
"Kamu sengaja membuatnya meninggal supaya kalau beliau meninggal, asuransinya jatuh ke tanganmu. Iya kan?" bentak Handoko penuh emosi.
Kalimat Handoko menghujam Cheryl hingga ke hati yang paling dasar, keras dan menyakitkan. Cheryl menatapnya tak percaya. Dadanya terasa begitu sakit. Seumur hidup, laki - laki di hadapannya ini tak pernah memberinya kasih sayang. Dan sekarang dia mengucapkan sesuatu seolah - olah sumber segala sumber masalah di hidup Papanya adalah Cheryl. Air mata mulai jatuh membasahi wajahnya tanpa bisa dibendung.
"Handoko, tolong jangan bikin keributan." ucap Om Salim dengan nada memohon pengertian. Mereka sedang berduka, rasanya sungguh tak elok membuat keributan di depan almarhum.
"Apa yang aku lakukan akan selalu salah di mata Papa. Aku pergi tanpa bermaksud mencelakai Nenek, beliau lebih tau itu." ucap Cheryl membela diri.
"Kalau kamu tidak memaksa kuliah, Nenek pasti tidak akan mengusahakannya. Dan dia tak akan marah padaku."
Hah? Kenapa sekarang jadi dirinya yang disalahkan?
"Seharusnya Papa mengusahakan yang terbaik untukku. Aku anak Papa kan? Bukan anak Nenek?" tanya Cheryl pelan.
"Kamu bukan anakku. Aku tak pernah ingin anak sepertimu!" geram Handoko.
Salah satu tangan Cheryl refleks menyentuh dadanya sendiri, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang muncul karena ucapan Papanya.
"STOP HAN!" geram Om Salim.
Dia berjalan mendekat dan berdiri di antara Cheryl dan Handoko. "Hari ini kita semua sedih, dan mungkin kamu sedang emosi. Jangan mengucapkan sesuatu yang mungkin akan kamu sesali, Han."
"Jadi benar aku bukan anak Papa? Jadi itu sebabnya selama ini Papa nggak pernah sayang sama aku?" Cheryl tahu kalau kalimatnya akan semakin menyulut api di hati Handoko. Tapi, dia sudah tak tahan lagi.
"Sebaiknya kamu pergi saja. Tak usah ikut ke pemakaman Mamaku." usir Handoko.
Dimitri memejamkan matanya dan tangannya mengepal, rasa marah pada Handoko bercampur dengan perasaan iba pada gadis yang disayanginya. Ah, tapi apa yang bisa dilakukan olehnya? Dirinya hanya seorang pemuda berusia dua puluh tahun.
Selama ini dia tahu bagaimana perlakuan Papa Cheryl. Namun melihatnya langsung di depan mata, membuat hatinya ikut merasa nyeri. Rasa ingin melindungi dan menjaga Cheryl semakin kuat karena Cheryl tak punya siapa pun setelah ini.
Tante Merry tak banyak bicara karena tak berani ikut campur urusan keluarga Handoko, dia hanya bisa merangkul Cheryl yang menangis.
"Dan setelah hari ini, jangan pernah kembali lagi ke rumah kami. Pastikan dirimu menjauh dariku kalau masih tak mau patuh."
Cheryl paham apa yang dimaksud dengan patuh oleh Papanya, yaitu dia harus pulang, berhenti kuliah dan menikah.
Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya, menghimpun kekuatan. "Aku berjanji pada diriku sendiri, Papa. Aku nggak akan pernah kembali dan nggak akan minta bantuan anda satu sen pun." suara Cheryl terdengar pelan, tapi tersirat tekad yang kuat di dalamnya.
***
Seperti angin pu-t-ing beliung yang memporak porandakan segala hal yang dilewatinya, seperti itulah perasaan Cheryl akhir - akhir ini. Mulai dari pertunangan Dimitri, hingga berpulangnya Nenek ke rumah Tuhan. Ditambah perlakuan Handoko yang sama sekali tak bisa diterimanya. Pikiran Cheryl kacau, jiwanya berantakan.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, tahu - tahu Dimitri sudah membawa Cheryl ke sebuah objek wisata di Jawa Tengah.
Pagi itu mereka duduk berdua di spot sunrise gunung itu. Angin dingin menerpa wajah Cheryl dan Dimitri yang duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Mata gadis itu menatap jauh kepada pemandangan yang ada di hadapannya. Warna langit mulai berubah.
