
Di saat para penghuni kos terutama cewek - cewek, heboh dengan berita tentang rencana kepindahan Keisya ke kos mereka, ternyata orang yang dibicarakan sedang menikmati makan siang bersama dengan keluarga dan tunangannya.
Dimitri berdiri dengan sopan dan membungkuk saat kedua orang tua Keisya datang menghampiri mereka di sebuah rumah makan mewah, tempat mereka berjanji untuk bertemu.
Om Hermanto mengangguk pada Dimitri, lalu tersenyum lebar pada anak kesayangannya, Keisya. Tante Amelia Hemanto juga segera merangkul dan tersenyum pada anaknya.
"Anak Mami selalu cantik." pujinya dengan nada penuh kebanggaan.
"Ayo, Dimitri. Ayo masuk, kita lunch." ajak Tante Amelia heboh, khas ibu - ibu ketemu calon menantu. Tangannya menggandeng lengan Keysia, menuju ke sebuah restaurant yang sudah di bookingnya tadi saat di perjalanan.
Dimitri tersenyum sopan dan mengikuti rombongan ke sebuah meja yang letaknya agak terpencil. Lebih eksklusif. Dua buah sofa warna creme dinaungi tenda kain yang cantik. Meskipun lokasinya di luar ruangan, udara tak terasa panas karena tempatnya teduh dan ada banyak pepohonan di sekeliling mereka. Mereka bisa menikmati makanan sekaligus suasana outdoor yang menyenangkan.
Dimitri duduk bersebelahan dengan Keisya, berhadapan dengan Om dan Tante Hermanto. Om Hermanto menyodorkan buku menu kepada Dimitri.
"Terima kasih, Om." jawab Dimitri singkat dan sopan, kemudian dia membuka buku menu itu dan memberikannya kepada Keisya.
Seperti yang sudah - sudah, Dimitri tak banyak bicara. Dia hanya menurut kepada Tuan Puteri dan keluarganya.
"Lho? Kamu ndak milih dhisik toh?" tanya Tante Amelia dengan suara medok khas jawa tengahnya.
(Kamu tak memilih dulu?)
"Saya teh manis hangat saja, Tante."
Dimitri tak menginginkan apa pun, dia tak ingin menambah hutangnya pada keluarga Keisya. Meski dia tahu, sampai kapan pun hutangnya pada mereka tak akan lunas. Mereka sudah membantu biaya perawatan nenek dan kuliahnya, setidaknya dia harus tahu diri.
Hhh... benar kata Cheryl. There's no way out. Tanpa sadar Dimitri menghembuskan napasnya. Keisya melirik pemuda yang dicintainya sejak mereka masih kecil.
Dimitri duduk tegak dan sopan menghadap kedua orang tuanya, menjawab setiap pertanyaan dengan sopan. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Keisya, hati kecilnya berkata kalau pikiran pemuda tidak sedang bersamanya. Meski terlihat sopan, Dimitri nampak ingin segera mengakhiri pertemuan ini. Beberapa kali Keisya melihat Dimitri melirik kearah jam di pergelangan tangannya.
Keisya mengalihkan perhatiannya kearah kedua orang tuanya yang sudah mulai mengambil hidangan yang baru saja tersaji. Sepertinya mereka tak menyadari kalau calon menantunya ini sudah tak betah berlama - lama.
__ADS_1
"Ini enak, Dimitri. Kamu pasti nyesel kalau ndak nyoba."
Tante Hermanto mengambil piring Dimitri dan mengisinya dengan makanan yang katanya 'menu andalan' resto tersebut.
"Makan banyak - banyak, mumpung bisa makan enak. Anak kost biasanya makanannya kurang bergizi." celoteh mama Keisya sambil terkekeh sambil memberikan piring berisi makanan kepada Dimitri.
Dimitri mengangguk sopan dan berterima kasih.
"Lho, Papi tidak diambilin? Yang diambilin cuma calon menantu nih?" goda Om Hermanto, pura - pura cemburu.
"Ambil sendiri toh, Pap. Dimitri kan orangnya sungkan - sungkan, kalau tak diambilkan mana mau dia makan." sahut Tante Hermanto cepat, tangannya menggulung rambutnya yang terurai, supaya tak masuk ke makanan saat nanti dia makan.
