
Cheryl berkali - kali melirik ke tangannya yang kembali bertautan dengan Dimitri. Tatapannya berpindah - pindah, bergantian dari genggaman tangan mereka ke wajah Dimitri. Dan berulang kali. Perasaannya bercampur aduk antara sedih dan senang. Sedih karena kepergian nenek, tapi juga ada sedikit rasa bahagia karena Dimitri setia menemaninya dari kemarin.
Menyadari ekspresi dan arah pandang Cheryl, Dimitri sambil memiringkan wajahnya. "Kenapa?"
"Sepertinya mitos itu tidak berlaku untuk kita ya Kak?" celetuk Cheryl.
Dimitri mengerutkan keningnya.
"Mitos kalau cowok cewek naik ke puncak telomoyo berdua bakal long lasting." ucap Cheryl. Gadis itu melepaskan gandengannya, lalu bergelanyut manja di lengan Dimitri.
Kalimat yang diucapkan dengan nada halus dan ringan itu justru seperti pisau yang menyayat hati Dimitri, perih. Tapi Cheryl berkata apa adanya, this is the reality. Tak bisa berkata apa pun, Dimitri hanya bisa melirik kearah Cheryl. Ternyata gadis itu sedang mendongak ke arahnya, dia tersenyum manis.
"Ayo pulang, Kak." ucap Cheryl.
"Ya."
Cheryl menghirup udara pagi banyak - banyak dan menghembuskannya seolah dia ingin membuang semua beban yang ada di kepalanya. Sunrise di telomoyo dan perjalanan dari Magelang ke Salatiga setidaknya sedikit mengalihkan perhatiannya dari kepergian nenek.
Saat memasuki jalan Diponegoro dan hampir memasuki kawasan campus, Cheryl kembali teringat Nenek yang menyuruhnya terus belajar hingga menjadi sarjana. Diatas motor Dimitri yang terus melaju, Cheryl baru menyadari bahwa kini dia seorang diri. Begitu tiba di kos, dia tak punya siapa pun. Pemuda yang sedang duduk mengendarai motor di depan pun bukan miliknya.
Cheryl tak punya saudara dekat yang bisa mengajaknya tertawa bersama, dia hanya punya dirinya.
CKIiiTT!
BUGH!
"S-H-I-T!!"
"SIAL!"
Motor, yang untungnya melaju di jalanan yang tidak ramai, mendadak berhenti. Kata - kata umpatan saling berloncatan dari mulut mereka, tumpang tindih antara makian Dimitri dan ungkapan kekesalan Cheryl. Dari tadi gadis itu sengaja membonceng sambil menjaga jarak antara punggung Dimitri dan da-da-nya, supaya mereka tak saling menempel.
Menyebalkan sekali! Sekarang Dimitri malah mengerem mendadak, otomatis Cheryl yang sedang melamun langsung meluncur dan menabrak punggung Dimitri tanpa bisa ditahan lagi. Tubuh mereka jadi tak berjarak.
"Asem ik. Kak Dimi mbathi!!" maki Cheryl kesal, sambil memundurkan tubuhnya kembali ke belakang.
Rumah kos mereka sudah nampak dari gapura, dan hanya sekitar lima puluh meter lagi mereka sampai. Tapi Dimitri justru berhenti dan bengong di gapura dekat kos mereka.
** (Asem ik \= semacam umpatan. Mbathi \= mengambil keuntungan.)
"Kenapa?" Cheryl bertanya heran.
__ADS_1
"S-H-I-T!"
Dimitri malah mengumpat, sambil menatap jalanan di depan rumah kos mereka. Posisi mereka berada di atas sepeda motor yang berhenti, di bawah gapura jalanan.
"Ada apa?" tanya Cheryl sekali lagi. Dia mencondongkan kepalanya mendekat ke Dimitri sambil tetap berusaha menjaga jarak aman tubuh masing - masing.
Cheryl mengikuti arah pandang Dimitri yang mengarah ke sebuah mobil hitam mewah nan mulus yang terparkir di depan pintu gerbang kos.
Bertepatan dengan pintu mobil itu dibuka, Dimitri menghembuskan napas dan nampak terpaksa kembali melajukan motornya. Pelan - pelan dan enggan. Cheryl semakin heran.
"Kak Dimi... ----"
Cheryl menelan kata - katanya, dan matanya terbelalak lebar. Seketika udara salatiga terasa sepuluh kali lipat lebih dingin dari biasanya.
Ya, Tuhan!
Andaikata bisa, tolong jauhkan hamba-Mu ini dari masalah. Cheryl terus berdoa dengan hati nelangsa, sebisa mungkin Cheryl menundukkan tubuhnya dibalik punggung Dimitri.
