukan saatnya meminta penjelasan Dimitri karena situasi yang sedang tak mendukung.


Setelah mencuci tangan, pelan-pelan Cheryl meletakkan pantatnya di ujung tempat tidur Dimitri, di dekat kakinya.


Kasurnya sangat empuk dan nyaman, berbeda sekali dengan kasur di kamarnya. Cheryl mengelus sprei dengan tangannya, halus. Nampaknya sprei yang dipakai Dimitri pun bukan sprei kualitas sembarangan.


Mata Cheryl berkelana ke seluruh ruangan. Kamar Dimitri nampak ekslusive. Ukurannya memang tak terlalu besar, tapi dia tinggal kamar terbesar di kost ini.


Cheryl mengamati satu per satu barang-barang yang ada diruangan itu. Kalau dilihat dari interiornya, mungkin kamar Dimitri lebih mirip apartment tipe studio daripada kamar kost.


Kamar dengan design minimalis, dominan warna hitam putih menambah kesan mewah. Perabotannya juga lengkap mulai dari TV, dispenser, hingga kulkas dan semuanya dari merk dan dengan design terbaik.


Cheryl yakin semua fasilitas itu dibawa Dimitri dari rumah. Kos campuran itu hanya menyediakan sebuah lemari kayu, meja kecil dan tempat tidur murah. Kos mereka adalah kos sederhana, fasilitasnya semua sama baik untuk mahasiswa mau pun mahasiswi.


Cheryl merasa ditampar kenyataan. Benar kata Siska, dia terlalu naif. Sedikit saja perhatian, membuatnya melambung. Tanpa tahu siapa Dimitri, dia langsung mau jadi kekasihnya.


Bodoh! Bodoh! Bodoh!


Cheryl memaki-maki dirinya sendiri yang melupakan tujuan utamanya datang ke kota ini.


Air mata Cheryl merebak saat mengingat pesan Nenek sebelum dia berangkat ke kota ini.


"Makan banyak - banyak Nak. Kata orang, kalau makan sayap banyak - banyak, kamu akan terbang tinggi." Nenek menyodorkan sepiring nasi dan beberapa potong sayap ayam. Wajahnya yang sudah keriput memancarkan kasih sayang.

__ADS_1


Cheryl tersenyum dan langsung melahap sayap ayamnya, berusaha keras supaya tak menangis didepan nenek.


"Belajar yang rajin, terbanglah yang tinggi. Jangan kembali lagi ke kota ini. Kelak hiduplah mandiri. Kemudian berbahagialah, Nak. Raih cita-citamu." kata Nenek lagi pada Cheryl. Tangannya yang sudah keriput mengelus rambut Cheryl, lembut.


Cheryl melihat mata Nenek berkaca-kaca saat mengucapkannya dan lehernya pun terasa sakit menahan tangis.


***


Merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan hangat, Cheryl terbangun dari tidurnya. Mungkinkah hangatnya genggaman tangan seorang ayah akan terasa seperti ini?


Tapi sesaat kemudian Cheryl sadar, ini bukanlah genggaman seorang Ayah. Bukan pula Nenek yang sangat menyayanginya. Spontan, Cheryl membuka matanya lebar-lebar.


Astaga! Benar-benar gila. Dia tertidur dikamar Dimitri semalaman. Tepatnya diatas tempat tidur yang sama.


Jantungnya berdegup cepat, terkejut sekaligus merasa berdosa. Detik berikutnya, Cheryl melirik kearah jam dinding yang terpasang di tembok berlapis wallpaper bercorak simple minimalis.


HOAH! Sudah jam delapan pagi. Cahaya matahari juga sudah menyusup dari celah jendela. Belum pernah Cheryl bangun sesiang ini sebelumnya.


Buru-buru Cheryl bangun, dia harus segera meninggalkan kamar Dimitri. Apa kata orang nanti kalau tahu dirinya semalaman tidur dikamar seorang pria? Bagaimana pula reaksi teman-teman kost-nya kalau tau dia tak pulang semalam? Dasar ceroboh!


Ups! Cheryl merasa seseorang menarik tangannya. Siapa lagi kalau bukan Dimitri. Cheryl jadi enggan menoleh, biar bagaimana pun Dimitri sudah punya tunangan.