"Apa nama tempat ini Kak Dimi?"
"Namanya telomoyo. Aku dan teman - temanku dulu sering kemari untuk melihat sunrise."
Cheryl tak merespons.
"Kamu tau? Kenapa aku mengajakmu kesini?"
"Untuk melihat sunrise kan?" Cheryl balik bertanya sambil tertawa pelan, mencoba menutupi rasa sedihnya. Tapi sayang, suara tawanya terdengar sumbang.
"Bukan. Aku mengajakmu kesini karena aku ingin mengajakmu menghadiri pemakaman nenekmu."
Cheryl menoleh dan melihat Dimitri dengan pandangan tak mengerti. Dimitri memberi kode pada Cheryl untuk melihat sunrise dengan dagunya.
"Bagus kan?"
"Yeah... "
"Anggaplah langit ini tempat pemakaman nenekmu. Dengan begitu kapan pun kamu merindukan nenek, kamu bisa langsung menatap langit dimana pun kamu berada, Cheryl."
"Sunrise-nya bagus banget, Kak Dimi." sahut Cheryl tanpa merespons kata - kata Dimitri. Tapi Dimitri tahu Cheryl mendengar kata - katanya.
"Seperti kenangan nenek dan kamu, akan selalu indah di hati." sahut Dimitri.
Cheryl menundukkan kepalanya, menangis. Sebenarnya matanya sudah bengkak, tapi dirinya tetap saja menangis setiap kali mengingat nenek. Bahkan datang ke pemakamannya pun tak diijinkan, menyedihkan sekali.
Setengah jam kemudian,
"Ini untukmu."
Entah kapan Dimitri pergi, yang jelas pemuda itu kembali lagi sambil membawa segelas jahe hangat. Sepertinya dia membeli di warung dekat situ.
"Thanks."
"Gimana? Sudah baikan?" tanya Dimitri saat dilihatnya Cheryl sudah terlihat lebih tenang dan berhenti menangis.
"I'm good. Ready to go back to the reality."
__ADS_1
"Pulang ke kos?" tanya Dimitri menawari.
"Kemana lagi?" Cheryl mengangkat bahu, sambil tersenyum tipis.
Dalam hati, dia bersyukur ada Dimitri yang rela menemani beberapa hari ini.
"Tunggu dulu. Aku kembalikan gelas ini dulu."
"Aku ikut saja, Kak."
Dimitri tersenyum dan menggandeng tangan Cheryl.
"Kalian pacaran?" tanya ibu penjaga warung.
Eh?!
Dimitri dan Cheryl bertukar pandang, tak ada yang berani menjawab. Status mereka kini abu - abu. Dibilang pacar tapi Dimitri sudah bertunangan, dikatakan bukan sepasang kekasih tapi kenyataannya mereka terlihat mesra. Naik gunung berboncengan sepeda motor, melihat sunrise berdua dan sekarang tangan mereka bertautan.
Cheryl buru - buru melepaskan tangannya dari genggaman Dimitri.
Melihat tingkah Cheryl, ibu itu terkekeh, dan berkata. "Halah... ndak usah malu toh Non. Wong yang pacaran disini ya banyak og." katanya dengan logat jawa yang kental.
Cheryl melengos, menyembunyikan pipinya yang merona. Dimitri hanya tertawa kecil mendengar kata - kata Ibu warung tadi.
"Kami pulang dulu ya Bu. Kapan - kapan kami kesini lagi."
"Iya harus sering - sering kesini, Nak. Kamu tau kan mitos telomoyo? Para mahasiswa suka ngomong kalau cowok cewek naik telomoyo berdua, biasanya mereka bakal langgeng sampai tua." cerocos ibu warung yang hobby bercerita itu.
Deg!
Cheryl melirik kearah Dimitri, dia ingin melihat reaksi pemuda itu. Pemuda itu tampak tersenyum manis padanya.
"Yuk." kata Dimitri. Tangannya kembali menggenggam tangan Cheryl.
Saat berjalan ke tempat dimana sepeda motor Dimitri diparkir, Cheryl berkali - kali melirik ke tangannya yang kembali bertautan dengan Dimitri dan juga wajah Dimitri.
"Kenapa?" tanya Dimitri sambil menelengkan wajahnya.
"Sepertinya mitos itu tidak berlaku untuk kita ya Kak?" celetuk Cheryl.
Bersambung ya....
__ADS_1