Percuma! Cheryl merasakan motor Dimitri berhenti perlahan di hadapan gadis yang sedang berdiri anggun di depan mobil yang tadi ditumpanginya.
"Hai.... " sapa Keisya sambil tersenyum pada mereka.
"Ini sudah kedua kalinya aku lihat kalian berdua - duaan di pagi hari." ucap Keisya masih dengan senyum yang sama, tapi matanya menatap tajam pada Cheryl seolah ingin mencabik - cabik.
Cheryl bergidik. Menyeramkan sekali gadis di hadapannya, dia bisa tersenyum sekaligus mengancam di saat yang bersamaan.
"Aku yang menyusulnya ke Semarang. Dia sedang berduka karena neneknya meninggal." sahut Dimitri cepat - cepat.
Tak ingin Cheryl dituduh macam - macam, Dimitri memilih menjelaskan kepada Keisya.
Keisya mengangguk, senyum tak lepas dari wajahnya.
"Dimitri, Mama dan Papa ingin bertemu." ucap Keisya lagi dengan nada yang lebih mirip perintah dari pada pemberitahuan atau pun permintaan.
Dimitri mengangguk mengerti.
"Ehm, kalau begitu aku masuk dulu Kak Dimi, Kak Keisya." pamit Cheryl sambil cepat - cepat beranjak. Dia benar - benar merasa tak enak berada disana, apalagi sudah jelas dirinya adalah orang ketiga diantara Keisya dan Dimitri.
Dimitri mendorong motornya masuk ke gerbang kos, memarkirnya dan turun dari motor kemudian menyusul Cheryl.
"Aku balik lagi ke Semarang, kamu istirahat aja. Hari ini udah aku ijinin ke Alex buat off kerja part time."
__ADS_1
Cheryl mengangguk canggung, sambil melirik kearah Keisya. Dia bisa merasakan tatapan tak suka dari sudut matanya.
"Go away, Kak Dimi. Jangan cari masalah. Ada Keisya." desis Cheryl.
"Aku pergi dulu." pamit Dimitri sambil menepuk sekilas bahu Cheryl.
Cheryl melotot. Pemuda ini benar - benar gila. Bukannya menjauh karena ada tunangannya, dia malah mengejarnya dan berbicara begitu dekat.
Sudahlah, Cheryl tak mau tahu apa yang terjadi dengan mereka. Buru - buru Cheryl masuk ke gerbang kos cewek, biarlah kak Dimi yang menyelesaikan urusannya dengan Keisya.
"Cheryl! Cheryl!" Lianita tergopoh - gopoh langsung menyambutnya begitu Cheryl masuk ke dalam kos. "Kemana saja kamu beberapa hari ini? Bu Budi bilang kamu ke Semarang. Ngapain?"
"Eh, sini, sini. Cepetan!" Santi ikut menghampiri dan menyeret Cheryl ke ruangan besar tempat mereka biasa berkumpul dan ngerumpi.
"Nih!" Santi menunjukkan deretan aneka snack dan kue yang berjajar rapi di rak ruangan itu. Di sebelahnya ada box makanan dengan logo sebuah restaurant fast food terkenal di kota Semarang, yang juga tersusun rapi. Di meja dekat rak, ada kardus berisi berbagai macam minuman kaleng.
"Wow! Siapa yang ulang tahun?" tanya Cheryl spontan.
Lianita dan Santi kompak berdiri berjajar di hadapan Cheryl, sesaat mereka berpandangan penuh arti. Kemudian menoleh ke arah Cheryl.
"Kamu tahu siapa yang renov kamar kosong itu?" tanya Santi dengan gaya sok misterius.
Cheryl menggeleng, wajahnya nampak berpikir. Cara Lianita dan Santi menyampaikan sesuatu sungguh mencurigakan.
"Haiz! Dimitri tak bicara apa pun ke kamu?" sekarang ganti Lianita bertanya sambil memutar bola matanya.
Lagi - lagi Cheryl menggeleng. Bagaimana mungkin Dimitri cerita, beberapa hari ini dia sedang menghadapi badai.
"Ceritakan padanya, ceritakan." Lianita menyenggol lengan Santi.
"Keisya!" kata Santi singkat.
"What?!" tanya Chery tak sabar. Dia tak suka pembicaraan yang sepotong - potong dan tidak jelas seperti ini.
"Keisya! Iya, dia itu Keisya!" sahut Lianita dengan nada menggebu - gebu.
Ha?
"Calon penghuni kamar besar itu Keisya!" ucap Santi dan Lianita hampir bersamaaan.
Bersambung ya....
__ADS_1