
"Uhuk! WOI! Kalian anak - anak nakal!" Suara batuk di sela - sela suara berat seorang laki - laki dewasa terdengar dari paviliun lantai dua.
Cheryl menarik ujung baju Dimitri, wajahnya ngeri. Dia tak pernah menyangka pesta tengah malam mereka akan berakhir dengan tragedi. Nyalinya ciut. Bayangan kalau ibu kos akan menegurnya serta merta muncul di benaknya.
Dimitri mengusap kepala Cheryl. "Tidak apa - apa. Namanya, Bang Satrio. Dia penghuni paviliun atas. Orangnya baik, meski tampangnya sedikit seram."
"O'ya?"
"Hm-hm."
Dimitri tersenyum, lalu meraih tangan Cheryl dan menggenggamnya, terasa dingin. "Hey, kami ini anak - anak baik. Penghuni kost ini tak ada yang jahat. Kita semua bersaudara, mereka adalah orang pertama yang akan membantumu saat kesulitan. Dan juga, akan menjagamu saat aku sudah tidak disini." ucap Dimtri pelan.
Dia memang sengaja mengajak gadis introvert itu untuk pesta tengah malam supaya bergaul dan keluar dari 'sarangnya'. Selama ini yang dilakukan Cheryl hanya kos, kampus, kerja part time, belajar, tidur, dan sepertinya akan terus berulang seperti itu hingga dia lulus kuliah.
Perasaan Cheryl mencelos, seperti ada yang lepas dari hatinya saat mengingat kalau Dimitri tak akan lama tinggal di tempat ini, sekarang saja Dimitri sudah masuk ke tahap skripsi. Ah, lagipula Keysia juga akan pindah ke kost ini. Mungkin memang sudah saatnya mereka berpisah.
Tanpa sadar, Cheryl menatap sedih kepada Dimitri. Teman pertamanya di Salatiga setelah Alex, orang yang selalu menemani dan membantunya beradaptasi. Dimitri yang pantang menyerah dan terus mengajaknya ngobrol. Tukang iseng yang sangat disayanginya. Satu - satunya orang yang memperhatikan hal - hal kecil tentang Cheryl, seperti waktu makan, kuliah dan membantu tugas - tugas Cheryl.
Menyadari tatapan Cheryl, Dimitri mengulum senyum dan berkata. "Jangan melihatku seperti itu."
Cheryl tersadar, dia melengos. "Aku tidak melihatmu." ucapnya untuk menutupi malu. Wajahnya memerah, karena ketahuan memandang wajah tampan Dimitri.
Dimitri tertawq kecil. "Tak apa, lihatlah aku terus supaya kamu tak pernah melupakanmu." Alisnya naik turun.
'Mana mungkin aku melupakanmu, Kak Dimi. You're one of the best in my life.'
"Jangan khawatir, setelah Kak Dimi tidak ada, aku pasti berteman sama semuanya. Dan juga... , cari pacar banyak - banyak" ucap Cheryl, memasang gengsinya tinggi - tinggi. Dia bersedekap dengan dagu sedikit terangkat.
Dimitri terbahak, tak percaya. Mana mungkin Cheryl punya pacar banyak - banyak, berteman saja hampir tidak sempat. Atau mungkin tak mau? Ah, entahlah....
"Hey, Kak Dimi tak percaya?" Cheryl cemberut merasa terhina mendengar suara tawa Dimitri yang terdengar meremehkan.
"Kalian rupanya yang berniat meledakkan kamarku, hah?"
'Bang Satrio?'
Mengenali suara berat yang berasal dari belakang punggungnya, Cheryl terlonjak kaget. Otomatis dia bergeser ke belakang punggung Dimitri, seolah mencari perlindungan.
Seorang pria sedang berkacak pinggang, badan tegap dengan kulit sedikit gelap dan berambut sebahu, membuatnya semakin terlihat seram di mata Cheryl yang alim.
'Anak sialan!'
'Trouble maker!'
__ADS_1
'Pergi jauh - jauh!'
'Aku tak sudi melihatmu lagi.'
Bentakan - bentakan Papanya kembali berdengung di telinganya, jantungnya berdebar keras. Tanpa sadar Cheryl mengkerutkan tubuhnya, bersiap menerima amarah karena telah menganggu tidur orang lain dengan kembang api.
"Sorry, Bang... tadi tak sengaja." Tomi menggaruk kepalanya, mendekat dan berinisiatif meminta maaf pertama kali.
"Kalau dengan maaf saja semua selesai, apa gunanya polisi?" tanya Satrio. Kali ini dia melipat kedua tangannya di depan dada, menirukan gaya Tao Ming Tze, salah satu tokoh film Taiwan favorite di jamannya. Matanya melotot.
Tapi, tak ada yang takut padanya, kecuali Cheryl.
Anak - anak cewek yang sedang berberes malah cekikikan melihat gaya konyol Abang tertua mereka di kost. Satu per satu mereka menyapa laki - laki itu. Cowok - cowok menghampirinya. Acong merangkulnya dan menariknya duduk di bangku. "Jangan marah, Bang. Kami cuma punya sisa dua jagung bakar dan segelas teh. Maap ya, Bang."