"Thanks and sorry." suara Dimitri pelan, menyesali kondisinya semalam.


"It's okay."


Cheryl menarik napas perlahan, dia mengakui rasa nyaman itu selalu ada saat bersama Dimitri. Bahkan hanya dengan sebuah genggaman seperti ini, Cheryl langsung feeling home.


Tapi Cheryl juga tau kalau dia harus segera mengklarifikasi semua soal tunangan itu.


"Semalam Kak Siska bilang kalau Kak Dimi sudah bertunangan." Cheryl membuka percakapan.


Genggaman Dimitri mengendor, sudut bibirnya turun ke bawah. Dimitri membetulkan posisi duduknya. Ok. It's time to talk.


Pandangan Cheryl yang penuh tanya bercampur kecewa bertemu dengan tatapan sendu Dimitri.


"Percayalah, aku tak pernah bohong sama kamu." Dimitri menghirup udara sebanyak-banyaknya, bersiap melanjutkan penjelasannya.


"Aku menyukaimu, dan itu benar. Karena aku ngomong begini hanya pada seorang gadis. Itu, kamu." Ada kesungguhan di manik mata Dimitri.


"Tapi... " Lidah Cheryl kelu, berharap masih ada kemungkinan kalau yang dilihatnya semalam hanyalah settingan atau apa pun itu.


"Soal pertunangan itu, maafkan aku." Dimitri menatap Cheryl dengan pandangan penuh rasa sesal.


Oh, selesai sudah!

__ADS_1


Cheryl memejamkan matanya, membiarkan sakit menghujam hatinya. Sekarang dia pasrah. Terserah apakah mereka akan berpisah saat ini, atau apapun itu. Demi apapun, Cheryl sudah sangat pasrah.


"Baiklah, kita selesai." Cheryl berbesar hati, meski matanya mulai memanas.


Hah? Tentu saja Dimitri tak mau. "Tapi aku mencintaimu Cheryl." tolak Dimitri.


"Aku tak mau membuat masalah Kak Dimi, hidupku sudah cukup sulit selama ini." lirih Cheryl.


TOK TOK TOK!


Ketukan pintu menjeda pembicaraan mereka.


Ya Tuhan! Siapa itu? Rasa sedih dan kecewa Cheryl berubah menjadi panik.


Astaga! Betapa memalukannya kalau sampai dia tertangkap basah di kamar seorang laki-laki di pagi hari. Cheryl menoleh kearah Dimitri, berharap laki-laki itu mengatakan sesuatu.


"Tak apa. Kemarin kondisi darurat." katanya menenangkan sambil memberi Cheryl kode untuk membuka pintu.


Bergegas Cheryl membuka pintu. The sooner the better. Semakin lama dia membuka pintu, orang yang diluar akan semakin berpikir yang tidak-tidak.


WOAH! Siapa itu di depan pintu. Cheryl dan gadis cantik di hadapannya sama-sama terkejut dengan alasan yang berbeda.


Baru semalam Cheryl melihat fotonya itu di akun instagram Siska, pagi ini gadis itu sudah berdiri di hadapannya.


Gadis tinggi, langsing nan modis dihadapannya lebih dahulu menguasai keadaan.


"Siapa kamu?" tanyanya angkuh. Sorot matanya jelas-jelas menunjukkan rasa tak suka pada Cheryl.


"Aku..., namaku Cheryl." Otak Cheryl mendadak blank.


"Aku bukan bertanya siapa namamu. Tapi, siapa kamu? Kenapa sepagi ini sudah dikamar tunanganku?"


Kata-kata itu meluncur cepat, menancap tepat di hati Cheryl. Sakit.


"Keysia." panggil Dimitri. Dia muncul dari balik pintu kamarnya.


Keysia menoleh, seketika wajah kesal itu berubah menjadi senyum lembut dan manis.


"Aku dengar kamu sakit, makanya pagi-pagi aku datang kesini." Suaranya terdengar begitu merdu di telinga Cheryl.


Keysia berjalan melewati Cheryl yang masih terpaku. Kemudian Keysia mengkaitkan tangannya ke lengan Dimitri dan mengajaknya masuk ke dalam.


BLAMM!!!


Pintu tertutup dengan kasar, persis di depan hidung Cheryl.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2