Om Hermanto tersenyum dan melirik penuh arti pada Keisya. Gadis itu hanya mengangkat bahu, tak berminat pada candaan garing kedua orang tuanya. Pikirannya mendadak penuh karena melihat body language Dimitri yang terlihat tak nyaman.
"Kapan lulus Dimitri?"
Nah, ini!
Pertanyaan ini seolah menjadi sebuah garis batas dimana Dimitri harus berhenti 'berjalan - jalan' dan kembali masuk ke kandang kemudian hidup dalam keluarga Hermanto.
"Sampai mana kuliahnya?"
"Skripsi, Om. Sekarang masih tahap observasi dan cari referensi."
"Kamu tau kan kalau kamu bisa mengandalkan perusahaan Om untuk observasi?" tanya Papi Keisya untuk menunjukkan kalau dia menerima Dimitri dengan tangan terbuka.
"Iya, Om. Terima kasih."
'Justru itu yang paling ingin saya hindari, Om. Saya tak mau berhutang lebih dalam dan semakin sulit.'
"Wah... Berarti tahun depan kalian nikah." celetuk Bu Hermanto.
__ADS_1
Astaga! Jantung Dimitri seakan berhenti saat mendengar kata nikah. Dari awal dirinya masuk kuliah, Dimitri tau dan sadar penuh kalau ujung dari semuanya adalah pernikahan dengan Keysia. Ah, tapi tetap saja hatinya tak siap.
"Lho, Mam. Tanya dulu ke Dimitri, dia mau atau tidak? Lagian mereka masih muda." tegur Pak Hermanto, dia merasa tak enak pada Dimitri. Istrinya terlalu ceplas ceplos.
"Ih, Papi nih ya... Tak-kasih tau. Kondisi nenek Dimitri ini kan kita ndak pernah tau. Mami cuma pengen kalau Neneknya Dimitri sempet liat cucunya nikah. Biar tenang gitu loh, Pi."
(Tak-kasih tau \= aku beritahu.)
Mami Keisya berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Dimitri dengan pandangan penuh harap. "Bagaimana menurutmu, Dimitri?"
Dimitri meletakkan sendok dan garpu yang ada ditangannya, kemudian menatap lurus ke arah kedua orang tua Keisya.
Gimana baiknya, kalau Dimitri sih ikut saja sama apa kata Om dan Tante."
Sebuah jawaban yang terdengar begitu tenang keluar dari mulut Dimitri, tanpa seorang pun yang tahu, kalau kalimat itu menyimpan sebuah kepasrahan. Menyerah pada apa pun yang terjadi nanti. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemuda berumur dua puluh tahun? Penghasilannya minimalis sedangkan kebutuhan cek up dan cuci darah nenek terus mengejar.
Mendengar jawaban Dimitri, Keisya yang dari tadi menundukkan kepala langsung menoleh ke arah Dimitri berusaha membaca pikiran pemuda itu.
Tapi, Keisya gagal. Wajah Dimitri dingin dan tanpa ekspresi seakan dia hanyalah sebuah robot yang sudah disetting otomatis untuk melakukan sesuatu.
"Dimi, kalau kamu ingin menundanya. Aku tak apa - apa." ucap Keisya berbaik hati. Tangannya menyentuh sekilas lengan Dimitri.
Dimitri hanya tersenyum tipis. Dia tahu kalau kalimat itu tidak sungguh - sungguh diucapkan oleh Keisya.
Keisya mengatakan semua itu di hadapan kedua orang tuanya, apa kata mereka kalau Dimitri berubah jawaban. Andaikata Keisya memang berbaik hati, bukankah lebih baik dia yang beralasan masih mau kuliah alih - alih menikah muda.
Saat ini pun, kedua orang tua Keisya sedang memandangi mereka berdua. Menunggu respon Dimitri.
"Tidak, Keisya. Saya sudah berjanji sama nenek untuk menikahimu. Mengenai waktunya, kapan pun itu terserah orang tuamu."
'Janji sama Nenek?'
__ADS_1
Dada Keisya bergemuruh mendengar kata - kata Dimitri. Jadi, Dimitri mau menikahinya karena janji? Bukan karena cinta?
Bersambung ya...