Cheryl diam - diam mengamati interaksi anak - anak kost-nya dengan orang yang mereka sebut Abang. "Dia yang namanya Satrio?" Bisiknya pada Dimitri.
"O'iya, bentar. Bang, kenalkan ini yang namanya Cheryl." seru Dimitri, jempolnya menunjuk ke belakang punggungnya.
Cheryl terlonjak. "Shhh... Kak Dimi... " desisnya takut.
Melihat kelakuan Cheryl yang seperti anak kecil ketakutan, Dimitri tersenyum, tangannya menggandeng Cheryl membawanya menuju ke Satrio. Dengan berat hati, Cheryl mengikutinya.
Cowok - cowok saling sikut menyikut, kilatan jahil berkelebat dimata mereka. Cewek - cewek tersenyum - senyum iseng melihat Cheryl yang ketakutan.
"Namanya Cheryl, Bang." celetuk Tomi.
"Adeknya Dimitri." Ledek Heri.
"Adek nemu gede." sahut Lianita, tangannya di corongkan ke depan mulut.
"Jangan ditakutin ya, Bang." tambah Reni, tangannya usil mencolek lengan Satrio yang kekar.
"Emang syerem bawaan lahir kan?" Acong tertawa keras - keras, ditingkahi gelak tawa teman - temannya.
"Nggak apa, kan ada Kak Dimi." Suara lembut Mbak Cici mengingatkan Cheryl pada tangannya dan tangan Dimitri yang saling bertautan.
Wah!
Spontan Cheryl menarik tangannya, wajahnya. kembali merah padam. Astaga! Mereka semua tahu kalau Dimitri sudah punya tunangan, dan dirinya malah kelewat batas. Dimitri malah tertawa, seolah tak peduli dengan pandangan orang lain.
"Oh, jadi dia nih yang sering kamu ceritakan ke aku Dimitri?" tanya Satrio. Dia menepuk sisi kosong di bangku sebelahnya, menyuruh Dimitri untuk duduk.
Hah? Dimitri cerita apa saja tentang dirinya? Cheryl menoleh, Dimitri membalasnya dengan tersenyum simpul.
__ADS_1
Kemudian pemuda itu merangkul Cheryl dan mengajaknya berjalan ke bangku tempat Satrio duduk. Cewek - cewek kompak ber-cie, meledek Dimitri dan Cheryl, sementara cowok - cowok bersiul sahut menyahut.
Warna langit yang gelap. mulai berwarna, fajar menyingsing dan party sudah selesai. Sudah waktunya mereka bersiap kembali ke kamar masing - masing, istirahat sejenak karena kuliah tetap harus jalan meski semalam tak tidur.
"Hey anak manis, aku nggak makan orang." tegur Satrio lagi kepada Cheryl. Kali ini suaranya terdengar lebih sabar.
Perlahan Cheryl mendongak, pandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Satrio yang sedang tersenyum. Ternyata wajahnya cukup manis saat tersenyum, tanpa sadar Cheryl menghembuskan napas lega. Tak ada kemarahan karena kasus kembang api.
"Beneran kamu mau kerja?" Tanya Satrio to. the point. Dia tak tega mengisengi Cheryl lebih lama lagi.
OH!
Seketika Cheryl tersenyum lega. Dia baru ingat kalau Dimitri pernah bilang kalau ada kenalan dia di kos yang mencari asisten.
"Iya. Nama saya Cheryl, Pak." Ucapnya formal sambil mengulurkan tangan.
"PAK?" seru anak - anak kos. Mereka kembali tertawa, riuh. Biarkan saja berisik, langit sudah mulai terang.
Satrio mendengus kesal. "Panggil aku Abang, aku tak setua itu." Satrio tidak mau terlihat tua dengan panggilan Bapak, dua tahun lagi umurnya baru genap tiga puluh tahun. Apa - apaan si Cheryl ini.
Cheryl meringis. "Iya, Bang... Sat."
Satrio mengerjapkan kedua bola matanya. Dimitri sekuat tenaga menahan tawanya. Sementara anak kos yang lain?
Sepi, suara tawa tadi mendadak hilang berganti dengan wajah - wajah tercengang dan menatap. takjub kepada Cheryl. Reaksi ketika kata Bang---Sat diucapkan dengan suara lembut oleh seorang gadis polos dan dengan wajah tanpa dosa.
Eh? Ada apa dengan teman - temannya, dahi Cheryl berkerut. Seluruh mata memandang dirinya.
Dimitri menarik napas supaya tawanya tidak meledak, lalu berkata lembut, "Jangan lupa ya, Sayang. Kamu panggil dia apa?"
"Bang Sat." Jawab Cheryl santai, dengan seulas senyum di bibir.
"BANG --SAT!"
Koor para penghuni kos berkumandang, dilanjutkan dengan derai tawa tak berkesudahan. Cheryl si anak bontot kos Garden 3 memberi warna tersendiri dengan kepolosannya.
Satrio tersenyum simpul sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Welcome to kos Garden 3, Cheryl. Let's join with the crazy things." bisik Lianita di sela - sela tawanya.
Cheryl melongo, tak menyadari apa arti dari panggilannya kepada Satrio.
Bersambung ya....
__ADS_1